
Fakta yang didapatkan Egy dari Nadeo sukses membuatnya senam jantung. Ia syok parah. Ia selalu bertanya-tanya dalam hatinya, mengaoa ia terlalu bodoh hingga tidak mengetahu atau bahkan menyadari segalanya. Dan bahkan ini terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu. Dan yang paling parah, dalangnya adalah Putri?
Putri yang bersembunyi di balik kata sahabat. Putri yang selalu ia lindungi layaknya adik sendiri. Putrikah yang selalu membuatnya seperti ini? Ditinggal oleh orang yang ia sayang?
Dari semalam Egy tak bisa tidur begitu nyenyak. Ia terus memikirkan masalah ini. Hingga paginya Egy tak berangkat ke kantor. Ia rasa ia harus menyelesaikan masalah ini dengan Putri.
Dan siangnya Egy memilih untuk mendatangi Putri di cafenya. Iya! Putri memang punya bisnis cafe sejak pulang ke Jakarta. Ia masih belum siap jika bekerja di perusahaan sang Papa, jadi untuk belajar dan punya pengalaman, Putri memilih untuk mengeloka cafe kecilnya yang masih berada di Jakarta.
Sampai di cafe, Egy langsung menemui Putri. Tanpa tedeng aling-aling Egy langsung menarik Putri naik ke rooftop, sampai di sana Egy menghempaskan Putri kasar.
"Kamu apa-apaan sih?" Sungut Putri kesal sambil mengusap lengannya yang sakit dan agak memerah. Ya! Egy memang begitu kuat menarik tangan Putri.
"Jelasin semuanya sekarang!" Tuntut Egy.
Putri memasang tampang bingung. "Aku gak ngerti maksud kamu Mas!"
"Jangan pura-pura gak ngerti! Aku tahu kamu dalang di balik semua ini." Berang Egy yang mukanya sudah memerah menahan amarah.
Putri menhgeleng, kali ini ia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Egy.
"Kamu kan yang culik Nabila?" Tembak Egy langsung. Ia sudah malas berbasa-basi.
Deg!
Ok! Kali ini ia ketahuan. Putri menyeringai.
"Apa gak ada orang lain yang bisa kamu curiga selain aku Mas?" Putri ingin menyangkalnya.
"Gak ada! Karna emang kamu pelakunya." Jawab Egy tegas, supaya Putri tak lagi menampik tuduhannya yang berdasarkan fakta.
"Bahkan kamu menyeret Abang kesayanganmu itu kan untuk melancarkan aksi bodoh kamu itu." Tambah Egy.
"Aku gak ngerti maksud kamu Mas! Apa perempuan itu menuduh aku melakukan semua itu?"
Egy berdecak kesal. Mengapa susah sekali membuat Putri mengaku?
"Kamu masih mau menyangkal?" Tanya Egy.
"Aku hanya mengatakan kebenaran." Jawab Putri percaya diri.
"Jangan kira aku bodoh Put!"
"Ya sudah kalau kamu gak percaya Mas!" Ucap Putri sembari mengedikkan bahu dan hendak pergi. Tapi dengab cepat Egy menarik lengan Putri, enak saja main pergi saja setelah kesalahan fatalnya. Tidak mau mengakui lagi.
"Jelasib ke aku tentang kejadian sepuluh tahun yang lalu." Ucap Egy datar di telinga Putri.
Deg!
Putri membeku ditempatnya. Apa yang dimaksud Egy tentang Raya?
__ADS_1
"Kamu seolah jadi pahlawan Put! Saat Raya gak milih aku. Ternyata kamulah dalang di balik semua ini, justru karna kamulah penyebab Raya gak milih aku! Aku dulu yang selalu heran, kenapa gak ada satu pun perempuan yang mau saat aku dekati, kalau pun ada, gak akan bertahan lama. Ternyata kamu penyebabnya." Berang Egy.
Sedikit bercerita tentang masa lalu, ketika Egy mendekati perempuan. Tak lama kemudian pasti perempuan itu menjauh. Lambat Egy ketahui ternyata Putrilah yang mengancam setiap perempuan yang dekat dengannya. Putri memang ditakuti karna ia berasal dari keluarga berada.
"Aku gak bisa maafin kamu Put!" Sesal Egy.
Putri terdiam. Kebusukannya tercium juga.
"Kenapa?" Tanya Egy tajam dan terus berjalan mendekati Putri, sedang Putri terus berjalan mudur ke belakang.
"Kenapa kamu lakuin semua ini ke hidup aku Put? Kamu tahu aku selalu menyayangi kamu layaknya adikku sendiri, tapi kenapa kamu tega hancurin hidup aku?"
Putri terus mundur hingga ia mentok di dinding pembatas, yang hanya tinggi satu meter lebih. Egy terus menatapnya tajam.
"Jawab aku Put!" Teriak Egy tak sabar.
Putri mendorong Egy, "Ini karna kamu Mas!" Teriak Putri.
"Karna kamu gak pernah melihat aku. Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku wanita yang kanu cinta! Kamu gak tahu berapa banyak laki-laki yang sudah aku tolak hanya demi mengharap balasan dari perasaan ku ke kamu, suatu hari!" Di ujung kalimat Putri sangatlah melankolis.
"Gak ginu caranya Put!" Egy menarik rambutnya frustasi.
"Terus gimana? Bilang gimana caranya? Belasan tahun lamanya aku nunggu. Aku harap suatu saat Maa Egy bisa membalaa perasaan aku, tapi nyatanya gak oernah Mas! Apa kurang aku Mas? Bilang! Dibandingkan Nabila dan Raya, aku jauh lebih baik dari mareka Mas!" Berang Putri juga emosi.
"Diam kamu!"
Plak!!! Diiringi sebuah tamparan keras dari Egy pada Putri.
Putri mengelus pipinya yang sakit, air matanya keluar. Baru kali ini ia mendapatkan perlakuan kasar dari Egy.
"Kenapa Mas? Kenapa Mas Egy tega ngelakuin ini semua ke aku?" Tanya Putri sedih.
Diam.
"Kenapa bukan aku Mas? Kenapa bukan aku perempuan yang kamu cinta? Kamu gak tahu Mas, bahkan aku siap mati demi kamu." Isak Putri.
Egy frustasi. Menjumpai Putri bukannya membuat masalah selesai, yang ada masalah menjadi melebar kemana-mana.
"Maaf Put! Tapi aku benar-benar gak bisa balas perasaan kamu!" Lirih Egy, namun sebenarnya ia juga merasa bersalah pada Putri.
Egy memilih untuk pergi.Tapi dengn cepat Putri memeluk Egy dari belakang.
"Kenapa Mas? Kenapa gak bisa? Kasih aku alasan mengapa perasaan aku gak layak dibalas?"
"Sudahlah Put! Jangan begini, ini hanya akan menyiksamu saja." Ucap Egy.
Putri melepas pelukannya pada Egy, lalu ia berjalan dan berdiri dihadapn Egy, agar mareka bisa saling menatap.
"Ada satu hal yang Mas Egy harus tahu dari kejadian malam itu Mas!"
__ADS_1
"Maksud kamu?" Egy menaikkan alisnya. Ia agak ngeri jika mendengar kata malam itu.
"Aku melahirkan seorang putra Mas! Dan dia persis mirip dengan kamu!"
Mendengar itu, Egy refleks mendorong Putri. Ia seolah melihat hantu, Egy ketakutan.
"Gak mungkin!" Geleng Egy tak percaya.
"Gak mungkin itu anakku, kita melakukannya hanya sekali. Dan aku sama sekali gak sadar!" Egy terus saja menyangkalnya.
"Tapi dia benar memang putra kamu Mas!" Fi sini Putri ingin mempertegas bahwa anak yang ia lahirkan adalah laki-laki.
Egy memegang pundak Putri. "Bilang kalau itu bukan anak aku!"
"Aku gak bisa percaya sama perempuan licik kayak kamu!" Teriak Egy lagi.
"Kalau Mas tidak percaya, kita bisa tes DNA untuk membuktikannya." Kata Putri penuh keyakinan.
"Gak mungkin!" Egy melepas cengkramannya pada bahu Putri. "Bahkan aku sendiri gak yakin pernah melakukannya dengan kamu."
"Mas tahu gak alasan aku gak lanhsung nyusul Mas pulang ke Indonesia saat itu?" Tanya Putri tajam.
"Karna saat itu aku sedang mengandung, dan aku gak ingi Mas tahu, lalu memaksa aku menggugurkan bayi kita. Aku gak mau!"
"Enggak!"
"Kalau Mas mau lihat anak kita, aku bisa pertemukan kalian Mas! Dia lucu, dia masih di sana. Aku sudah janji pada bayi kita untuk membawa ayahnya melihatnya." Ucap Putri penuh damba.
"Jangan sampai Nabila tahu akan hal ini!" Ancam Egy.
"Perempuan itu hatus segera tahu, kamu punya anak! Supaya dia bisa ninggalin kamu!"
Plak!!!
Sebuah tamparan kembali mendarat di pipu Putri. Tentu saja ulah Egy.
"Jangan gila kamu!" Terik Egy.
"Aku memang gila! Gila karna kamu Mas!" Teriak Putri tak kalah keras sembari mengusap pipinya yang memerah. Ia sakit, sangat sakit, Egy mengabaikannya demi Nabila.
"Lihat saja! Dengan segera aku akan memberitahu Nabila akan hal ini!" Ancam Putri.
"Enggak!" Teriak Egy frustasi.
" Aku harus menghentikan semua ini! Nabila harus jadi milik aku!"
Entah siapa dalam kisah cinta ini yang paling menderita?
Egy, Putri, Nadeo, Nabila atau Raya?
__ADS_1
Jujur readers semua. Di bab ini aku sedih banget sama Putri. Dia kayak mengorbankan segalanya demi Egy tapi gak pernah dilihat. Kalian gimana?