
Cinthya sudah tak tahan lagi mendengar curhatan Nabila tentang Pak Dosennya, yang menurutnya sudah sangat semena-mena dengan hidup Nabila.
Bayangkan saja bagaimana bisa, dia yang dulunya menolak Nabila, malah sekarang tidak mau bercerai dengan Nabila. Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya Pak Nadeo sudah terlalu memaksakan kehendaknya pada Nabila.
Kali ini Cinthya benar-benar harus bertindak. Ia tak bisa diam saja. Lupakan tentang status Pak Nadeo sebagai gurunya, ia datang sebagai seorang sahabat dari Nabila. Bukan datang sebagai mahasiswa.
Pas sekali. Cinthya melihat Pak Nadeo berjalan di lorong rumah sakit.
"Pak!" Panggil Cinthya.
Nadeo yang merasa di panggil, menoleh ke araj sumber suara. Ia melihat gadis yang ia kenal berlari kecil ke arahnya.
"Ada apa Cin?"
"Boleh minta waktu sebentar?"
"Tentu saja."
"Ada hal yang mau saya bicarakan dengan Bapak!" Cinthya menggunakan bahasa formalnya. "Ini penting menurut saya."
"Di ruangan saya saja."
Cinthya mengangguk menyetujui.
Kini Nadeo duduk berhadapan dengan Cinthya. Cinthya ini adalah anak dari pemilik rumah sakit tempat dirinya bekerja. Ayahnya adalah dokter spesialis bedah.
Cinthya juga merupakan salah satu dari mahasiswa di kampusnya. Dan satu lagi yang Nadeo ketahui, Cinthya juga sahabat dari istrinya, Nabila.
"Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya sama bapak. Mungkin ini menyangkut ranah pribadi bapak."
"Tidak masalah." Sahut Nadeo tenang.
"Dan sebelumnya saya juga ingin mengatakan, saya menemui bapak bukan sebagai mahasiswa. Sungguh saya sangat menghormati bapak seba.."
"To the point!" Potong Nadeo.
"Pak, saya ke sini sebagai sahabat Nabila."
Nadeo menyipitkan matanya, tak paham dengan maksud Cinthya. Apa Cinthya pikir selama ini Nadeo tidak tahu kalau mareka bersahabat? Ah tidak mungkin, jelas-jelas ia tahu semua itu.
"Saya mau Bapak tinggalin Nabila," Tegas Cinthya, "Tolong!"
Nadeo tertawa kecil. Apa maksud dari lelucon Cinthya? Datang-datang menyuruhnya meninggalkan Nabila. Apa ia kurang waras? Atau tadi pagi ia salah makan? Atau malah belum makan? Dan yang tadi berbicara adalah para cacingnya. Lucu.
"Saya akan jelasin, saya tahu pasti bapak bingung, kenapa tiba-tiba saya minta Bapak ninggalin Nabila. Saya punya alasan Pak. Dibalim semua itu saya punya alasan."
__ADS_1
"???" Nadeo menaikkan sebelah alisnya.
"Saya sudah gak tahan Pak." Ungkap Cinthya. "Nabila selama ini menderita menjadi istri Bapak."
Nadeo menggeleng. Entah apa maksud dari gelengannya. Tidak terima dibilang ia membuat Nabila menderita, atau tidak terima diminta meninggalkan Nabila? Rasanya kedua opsi tadi benar dua-duanya.
"Saya mohon, biarin dia bahagia. Lepasin dia! Selama ini dia udah berkorban segalanya untuk Bapak. Tolong Pak, jangab egois!"
Jeda.
"Tolong jangan semena-mena dengan hati Nabila. Saya juga yakin, Bapak pasti tahu kalau dulu Nabila sangat mencintai Bapak. Tapi jangan berharap untuk sekarang Pak, itu sudah tidak ada lagi. Nabila tidak lagi mencintai Bapak."
"Apa maksud kamu bilang gitu? Apa ini cara kamu untuk menyatukan Nabila dengan Abang sepupu kamu itu?"
Cinthya menggeleng. Asumsi Nadeo tidak benar sama sekali. Cinthya hanya berharap Nabila bisa lepas dari jerat Nadeo. Selebihnya biar Nabila yang menentukan. Ia tidak munafik, ia memang berharap Egy bersama Nabila, tapi bukan berarti ia melakukan semua ini karna ingin menyatukan mareka.
"Enggak Pak, saya gak pernah punya niat begitu. Tapi saya merasa Nabila berhak bahagia. Dia juga berhak menentukan jalan hidup dan masa depannya. Siapa pun yang dia pilih, itu hak dia. Nabila berhak memilih orang yang dia cintai."
"Mohon maaf sekali lagi. Saya tidak peduli, siapa pun orang itu, yang jelas orang itu bisa membahagiakan Nabila. Terserah siapa yang dia pilih. Saya hanya berharap Baoak tidak tidak pernah memaksakan Nabila akan kehendak Bapak."
"...."
Dia sudah pernah memilih Bapak, tapi Bapak memilih orang lain. Miris. Dan ketika Bapak di tinggalkan oleh pilihan Bapak, Bapak berharap Nabila kembali memilih Bapak? Maaf Pak, ini bukan lelucon untuk di tertawakan."
"Saya permisi Pak, terimakasih ataa waktunya. Mohon dipertimbangkan."
Lalu Cinthya bangun dari tempat duduknya dan berlalu pergi. Biarkan. Biarkan kali ini Nadeo berkaca akan kesalahannya. Sekolah tinggi, pintar, belum menentukan bahwa seseorang itu pintar dalam urusan cinta. Cinta tak bisa dijelaskan dengan logika. Tidak bisa dipecahkan dengan rumus-rumus.
Selamat introspeksi Pak Nadeo.
...****************...
Malam itu Nadeo duduk melamun di taman belakang. Di kursi putih yang panjang itu Nadro duduk menyaksikan bunga melati yang ditanami Raya. Raya bilang ia sangat suka pada melati. Tapi, melati di depannya itu tak terurus lagi.
Tapi bukan itu masalahnya. Ia sedang terngiang dengan ucapan Cinthya beberapa hari yang lalu. Apakah selama ini ia sangat egois? Selalu memaksakan keinginannya oada Nabila?
"Mas?" Satu suara memecahkan lamunan Nadeo. Tanpa harus menoleh ia juga tahu suara siapa itu.
Nadeo tak menjawab.
Nabila duduk di samping Nadeo. Ada keraguan dalam diri wanuta itu. "Ada yang ingin aku sampaikan."
Tentang perpisahan kan? Pasti tentang itu.
"Mas..." Lirih Nabila. "Tolong dipikirin lagi.."
__ADS_1
Tak ada jawaban. Nadeo masih dengan diamnya. Dan suasana hening karna tak ada lagi yang bersuara. Nabila takut.
"Bil..."
"Iya Mas?"
"Apa boleh aku tahu, apa alasan kamu berpisah dari aku?"
Tentu saja boleh. Ingin Nabila menjawab begitu. Tapi lidahnya kaku. Tak apa kah ia menjawab pertanyaan itu jujur?
"Aku... aku merasa gak ada yang perlu dipertahankan dari kita Maa, sudah gak ada Mama!" Akhirnya Nabila bisa menjawab jujur.
Rasanya hati Nadeo mencelos sampai ke perut. Mengapa ia kecewa mendengar jawaban Nabila. Padahal dulu ia senang jika jawaban Nabila seperti ini.
"Tapi kamu pernah berjanji untuk gak akan tinggalin aku, di depan Mama." Nadeo berharap masih ada sisa-sisa cinta Nabila untuknya.
Hening.
"Bukannya ini yang Maa inginkan selama ini? Mas dulu selalu bilang, kalau Mas terpaksa menikahi aku."
"Bil..." Nadeo menggeleng, seolah yang dikatakan Nabila itu tidak benar. "Sekarang Mas sadar, sepertinya Mas mencintai kamu."
Nadeo berharap Nabila percaya. Tolong, kali ini Nadeo sedang tidak berbohong, percayalah.
"Gak Mas, aku gak mau dicintai sebagai pengganti Mbak Raya. Mas bilang begitu sebab Mbak Raya ninggalin Mas kan? Kalau masih ada Mbak Raya, mungkin aku sudah Mas lempar jauh-jauh hari. Atau kita sedang memutuskan sidang perceraian di kantor pengadilan."
"Bil..."
"Aku gak mau dijadikan pengganti Mas. Memang lebih baik kita berpisah saja Mas!"
"Aku gak mau!"
"Tolong Mas!"
Tiba-tiba ingatan Nadeo kembali pada kata-kat Cinthya tempo hari.
*Nabila selama ini menderita menjadi istri Bapak!
Biarin dia bahagia. lepasin dia.
Tolong jangan semena-mena dengan hati Nabila.
Saya merasa Nabila berhak bahagia*.
"Oke! Tinggalin saya Bila. kita akan bercerai."
__ADS_1