
Nabila membawakan dokumen yang akan dibawa Egy ketika ke Surabaya. Yupz! Rencananya hari ini Egy akan terbang ke Surabaya. Dia akan menangani proyeknya untuk tahap akhir dan final.
"Baik-baik di sini ya, selama aku gak ada." Kata Egy lembut pada Nabila yang duduk di depannya, seolah tengah berkata pada istrinya.
Nabila hanya tersenyum. "Kayak aku istrinya Mas aja."
"Loh! Kan Calon istrinya Mas!" Sahut Egy sambil mengusap pucuk kepala Nabila dengan gemas.
"Dan pasti akan jadi istrinya Mas!" Tekan Egy.
Selesai mempersiapkan segala dokumen yang akan dibawa Egy, akhirnya Nabila duduk di sofa bersama Egy yang sudah berpindah tempat dari meja kerja.
Harusnya, ia lah yang menemani Egy ke Surabaya, karna dirinya adalah sekretaris Egy. Tapi Egy melarang Nabila ikut bersamanya. Ia tak ingin ada gosip miring tentangnya dan Nabila.Bukan begiti maksudnya, ia tak peduli dengan dirinya, Ia bukan memikirkan reputasinya, melainkan ia sangat menyayangkan bila Nabila jadi bahan gosip karyawan. Karna bukan lagi rahasia umum, Nabila dan Egy punya hubungan lebih dari seorang Bos dan karyawan, melainkan hubungan yang begitu special.
"Kerjaan di Surabaya beres, Mas langsung pulang!" Tegas Egy.
"Aku gak nyuruh." Sahut Nabila.
"Inisiatif sendiri. Aku tau kamu bakalan over thinking kalau aku jauh-jauh dari sisi kamu."
"Gak kebalik tuh?"
"Kalau aku memang sudah pasti." Aku Egy. "Takut ada yabg genitin kamu."
"Iya! Soalnya aku yang paking cantik di dunia ini, makanya banyak yang akan genitin aku." Tukas Nabika dengan memutar bola mata malas.
"Di mata aku iya!"
Nabila menggeleng. Ia tak habis pikir pada Egy. Bagaimana bisa sosok sempurna sepertinya jatuh cinta kepadanya, bahkan tergila-gila padanya.
"Setelah pulang dari Surabaya Bil, aku akan yakinin Mama, buar secepatnya kita bisa langsung menikah."
"Gak usah bahas itu dulu. Kerjaan lebih penting."
"Kamu jauh kebih penting Bil!"
__ADS_1
...****************...
Egy sudah berangkat ke Surabaya. Mungkin ia akan berada di sana selama tiga hari atau bahkan bisa lebih, tergantung seleaainya pekerjaannya.
Dan setelah kemarin Egy berangkat, hari ini Nabila mendapat ajakan bertemu dari Bu Yura, Mamanya Egy.
Nabila sudah lebih dulu menebak pembahasan apa yang akan dibawakan oleh Bu Yura. Setidaknya Nabila sudah pintar membaca gerak-gerik Bu yura.
Nabila menerima ajakan dari Bu Yura, supaya ia tak dianggap seorang pengecut. Nabila tetap memilih mau bertemu dengan Bu Yura. Terlepas dari Bu Yura yang tak menyukainya, maka ia harus berhadapan dengannya, dan meluruskan semuanya.
Jam makan siang Bu Yura sudah menunghunya di cafe terdekat dari kantor. Dan Nabila menepati jannjinya bertemu dengan Bu Yura di cafe tersebut.
Cafe saat ini mareka bertemu adalah cafe temoat biasanya Nabila dan Egy menghabiskan jam makan siang. Selain paling dekat dari kantor, cafe ini juga punya desaain yang unik yang membuat pengunjung menjadi nyaman.
Ketika Nabila masuk ke cafe tersebut, seorang pelayan dengan baju seragam langsung menghampirinya. Dan pelayan itu mengantatnya ke ruangan VIP, mungkin agar tak ada yang menguping pembicaraan mareka.
Sekarang Nabila sudah duduk berhadapan dengan Bu Yura, Nyonya dari perusahhan ASHER GROUP.
"Selamat siang Nabila!" Sapa Bu Yura. Tapi harus kalian ingat, ini bukanlah sapaan hangat atau ramah, sapaan ini lebih mengintimidasi. Dan terdengar sangat formal.
"Saya tidak suka berbasa-basi, lanhsung saja ke inti." Ucap Bu Yura.
Nabila mengangguk menyetujui. Ia juga tak suka berbasa-basi dengan orang yang telah menghinanya.
"Tinggalin anak saya!"
Dan ya! Tebakan Nabila tak pernah meleset. Rasanya setelah ini ia bisa jadi peramal, ia tahu apa yang akan terjadi untuk ke depannya. Becanda ya?
Entah kenapa orang kaya selalu semena-mena.
"Saya tahu siapa kamu, dari mana asal kamu. Dan saya bisa melakukan apa saja terhadap kamu dan kekuarga kamu." Ah, entah itu sebuah pemberitahuan atau ancaman, yang jelas dari nadanya Bu Yura tidak main-main dengan ucapannya.
"Boleh tahu alasan mengapa ibu tidak menyukai saya?" Tanya Nabila dengan bahasa formal. Ia juga perlu tahu alasan yang sebenarnya, agar ia bisa mengambil langkah, maju atau mundur.
Bu Yura tertawa merehmehkan. "Kamu serius mau bertanya tentang itu?"
__ADS_1
"Jika ibu berkenan menjawabnya." Wah, Nabila seperti bicara dengan seorang klien saja.
"Tentu saya berkenan." Jawab Bu Yura cepat. "Tapi saya juga heran apa kamu sendiri tak tahu dan tak sadar diri?"
"Ah..., mungkin kamu belum sadar ya? Biar saya yang menyadarkan kamu." Lanjut Bu Yura dengan kejam.
Entah mengapa setelah tahu Nabilahlah yang menjadi pujaan hati anaknya, Bu Yura menjadi orang yang kejam, dan jahat. Berbanding terbalik dengan sifatnya yang dulu lembut, baik, ramah dan juga menghargai orang lain.
"Kamu mau tau kan apa yang membuat saya tidak menyukai kamu?" Mata Bu Yura melotot Nabila tajam. "Jawabannya semua! Semua yang ada pada diri kamu saya tidak suka. Apa pun yang berhubungan dengan kamu, saya tak suka. Saya tidak suka perempuan yang materialiatis. Jangan kamu berpikir saya tidak tau, kamu meninggalkan suami kamu demi bisa mendekati anak saya yang lebih kaya dibanding suami kamu dulu." Urai Bu Yura panjang.
Sekejam itu pikiran Bu Yura pada Nabila.
"Jangan sangkal itu. Itu kenyataannya. Kamu tidak perlu membela diri atau menjelaskan. Dan jangan pernah coba-coba untuk mengatakan semuanya salah paham. Saya cukup berpengalaman dengan wanita-wanita seperti kamu." Seakan perkataan Bu Yura adalah sebuah peringatan bahwa tak ada lagi kesempatan atau celah agar Nabila bisa menjadi bagian keluarganya.
"Harus kamu ingat! Apa pun yang terjadi saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian."
Kadang Nabila berpikir beginikah yang dialami Raya selama ini? Hubungannya dengan Nadeo tak mendapat restu dari keluarga Nadeo seorang pun.
Tiba-tiba Nabila jadi kasihan membayangkan betapa tersiksanya Raya selama ini.
Terlintas bayangan Raya di kepala Nabila ketika Raya mengatakan. Jangan pernah menikah tanpa restu orang tua.
"Baik! Saya akan meninggalkan Mas Egy!" Putus Nabila.
Inikah akhir kisahnya dengan Egy? Ia yang berhenti berjuang?
"Bagaimana cara supaya saya bisa percaya kata-kata mu?"
"Saya akan resign. Saya akan mengajukan surat pengunduran diri." Nabila seolah tahu keinginan Bu Yura. Ia pasti tak akan puas dengan kata-kata Nabila, ia pasti ingin Nabila bisa membuktikan kata-katanya.
"Rupanya kamu cukuo peka maksud saya." Ucao Bu Yura dengan senyum kemenangan. "Saya akan memberimu uang nantinya. Berapa pun nominalnya tinggal sebutkan saja."
"Maar Bu! Dan terimakasih! Tapi Ibu tak perlu repot-repot!
Hay hay ayok dong like, komentar, dan subcribernya di tingkatkan, biar authornya semangat nulis.
__ADS_1