
Nabila duduk di sebuab cafe yang berada tak jauh dari kantornya. Hari ini ia makan siang dengan Pak Bosnya. Tahu lah sendiri bersama siapa Nabila sekarang. Egy. Yupzz tepat sekali. Bersama Pak CEO.
Selesai menyantap makan siang, Nabila dan Egy melanjutkan dengan obrolan, karna jam makan siang masih tersisa. Jadi mareka tak perlu buru-buru untuk balik ke kantor. Toh jika telat balik pun tak ada yang berani memarahinya, ia kan empunya kantor.
"Gimana kemarin? Lancar?" Tanya Egy memulai obrolan.
"Alhamdulillah Mas."
"Baguslah kalau begitu."
Hening sejenak.
"Euhmm sebenarnya..," Egy menggigit bibir bawahnya. Ucapannya tak mampu lagi di teruskan.
Nabila yang melihat ekspresi Egy menjadi penasaran, apa yang ingin Egy katakan padanya.
"Sebenarnya apa Mas?" Tanya Nabila dengan alis yang naik sebelah.
"Tentang itu. Anu.."
"???"
"Gimana jawaban kamu waktu itu?" Walau berat pertanyaan itu tetap terlontarkan di bibir Egy.
Jawaban apa hey? Jangan aneh-aneh ya Pak CEO, belum seminggu Nabila resmi menjanda.
Kini giliran Nabila yang dibuat salah tingkah. Tepatnya Nabila melongo setelah mendengar pertanyaan Egy.
"Jawaban apa Mas?" Tanya Nabila sok tidak tahu.
"Itu.., anu..., tentang hubungan kita." Jawab Egy langsung.
"Maksud Mas?" Nabila pura-pura tidak mengerti.
"Iya. tentang hubungan kita berdua, apa kamu menerimanya?"
__ADS_1
"Maaf Mas sebelumnya. Aku baru becerai, rasanya tidak baik jika kita membahas masalah itu, aku masih dalam masa iddah Mas!"
"Iya sih."
"Sebenarnya kita duduk berdua saja aku gak enak dilihat orang lain. Baru bercerai kok bisa-bisanya aku duduk sama laki-laki lain. Walau sama bosnya sendiri."
"Aku ngerti kok maksud kamu Bila." Jawab Egy memaklumi.
Siapa pun itu tetap akan berprasangka buruk tentang Nabila. Ia belum sampai satu minggu keluar dari pengadilan, sudah saja dekat dengan laki-laki lain.
"Maaf ya Mas, kalau aku bikin Mas gak nyaman." Ucap Nabila tak enak.
"Enggak kok, Mas gak papa." Jeda. "Hanya saja..." Egy tak melanjutkan kalimatnya. Haruskah ia segerogi begini di depan Nabila.
"Kenapa Mas?"
Diam.
"Mas..., mas takut kamu nolak Mas. Mas sudah sangay berharap sama kamu Bil."
Nabila tersenyum.
"Mas sudah benar-benar terlanjur cinta sama kamu Bil. Rasanya Mas gak bisa hidup tanpa kamu." Lirih Egy pahit. Ada sebongkah harapan dalam dadanya. Berharap ia tak ditinggal lagi pujaan hatinya.
"Tidak usah menggombal Mas." Ucap Nabila becanda, ia sengaja agar suasana siang itu tak terlalu canggung.
"Bener loh Bil, Mas benar-benar takut kalau ditolak kamu." Egy masih dengan mode seriusnya.
"Tapi aku lebih takut Mas." Kini Nabila juga menampilkan ekspresi seriusnya.
"Takut kenapa?" Tanya Egy heran.
"Mas bukan dari kalangan orang biasa. Mas orang dari kalangan tinggi, sangat tinggi malah"
"No! No! No!" Potong Egy cepat. "Mas tidak suka kasta dibawa-bawa."
__ADS_1
"Bukan begitu Mas," Nabila mencoba menjelaskan, "Lihat aku. Aku seorang pegawai biasa, dari kalangan biasa, malah bisa dibilang kalangan bawah, dan statusku?" Nabila tersenyum getir. "Seorang janda."
"Mas tidak mempermasalahkan itu Bila." Kata Egy dengan suara lembut.
"Iya. Aku tahu. Mas memang tidak pernah mempermasalahkan itu, tapi gimana kalau keluarga Mas? itu bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi Mas."
Egy menghembuskan napas kasar. Pikiran Nabila tidak boleh benar. Ia yakin orang tuanya akan merestuinya. Orang tuanya bukanlah orang yang memikirkan kasta orang lain. Ia tahu betul bagaimana orang tuanya.
Egy ingat dulu saat acara pertunangan Cinthya, Egy mengenalkan Nabila sebagai pacar, dan Mamanya ramah-ramah saja dengan Nabila.
"Mas jamin itu gak akan terjadi. Mas tidak akan menikah kalau bukan sama kamu."
Nabila melotot ke arah Egy, seolah protes dengan ucapan Egy barusan.
"Iya! Pegang kata-kata Mas." Ujar Egy seolah tahu maksud Nabila.
"Mas, aku gak mau Mas ngomong gitu." Protes Nabila.
"Maka dari itu, setelah iddah kamu selesai, mari kita menikah? Mas gak mau nunggu lama-lama lagi, nanti keburu kamu diambil orang. Gila deh Mas!"
"Mas ngelamar aku?"
"Belum secara resmi."
"Wanita dalam masa iddah tidak boleh menerima khitbah dari laki-laki lain." Jelas Nabila.
"Mas sudah bilang kan tadi, kalau itu belum resmi. Kalau kamu sudah selesai masa iddah, Mas akan kenalin kamu ke orang tuanya Mas."
"Gimana? Kamu setuju kan?" Tanya Egy.
Belum sempat Nabila menjawab, Egy sudah lebih dulu berkata. "Tidak ada penolakan. Tidak ada bantahan. Ini perintaj dari Bos!"
"Ih..., pemaksa banget!" Ucap Nabila sebal.
"Biarin! Kamu lama sih. Sesekali harus dipaksa."
__ADS_1
Selesai pembicaraan itu, mareka kembali lagi ke kantor, karna jam makan siang juga telah habis.