Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Masihkah mencintaiku?


__ADS_3

Seperti yang pernah dikatakan Nadeo tempo hari. Nabila harus selalu berada di bawah pengawasannya. Dia akan mengantar jemout Nabila, dan bahkan sering pula Nadeo menunggu Nabila lembur.


Nadeo benar-benar mencurahkan diri dan juga pikirannya terhadap Nabila. Sebisa mungkin.


Seperti halnya hari ini. Ia mengantar Nabila ke kantornya. Sekarang rekan kerja Nabila sudah tahu bahwa Nabila sudah menikah.Dulu nareka sempat berpikir bahwa Nabila dan Egy adalah seoasang kekasih. Pasalnya Egy yang terus menempeli Nabila layaknya perangko.


"Sudah sampai." Ujar Nadeo dan menghentikan mobilnya di depan kantor istrinya.


Nabila mengangguk oelan, ia berencana membuka pintu mobil.


"Aku saja!"


Dengan cepat Nadeo turun dan membukakan pintu untuk Nabila, lalu ia mempersilakan permaisurinya keluar. Siapa yang tidak akan tersanjung dengan hal-hal kecil seperti ini.


Nabila turun. Lalu Nadeo menutup kembali pintu mobilnya.


"Aku masuk ya Mas?" Pamit Nabila dan hendak berlalu begitu saja.


"Kamu mau langsung pergi gitu aja?" Tanya Nadeo cemberut dan terkesan manja.


"???"


"Gak salim sama suami?"


"Oh.." Dengan cepat Nabila mengambik tangan suaminya dan menciumi punggung tangan tersebut. Tak membuang kesempatan yang ada, dengan cepat Nadeo mengecup kening Nabila.


"Hati-hati" Pesan Nadeo.


Nabila terpaku sesaat, Walau tak jarang Nadeo melakukannya sekarang. Tapi tak dapat dipungkiri, jantungnya masih berdegup kencang, dan hatinya masih merasa tersanjung.


"Mas juga!" Balas Nabila.


Kenapa tidak dari dulu Nadeo begini?


Nabila pun masuk ke kantor dengan hati berbunga. Dan dibalik semua itu, ada seseorang yang sedang mencoba mengobati hatinya yang patah. Ia dapat menyaksikan adegan demi adegan yang terjadi pada Nabila dan Nadeo yang tampak berbahagia.

__ADS_1


"Itu suami kamu ya Bil?" Tanya rekab Nabila.


Nabila hanya mengangguk tanpa ada rencana membalas.


"Ganteng banget ya? Aku pikir dulu kamu belum ounya suami. Soalnya deket banget sama Pak Egy." Timpal satu orang lagi


Dia kan sekretarisnya Egy, jadi wajar dong ia sering lebih dekat dengan egy. Kenapa malah merasa kebakaran jenggot.


...****************...


Nadeo masuk ke kamar Nabila lalu membaringkan tubuhnya di samping perempuan itu. Tidur Nabila menyamping membelakangi Nadeo, sedang Nadeo dalam posisi terlentang.


Hampir setiap malam Nadeo tidur bersama Nabila. Dan Nabila juga tak merasa asing lagi dengan kehadiran Nadeo di sampingnya. Ia merasa nyaman-nyaman saja, bahkan jika Nadeo tak berada di sisinya, moodnya akan rusak. Ini pasti ulah anak yang di kandungnya.


"Bil,,, kamu belum tidur kan?" Tanya Nadeo lirih. Ia tahu bahwa istri kecilnya belum benar-benar tidur.


Karna sudah ketahuan, ya sudah mengaku saja. "Belum Mas!"


Nadeo menarik pinggul Nabila agar berbalik menatapnya. Entah mengapa walau Nadeo setiap malam menemaninya, tapi rasa malu masih menghiasi dirinya. Ditambah dengan degupan jantung yang begitu ieras, sungguh Nabila tak bisa berkonsentrasi.


"Ada apa Mas?" Tanya Nabila yang salah tingkah karna Nadeo terus menatapnya.


Nabila menaikkan satu alisnya, seolah bertanya apa yang ingin Nadeo tanyakan.


"Kalau anak kita lahir, kamu bakalan tinggalin aku gak?"


Deg!!


Pertanyaan macam apa itu? Jelas-jelas Nabila tidak bisa menjawabnya langsung. Haruskah ia menjawab bahwa ia tak akan meninggalkan Nadeo dan terua bersama, atau malah sebaliknya?


Bukan tak berdasar Nadeo bertanya seperti itu. Setelah mendengar ucapan Nabila kemarin, hatinya mulai was-was. Benarkah Nabila akan meninggalkannya? Lalu bagaimana dengan anak mareka? Ikut Ayah atau Ibunya? Bukankah seharusnya anak ikut dengan kedua orang tuanya, dengan kata lain tak ada perpisahan. Seorang anak tetap membutuhkan figur seorang Ayah dan Ibu secara bersamaan. Kekurangan kasih sayang salah satunya, punya dampak besar bagi kehidupan sang anak. Dan Nadeo tak mau bila hal itu terjadi pada anaknya.


Nabila memalingkan wajahnya. Ia tak berani jika kedua bola matanya bersirobok dengan netra Nadeo.


"Kenapa Mas tanya gitu?"

__ADS_1


"Bil tatap aku?" Pinta Nadeo, ia menarik pipi Nabila yang dingin agar menatapnya. Ia pernah mendengar bahwa lidah bisa berdusta, tapi mata tidak. Mata mampu menjelaskan semua keadaan yang dirasa.


"Jangan tinggalin aku." Lirih Nadeo ketika netra mareka bertemu. "Aku mohon."


Nabika masih membisu, ia bingung harus menjawab apa. Ia sama sekali tak punya jawaban. Haruskah ia mengiyakan saja? Agar masalah selesai, dan Nadeo tak bertanya semakin jauh. Tapi lidahnya tak mampu mengucap barang sepatah dua patah kata.


"Bil, dulu kamu pernah bilang kalau kamu mencintaiku, apakah itu masih berlaku sekarang?"


Tidak. Nabila tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh itu. Ada apa dengan Nadeo? mengapa tiba-tiba ia berubah menjadi melankonis? Apakah ia benar-benar takut ditinggal Nabila?


Tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Nadeo menarik pinggul Nabila memangkas jarak antara mareka. Begini lebih baik. Nadeo akan maklum pertanyaannya tak bisa dijawab, ia tak memaksa. Anggaplah Nabila juga butuh waktu untuk memikirkan segalanya.


"Mas!"


"Aku pengen lebih dekat dengan anakku!"


Ok. Nabila membiarkan Nadeo berbuat sesukanya. Dan tanpa disadari, tangan Nadeo sudah masuk menyelinap ke dalam baju Nabila. Ia mengusap perut Nabila lembut, membuat Nabila menjadi geli dan juga merasakan getaran aneh di tubuhnya.


"Mas aku geli!" Maksud Nabila agar Nadeo tak lagi melanjutkan mengusap-usap perutnya.


Nadeo tersenyum. Ia juga merasakan getaran lain dari dalam tubuhnya. Terasa seperti ada sengatan listrik yang menjalar ke tubuhnya.


"Boleh gak? Aku mau cium Anakku?" Pinta Nadeo.


Nabila mengangguk kecil.Kemudian Nadeo bangun dan menarik baju Nabila ke atas, lalu mencium perut yang masih kelihatan rata itu. Wangi. Tubuh Nabila memang wangi, membuat Nadeo menjadi tegang. Akhirnya Nadeo berbaring lagi, dan ia masih mengusap perut Nabila, tapi sekarang dengan sentuhan yang sensual. Dengan nakalnya tangan Nadeo naik ke atas, meraba gundukan gunung yang masih tertutup.


"Mas, jangan!"


Nabila sadar, Nadeo telah bertindak terlalu jauh. Ia menggeleng, tandanya tak ada izin darinya. Nadeo kembali menatap Nabila, deru napasnya agak lebih cepat dari sebelumnya, entah karna ia mulai merasakan desiran aneh yang membuatnya menegang.


Dengan perlahan, Nadeo mendekatkan wajahnya pada Nabila. Ia ingin menciun Nabila. Tapi Nabila sudah menghindar dengan memalingkan wajahnya.


"Mas, jangan!" Tolak Nabila.


"Bil, aku laki-laki normal.'

__ADS_1


"Aku belum siap Mas!"


"Oke, gak papa, aku masih bisa tahan kok." Ujar Nadeo lalu mengecup kening Nabila.


__ADS_2