
Dua hari di rumah sakit, akhirnya Nadeo diperbolehkan pulang. Keadaannya juga tidak parah, malahan ia langsung boleh pulang dari kemarin, hanya saja ia sendiri yang mengatakan bahwa dirinya masih kurang sehat, alih-alih ingin dirawat Nabila.
Dan selama dua hari itu Nabila terus menemani Nadeo, layaknya sang istri yang telatrn menjaga suami yang tengah sakit. Karna posisi inilah yang membuat Nadei berharap ia bisa berada di rumah sakit lebih lama lagi. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa tidak sakit parah saja? Dengan kata lain ia betah diurusi Nabila.
Ketika pulang, Nabila ikut mengantarkan juga. Inu murni Nabila lakukan karna Nadeo sudah menyelamatkannya dari si bedebah Arif, bukan karna ia yang masih punya rasa ya sama Nadeo. Untuk masalah perasaan Nabila sedang tidak ingin memikirkannya dulu. Biarlah begini saja.
Nabila juga ditemani Soegi yang kebetulan masih berada di Jakarta, ada Mbak Ines, Mas Hanis, dan juga Icha.
"Makasih ya Bil, udah mau repot-repot nganterin." Ucap Mbak Ines pada Nabila yang duduk di sofa.
"Iya Mbak, sama-sama. Sudah seharusnya kok!" Jawab Nabila dengan sopan. "Oh ya Mbak, aku dan Soegi pamit ya?"
"Loh? Kok buru-buru?" Tanya Ines.
"Gak kok Mbak. Aku ada janji sama teman." Bohong Nabila.
"Oh ya sudah deh kalau gitu. Hati-hati di jalan!" Pesan Mbak Ines.
"Iya Mbak. Yok Gi?" Ajak Nabila.
Nabila dan Soegi oun bangkit dari sofa dan berlalu dari rumah Nadeo, tepatnya rumah mantan mertuanya dulu.
Setelah kepergian Nabila, Nadeo kembali dari toilet. Ia mendapati Nabila sudah tak ada lagi.
"Kemana Nabila Mbak?" Tanya Nadeo seraya duduk.
"Ada janji katanya."
Nadeo.langsung memasang tamoang kecewa.
"Cie yang dapat lamou hijau." Celetuk Icha yang baru bergabung.
"Apaan sih? Bocil tau apa?" .
"Jangan sia-siain kesempatan Deo!" Pesan Ines.
"Pasti Mbak!" Jawab Nadeo mantap.
...****************...
"Bila!"
Nabila menaikkan alisnya ketika Nadeo memanggilnya. Ia tak salah lihat, itu benar Nadeo yang mendekat ke arahnya.
"Boleh bicara sebentar?" Tanya Nadeo yang kini sudah berada di hadapan Nabila.
"Lima menit!" Tawar Nadeo ketika melihat gurat keberatan di wajah Nabila.
Nabila mengangguk, setelah cukup menimbang.
Mareka duduk di kursi tamab rumah sakit. Iya! Nabila memang sedang berada di rumah sakit di tempat Nadeo bekerja, yang tak lain adalah rumah sakit milik orang tua Cithya. Keberadaanya Nabila di sini adalah bertemu dengan Dokter psikologi. Ia memang baru selesai berkonsultasi dengan Dokter psikologi.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu Bila!" Ucap Nadeo mengawali obrolan. " Aku tidak berniat mencampuri urusan kamu, hanya saja aku merasa aku memang berhak mengetahuinya.
__ADS_1
"Maksud Mas?" Balik tanya Nabila.
"Tentang penculikan kamu. Kamu pasti tahu siapa orangnya kan?"
Nabila menggeleng. "Enggak Mas! Aku gak kenal." Bantah Nabila.
"Pleas Nabila, gak mungkin mareka culik kamu tanpa alasan. Gak masuk akal." Nadeo tahu Nabila menyembunyikannya padanya.
"Aku benar-benar gak tahu Mas!" Nabila menyangkal kembali.
"Kamu gak tahu, atau emang gak mau kasih tahu?" Terka Nadeo.
Nabila memejamkan matanya sesat, ingin ia mengatkan yang sebenarnya, tapi ia masih takut.
"Kamu di ancam?" Tebak Nadeo lagi.
Nabila memggeleng, kembali menampik tuduhan Nadeo.
"Bilang Bila, kalau kamu di ancam!" Teriak Nadeo, namun tak begiru keras.
"Gak Mas!"
"Kita lapor polisi Bil! Aneh kamu, setelah fi culik, tapi kamu gak berusaha melapor polisi."
"Jangan Mas!" Tolak Nabila cepat. "Aku mohon janhan lapor polisi."
"Kasih aku alasan Bil! Kenapa aku gak boleh lapor polisi?" Serang Nadeo. "Aku punya hak Bil!"
"Pleas Mas! Saat ini aku belum bisa ngasih tahu alasannya, tapi aku janji akan kasih tau Mas nanti."
Nabila melotot. Benarkah yang dikatakan Nadeo itu. Ia tahu semuanya.
"Mas."
"Sekarang urusanmu akan jadi urusanku Nabila."
Ah Nabila merutuki dirinya yang bodoh. Harusnya ia menyadari dari awal mengapa biaa Nadeo tahu tempat ia di sekap. Dan dengan penuh keberanian ia masuk sendiri, seolah tahu seberapa bahayanya.
Bukan hanya itu, lambat ia ketahui dari Soegi kemarin, bahwa saat itu Nadeo tidak mengizinkan Soegi masuk. Ia hanya disuruh menunghu di luar.
...****************...
Egy memarkirkan mobilnya ketika melihat Nabila keluar dari super market. Ia segera turun dan menghampiri Nabila. Nabila dibuat terkejut ketika menyadari Egy sudah berada di sampingnya. Entah mengapa ketika ia mendapat ancaman kemarin, sekarang jika melihat Egy rasanya seperti melihat hantu.
"M..., Mas Egy." Ucap Nabila gugup, dan takut.
"Kamu habis belanja?"
Nabila mengangguk ragu.
"Sama siapa ke sini Bil?"
"Se..sendiri Mas." Masih gugup.
__ADS_1
"Mas antar pulang yuk?" Tawar Egy.
"Gak!" Tolak Nabila cepat.
"Kenapa?" Tanya Egy dengan tampang heran.
Apa yang salah dengan tawarannya? Dan ia tidak bodoh, ia dapat menangkap raut ketakutan dari wajah Nabila. Ia seperti melihat Egy sosok yang menyeramkan.
Kemarin ia sudah menuruti saran Cinthya, untuk membiarkan Nabila tenang dulu dan jangan di ganggu. Hingga untuk bebetapa saat kematin, ia tak menghubungi Nabila. Anehnya Nabila malah berubah menjadi ketakutan saat melihatnya.
"Mas..., aku pulang sendiri aja." Tolak Nabila.
"Bila, ini udah malam, aku antar aja ya? bahaya kamu pilang sendiri." Bujuk Egy.
"Lebih bahaya lagi kalau pulang sama Mas!"
"Maksud kamu?"
"Udahlah Mas, aku mohon jangan ganggu aku lagi."
Nabila ingin pergi, namun Egy mencekal lengannya.
"Kamu kenapa berubah Bil? Kamu bilang aku bisa kembali kalau sudah punya restu." Protes Egy.
Nabila mentap Egy tajam.
"Memangnya sekarang Mas sudah mendapat restu itu?"
Skakmat! Egy hampir tak bisa menjawab.
"Mas sedang berusaha!"
"Tidak usah berusaha lagi Mas, aku gak bisa lagi sama Mas!"
Egy menyipitkan matanya.
"Maksud kamu?"
"Akubgak bisa lagi sama Mas Egy." Jelas Nabila. "Aku harap Mas bisa lupain aku."
Egy menggeleng. "Jangan pernah katakan itu Bila. Tarik kembali ucapanmu!" Teriak Egy.
"Mas, aku gak mau membahayakan diriku sendiri juga keluargaku hanya karna Maa Egy."
"Mas gak ngerti lagi sama kamu."
"Pokoknya jangan temui aku lagi Mas. Kita berpisah. Itu adalah jalan keluar terbaik!"
"Sejak kapan perpisahan menjadi jalan keluar terbaik?"
Nabila tak menjawab, ia menarik lengannya kasar dan pergi. Egy mengajar dari belakang.
"Pleas, seenggaknya biarin Mas antar kamu pulang sampai rumah. Mas gak tenang kalau kamu belum sampai rumah." Pinta Egy tulus.
__ADS_1
Nabila memandang Egy yang penuh harap, jujur ia juga kasihan melihat Egy.
"Ini yang terakhir Mas!" Batin Nabila, kemudian mengangguk.