
Soegi menunggu sekitar tiga puluh menit, dan setelah itu Nadeo benar saja samlai ke kediaman Nabila. Segera saja Nadeo memanggil-manggil Soegi ketika sudah masuk ke dalam. Tak lama Soegi turun dari lantai dua, sepertinya ia berasal dari kamar Nabila.
"Gimana Gi?" Tanya Nadeo. Entah kenapa ia terlihat cukup panik.
Soegi menggeleng lemah. "Gak tau Mas,"
"Coba Mas telpon Kas Egy dulu ya? Siapa tahu Mbak mu lupa bawa HP. Kamu jangan khawatir Mbak Nabila pasti gak akan ke mana-mana."
Kata-kata Nadeo tak membuat hati Soegi menjadi tenang. Namun ia tetap mengangguk mengiyakan semua perkataan Nadeo.
Setelah itu Nadeo mengambil gawainya dan menghubungi Egy. Setelah sekian lama bermusuhan, baru kali inilah Nadeo menghubungi Egy.
Kalau kalian bingung mengapa bisa ada nomor Egy pada Nadeo, jawabannya adalah mareka saling bertukar nomor saat ingin balik ke Jakarta, waktu mareka pulang dari rumah Pakde. Katanya sih untuk jaga-jaga saja kalau terjadi apa-apa.
Setelah terhubung, dan dipastikan Egy menjawab panggilan, Nadeo lebih dulu menyapa Egy.
"Halo!" Sapa Nadeo.
"iya ada apa?" Tanya Egy balik, lebih yerkesan malas.
"Kamu lagi di mana."
"Untuk apa? Bukan urusan kamu."
Ayo dong sehari aja Egy dan Nadeo akur.
"Nabila ada sama kamu gak?"
"Ada atau gak, kamu gak berhak tau!"
Ah..., Egy gak tahu saja keadaannya lagi genting.
"Pleas Egy, ini Soegi lagi di rumah Nabila, tapi Nabilanya gak ada. Aku mikirnya dia jalan sama kamu."
"Enggak! Emang Nabila hilang? Aku lagi di luar kota nih!" Barulah Egy khawatir.
"Enggak, tadinya dia pamit ke rumah teman, mungkin belum balik aja. Kalau gitu aku tutuo telponnya ya?"
Tanpa menunggu jawaban Egy, Nadeo segera memutuskan sambungan telepon mareka. Takutnya Egy banyak tanya, bisa jadi keadaannya tambah rumit, dan jelas urusannya bakal panjang dan melebar kemana-mana.
"Gimana Mas?" Tanya Soegi cepat.
Nadeo menggeleng kecewa. "Gak ada Gi."
"Gimana dong Mas? Aku khawatir."
"Bapak sama Ibu tahu?"
Soegi menggeleng. "Enggak! Aku belum sempat telpon mareka Mas!"
"Bagus. Jangan kasih tahu mareka dulu Gi, takutnya mareka jadi khawatir. Kita harus cari Mbak mu dulu."
"Iya Mas!" Angguk Soegi. "Terus kita harus cari kemana Mas?"
Nadeo nampak sedikit berpikir, dimana ia dapat menemukan jalan untuk mengetahui keberadaan Nabila. Tapi ia ingat akan satu hal.
"CCTV!" Seru Nadeo.
"CCTV??"
"Iya Gi, kita harus liat CCTV di ruang kerjanya Mas dulu. Mas pasang CCTV di depan, buat jaga-jaga."
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Nadeo dan Soegi segera masuk ke ruangan kerja Egy, ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu.
Soegi duduk mengecek tanggal terakhir kali berkomunikasi.
"Coba Gi yang ini!" Tunjuk Nadeo pada layar yang menunjukkan Nabila di gendong oleh pria.
"Iya Mas!"
__ADS_1
"Perbesar Gi."
"Mas?" Seogi melirik Nadeo dengan tatapan yang seolah berkata Nabila diculik. Jelas ia syok saat melihat Nabila diculik oleh empat pria tak dikenal.
"Gi coba perbesar bagian ini." Perintah Nadeo.
Soegi memperbesar bagian yang menunjukkan sedikit wajah dari salah satu pria tersebut.
Nadeo nampak berpikir seperti mengingat-ingat wajah otang tersebut. Sepertinya ia kenal salah satunya, mungkin bisa jadi ke empatnya ia kenal jika mukanya nampak jelas. Tapi, sayang sekali, wajah mareka ditutupi dengan topi,sehingga Nadeo tak bisa melihat dengan jelas mareka.
"Mas kenal sama orang ini?."
"Mas gak bisa pastiin. Tapi Mas sepertinya harus minta bantuan seseorang." Jawab Nadeo. "Kita lanjut besok ya Gi? Setelah Mas pulang kerja."
Soegi menyetujui.
...****************...
"Heh! Heh! Bangun!" Sebuah suara bariton dan cipratan air dingin berhasil membuat Nabila terjaga dari tidurnya.
Mata Nabila terbuka. Ia masih berada di ruangan yang sama seperti kemarin. Ini adalah hari ke dua Nabila berada di sini. Keadaannya tak baik, karna tak ada satupun makanan yang masuk ke perutnya mulai kemarin. Bibirnya sudah pucat, dan pastinya ia lemas. Apakah ada yang tahu bahwa sekarang ia diculik?
Pria yang lambat diketahui Nabila bernama Arif menyodorkan sebuah roti yang panjang untuknya.
"Makan!" Titahnya. "Gue gak mau liat lo mati dulu, gue masih mau bikin lo menderita."
Nabila menggeleng. Ia tak sudi makan pemberian dari pria kejam seperti Arif. Namanya saja Arif, tapi sikapanya sama sekali tidak arif dan bijaksana. Buktinya saja adiknya yang ditolak Egy, ia yang kena imbasnya. Dunia memang tak pernah begitu adil.
"Lo mau mati?" Kesal Arif saat Nabila menolak roti yang diberikannya.
"Biar aja mati, biar orang seperti kamu mendekam di penjara." Sahut Nabila tak kalah kesal.
"Hahahah" Arif tertawa keras seolah apa yang diucapkan Nabila selalu menjadi sebuah lelucon untuknya.
"Lo pikir semudah itu gue ditangkap?" Ujarnya lagi dengan sombonh.
Iya iya! Orang kaya gak akan di tangkap! Nabika hanya berani betteriak dalam hatinya.
"Lo ngancem gue?" Tanya Arif seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Nabila, sedang Nabila memalingkan wajahnya ke samoing agar hidung mancung Arif tak menyentuh wajahnya.
"Kamu merasa terancam? Tapi emang seharusnya itu yang aku lakuin." Balas Nabila berani.
"Emang yakin bisa keluar dari sini?" Tanya Arif lagi yang kini sudah duduk di kursi yang ada dihadapan Nabila.
"Berani kamu laporin aku ke polisi, habislah keluarga kamu." Arif balik mengancam. "Siapa? Pakde? Bude?"
Nabila segera melotot kala Pakdenya di sebut. "Jangan coba-coba sentuh mareka, mareka gak ada sangkut pautnya dengan masalah aku."
Arif menyeringai. "Akhirnya kamu mengakui juga kalau kamu punya masalah."
"Aku emang punya masalah, tapi bukan berarti aku yang salah. Ingat! Aku gak salah!" Tekan Nabila.
"Ok Ok." Arif manggut-manggut. "Tapi aku gak peduli itu. Berani kamu lapor polisi, habislah keluarga kamu."
"Jangan macam-macam, lagian gimana juga mau lapor polisi, orang aku aja masih keiket di sini."
"Heum.., siapa tahu ada yang datang nyelametin kamu. Egy misalnya? Dia kan cinta mati sama kamu, atau Nadeo? Mantan suami yang masih ngarepin kamu itu."
Nabila tak menjawab. Lagian tak ada gunanya juga ia menyumbang energinya untuk berdebat dengan pria di depannya ini. Lebih baik energinya disimpan saja, biar ia bisa bertahan dak tak mati konyol di tempat ini.
"Gue sempet berpikir lo adalah cewek yang lemah, tapi dengan keadaan seperti ini lo masih gak ada takutnya ya?"
"Tolong deh! Kita gak punya urusan. Lepasin aku, aku mau pulang."
"Gak! Gue gak mau!"
Nabila menghela napas kasar, ia menutup matanya dan sedikit merebahkan kepalanya pada kursi agar ia bisa tidur kembali.
"Heh! Siapa yang nyuruh lo tidur?' Tanya Arif sembari mengguncang pipi Nabila, entah kapan ia sudah berdiri lafi di samping Nabila.
__ADS_1
"Terus aku harus debat sama kamu gitu? Sorry Ya? Aku harus nyimpen tenaga aku, biar aku tetap hidup."
"Makanya gue bilang, makan!" Ujar Arif sembari kembali menyodorkan roti yang masih ada di tangannya.
Nabila menggeleng menolak.
"Katanya pengen hidup."
"Iya. Tapi bukan artinya aku mau ya makan makanan pemberian kamu. Siapa tahu di situ ada racunnya."
"Astaga! Nih aku makan rotinya." Arif menggigit roti itu,lalu mengunyah dan langsung menelannya.
"Liat kan? Gak ada racunnya, cepet makan." Perintah Arif lagi.
"Kamu mau ngasih bekas roti yang kamu makan buat aku?" Protes Nabila. "Gak! Aku gak mau bekas kamu!"
Ah.., Arif kehabisan akal menghadapi Nabila. Bisa-bisanya tawanannya ini begitu cerewet.
"Gak ada lagi. Aku cuma beli ini. cepat makan! Kalau gak, aku perkosa kamu di sini, mau kamu?"
Itu sebuah kata sihir yang membuat Nabila ketakutan dan mau menuruti kata Arif.
"Iya-iya!" Nabila mengalah.
Arif tersenyum ketika tawanannya kalah. Ada ya wanita yang cerewet begini?
"Lepasin tangan aku, kalau gak, gimana mau makan?"
Ah benar juga. Bagaiman perempuan ini biaa makanjika kedua tangannya terikat. Tapi, Arif punya ide.
"Heh! Jangan banyak tingkah, kamu tinggal buka mulut, dan roti ini akan masuk sendirinya ke dalam mulut kamu," Alih-alih mengatakan ia lah yang menyuapinya.
"Aku gak mau disuapin sama tangan kamu." Tolak Nabila.
"Rupanya ancaman aku tadi sama sekali gak berpengaruh untuk kamu ya? Mungkin kamu berpikir tadi itu hanyalah candaan."
"Iya-iya! Aku makan!"
Nabila langsung memakan roti yang disuapi Arif. Dan tanpa disadari Arif, ia telah memperhatikan Nabila, yang membuat senyum di bibirnya mengembang.
"Aku gak tahu pelet apa yang kamu gunakan, sampai Egy dan Nadeo tergila-gila sama kamu."
Nabila tak menghiraukan ucapan Arif, tapi ia merasa haus, dan dengan ragu-ragu ia mendongakkan kepalanya pada Arif.
"Kenapa?" Tanya Arif bingung.
"Haus. Minta air." Jawab Nabila
Mengapa tiba-tiba Nabila berubah menjadi begitu menggemaskan. Andai saja bukan tawanannya, sudah ia cubit pipinya.
"Tunggu sebentar."
Arif bangkit dan mengambil sebuah botol minuman ai mineral, lalu ia menyodorkan pada Nabila. Nabila langsung meminumnya.
"Makasih." Ucap Nabila.
Arif tersenyum. "Kamu masih bilang makasih ke orang yang culik kamu?"
"Ya udah aku tarik lagi kata-katanya kalau kamu gak terima ucapan terimakasih dari aku."
Arif bersumpah, Nabila adalah perempuan yang berbeda dari perempuan yang pernah ia kenal.
"Kamu pengen keluar dari sini gak?" Tanya Arif.
"Pengenlah!" Jawab Nabila cepat.
"Jauhi Egy!"
"Aku udah jauhin Mas Egy kok!"
__ADS_1
"Bagus! Kamu bisa keluar dari sini kalau ada yang datang nolongin kamu."
Ada gak ya kira-kira?