
Di sinilah Egy sekarang berada. Di depan rumah Nabila. Rumah minjmalis yang di dominasi dengan cat berwarna putih. Rumah yang sama sekali tidak besar dibanding rumahnnya.
Setelah menimbang-nimbang kemarin, akhitnya Egy memutuskan menemui Nabila terlebih dahulu. Ia perlu penjelasan dari Nabila, sumber yang paling ia percaya. Ia tak peduli jika sekarang disebut anak durhaka. karna ia tak lagi percaya oada setiap kata Mamanya.
Sejak penolakan Nabila kemarin ketika dibawa ke rumah, Egy benar-benar kecewa dengan Mamanya, ditambah lagi dengan kelakuan Mamanya yang bersikeras tak merestui hubungan mareka. Pasti ini salah satu alasan Nabila mundur.
Sedari tadi Egy sudah berdiri di depan gerbang, ia sedang kemantau keadaan di rumah Nabila. Dan yang Egy dapati Nabika sama sekali tak keluar rumah, atau memang sedang tidak berada di rumah.
Akhirnya Egy putuskan untuk masuk. Dan kinu ia sudah ada di depan pintu rumah Nabila, tak menunggu waktu lama, Egy segera mengetuknya.
"Sebentar!!" Sahut orang yang di dalam yang tak lain adalah Nabila.
Tak lama kemudian pintu terbuka, dan nampaklah perempuan yang dirindukan Egy. Egy melemparkan sebuah senyum pada Nabila, tapi ia tak mendapat balasannya. Perih.
"Bil...," Lirih Egy lembut, ingin sekali ia merengkuh perempuan itu dan dibawa ke dalam pelukannya.
"Ada perlu apa?" Nada itu terdengar datar dan dingin. Tidak. Egy sangat mengerti jika Nabila sudah berbicara dengan nada yang begitu datar, artinya ia sudah tak baik-baik saja.
"Boleh aku masuk?"
Nabila menggeleng. Ia tak mengizinkan Egy masuk. Daripada Egy yang masuk, lebih baik ia yang keluar, dan akhirnya ia yang keluar.
"Ngomong di luar saja."
Ah berbicara di luar lebih baik daripada Nabila tak mau berbicara sama sekali dan memilih menghindarinya.
"Di sini saja!" Ucap Nabila lagi ketika sudah berada di ujung teras, dan Egy mengekorinya.
Ah yang benar saja? Ia dan Nabila mengobrol di teras? Sudahlah tak apa, tak jadi masalah.
"Ada hal yang pengin aku omongin."
"Gak usah bertele-tele Mas! Aku tahu Mas ke sini mau apa."
__ADS_1
"???"
Apakah Nabila sekarang menjadi cenayang, mengerti apa yang ada dalam pikiran Egy? Ah tapi bukan begitu. Nabila sudah bisa menebak jalan ceritanya dengan Egy. Egy pastilah ingin meminta penjelasan tentang resign dan tentang ia yang mengabaikannya.
"Mas akhiri saja hubungan kita!" Ah begini lebih tepat rasanya.
"what??" Potong Egy cepat. Lelucon macam apa ini?
"Mas! Kita sama sekali gak punya kecocokan.Orang tua Mas gak merestui! Kita menikah tanpa restu irang tua sama saja bunuh diri."
"Jangan gila kamu Bil! Kita sudah sampai di titik ini, dan kamu mau menyerah begitu saja?" Berang Egy, kali ini ia emosi pada Nabila. Ah tidak-tidak! Bukan emosi, tapi kecewa. Sikap Nabila melukai hatinya.
"Mas! Bukannya aku menyerah. Tapi ini gak layak diperjuangkan!"
Egy berdecak kesal. "Gak layak? Gak layak bagaimana? Coba jelaskan di mana letak tidak layaknya?"
Egy adalah seseorang yang tak mau kalah. Sekali ia suka, ia harus mendapatkan itu, termasuk cinta.
Nabila diam sejenak. "Kita berbeda Mas!" Kata Nabila datar.
"Mas sadarlah! Ada yang lebih mencintaimu, buka mata kamu."
"Lalu, kamu mau menutup mata dengan tidak melihat ku? Orang yang selama ini mencintai kamu?" Tanpa dapat ditahan, Egy berubah menjadi melankolis.
"Aku gak tahu hal apa yang membuat kamu tiba-tiba berubah Bil! Jika alasannya tetap restu orang tua aku. Aku jamin, sesegera mungkin aku akan mendapatkan restu itu. Kalau kamu gak mau menunggu lama, ayo kita menikah saja Sekarang. Toh yang dibutuhkan juga wali dari pihak wanita." Kata Egy tak sabar.
Nabila menggeleng. Tentu saja usul Egy tidak ia setujui sama sekali. Ia ingin rumah tangganya bisa berjalan dengan baik nantinya. Sudah ia tekadkan ia tak mau menikah tanpa restu orang tua, ini bukanlah hal yang sepele, terlebih Egy adalah seorang yang punya andil besar dalam perusahaan. Tentu ia akan terus jadi bahan omongan orang lain, jika ia nekat melancarkan niat Egy itu. Belum lagi cap yang akan diterima olehnya nantinya. Sungguh usulan Egy bukanlah ide yang tepat untuk memecahkan masalah mareka.
"Sikap kamu bikin aku terluka tau gak Bil?" Tuhkan! Suara Egy saja sudah bergetar ketika mengatakan itu, ia benar-benar terluka.
Nabila memilih mengalihkan atensinya untuk tidak bertatap-tatapan dengan bola mata Egy yang akan membuatnya juga terluka dan dipenuhi rasa bersalah. Biarlah kali ini ia menjadi orang yang tegaan.
"Kenapa sih Bil? Kenapa juga harus tiba-tiba? Aku telpon kamu gak angkat, WA gak dibalas, dan semua akun media sosial kamu blokir. Aku gak punya akses sama sekali untuk hubungin kamu. Aku pulang, aku dapat kabar kamu resign! Benar Mama yang nyuruh kamu rrsign?" Nada bicara Egy semakin melemah. Apakah ia sudah jatuh sedalam-dalamnya?
__ADS_1
"Mas! Pertanyaan itu harusnya aku gak jawab lagi! Kamu juga tahu jawabannya." Sahut Nabila. Aku sedang menghindari kamu Mas! Karna Mama yang nyuruh! Tentu saja kalimat itu hanya mampu diucapkan Nabila dalam hati.
"Mending sekarang Mas lupain aku aja. Itu jalan terbaim dari sekian banyak jalan."
Tidak! Jangan pernah katakan itu pada seorang Egy Al-Vikri, tentu saja ia tak akan terima.
"Enteng banget kamu ngomong gitu Bil! Kamu Gila ya?" Berang Egy. Jelas ia emosi jika disuruh meningbalkan Nabila, walau irangnya sendiri yang memintanya.
"Kamu Mas yang gila!" Balas Nabila.
"Aku memang sedari dulu sudah gila Bil! Tergila-gila sama kamu! Kamu juga tahu itu!" Ujar Egy marah sampai urat lehernya ikut terlihat.
Nabila membuang napas kasar. "Mas jangan temui aku lagi. Aku gak pengen punya masalah!"
"Justru itu yang jadi masalah. Kamu ninggalin aku, itu jadi masalah besar Bil! Jangan coba-coba untuk ninggalin aku Bil! Aku akan lakuin cara apa pun suoaya kuta bisa bersama!" Ancam Egy.
"Mas ngancam aku?"
"Iya! Supaya kamu tahu kamu sedang berhadapan dengan siapa." Tekan Egy.
"Ibu dan anak sama aja, suka mengancam."
"Maksud kamu?"
Nabila menggeleng.
Oh tidak! Nabila mengutuk mulutnya yang kecoplosan. Ia memegang mulutnya yang tanpa ia sadari tadi mengatakan isi hatinya.
"Jawab Bil!" Desak Egy.
"Gak ada Mas!" Nabila menggeleng lagi.
"Mama ngancam kamu?"
__ADS_1
Nabila tak tahu harus menjawab apa. Dan ya! Inu jawaban yang sedari tadi Egy inginkan.
"Aku pulang!" Pamit Egy. Ia tak butuh pengakuan Nabila. Ia tahu Mamanya benar-benar menjadi akar masalah.