
Ini adalah hari terakhir Nabila di Bali. Karna nanti sore ia akan pulang lagi ke Jakarta. Benar kata Egy, setelah berjalan-jalan, rasanya bebaan di kepalanya sedikit terangkat. Ia memang paling tahu tentang dirinya, paling bisa mencuri hatinya.
Egy adalah soft boy. Mampu menaklukkannya dengan segala caranya. Apa ini bisa di sebut sebuah keberuntungan?
Nabila berdiri di balkon yang ada di kamar hotelnya. Ia mendapatkan fasilitas super mewah dari perjalanannnya. Rupanya tak salah bila ada yang mengatakan 'uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang'.
Nabila menikmati pemandangannya sekali lagi, sebelum nanti sore ia akan hengkang dari tempat ini. Nabila menyeruput segelas jus Jeruk yang ada di tangannya.
Egy yang sedari tadi memeperhatikan Nabila akhirnya mendekati perempuan itu.
"Ekhem!"
Nabila menoleh ketika mendengar suara dehaman. Orang tersebut sudah berada di sampingnya.
"Gimana liburannya?" Egy memulai topik pembicaraan dengan basa-basi. "Seru?"
"Seru! Lumayan! Gak buruk!"
"Jadi mana yang paling benar? Seru? Lumayan? Atau gak buruk?" Egy memberikan sedikit senyum manisnya.
"Seru!" Sahut Nabila diiringi senyumnya. "Aku baru pertama kali liburan loh Mas, dan ini gak buruk!"
"Oh ya?" Egy menaikkan alisnya memastikan.
Menurut Egy, Apa ada orang yang tidak pernah ke Bali? Bali kan surganya Indonesia. Kok bisa ada orang tidak pernah ke Bali. Begitulah pemikiran Egy. Jangan heran, untuk seorang konglomerat seperti Egy, itu sesuatu yang mengejutkan. Bahkan ia bisa bolak balik Bali-jakarta, jadi ia merasa heran jika ada bau-bau kemiskinan yang tidak sejalan dengan kehidupannya.
"Artinya ini pertama kali kamu ke Bali?" Tanya Egy lagi.
"Jangankan ke Bali, tempat liburan yang dekat saja aku tidak pernah Mas!" Aku Nabila.
Egy sedikit kaget mendengarnya.Tapi ia tak menampakkannya.
"Dari kecil aku gak pernah liburan Mas. Karna aku tidak berasal dari keluarga yang berpunya. Daripada liburan, uangnya lebih baik untuk sekolah kami saja. Alhamdulillahnya Pakde dan Bude mampu menyekolahkan kami semua. Itu sudah rasa syukur luar biasa bagi kami." Nabila menjeda sejenak dan menarik napas lalu membuangnya.
"Semoga saja aku bisa membawa mareka ke sini, setidaknya aku dapat membalas kebaikan mareka dengan menyenangkan hati mareka." Ada harapan dalam kalimat Nabila.
"Kalau kamu mau, aku bisa bawa mareka liburan. Kemana pun kamu mau." Tawar Egy sebagai solusi keinginan Nabila.
"Jangan Mas!" Tolak Nabila. " Aku mau bawa mareka dengan hasil kerjaku, biar mareka bangga dan bisa merasakan jerih payah mareka dulu. Aku masih Nabung."
Egy tersenyum simpul. Ia tak salah menaruh hati pada Nabila. Hanya satu salahnya, kenapa ia tidak bertemu Nabila sedari dulu saja?
"Kalau kamu nikah sama aku, mau liburan kemana pun akan ku turuti."
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk!"
Nabila yang tengah minum tersedak mendengar ucapan Egy. Dengan cepat Egy mengusap punggung Nabila.
"Kamu gak papa?" Tanya Egy sedikit khawatir.
Nabila menggeleng.
"Kamu kenapa?"
"Gak papa Mas."
"Kamu kaget ya?"
Mareka sudah berdiri seperti semula. Egy tangkap, Nabila tadi terkejut dengan ucapannya.
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku samoaikan sama kamu, tentang kita berdua." Celetuk Egy.
Tiba-tiba saja perasaan Nabila jadi tidak enak.
"Tentang kita?" Tanya Nabila?
Egy mengangguk. "Aku mau minta kesempatan ke dua sama kamu."
Benarkan? Egy memberikannya paket tour wisata itu pasti ada maksudnya. Kata 'tidak ada yang gratis di dunia ini' itu sangat benar. Buktinya saja sekarang Nabila, Egy pasti mengharapkan suatu balasan darinya. Termasuk mungkin saja perasaannya.
Egy mengangguk.
"Aku gak tahu maksud Mas Egy apa." Ucap Nabila pura-pura bodoh.
Egy memegang tangan Nabila dengan dua tangannya dan menatap netra Nabila lekat-lekat.
"Bil, apa perhatian aku ke kamu selama ini kurang? Apa aku gak kelihatan serius sama kamu?" Dengan tatapan serius Egy menuntut jawaban dari Nabila. Nabila merasa canggung dan salah tingkah.
"Aku sayang sama kamu, dan itu gak berubah sedari dulu. Yang ada rasa sayang ku kian membesar." Tambah Egy.
"Mas..."
"Pleas Bil, aku tahu kamu juga nyaman kan sama aku?"
Oke! Kali ini Nabila tidak menyangkal ucapan Egy. Ia memang nyaman dengan Egy selama ini.Tapi, apakah nyaman itu tandanya cinta? Kadang Nabila merasa mungkin dia mencintai Egy, tapi kadang kala ia merasa tidak pernah mencintai laki-laki itu. Nabila dilema dengan perasaannya sendiri.
"Kalau kamu dulu bertahan sama pernikahan kamu dengan alasan Mamanya Nadeo, sekarang kamu gak perlu mikirin itu lagi Bil. Aku tidak bermaksud sama sekali mengatakan kalau aku bahagia Mamanya Nadeo meninggal. Sungguh bukan gaya ku bahagia di ataa penderitaan orang lain. Hanya saja aku merasa kalau kamu berhak bahagia."
__ADS_1
Perlahan kata-kata Egy dibenarkan oleh benak Nabila. Laki-laki itu berhasil menghasut perasaan Nabila. Nabila mulai termakan omongan Egy. Benar! Sudah sepatutnya ia bahagia, ia tidak harus selalu memikirkan perasaan orang lain.
Tapi lagi-lagi hatinya menolak. Bukan menolak ucapan Egy, tapi kadang kala ia merasa tidak pantas dengan Egy. Egy yang terlalu baik, Egy yang terlalu sabar, Egy yang terlalu mencintainya dan Egy yang terlalu sempurna untuk seorang Nabila.
"Mas..." Panggilan Nabila seolah ingin menolak Egy dan segera saja Egy mendahului Nabila.
"Pleas Bil, kasih aku kesempatan." Pinta Egy dengan tatapan mengiba.
Tampak sekali Egy sedang mengemis cinta pada perempuan di depannya ini.
"Bukan gitu Mas."
"Lalu apa Bila?"
"Aku gak pantas buat Mas Egy, Mas Egy terlalu baik. Aku bukan perempuan yang masih gadis Mas. Bahkan aku hampir mempunyai anak."
Hah? Jawaban macam apa itu. Sumpah! Egy tak pernah mempermasalahkan itu. Itu bukanlah hal yang penting untuknya.
"Dan kamu pikir Mas peduli? Mas gak pernah peduli apa pun tentang itu. Dari dulu Mas selalu bilang, kalau Mas mencintai kamu apa adanya. Tidak dulu tidak sekarang Mas tetap mencintai kamu. Tidak ada yang bisa merubah hati Mas. Tolong pertimbangkan lagi Bil. Mas tidak pernah peduli dengan segala kekurangan kamu." Kini Egy mengganti kata 'aku dengan Mas' ia menunjukkan kesan lembutnya untuk Nabila.
Belum ada respon apa-apa dari Nabila. Terlihat perempuan itu seperti masih menimbang-nimbang lagi ucapan Egy. Sesulit itukah meyakinkan Nabila?
"Tatap aku Bil, apa aku kelihatan sedang bercanda?"
Tentu saja Nabila tidak berani beradu mata dengan Egy. Tanpa menatap matanya oun Nabila sudah tahu kalau Egy serius dengannya. Hanya saja di sini permasalahannya bukan pada Egy, melainkan pada dirinya. Ia yang merasa tak pantas bersanding dengan pria sempurna seperti Egy.
"Bil, tatap aku." Mohon Egy lirih.
Kali ini Nabila menurut. Menyesal rasanyaia menurut, mata Egy menunjukkan kesedihan dan penuh pengharapan padanya.
"Bil, tolong! Aku janji gak akan kecewain kamu." Sekali lagi Egy meyakinkan Nabila.
"Aku takut, kalau ternyata aku yang kecewain Mas Egy lagi, bukan sekali Mas!" Nabila mengingatkan betapa seringnya laki-laki itu terluka karna ulahnya.
Dengan penuh percaya diri Egy menjawab. "Aku yakin gak akan lagi, gak ada lagi penghalang untuk kita berdua, asal kamu mau melepas Nadeo. Masalah Pakde dan Bude,aku yakin mareka akan mengerti."
Nabila sejenak berpikir. "Kita coba Mas, tapi jangan terlalu berharap banyak. Aku gak mauMas Egy kecewa lagi."
Kata-kata Nabila sukses mengukir senyum fi bibir Egy. Dan hatinya seolah mengatakan 'akulah pemenangnya'.
"Andai kamu udah aku halalin, ingin rasanya aku peluk Bil!" Ucap Egy gemas.
"Jangan gombal Mas!"
__ADS_1
"Serius! Awas saja kamu ya? Kalau udah Mas halalin, gak Mas kasih ampun kamu."
Nabila terkekeh mendengar penuturan Egy. Ada-ada saja.