Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Kedatangan Soegi


__ADS_3

Soegi telah sampai di kota metropolitan Jakarta. Ini adalah kali pertamanya ke Jakarta. Ia hanya mendengar kota Jakarta dari cerita Mbaknya Nabila dan Anisa. Selebihnya ia hanya melihat dari layar kaca.


Setelah menaiki taxi, akhirnya ia sampai di depan rumah Nabila. Menurut alamatnya sih ini benar rumah Nabila. Dan ketika ia masuk ke pekarangan rumah itu, ia melihat mobil Nabila, mobil yang pernah dipamerkan kepadanya, jadi tak salah lagi.


Soegi berencana akan menginap di sini barang dua atau tiga hari. Kemarin ia juga sudah menelpon Nabila mengatakan bahwa hari ini ia akan bertandang ke sini.


Alasan Soegi ke Jakarta sebenarnya karna Ayah dan Ibunya menyuruhnya untuk menjenguk Nabila. Untuk melihat bagaimana kondisi Nabila sekarang, karna selama Nabila bercerai dengan Nadeo, ia hanya tinggal sendiri.


Soegi sudah mengetuk pintu,tapi anehnya pintu rumah Nabila tidak tertutup rapat, yang artinya pintu rumahnya tidak dikunci. Ia jadi berasumsi bahwa Nabila sedang di rumah, tapi saat Soegi telpon tadi Nabila tidak mengangkat. Apa rumahnya kemalingan ya?


Untuk menjawab rasa penasaran, akhirnya Soegi langsung nyelonong masuk. Ia memanggil-manggil Nabila, tapi tak ada sahutan. Apa Mbaknya ini belum pulang kerja ya? Tapi apakah iya, sudah sesore ini ia belum pulang kerja, Apakah ia lembur? Atau malahan ia sedang tidur?


Ia memang sudah sangat yakin jika ini adalah rumah Nabila, sebab ia melihat foto pernikahan Nabila terpajang di dinding.


Soegi memberanikan diri mencari Nabila ke dalam kamar yang ada di lantai bawah, dan ya! Nabila tidak ada di situ. Kemudian ia keluar lagi.


"Mbak! Mbak! Mbak Nabila!" Untuk kesekian kalinya Soegi memanggil Nabila. Sayangnya, hasilnya masih sama. Tak ada satupun jawaban.


Kemudian Soegi naik ke lantai dua, siapa tahu Nabila berada di sana. Dan pintu kamar Nabila sama sekali tidak tertutup, malah terbuka dengan lebarnya. Dan ketika Soegi masuk, ia melihat ponsel dan tas Nabila tergeletak di sana.


"Loh? Ponselnya ada, orangnya kok gak ada ya?" Soegi bermonolog.


"Kemana ya Mbak Nabila, apa mungkin ke warung dekat sini?"


"Tungguin aja deh dulu, mungkin aja iya."


Akhirnya Soegi duduk di sisi ranjang, ia menghela napasnya.


Sudah melewati adzan magrib, tapi Nabila tak kunjung pulang. Perasaan Soegi jadi tak enak, ia menjadi over thinking sendiri sekarang. Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya itu.


"Mbak Nabila kemana sih?"


Soegi mengambil gawainya dari kantong celananya. Ia akan menghubungi seseorang. Dan pilihannya jatuh pada Nadeo. Ah bukan pilihan, karna memang hanya kontak Nadeolah yang Soegi punya. Walau agak takut, takutnya Nadeo tak peduli karna Nabila sudah bukan istrinya lagi.


Sebenarnya ia juga ingin menghubunhi Egy, namun berhubung hanya nomor Nadeo yang ia punya, terpaksalah Soegi menghubungi Nadeo.


"Halo Mas Deo? Assalamua'laikum?" Sapa Soegi ketika Nadeo sudah menjawab panggilan telepon darinya.


"waalaikum salam Gi, ada apa?"


Respon dari Nadeo lumayan baik, dan Soegi sedikit lega.


"Ada apa Gi? Tumben kamu hubungin Mas." Tanya Nadeo untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Mas, Mas tahu Mbak Nabila gak?"


"Maksudnya gimana ya Gi?"


"Euhm, Mas tahu Mbak Nabila ada di mana?"


"Enggak! Memangnya ada apa? Kamu di mana?"


"Di rumah Mbak Nabila, tapi Mbak Nabila gak ada di rumah."


"Kamu di Jakarta?"


"Iya Mas. Tapi Mbak Nabilanya gak ada, Mas gak tahu gitu Mbak Nabila kemana."


"Mungkin aja Mbak mu belum pulang kerja Gi."


"Masa sih Mas, ini udah malam."


"Mungki lagi jalan sama Mas Egy."


"Tapi kok hapenya gak dibawa ya Mas? Pintunya tadi juga gak ditutup. Aku tungguin dari tadi sore, tapi Mbak Nabila gak pulang-pulang. Aku jadi khawatir Mas."


"Kamu masih di situ kan?"


"Ya sudah, Mas ke situ sekarang. Tungguin Mas!"


Kedengarannya Nadeo agak khawatir. Dan Soegi pun sedikit lega, akhirnya ia tidak sendiri di sini. Dan alangkah bersyukurnya Soegi ketika Nadeo yang notabenenya adalah mantan Abang iparnya, tapi masih mau berbaik hati kepadanya dan memedulikan Nabila.


...****************...


"Jauhi Egy!" Seru pria itu lantang.


Pria di depan Nabila ini juga mengenal Egy. Siapa sebenarnya dia? Dia juga tak suka bila Nabila punya hubungan dengan Egy. Apa dia suruhan Bu Yura? Atau Putri?


"Jangan berpura-pura tidak tahu, kamu pacarnya kan?" Cecar pria itu lagi. "Dasar perempuan ******! Murahan!"


"Kamu siapa?"


"Aku adalah kakak dari Putri. Perempuan yang sudah kamu lukai hatinya, dan kamu usik hidupnya. Kamu salah mencari lawan Nabila."


Sungguh Nabila tidak tahu bahwa urusannya akan panjang seperti ini.


"Aku sudah tidak ada apa-apa sama Mas Egy."

__ADS_1


"Oh ya? Kamu pikir aku akan percaya?" Tanya pria yang tak lain adalah Arif. Ia memberikan satu seringai pada Nabila sebelum akhirnya ia kembali duduk di banhkunya lagi.


"Harus bagaimana kamu akan percaya? Aku sudah memblokir dia, bahkan aku sudah resign dari kantornya, kurang apalagi?"


"Tidak semudah itu aku terkecoh sama perkataan kami Nabila, kamu adalah perempuan licik."


Laki-laki yang mengaku Abang dari Putri ini kembali bangun dan berdiri di depan Nabila lagi, Ia menarik dagu Nabila lalu sedikit mencekiknya.


"Kalau sampai aku tahu Egy masih ke rumah kamu, habislah kamu!" Ancamnya. Kemudian ia menghempasnya kasar.


"Tapi..., gimana kalau kita tidur bersama saja? Kedengarannya asyik tuh!" Ujarnya disertai senyuman licik, dan berusaha memebelai pipi Nabila, untungnya Nabila meleset dengan cepat.


"Cuih!!" Nabila meludah ke arah Arif.


Plak!!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Nabila. Arif geram dengan penghinaan dari Nabila.


Nabila meringis kesakitan. Bagaiman tidak? Tamparan tadi berhasil membuat pipi Nabila kemerahan.


"Berani-beraninya kamu meludahi ku. Kamu pikir aku tidak berani memperkosamu di sini? Bahkan saat ini juga aku bisa mengajak anak buah ku untuk menikmati tubuh mu!"


Nabila menggeleng. Ia takut akan ancaman dari Arif, kelihatannya laki-laki di depannya ini bersungguh-sungguh dengan setiap perkataannya.


Nabila menangis membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Apalagi Arif terlihay tak main-main dengan ancamannya.


"Ck! Dasar ******!" Hinanya lagi.


"Aku mohon lepasin aku, aku janji akan jauhi Mas Egy!" Mohon Nabila.


Lagi-lagi seringai jahat nan menakutkan itu muncul kembali di wajah pria itu, apalagi tatapannya yang seolah mengatakan akan memakan Nabila hidup-hidup, sungguh ini adalah mimpi terburuk dalam hidup Nabila.


"Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa percaya pada kata-kata ****** sepertimu." Lagi-lagi Arif menyematkan namanya dengan kata hinaan.


"Nikmati saja dulu wakti di sini, sebelum aku dan anak buahku memakan kamu di sini." Tambah Arif lagi.


Deg! Siapa pun itu, Nabila sungguh berterimakasih jika bisa mnmengeluarkannya di sini.


"Sepertinya rasanya akan enak jika aku bisa menikmati tubuhmu. Kamu tinggal memilih mau dengan aku saja, atau kamu mau aku juga mengajak anak buah ku?"


Nabila menggekeng kuat dalam tangisnya. "Enggak! Aku mohon jangan!"


"Baiklah! Berarti hanya denganku saja. Bersiaplah sayang." Bisik Arif sensual di telinga Nabila.

__ADS_1


Hay semuanya. Aku sedih nih! Viewnya menurun drastis, padahal aku selalu usahain buay nulis ini. Sedikit curhat aku pulang kerja jam 11 malam lewat, dan aku tetap usahain buat nulis ini, biar kalian gak kecewa. 😢


__ADS_2