Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Perhatian Dari Mareka


__ADS_3

Mengetahui Nabila di rawat di rumah sakit, tak menunggu lama, Ines juga suaminya yaitu Hanis langsung menuju ke rumah sakit. Ines juga mengajak Icha agar tak sendirian di rumah, karna Nadeo berada di rumah sakit menjaga Nabila.


Mareka masuk ke ruangan Nabila di rawat. Dan pemandangan pertama adalah Nadeo yang sedang mengupas apel duduk di kursi fi samping brankar Nabila.


Ines menaruh kue yang dibawanya di atas nakas, lalu ikut bergabung dengan suaminya dan juga icha yang sudah berdiri di samping Nabila.


"Mbak bawa cake, nanti dimakan ya?"


"Makasih Mbak udah repot-repot." Balas Nabila tersenyum.


"Iya. Gimana? Udah baikan belum?"


"Udah Mbak! Harusnya dari tadi udah boleh pulang, tapi karna maag aku kambuh, jadi ditunda untuk besok deh!"


"Kamu suka gak jaga makanan sih!" Timpal Ines.


"Stres Mbak!" Timpal Nadeo. "Kalo sakit maag itu kan gak boleh stres!"


"Semua penyakit hampir kayak gitu kali!" Balas Ines.


"Tapi bener kamu stres?" Tanya Ines meyakinkan.


"Enggak kok Mbak! Mas Deo asal nyeplos aja tuh!" Bantah Nabila.


"Tapi Mbak khawatir deh sama kamu Bil!"


"Kenapa Mbak?"


"Kamu kan tinggal sendirian. Kalau kejadian seperti hari ini terulang lagi gimana?" Ungkap Ines atas keprihatinannya.


"Aku akan lebih hati-hati kok Mbak!"


"Iya nih Mbak! Aku juga khawatir apalagi dengan adanya kejadian seperti ini. Gak menutup kemungkinan seperti yang Mbak bilang tadi, akan terulang." Tukas Nadeo.


"Aku gak papa kok, hanya perlu hati-hati dan lebih waspada saja."


"Kayaknya Mbak harus ada yang nemenin deh!" Kini Icha ikut bersuara.


"Iya! Icha bener Bil! Kamu harus ada yang temenin." Ines membenarkan.


"???" Nabila menjadi bingung. Siapa yang akan menemaninya? Ia rasa juga itu tidak perlu, hanya akan membuat orang lain repot saja.


"Gimana kalau Icha tinggal sama kamu aja?" Usul Nadeo.


"Iya nih! Kalau Nadeo kan gak papa tinggal di rumah sendiri, dia laki-laki." Ines menyetujui saran Nadeo.


"Bener. Gimana Cha? Mau gak?" Kini Nadeo butuh persetujuan dari orangmya langsung.


"Jangan Mas, Mbak! Icha jadi di repotin!" Tolak Nabila secara halus.

__ADS_1


"Enggak kok Mbak! Aku gak.merasa direpotin sama sekali. Aku seneng malah bisa tinggal sama Mbak!" Sahut Icha.


"Tuh Bil! Ichanya aja gak keberatan." Kata Nadeo.


"Sekarang tinggal sama kamunya Bil, mau apa enggak!" Ujar Ines.


Nabila ingin mengatakan iya, tapi ia merasa tak enak hati harus merepotkan keluarga mantan suaminya ini.


"Aku gak enak Mbak. Masa aku ngerepotin kalian semua terus-terusan!" Aku Nabila.


"Kami sama sekali gak. ngerasa direpotin kok Bil! Kamu jangan ngerasa gak enak karna kamu bukan lagi istrinya Nadeo. Karna bagi Mbak, kamu tetap adiknya Mbak, tetap jadi bagian keluarganya Mbak. Meskipun nantinya Nadeo punya istri lagi, kamu tetap punya ruang tersendiri kok di hati Mbak."


Nabila terharu mendengar ucapan Ines. Beruntung sekali siapa pun yang jadi istrinya Nadeo nantinya. Ines begitu baik dan perhatian.


"Iya Mbak!" Icha membenarkan, "Lagian kalau dari rumah Mbak, kan jarak ke kampus aku juga jadi lebih deket."


"Tapi-"


"Udah gak usah pakai tapi-tapian lagi. Sepulang dari rumah sakit, Icha langsung diantar ke rumah kamu." Putus Ines.


Nabila tak punya pilihan lain, karna Ines sangat keukeuh dengan keputusannya. Alhasil ia hanya mengangguk mengerti dan menyetujui. Rasanya juga tak enak jika ia terus-terusan menolak kebaikan keluarga mantan suaminya, nanti jadinya kesan yang di dapat malah ia seperti tak menghargai mareka lagi.


Setelah sekitaran berbincang selama tiga puluh menit, akhirnya Icha, Ines dan juga suaminya pamit undur diri. Dan tinggallah Nabila disana hanya ditemani Nadeo.


"Mas?" Panggil Nabila lembut.


"Iya?"


"Kalau Mas pulang, kamu di sini sama siapa?"


"Ada suster nanti kok."


"Kamu yakin? Nanti kalau Egy ke sini gimana?"


"Emang Mas Egy ke sini gak tadi?"


"Jangan tanya lagi. Jelas dong dia ke sini. Dia pengen banget ketemu kamu. Tapi ya Mas tahan dia dong. Mau gak mau dia harus nurut, kan dia yang buat kamu jadi kek gini."


Nabila menatap sendu. Sedih. Padahal Egy adalah orang yang paling ia percaya tak akan menyakitinya.


"Sasaran dia bukan kamu kok! Tapi aku." Beritahu Nadeo.


"Aku tahu kok Mas!"


Jelas Nabila tahu, tapi ia tetap kecewa dengan Egy yang memakai cara kotor padanya.


"Yaudah istirahat gih, jangan banyak pikiran." Ucap Nadeo ketika membaca gurat sedih di wajah Nabila.


"Euhmm, Mas?"

__ADS_1


"Iya?"


"Kas gak kasih tahu Pakde dan Bude kan perihal masalah ini?"


Nadeo tersenyum. "Tenang aja Bil! Mas juga gak mau mareka khawatir. Makanya Mas jagain kamu di sini."


"Euhmm.., makasih ya Mas?"


Nadeo tersenyum tulus dan mengangguk. "Tidur ya?"


Nabila mengangguk, kemudian Nadeo menarik selimut hingga dada, agar perempuan itu bisa tidur nyenyak.


...****************...


PLAK!!!!


Sebuah tamparan mendarap mulus di pipi Egy. Mulutnya ternganga, tapi ia tak berani mengucap sepatah kata apa pun. Ia tahu dirinya salah.


"Mas, kali ini aku benar-benar kecewa sama Mas Egy!"


"Cin, Mas gak punya pilihan lain." Sahut Egy sendu.


"Tapi itu bukan pilihan yang tepat Mas!" Pekik Cinthya frustrasi.


"Mas gak tahu harus apa ngapain lagi."


Cinthya yang frustasi akhirnya memilih duduk di sofa, Egy pun mengikutinya duduk.di sebelah adik sepupunya itu.


"Mas minta maaf Cin."


"Bukan sama aku Mas, tapi sama Nabila"


"Mas gak yakin juga dia akan maafin Mas! Mas bener-bener khilaf. Pikiran Mas udah buntu kemarin, ditambah dengan pengakuan mengejutkan dari Putri."


"Maksud Mas?" Tanya Cinthya sembari menoleh ke sampingnya kirinya pada Egy.


"Putri bilang, dia melahirkan anaknya Mas! Tapi Mas gak bisa percaya gitu aja. Kamu tahu kan dia itu liciknya gimana?"


"Nabila tahu soal ini?"


"Jelas. Putri gerak cepat. Dia langsung kasih tahu Nabila, dan Mas gak harus jelasin lagi, kamu tahu sendiri gimana respon Nabila."


"Tapi kalau ternyata itu beneran anaknya Mas Egy gimana? Mas tetap mau menolak bertanggung jawab?"


"Mas masih bingung."


"Mas boleh terlalu cinta sama Nabila, tapi jangan mengabaikan tanggung jawab Mas sebagai laki-laki Mas! Lagian aku juga gak tahu masih bisa bantu Mas Egy atau enggak, aku beneran kecewa sama Mas Egy. Kayaknya usaha aku selama ini untuk Mas Egy juga sia-sia aja."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Tadi pagi aku ketemu Nabila di rumah sakit. Dia nangis-nangis Mas! Keliatannya dia shock berat sama apa yang terjadi kemarin. Dan dia juga bener-bener kecewa sama Mas Egy."


Egy terduduk lesu. Ia salah mengambil langkah. Ia gegabah. Sekarang ia menyesali itu semua.


__ADS_2