Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Permintaan Maaf


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Nabila pun menyetujui bila Icha tinggal bersamanya. Dan semua barang-barang Icha pun berpindah ke rumah Nabila. Icha menempati kamar bawah yakni kamar Nadeo dulu.


Dan setelah Icha pindah ke rumah Nabila, jadilah Nadeo sering bwekunjung dengan dalih menjenguk Icha. Tak jarang Nadeo membawa makanan saat berkunjung, dan kebanyakannya adalah makanan kesukaannya Nabila.


Namanya juga alasan. Karna yang sebenarnya adalah ia ingin mendekati Nabila lagi. Dan hari ini Nadeo datang lagi, masih dengan alasan yang sama yaitu mengunjungi Icha.


Icha yang tahu maksud dari abangnya ini, ia langsung mengatakan bahwa Nabila berada di halaman belakang rumah, yang terdapat taman kecil di sana. Segera saja Nadeo ke sana. Dan memang benar Nabila tengah sibuk menyirami tanamannya.


"Ehem!" Nadeo sedikit berdehem ketika berada di samping Nabila.


"Eh Mas Deo!" Sapa Nabila sembari menoleh sebentar ke arah sampingnya, kemudian ia melanjutkan lagi menyirami tanamannya.


Nadeo memindai seisi taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga mawar. Ada mawar talitha, mawar putri, juga mawar mega putih, dan semuanya terawat dengan baik.


Seingat Nadeo dulu tak ada bunga di sini. Karna koleksi raya lebih ke tanaman hias seperti, agnolema, caladium, palem, dan suplir. Begitulah kurang lebihnya.


"Ichanya di dalam Mas!" Beritahu Nabila. Nabila menyangka Nadeo swdang mencari adiknya.


"Udah ketemu kok!"


"Oh.." Angguk Nabila.


"Memang ke sini pengen ketemu kamu."


"Aku?" Tunjuk Nabila ke diri sendiri dengan alis yang terangkat sebelah.


"Iya! Gak boleh?"


Ah kedengarannya seperti cara pedekate anak ABG SMA saja. Dan Nabila memilih tak menjawab dan melanjutkan acara siram bunganya.


"Bil? bagaimana jika Mas ingin serius lagi sama kamu? Apa Mas punya kesempatan?" Tanya Nadeo yang terus mengekori Nabila dari belakang.


"Setelah Maa pikir-pikir lagi, Mas rasa selama ini Mas benar-benar mencintai kamu Nabila."


Nabila berhenti sejenak. Ia menelan salivanya, gugup.


"Mas ingin rujuk sama kamu."

__ADS_1


Masih tidak ada jawaban.


"Gak papa kok kalau kamu gak bisa jawab sekarang, Mas bisa nunggu. Kamu juga pasti butuh waktu buat mikir."


Ya! Nabila butuh waktu untuk itu semua. Bagaiman bisa ia bisa memberikan jawaban pada Nadeo di tengah peliknya permasalahan yang sedang ia alami.


...****************...


"Mbak!! Ada yang cari!" Seru Icha yang berdiri di ambang pintu kamar Nabila, wajahnya terlihat resah.


"Siapa Cha?" Tanya Nabila sembari bangun dari ranjangnya, ia sedang berkutat dengan laptop menyelesaikan tugas kantornya.


"I..i..tu Mbak!"


"Itu siapa?" Tanya Nabila yang kini sudah berafa di depan Icha.


"Mas.., Mas Egy!" Jawab Icha takut dan memilin-milin ujung bajunya. "Aku udah larang masuk Mbak! Tapi orangnya maksa banget untuk masuk."


"Yaudah gak papa, Mbak turun di belakang, kamu bikinin minum ya?"


"Iya Mbak!" Jawab Icha menurut.


Sedangkan Nabila menutup laptopnya, dan menyimpannya lagi. Sebenarnya ia agak malas untuk turun ke bawah, mengingat orang yang harus ditemuinya adalah Egy. Tapi apa boleh buat, ia tetap harus menghadapinya.


Tak berselang lama, Nabila turun. Terlihat Egy sudah menunggunya di sofa. Egy langsung melemparkan senyum tulus pada Nabila, tapi tak ada balasan. Nabila langsung duduk di sofa berhadapan dengan Egy.


"Aku pikir, kamu gak mau lagi ketemu sama aku!" Ucap Egy lembut.


"Sebenarnya begitu." Balas Nabila sedikit ketus.


Ada raut kecewa pada wajah Egy ketika mendengar ucapan Nabila.


"Mas ke sini mau minta maaf ataa kesalahan kemarin Bil!" Ucap Egy to the point pada inti masalah.


"Jika hanya itu, aku bisa memaafkannya, dengan satu syarat."


"Apa itu?" Tanya Egy berbinar. "Selama aku bisa aku akan lakuin itu, jika memang itu satu-satunya cara kamu maafin aku Bil!"

__ADS_1


"Mas pasti bisa melakukannya."


"Kalau gitu, apa syaratnya?" Tanya Egy tak sabar.


"Ini kali terakhir kita bertemu Mas!" Tegas Nabila.


"Gak bisa!" Potong Egy cepat, "Aku gak setuju sama syarat kamu."


"Aku belum selesai Mas!"


"Tidak usah diteruskan, jika intinya adalah aku harus menyerah! Maaf, tapi aku bener-bener gak bisa." Berang Egy.


Awalnya ia sudah positif thinking bahwa Nabila akan memaafkan kesalahan besarnya dengan cuma-cuma, padahal itu hanyalah trik Nabila saja agar ia berhenti mengejarnya.


"Tapi aku yang gak pengen lagi sama Mas Egy!"


Egy hendak bangun, tapi Nabila mengangkat tangannya menyuruh Egy tetap duduk seperti semula.


"Apa kamu gak liat Bil?Aku cinta sama kamu!" Kata Egy sendu minta dikasihani.


"Mas salah besar jika mengatasnamakan itu cinta. Itu bukan cinta Mas! Tapi obsesi." Pekik Nabila. "Setelah kejadian kemarin, aku semakin yakin Mas untuk mengakhiri semuanya."


"Jangan Bil! Jangan lakukan itu. Aku bisa hancur!" Mohon Egy. "Aku akui aku sudah menggunakan cara yang salah, aku khilaf, tapi aku mohon jangan sekali-kali ninggalin aku Bil! Aku ngelakuin itu semua semata-mata agar kita bisa bersama, aku sangat mencintai kamu Nabila."


"Sadarlah Mas! itu bukan cinta, tapi obsesi. Mas Egy hanya terobsesi padaku. Harusnya Mas bisa membedakan mana cinta mana obsesi."


"Enggak Bil!" Egy mulai depresi.


"Mas! Ingat ada Putri dan anak Mas yang menunggu Mas!"


"Nabila, aku gak bisa mencintai Putri, jangan paksakan itu."


"Lalu anak Mas?"


"Aku belum bertemu dia."


"Pulanglah Mas! Jika Mas Egy benar mencintai aku, pulanglah! Temui Haizi!"

__ADS_1


"


__ADS_2