
"Apa yang ingin kamu tanyakan Nabila?" Tanya Egy.
Diam.
"Nabila?" Panggil Egy lagi.
Nabila masih diam dengan seribu keraguannya.
"Bila? Kamu bilang ada yang ingin kamu katakan, apa itu?" Tanya Egy sekali lagi penuh kelembutan.
Dari mata Eg saja dapat terbaca bahwa ia memang sangat mencintai wanita yang afa di depannya ini.
Dan inilah yang membuat Nabila tak tega dengan Egy. Ia yang selalu bersikap lembut juga sabar. Tegakah ia mengecewakan seorang Egy? Tapi ia juga tak boleh egois dengan hanya mementingkan diri sendiri. Lagi pula Egy tak pantas untuknya. Begitulah isi hati Nabila.
"Mas?"
"Iya Bila!"
"Aku ingin minta maaf sama Mas Egy." Ucap Nabila seiring tumpahnya air mata.
"Bila?" Egy hendak bangun untuk menghampiri Nabila, namun Nabila mengangkat tangannya menahan Egy. Egy pun mengurungkan niatnya lalu duduk kembali.
"Kamu kenapa? Kamu bikin Mas bingung dan khawatir tau gak?"
"Maafin aku Mas, aku bikin Mas Egy kecewa. Anggap saja aku perempuan tak tahu diri." Isak Nabila.
"Hey! Kamu bicara apa?"
Nabila mengangkat tangannya lagi, pertanda menyuruh Egy diam.
"Maaf Mas aku gak bisa balas kebaikan Mas. Maa boleh benci aku, hina aku, Mas boleh lakuin itu semua sama aku. Aku terima."
Egy semakin bingung dengan sikap Nabila.
"Nabila sebenarnya kamu kenapa? Jangan bikin Mas khawatir."
"Aku akan menikah Mas!"
Deg!
Jatuh! Hati Egy mencelos. Hatinya jatuh sedalam-dalamnya. Ia lemas, bingung, dan tak bisa berkata apa-apa.
"Dengan Mas Deo!" Lanjut Nabila berat.
Ditambah-tambah Egy merasa bingung. Kini perasaannya seolah dihantam dengan keras sampai ke dasar bumi hingga tak sanggup lagi bangkit. Egy masih berharap bahwa ini mimpi atau paling tidak halusinasi, atau prank. Akhir-akhir ini sedang nge trend prank, Bolehkah ia berharap kalau ini prank Nabila?
"Maafin aku Mas." Lirih Nabila.
Sepertinya ini nyata. Egy menangkupkan kedua tangannya di muka. Ia frustasi, hingga duduk oun tak nyaman dan resah. Egy sakit, kecewa, semua bercampur jadi satu. Ia masih tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Mas?"
"Kenapa Bila? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku yang kamu pilih?" Raung Egy frustasi.
"Maaf Mas."
"Katakan Bila. Katakan! Katakan salah ku."
"Enggak Mas! Mas Egy gak salah, sama sekali gak salah. Aku yang salah Mas, makanya aku minta maaf."
"Kamu tahu gak Bil? Kamu adalah orang yang paling jahat yang pernah aku temukan. Setelah kamu mengambil hati aku tanpa permisi, tanpa seizin aku dulu, lalu kamu campakkan begitu saja. Apa kamu gak tahu Bila? Ini sulit untuk aku?"
"Maafin aku Mas!"
"Kamu gak tahu kan kalau aku nangisin kamu setiap malam? sampai aku tertidur?" Egy kelepasan, tepatnta air matanya.
"Mas Egy jangan diterusin lagi Mas, aku mohon."
"Aku mohon Nabila jangan tinggalin aku dalam keadaan seperti ini."
"Mas Egy!"
"Aku cinta kamu Bila, sangat mencintai kamu."
"Mas! Maafin aku Mas! Jangan begini, aku makin merasa bersalah."
"Ok! Aku ingin tanyakan satu hal sama kamu Nabila, setelah itu kamu boleh pergi." Ujar Egy datar, "Apa pernah selama ini kamu mencintai aku, sedetik saja? Jawab dengan jujur Nabila."
Berat. Ini pertanyaan yang berat bagi Nabila. Tapi sesaat setelah itu, Nabila menggeleng pelan. "Enggak Mas!"
Egy mengangguk dan tersenyum ketir. Ia mengumpulkan segala kekuatannya agar tetap tegar. "Baiklah Bila. Aku rasa aku rela kamu menikah dengan orang lain."
Nabila menunduk.
"Kapan kamu menikah?" Tanya Egy.
"Minggu depan Mas!" Jawab Nabila pelan.
"Berikan aku undangan Bila. Aku ingin menyaksikan sendiri kebahagiaan orang yang aku cinta Aku ingin menghadiri hari bahagia orang yang aku sayang."
Nabila mengangkat kepalanya pelan, menatap netra yang masih berkaca-kaca di depannya.
"Aku harap kecewaku tak sia-sia Bila. Kamu harus bahagia!"
"Mas!"
"Keluar Bila. Aku bilang keluar sebelum aku menahan kamu pergi. Sebelum aku nekat menahan kamu di sini." Egy berdiri dengan emosi, ia menunjuk ke arah pintu agar Nabila keluar.
Nabila segera keluar, karna ia pun tak sanggup menyaksikan kehancuran Egy karnanya.
__ADS_1
sedangkan Egy menghancurkan semua yang ada di mejanya.
Melihat Nabila keluar dalam keadaan menangis, Nadeo segera memeluknya.
"Buat aku percaya Mas, bahwa keputusanku ini adalah keputusan yang paling tepat."
"Mas janji akan hal itu Bila!"
...****************...
Sebuah pesta dengan dekorasi mewah dan megah kini dilaksanakan di hotel ternama. Nadeo telah mengucapkan ijab qabul tadi.
Nabila mengenakan gaun putih berbahan silk. Gaunnya terlihay polos namun tetap menonjolkan kesan mewah karna bentuk gelombang pada sisi pundak dan pinggang. Nabila juga memakai hijab putih ditambah mahkota yang menjadi kesan anggunnya.
Sedangkan Nadeo seperti biasa ia memakai kemeja putih sebagai dalaman, dan luarnya jas hitam pengantin pada umumnya.
Dan sekarang mareka sudah sampai di sesi salaman.
"Terimakasih Bila, sudah mau memberikan kesempatan yang begitu berharga." Bisik Nadeo pada Nabila yang direspon dengan anggukan dan senyuman dari Nabila.
Di sini mareka terlihat sangat serasi dan bahagia.
Banyak tamu undangan berdatangan, karna kali ini Nadeo mengundang semua kaum kerabatnya mau yang dekat juga yang jauh. Begitu pula dengan Nabila, ia turut mengundang semua keluarganya, tentunya Pakde dan Budelah yang ikut andil dalam undang mengundang. Walau hampir secara dadakan, tqpi alhamdulillahnya semuanya berjalan dengan lancar.
Tapi dibalik megahnya pesta Nabila daAn Nadeo, ada seseorang yang sangat terluka hatinya. Siapa lagi kalau bukan Egy, laki-laki yang saat ini dengan tegar datang ke pesta, dan menyaksikan langsung hari bahagia pujaan hatinya.
"Mas, Nabila sudah digariskan menjadi jodohnya Pak Nadeo, bukan jodohnya Mas. Mas Egy harus buka lembaran baru." Ucap Cinthya yang baru saja berdiri di sampingnya
"Kayaknya gak deh Cin!" Geleng Egy, "Mas gak akan menikah dengan wanuta mana pun."
"Jangan gitu Mas!"
Egy berdiri dengan tatapan lesu, dan atensinya penuh pada pelaminan yang di sana terlihat Nadeo dan Nabila sedang tersenyum bahagia.
"Harusnya aku yang di sana." Lirih Egy.
Cinthya menepuk-nepuk pundak Egy pelan.
"Mas pasti punya jalan bahagia dengan cara yang lain. Maa orang baik kok." Cinthya mencoba menyemangati Abang sepupunya.
"Makasih Cin, dan makasih juga selama ini udah bantu Mas."
"Mas, mulai lagi deh. Mending gabung sama aku yok, bareng Dewangga juga, daripada di sini Mas sedih."
Egy mengangguk lesu. Cinthya menarik lengan Egy agar bergabung di meja bersamanya. Ia tak ingin melihat Abang supupunya terlalu larut dalam kesedihan. Ini bukan kesalahan Egy, bukan juga kesalahan Nabila. Tapi andai saja hubungan mareka direstui, ia yakin Egylah yang berdiri di sana.
Sedikit cerita, aku paling sedih dan kasihan sama Egy di part ini. Walau Egy adalah second lead dalam cerita ini, tapi aku paling suka karakternya dia. Kalian gimana?
Hay maaf sekali aku baru update. aku benar-benar sibuk kemarin. terimakasih semuanya.
__ADS_1