
Dua bulan berlalu, dan proyek Egy berada di tahap akhir, artinya proyeknya sebentar lagi akan rampung.
Tak menunggu waktu lama, Egy sangat menantikan waktu sekarang ini. Ia sudah berjanji pada Nabila untuk mengenalkan Nabila kepada orang tuanya.
Egy membaca laporan akhir proyeknya yang diberikan Nabila, semua berjalan lancar tanpa kendala apa pun, seolah pekerjaannya juga mendukungnya. Dan ya! Mareka sukses.
"Bil, siap-siap ya?" Ucap Egy sembari menutup file yang dibacanya dan diletakkan di atas meja.
"Siap-siap kemana Mas?" Tanya Nabila bingung yang duduk berhadapan dengan Egy.
"Seperti janji Mas kemarin, Mas mau bawa kamu ketemu sama orang tua Mas!"
Aduh! Kenapa rasanya Nabila belum siap ya untuk bertemu dengan orang tuanya Egy? Ucapan Putri dua bulan yang lalu membuat kepercayaan dalam dirinya merosot ke level terendah. Nabila menjadi over thinking sendiri. Ia tak lagi percaya diri dengan status yang disandangnya sekarang. Haruskah ia batalkan saja?
"Bil..." Panggil Egy lembut.
"Iya Mas?" Jawab Nabila gugup.
"Kok bengong?"
"Ah..., enggak kok!" Bantah Nabila.
"Tapi Mas liat kamu bengong aja sedari tadi. Ada apa? Kalau punya masalah cerita sama Mas, Mas pasti bantu."
Jeda. "Apa kita tunda saja ya Mas?"
"Maksudnya? Tunda apa?" Tanya Egy was-was.
"Tentang yang Mas bilang tadi, ketemu-"
"Loh kenapa?" Tanya Egy cepat, terselip nada khawatir dari diri Egy.
"Aku belum siap Mas." Aku Nabila lirih.
Serasa hati Egy merosot ke titik terendah. "Tuh kan! Mas nyesel gak bawa kamu dari kemarin. Harusnya Mas gak nunggu proyek itu selesai. Baru dua bulan aja, kamu ufah berubah pikiran." Sesal Egy kecewa.
Melihat raut keceea Egy, Nabila juga menjadi tak tega. Masa harus Egy selalu yang menanggung kekecewaan. Sungguh tak adil baginya.
__ADS_1
"Kamu beneran mau tunda Bil?" Tanya Egy lembut memastikan.
"Aku hanya takut Mas."
"Takut kenapa?"
"Aku takut kalau ternyata aku tidak sesuai ekspektasi orang tua Mas, dan bikin mareka kecewa Mas. Tepatnya aku takut aku tidak bisa diterima Mas!"
"Hey!" Egy menggenggam tangan Nabila yang berada di atas meja dan mengelusnya lembut. "Siapa yang bilang Bil? Bahkan kamu ketemu aja belum, Masa kamu langsung bisa berpikir seperti itu?"
"Kalau ternyata pikiran aku benar gimana Mas?"
"Mas sendiri yang akan bersimpuh dan memohon Bil! Mas akan tetap memperjuangkan kamu, apa iti cukup?"
Diam. Baiklah, tidak ada salahnya juga ia mnecoba. Toh Nabila juga belum pernah bertemu denhan orang tua Egy secara resmi. Egy baik, tentu saja orang tuanya juga baik. Nabila menyemangati firinya sendiri.
"Kita coba Mas!" Putus Nabila.
Egy tersenyum. "Minggu depan ya?"
"Aku harus bawa apa Mas? Biar bisa aku siapin."
"Ok! Bukan ide yang buruk kok!"
...****************...
Tepat seminggu setelah pembahasan kemarin. Egy benar-benar membawa Nabika ke rumahnya untuk diperkenalkan kepada orang tuanya.
Sebelumnya ia sudah mengajak Nabila ke salon dan malk untuk perewatan dan membeli baju. Dan bukan Nabila namanya jika tak menolak. Jelas Nabila menolak permintaan Egy yang menurutnya konyol. Ia mengatakan pada Egy tak ingin kebanyakan gaya di depan orang tuanya Egy, biarlah mareka melihay Nabila apa adanya, dan dapat menilai sendiri.
Dan kalian pasti tahu, bukan Egy namanya jika tak menuruti keinginan Nabila. Yupz, Egy tidak mempermasalahkan itu, yang terpenting Nabila mau di ajak bertemu dengan irang tuanya saja sudah sangat bersyukur.
Sebelumnya Egy juga sudah memberitahukan pada Mamanya bahwa ia akan membawa Nabila untuk dikenalkan pada mareka. Anehnya Mamanya hanya mengatakan 'oh' dan 'iya'. Tak ingin berburuk sangka, ia anggap saja Mamanya sedang lelah.
Dan sekarang di sinilah Nabila berada. Di depan sebuha rumah mewah bergaya Eropa. Rumah yang di dominasi dengan cat berwarna putih, dan memili dua lantai. Setidaknya itu adalah kesan pertama yang Nabila ketahui saat pertama kali melihat rumah Egy.
Nabila tak bisa membayangkan betapa mewahnya rumah ini dari luar. Ingat baru dari luar, gimana dalamnya? Berbeda sekali dengan rumahnya, yang tidak ada apa-apanya. Bahkan rumah Nadeo juga tak semewah ini. Seketika Nabila menjadi sadar diri, betapa tidak pantasnya ia berdiri di sini. Ia juga jadi teringat pada perkataan Putri tempo lalu yang mengatakan ia tak pantas bersanding dengan Egy dari segi mana pun, dan itu benar adanya, ia memang tak pantas untuk Egy.
__ADS_1
"Kok bengong? Ayuk?"
Suara Egy berhasil membuyarkan lamunan Nabila. Tanpa ia sadari Egy sudah menggenggam tangannya.
Tangan Nabila terasa dingin, Egy tahu perempuan di sampingnya ini pasti gugup.
"Tangan kamu dingin banget." Bisik Egy di telinga Nabila. "Gugup ya?"
Nabila mengangguk. Bohong rasanya jika ia bilang tidak gugup. Ini adalah kali pertama baginya. Sedangkan saat dengan Nadeo dulu, beda cerita. Ia didampingi oleh Pakde dan Bude. Dan saat iti jelas dia diterima, karena mareka diojodohkan, hanya saja Nadeo yang tak menerimanya. Ah, kenapa juga jadi mikirin Nadeo?
"Gak usah gugup, Mas selalu di samping kamu."
Nabila mengangguk, mengiyakan perkataan Egy.
"Gimana penampilan ku Mas?" Tanya Nabila cemas.
Entah sudah berapa kali Nabila menanyakan hal itu. Jujur saja, Nabila sudah tak lagi pede dengan apa yang tersemat di tububnya. Semua seperti kurang.
"Sempurna!" Jawab Egy.
Sumpah! Untuk saat ini Nabila tidak butuh jawaban seperti itu, itu lebih kepada sebuah gombalan. Ia ingin Egy mengoreksi penampilannya.
Egy menaikkan alisnya. "Kenapa?"
"Aku takut Mas! Perasaan ku gak enak!"
"Kamu cuma gugup."
Katakanlah benar Nabila sedang gugup, tapi tidak! Rasanya kata takut lebih benar. Bagaimana bisa Nabila bersikap biasa saja, ia dan Egy sangat jauh berbeda bagaikan langit dan bumi. Ia hanha debu yang tiada artinya dibanding Egy. Pantas Putri merasa pantas bersama Egy.
Egy mengertakan genggamannya pada Nabila, seolah ia berkata 'tenang! Semua akan baik-baik saja'.
Sampai di dalam rumah, Nabila malah dibuat melongo dengan seisi rumah yang oenuh dengan barang mewah. Guci, sofa, lukisan, horden, dan ah.., rasanya debu yang berada di sini juga ikut-ikutan mewah.
Terus terang, sekian lama berada di kota Jakarta, Nabila tak pernah masuk ke dalam rumah yang sebesar dan semewah ini. Dibilang Cinthya, ia pernah ke rumah Cinthya, tapi tak semewah ini.
Egy membawa Nabila ke depan Mamanya yang berada di sofa, pasti sedang menunggu kedatangan mareka.
__ADS_1
"Ma..., ini Nabila." Egy memperkenalkan Nabila, dan Nabila hanya tersenyum canggung.
Kira-kira gimana ya reaksi Mamanya Egy, alias Bu Yura? Komen ya teman-teman.