
Dua Minggu telah berlalu, sejak Bu Ningrat meninggal. Rumah Bu Ningrat juga sepi setelah hari ke tujuh. Sanak saudara yang pulang ke kampung masing-masing. Seperti halnya dengan Pakde dan Bude. Mareka langsung datang ke Jakarta begitu mendapat kabar bahwa Bu Ningrat audah tiada.Dan di hari ke delapan mareka kembali lagi ke kampung.
Untuk sementara ini, Ines akan pindah ke kediaman Bu Ningrat, agar Icha tak sendirian di Rumah. Tak baik rasanya bila anak gafis tinggal sendiri di rumah.
Nadeo duduk termenung di depan Rumah. Ia duduk di lantai beranda. Nadeo beepikir, Rasanya akhir-akhir ini ia selalu di tinggalkan. Mulai dari yang pertama ia kehilangan calon anaknya. Berlanjut dengan Raya yang meninggalkannya. Dan baru-baru ini Mamanya yang pergi meninggalkannya.
Nadeo mengusap rambutnya frustasi. Rasanya tak sanggup jika ia melalui semuanya sendiri.
Di ambang pintu, Nabila terus memperhartikan suaminya. Ia tampak kasian melihat Nadeo yang bersedih. Haruskah ia menghampirinya? Akhirnya setelah menimbang sejenak, Nabila menghampiri suaminya dan duduk di sebelahnya.
"Mas..., udahan sedihnya." Ucap Nabila lembut dan mengusap punggung Nadeo.
Nabila tampak tak tega melihat keadaan Nadeo. Ditanbah Nadeo yang sangatlah kurus. Seperti tubuh tanpa nyawa. Mati dong. Ah, pokoknya gambarannya seperti itulah. Orangnya hidup, tapi jiwanya tak ada.
Walau Nadeo dulu bersikap kasar dan dingin padanya, tapi Nabila tak tega juga melihat Nadeo saat seperti ini.
"Kenapa semua ninggalin aku?" Ratap Nadeo.
Sebegitu menderita kah Nadeo?
"Kenapa? Kenapa Bil?" Tanya Nadeo frustrasi.
Nabila mengusap kembali punggung Nadeo sebagai bukti rasa simpatinya.
"Enggak ada satu pun yang abadi di dunia ini Mas. Semuanya sudah takdir dan kehendak dari Tuhan. Daun yang gugur pun sudah tertulis di sana, kapan ia tumbuh, kapan ia gugur. Tugas kita hanya berbuat baik, memperbaiki diri. Apa pun yang kita kerjakan di dunia ini, kita akan bertanggung jawab di yaumil akhir. Tidak aku, Mas, atau siapa pun. Semuanya akan pergi." Mendadak Nabila jadi Mamah dedeh.
"Bil...?" Panggil Nadeo lembut. Kini matanya menatap Nabila sendu.
Nabila menoleh hingga netra mareka bertemu. Dapat Nabila rasakan kesedihan yang terpancar dari netra Nadeo.
"Iya Mas." Sahut Nabila lembut.
__ADS_1
Tanpa menunggu ucapan Nabila selanjutnya, Nadeo langsung memeluk istri kecilnya. Nabila kaget, namun ia biarkan saja. Sesaat Nabila membalas pelukan Nadeo.
"Pleas..., jangan tinggalin aku ya?" Bisik Nadeo.
Deg!!
Mengapa Nadeo mengatakan itu? Apakah ia punya firasat akan di tinggal Nabila? Seolah saja Nadeo tahu bila Nabila juga akan meninggalkannya. Apalagi kata-kata Nadeo diirinhi sesegukan. Apakah Nadeo menangis? Ya. Nadeo menangis dalam pelukan Nabila. Pertahanan Nadeo runtuh, ia berubah menjadi laki-laki yang cengeng.
"Kamu udah janji sama Mama enggak akan ninggalin aku. Aku harap kamu nepatin janji kamu Bil."
Ah..., Nabila ingat pada saat menjenguk Bu Ningrat siang itu. Sebelum pada malamnya Bu Ningrat pergi untuk selamanya. Bu Ningrat meminta agar Nadeo tak meninggalkannya, dan ia juga diminta untuk tidak meninggalkan Nadeo. Dan Nabila berjanji kala itu. Sekarang, apakah Nadeo sedang menagih janjinya itu?
"Kenapa diam Bil? Apa kamu mau ninggalin aku juga?" Tanya Nadeo sesudah melepaskan pelukannya pada Nabila.
Haruskah ia menjawab iya? Ah ini belum waktu yang tepat memikirkan itu. Tapi, dulu ia punya niat tersebut.
Nadeo menatap Nabila lekat-lekat, mencari jawaban pada wanita itu. Tapi entah mengapa dari raut wajah Nabila seolah mengatakan 'iya'. 'Iya' Akan meninggalkan Nadeo.
Ah, itu bukanlah jawaban yang diinginkan Nadeo. Mengapa sulit menjawab pertanyaannya.
"Mas, kita makan. Aku sudah masak."
Nabila bangun dan menarik lengan Nadeo untuj segera masuk. Hati Nadeo jadi was-was, ia jadi takut kalau Nabila benar akan meninggalkannya.
...****************...
Nabila mengobrak-abrik isi laci untuk mencari flashdisk yang seingatnya ia taruh di dalan laci. Tapi tiba-tiba ia melihat satu kertas yang dilipat.Ia jadi penasaran, kertas apa itu? Seingat Nabila ia tidak menaruh kertas apa oun di sini. Nabila mengambil kertas tersebut.
"Kertas Apa ini?"
Nabila membuka lipatan kertas itu. *Surat?
__ADS_1
Dear Nabila.
Bil ini mbak Raya. Sebelumnya Mbak mau minta maaf sama kamu. Maaf karna Mbak sudah lancang masuk ke dalam hidup kamu. Mbak datang ke dalam rumah tangga kamu. Mengganggu kamu. Enggak seharusnya dulu Mbak menerima lamaran dari Mas Nadeo. Harusnya Mbak menolak. Tapi dengan tidak tahu dirinya Mbak menerima pinangan Mas Nadeo. Mbak bodoh, Mbak jahat. Kamu boleh marah sama Mbak bil. Mbak adalah perempuan jahat dan egois. Dengan teganya Mbak tidak memikirkan perasaan kamu. Padahal kita sama-sama perempuan, harusnya Mbak tahu bagaimana perasaan kamu. Sekali lagi Mbak minta maaf Bil. Dengan tidak tahu malunya Mbak ingin mengatakan Mbak kembalikan Mas Nadeo ke kamu Bil. Sekarang Mbak sadar, kalau Mas Nadeo sangat mencintai kamu Bil. Mbak yakin kamu bisa bahagiain Mas Nadeo. Jangan tinggalin dia Bil. Mbak pergi Bil. Anggaplah beberapa tahun yang kemarin itu adalah keegoisan Mbak, yang ingin bersama Mas Nadeo. Sebenarnya Mbak mandul Bil. Mbak gak bisa memberikan keturunan untuk Mas Nadeo. Dan Mbak yakin kamu bisa memberikan itu semua untuk Mas Nadeo. Mbak harap, kamu tidak meninggalkan dia ya Bil?
Love you Nabila.
Jaga Mas Nadeo ya*?
Nabila kembali melipat surat itu. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Raya. Mengapa dulu ia menikah dengan Nadeo dan ujung-ujungnya meninggalkan Nadeo? Mengapa dulu ia mengambil Nadeo darinya lalu mencampakkan, dan dengan taganya ia mengembalikan Nadeo padanya.
Apa Raya tak memikirkan perasaanya? Ia tak mungkin mencintai laki-laki yang sudah menutup hatinya. Nabila berhak bahagia dengan orang lain. Kenapa Raya memaksanya untuk bersama Nadeo lagi.
Dan lagi pula, kenapa ia harus mendengarkan Raya. Bukankah ia punya hak untuk menentukan jalan hidupnya. Mengapa ia tak boleh egois setelah apa yang dialaminya selama ini.
Nabila kecewa. Mengaoa orang-orang di sekitarnya tak pernah peduli dengan perasaannya? Mengapa ia selalu jadi pengganti?
"Gak ada yang mau mengerti perasaan aku." Lirih Nabila.
Nabila merobek surat yang ada di tangannya, hingga tak lagi berbentuk. Ia membuang asal kertas itu. Lalu mengambil Hp yang ada di atas nakas lalu menekan aplikasi hijau, mecari Nomor seseorang.
"Halo Bil?"
"Aku mau ketemu sama kamu Mas, bisa?"
"Bisa. bisa banget malah."
"Mas beneran gak sibuk kan?"
"Enggak dong. Mas gak pernah sibuk kalau ketemu kamu."
"Ok Mas, aku sharelock ya?"
__ADS_1
"Sip!!"