Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Epilog


__ADS_3

"Kamu mau makan dulu enggak?" Tanya Nadeo yang sudah berdiri di stand makanan bersama Nabila.


"Aku masih kenyang Mas, mau air putih saja." Tolak Nabila.


"Mas ambilkan ya?"


Nabila mengangguk, setelahnya Nadeo mengambil sebotol air mineral. sungguh Nabila tak pernah merasa menyesal memilih Nadeo, karna sekarang Nadeo benar-benar memperlakukannya bak seorang ratu.


"Ini! Sudah Mas buka."


Nabila mengambil air mineral dan meneguknya. "Makasih Mas." Nabila memberikan lagi botol yang masih menyisakan banyak air itu pada Nadeo.


"Masama cantik." Jawab Nadeo sembari tersenyum gemas pada Nabila.


Ah rasanya setiap hari Nadeo harus bersyukur karna Nabila kini benar-benar miliknya.


"Ayuk duduk dulu, dari tadi kamu berdiri terus?" Ajak Nadeo.


Nabila mengangguk, dan ingin segera mengikuti Nadeo sebelum seseorang menyapanya.


"Nabila ya?" Ucap wanita paruh baya sembari tersenyum padanya.


"Iya?" Jawab Nabila ragu-ragu, "Tante Yura?"


Perempuan yang ternyata adalah Mama Egy mengangguk. "Tante pikir kamu gak kenal.lagi sama tante."


Nabila tersenyum. Ia tak perlu heran bila bertemu dengan Mama Yura di sini. Ya jelas yang pesta sekaramg keponakannya, ya kali beliau tidak hadir.


"Bisa ngobrol sebentar?" Pinta Bu Yura.


Nabila menoleh ke arah Nadeo meminta izin. Nadeo yang mengerti mengangguk. Baru saja tadi ketemu anaknya, eh sekarang malah ketemu Ibunya.


Tante Yura menarik lengan Nabila agar duduk di salah satu meja yang kosong, namun tak luput dari pandangan Nadeo.


"Banyak sekali hal yang ingin tante bicarakan sebenarnya. Namun yang paling penting adalah tante mau minta maaf sama kamu."


Maaf? Kata itu bersarang dalam benak Nabila. Nabila belum sempat berpikir jauh karna Bu Yura sudah melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Tante sudah tahu semuanya. Lebih tepatnya Tante menyesal." Lanjut Bu Yura dengan cahaya yang redup pada matanya.


"Egy benar-benar gila pada pekerjaan sekarang. Perusahaan berkembang dengan pesat, namun apa artinya jika dia sendiri taj mau menikah dan membuka hati. Ia menolak setiap perempuan yang tante jodohkan." Tambah Bu Yura dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Nabila hanya menghela napas berat membayangkan setiap bait yang keluar dari bibir Bu Yura. Apa ini adalah karma? Ah rasanya terlalu kejam jika Egy yang mendapatkannya, bahkan dia tak salah.


"Sejak ditinggal menikah oleh kamu, dia benar-benar menutup diri, dan itu membuat Tante ngerasa bersalah sama dia." Dan tangis Bu Yura pecah, Nabila merangkul untuk menenangkannya.


"Tante terlalu egois, tidak peduli pada kebahagian anak tante, dan sekarang tante benar-benar menuai hasilnya " Racau Bu Yura lagi yang membuat hati Nabila juga teriris.


"Tante, aku yakin Mas Egy akan bahagia. Mas Egy orang paling baik yang pernah aku kenal. Aku juga yakin dengan doa seorang Ibu, Mas Egy akan berubah." Nabila mengulas senyum tulus.


Bu Yura menatap Nabila haru, "Terimakasih Bila, tante juga berdoa semoga kamu bahagia."


"Terimakasih tante."


Mareka saling berpelukan.


...****************...


Nabila memilih-milih peralatan dan perlengkapan bayi. Mulai dari sepatu, baju dan sebagainya.


"Mas? Yang ini bagus gak?" Tanya Nabila sembari menunjukkan sepatu berwarna pink dengan hiasan peta yang ia pegang.


Nadeo mengangguk, "Bagus sayang, kalau kamu suka ambil aja."


"Gak deh Mas, takutnya pas lahir cowok." Geleng Nabila sembari meletakkan sepatu tadi di tempat semula.


"Tapi kan kemarin sudah USG sayang, katanya cewek."


"Ya tetap saja loh Mas. Banyak kawanku yang pas USG keliatannya cowok pas lahiran cewek, juga sebaliknya. Lagian kita USG bukan untuk liat jenis kelaminnya, cuma ingin liat apa dia baik-baik saja?" Ujar Nabila sembari mengelus perut buncitnya.


Nadeo menyentil hidung Nabila gemas.


"Mas ih..." Rengek Nabila dengan bibir mengerucut, dan tingkahnya seperti anak kecil.


"Kamu gemesin sih." Cetus Nadeo masih dengan ekspresi gemas. Nadeo betul-betul gemas melihat istri kecilnya itu.

__ADS_1


"Ya udah, ayok kita cari makan dulu, Mas sudah laper nih." Ajak Nadeo akhirnya.


Nabila mengangguk. Nadeo pun merangkul Nabila keluar, namun tanoa sengaja juga mungkin di tambah tak hati-hati, Nabila menabrak seorang ibu hamil hingga barangnya terjatuh.


"Maaf Mbak!" Ucap Nabila hendak berjongkok,


"Mas saja sayang." Ujar Nadeo menahan Nabila. Nadeo pun berjongkok memungut barang perempuan yang jatuh tadi.


"Putri?"


"Nabila?"


Keduanya saling mengenal. Nadeo berdiri dan memberikan barang yang ia jatuhkan pada Putri. Putri? Yah Putri, Ibu hamil itu adalah Putri, dan di sampingnya itu,berdiri seorang laki-laki yang seumuran mungkin dengan Nadeo, ia menggendong seorang anak laki-laki kecil yqng berumur sekitar tiga tahun. Apakah itu suaminya?


*


"Itu suamiku!" Tunjuk Putri ke meja samping mareka duduk.


Nabila dan Putri duduk bersama, namun tidak dengan suami mareka. Suami Putri dan juga suami Nabila yaitu Nadeo duduk di meja di sampingnya. Itu keinginan Putri yang ingin berbicara empat mata dengan Nabila.


"Aku memutuskan menikah dengan dia, setelah aku merasa capek mengejar Mas Egy. Namanya Derdian, dia teman baik Mas Arif. Maa Arif yang mengenalkan aku padanya,, dia menerima aku apa adanya juga anakku. Dan aku sama sekali tidak menyesal menikah dengannya Bil." jelas Putri


Nabila mengangguk mengerti.


"Dan itu juga anak aku." Putru menunjuk dengan dagunya pada seorang anak kecil yang ada dalam pangkuan Derdian, ya kata Putri tadi namanya derdian.


"Anak aku sama Mas Egy." Lanjut Putri. "Mas Egy mau menerima dia sebagai anaknya, namun tidak bisa menerima aku sebagai istrinya. Ini bukan salah Mas Egy. Kami melakukannya dulu tanpa ikatan. Aku juga sadar di sini, aku yang salah. Mas Egy berhak memutuskannya. Dia menafkahi segala kebutuhan Haizi, dan aku mencoba berdamai dengan segalanya."


"Mas Arif juga sudah menikah, dia mencari perempuan yang sama seperti kamu. Mas Arif bilang kamu adalah wanita uang baik, dan dia ingin memiliki istri seperti kamu. Setelah aku menikah, Mas Arif menikahi Putri kiyai. Istrinya juga sama, tengah hamil sepertiku."


Nabila tersenyum.


"Aku bahagia dengatnya Put! Akhirnya kamu bahagia, walau bukan sama Mas Egy. Kamu hebat kok! Mampu berdamai dengan hati kamu."


"Kamu juga, kamu lebih hebat."


Terkadang belum tentu apa yang kita perjuangkan akan menjadi milik kita. Tapi juga bukan berarti ia akan datang dengan sendirinya. Berjuanglah semampumu, tapi jangan memaksakannya. Karna sesuatu yang dipaksa tak akan bertahan lama.

__ADS_1


Terimakasih semuanya.


__ADS_2