
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Nabila diajak bertemu dengan Putri. Ada apa? Ini bukan pertemuan sesama teman kan? Karna seingat Nabila, Putri seperti sudah memasukkannya ke dalam daftar hitam. Jadi tak ada kata teman di antara keduanya.
Ah, tapi tak ingin berburuk sangka, Nabila menuruti kemauan Putri. Dia menyetujui untuk bertemu Putri.
Dan akhirnya sepulang kerja, Nabila langsung meluncur ke lokasi yang Sudah Putri janjikan. Di sebuah cafe yang jauh dari kantor, juga dari rumahnya.
Sampai di cafe tersebut, Nabila di buat terpana dengan desain cafe tersebut. Cafe yang mengusung tema outdoor dan indoor sekaligus bersamaan. Memang kreatif. Atapnya kaca, jadi kita bisa merasakan bahwa kita berada di luar ruangan yang padahal kita dalam ruangan.
Ah begitulah kira-kira, tak terlalu penting cafenya bagaimana, yang terpenting sekarang di mana perempuan yang mengajaknya bertemu? Nabila menyoroti pengunjung yang ada di cafe tersebut. Dan setelah itu Nabila lihat Putri berada di pojok, segera saja Nabila menghampiri wanita tersebut.
"Aku pikir kamu gak akan datang." Ucap Putri, tapi lebih ke sindiran setelah Nabila duduk di depannya.
"Aku udah janji, jadi aku pasti datang." Balas Nabila sesopan mungkin.
"aku sudah pesan minum untuk kamu. di minum dulu. Aku gak tau selera kamu, jadi aku asal pesan."
Nabila sedikit mengangguk. "Terimakasih!"
"Di minum. Tenang gak usah takut, gak aku campur sianida kok!" Ujar Putri sedikit tajam.
"Aku juga gak berpikiran begitu." Balas Nabila sambil menyeruput kopi yang sudah agak dingin, mungkin karna ia sedikit lama sampai.
"Kalau pun aku ngelakuin itu, gak akan aku lakuin sekarang."
Mata tajam Putri bertemu dengan mata Nabila. Kemudian seringai tercipta di bibir Putri.
"Kalau gitu, kita ke inti pembicaraan saja ya?" Kata Putri.
Nabila mengangguk. Jujur saja, ia juga tak betah berlama-lama dengan Putri. Entah kenapa perempuan di depannya seperti punya energi negatif yang kuat yang bisa menyedot energi positifnya.
"Tinggalin Mas Egy!"
Seperti yang Nabila duga, dan dugaannya tak meleset sedikit pun. Perempuan di depannya ini pasti ingin memvahas perihal pria itu. Pria yang akhir-akhir ini selalu mengusik hatinya. Tapi, betapa lancangnya dia meminta Nabila meninggalkannya. Memangnya dia siapa? Berani melakukan hal itu kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Nabila dengan nada menantang.
"Tinggalin Mas Egy sebelum aku bertindak! Aku masih bicara dengan cara baik-baik sama kamu."
Tunggu! Apakah tadi sebuah ancaman? Putri mengamcam Nabila?
"Kenapa aku harus mendengarkan kamu?" Tanya Nabila dengan alis naik sebelah. "Dan kenapa juga aku harus menuruti keinginanmu?"
"Harus!" Jawab Putri cepat. "Kamu belum tahu siapa aku."
"Aku gak perlu tahu, dan gak ingin tahu!"
"Sialan!" Umpat hati Putri. Ternyata Nabila tipe perempuan yang juga keras kepala, hampir sama dengannya. Putri sempat berpikir bahwa Nabila adalah orang yang lembut, ketika tempo hari bertemu dengannya di kantor Egy. Rupanya wanita ini tak selemah itu, Bisa-bisanya ia membuat emosinya memuncak.
"Berikan satu alasan kenapa aku harus meninggalkan Mas Egy?"
"Kami saling mencintai." Jawab Putri dengan pedenya.
Nabila menyeringai. " Kalau saling mencintai, suruh saja Mas Egy yang lebih dulu untuk tinggalin aku. Aku ingin dengar dari mulutnya langsung. Dan aku yakin, kalau Mas Egy mencintai kamu, dia gak keberatan melakukan hal itu. Itu adalah hal kecil."
"Kamu bilang saling mencintai, tidak mungkin kan Mas Egy tidak mau meninggalkan aku untuk bersama dengan irang yang dia cintai? Masuk akal kan?" Nabila sedikit mengucapkan dengan nada licik.
Nabila bisa sedikit membaca jalan pikiran Putri. Maka, ia pun mau melihat reaksi Putri.
"Dia hanya mau mempermainkan kamu."
"Oh ya?" Nabila menaikkan alisnya sok sedikit terkejut. "Emang ada ya irang yang dipermainkan sampai mau di nikahi? Aku sih sebenarnya gak pernah keberatan walau hanya dipermainkan. Soalnya aku diperlakukan bagaikan ratu, jadi aku sangat menikmatinya "
"Jangan terlalu percaya diri Bil! Sadar akan status kamu!"
Status?
"Memang ada masalah apa dengan status ku?" Nabila terlihat tak suka Putri membawa perihal status ke dalam permasalahan ini.
__ADS_1
"Kamu hanya seorang janda. Kamu yakin akan diterima?" Tanya Putri bernada remeh.
"Kalau Mas Egy gaj terima aku, dia gak akan seserius ini sama aku."
"Bukan Egy. Tapi keluarganya."
Nabila melongo. Ia baru tersadar sekarang. Dia memang hanya seorang janda. Dan di negara yang ia tinggali ini, janda menikah dengan seorang pria lajang itu hampir tidak diterima. Mareka menganggap seorang janda tak pantas bersanding dengan pria lajang.
"Kamu yakin akan diterima oleh keluarga Mas Egy?" Tanya Putri remeh, "Terlebih kamu hanya dari kalangan bawah, tidak ada tandingannya dengan ku."
Lama Nabila terdiam. Perkataan Putri bagaikan air dingin yang di siram kepadanya untuk segera sadar dari khayalannya.
"Kalau ingin bersaing, bersainglah dengan cara sehat." Pesan Nabila.
"Hahahha," Putri tertawa seolah mengejek ucapan Nabila. "Lelucon apa itu? Tolong ulangi lagi."
Tak ada sahutan lagi dari Nabila. Kata-kata Putri berhasil membuat Nabila bungkam. Putri menarik napas dan menghembuskannya.
"Kami saling mencintai, dan aku akan berjuang mendapatkan cintaku. Tak peduli, cara apa pun akan ku tempuh." Kini Putri memasang tampang serius.
"Bagaimana ya reaksi keluarga Mas Egy, kalau tahu calon menantunya seorang janda? Apa dia akan setuju?" Putri memanas-manasi Nabila, berharap mental perempuan itu down.
"Satu hal yang harus kamu tahu Nabila, aku sudah mengantongi restu mareka, dan yang mareka harap, aku yang jadi menantu mareka. Jadi selagi belum jauh, cobalah berkaca dan sadar diri, kita bukanlah level yang sebanding. Lihat dirimu, dan lihat aku." Tambah Putri.
Nabila belum dapat membalas atau lun membantah ucapan Putri. Ia juga tahu siapa Putri, dan seberapa lama ia mengenal Egy.
"Aku hanya sedang membantu kamu bangun dari mimpi bodoh kamu Bil! Cepat sadar, sebelum terlambat." Ejek Putri. "Seorang janda ingin menikah dengan CEO kaya raya?"
Putri tertawa mengejek dan menutup mulutnya dengan tangan, seolah Nabila adalah bahan leluconnya saat ini.
"Berhenti bermimipi seperti itu. Itu hanya ada dalam drama. Jalani kenyataan!" Tambah Putri lagi, rasanya ia sangat senang melihat ekspresi Nabila.
"Aku akan tunjukkan sama kamu, bagaimana hubungan aku dan Mas Egy. Tolong jangab sakit hati menyaksikan hubungan kami. Kamu tidak ada apa-apanya, tolong ingat itu." Setelah mengucapkan itu Putri bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Tolong persiapkan hati kamu, agar kamu tidak jatuh terlalu sakit. Kamu bisa mempersiapkannya dari sekarang." Setelah mengatakan itu, Putri pergi. Ia cukup menyaksikan Nabila kalah.
(Hy hy semua. Ayok komen ya? Kalian ada yang kangen Nadeo dan Nabila gak?)