
"Cin, kamu jenguk Nabila ya? Aku khawatir sama dia!" Lirih Egy tak semangat.
"Iya, nanti siang aku ke sana." Jawab Cinthya.
Egy mendapat kabar bahwa Nabila di rawat di rumah sakit. Nabila mengalami keguguran. Egy tak tahu haruskah merasa senang atau khawatir? Sepertinya opsi yang ke dua lebih benar.
Egy akan lebih khawatir pada keadaan Nabila, daripada memikirkan kesenangan. Jika ditanya mengapa harus senang? Jawabannya jika Nabila keguguran maka Egy berkemungkinan mendapatkan kesempatan dari Nabila. Bukankah ia bertahan dengan Nadeo karna kehamilannya?
Egois memang kedengarannya. Tapi mana yang lebih egois? Nadeo atau Egy? Rasanya tak perlu menjawab, kalian pasti tahu jawabannya kan?
"Padahal aku pengen banget liat dia. Tapi keadaan gak memungkinkan." Desis Egy. "Aku juga gak mau menyulitkan Nabila."
Hubungan Egy dan Nabila bagaikan benang kusut. Tak ada kejelasan. Terakhir kali mareka bicara yaitu saat Egy memohon agar Nabila bertahan di sisinya, tapi Nabila enggan. Setelah itu hubunhan mareka kembali menjauh, Nabila dan Egy kembali bersikap formal. Walau diam-diam Egy selalu memperhatikan Nabila. Bahkan ketika Nadeo mengantar dan menjemput Nabila, pun Egy selalu memperhatikan dari kejauhan.
"Mas?" Panggil Cinthya saat mendapati Abang sepupunya ini melamun dalam keadaan berdiri di depan balkon.
Egy menoleh ke arah Cinthya. "???"
"Jangan gini dong Mas! Aku yakin kok kalau Nabila baik-baik saja."
Cinthya dapat melihat gurat khawatir dari wajah Egy. Egy juga nampak tak terurus, badannya juga terlihat lebih kurus. Mungkin Nabila telah menyita pikirannya.
"Boleh gak sih Cin kalau aku masih mengharapkan Nabila?"
"Mas, tunggu Nabila benar-benar pulih dulu ya? Aku yakin dia masih trauma, dan dia butuh waktu menenangkan pikirannya. Mas Egy jangan gegabah." Saran Cinthya. "Takutnya Nabila berpikir Mas egois, hanya memikirkan perasaan Mas sendiri "
__ADS_1
Ya benar! Ucapan Cinthya ada benarnya. Ia tak boleh gegabah dalam mengambil langkah. Salah langkah, ia bisa kehilangan Nabila selamanya.
...****************...
Cinthya sampai di ruangan Nabila. Melihat Cinthya datang, Nadeo menitipkan Nabila padanya. Ia izin pulang sebentar untuk sekadar mandi dan berganti baju.
"Gimana keadaannya?" Tanya Cinthya.
"Udah baik dan mendingan." Jawab Nabila di pembaringannya.
"Alhamdulillah. Tapi maaf ya? Aku baru sempat datang sekarang!"
"Gak papa, kamu sempetin datang aja, aku udah senang banget!"
"Aduh, kesannya aku ini sahabat yang jahat ya? masa aku gak ada di saat kamu seperti ini."
"Tapi jujur, aku gak tahu loh kamu jatuh dari tangga, taunya dari Mas egy kemaren." Tutur Cinthya. "Dia khawatir banget loh sama kamu. Dia suruh aku cepat-cepat jengukin kamu, supaya bisa tahu keadaan kamu."
Seketika senyum di bibir Nabila luntur. Hati Nabila menjadi melankolis mendengar nama Egy. Ternyata pria itu masih juga memikirkannya setelah apa yang telah ia lakukan pada Egy.
Setelah lama berlarut dalan pikirannya, Nabila kemudian tersenyum tipis.
"Sampein salam aja ke Mas Egy ya Cin? Bilang kalau aku baik-baik saja. Aku bakalan langsung masuk kerja begitu keluar dari rumah sakit."
"Iya nanti aku sampein." Sahut Cinthya.
__ADS_1
Rasanya tak baik membahas tentang laki-laki saat keadaan Nabila seperti ini. Cinthya mengalihkan topik pembicaraan. "O ya, gimana rasanya setelah kuret?"
"Pusing yang pasti! Kadang mual dan muntah juga. Tapu sekarang gak lagi. Entah itu bener-bener gara-gara kuret atau memang asam lambungku lagi kambuh."
"Syukurlah, yang penting sekarang kamu udah lebih baik."
Tanpa disengaja hati Nabila berubah menjadi sedih. Mengingat bagaimana ia kehilangan calon bayinya.
"Rasanya aneh loh Cin, baru kemarin-kemarin rasanya dia gerak-gerak dalam perut aku. Tapi sekarang dia udah gak ada. Mungkin ini adalah hukuman buat aku Cin, karna awalnya aku gak menginginkan dia."
Pahit.
"Enggak! Memang sudah takdirnya begini. Berhenti nyalahin diri sendiri." Cinthya mencoba menyemangati.
"Kadang aku ngerasa rindu pada dengan denyut dalam perut aku. Bahkan aku gak tahu dia laki-laki atau perempuan. Mirip aku atau tidak."
Jeda.
"Aku memang perempuan yang ceroboh. Menjaga dia yang ada dalam perut aku saja, aku gak bisa. Aku emang gak bisa di andelin."
"Jangan ngomong gitu lagi. Ini kecelakaan."
Cinthya mengusap-usap tangan Nabila. Berharap Nabila sedikit tenang.
"Enggak! Kalau aku gak hati-hati, semua pasti gak akan terjadi."
__ADS_1
"Ambil baiknya saja Bil. jangan terlalu larut dalam kesedihan, kamu juga butuh waktu untuk untuk nenangin pikiran kamu.