
Seorang perempuan cantik turun dari pesawat. Kaca mata hitam dengan harga puluhan juta, baju. tas dan semua yang melekat pada perempuan itu rasanya tidak ada yang harga di bawah jutaan.
Cantik, tinggi, putih dan yang dapat dipastikan perempuan itu pintar.
Namanya Putri Hartono. Anak seorang konglomerat Indonesia, pemilik dari perusahaan tekstil terbesar kedua di Indonesia. Ayahnya yaitu Muhajir Hartono yang merupakan seratus dari orang paling berpengaruh di Indonesia. Ayahnya juga masuk dalam jajaran dua puluh orang terkaya di Indonesia versi forbes. Sempurna.
Perempuan itu kembali lagi ke Indonesia dengan gelarnya Putri Hartono, S.Kom.,M.B.A. (lulusan sarjana komunikasi dan master of Business Administration).
Kini perempuan itu sudah sampai di depan pintu rumahnya. Dan langsung saja ia mengetuk pintu rumah tersebut.
Pintu terbuka.
"Putri?" Ucap orang yang dibalim pintu tak percaya.
Putri membalas dengan senyum hangat. Dan entah di detik ke berapa, putri sudah dalan pelukan orang yang tak lain adalah kakak laki-lakinya. Arif Hartono.
"Kenapa tidak bilang Dek? Mas kan bisa jemput kamu." Protes Arif setelah pelukan mareka terlepas.
"Kan biar jadi surprise." Balas Putri.
"Ya sudah, ayo masuk!" Ajak Arif.
Putri dan Arif pun masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang tamu Putri berteriak.
"Surprise!!!"
Semua menoleh ke arah Putri yang berdiri di samping Arif. Dan Yes! Putri berhasil membuat mareka terbelalak dengan kedatangannya.
"Putri Papa?" Pak Muhajir seolah tak percaya dengan yang ada dihadapannya. Anaknya kembali.
Pak Muhajir bangun dan merentangkan tangannya. Tahu niat sang Papa, Putri langsung berhamburan ke dalam pelukan Papanya.
"Papa rindu sekali." Liroh Pak Muhajir ketika Putri berada dalan pelukannya.
"Putri juga." Balas Putri sembari melepaskan pelukannya oada Papanya.
"Ini ada Om Joy sama tante Yura, ayok salim dulu." Perintaj Pak Muhajir pada Putri.
Putri menurut, ia menyalami O. Joy dab Tante Yura yang duduk di sofa yang berhadapan dengan sang Papa.
"Rasanya baru kemarin Om lihat kamu makan es krim belepotan gitu, sekarang berubah jadi gadis cantik saja." Goda Om Joy dan dibalas dengan senyuman manis oleh Putri.
"Hehe, Om bisa aja." Sahut Putri yang kini sudah duduk di dekat Papanya.
"Sudah punya pacar belum?" Kini giliran tante Yura yang bertanya.
"Belum tante." Jawab Putri malu-malu.
"Kebetulan sekali, rasanya hubungan kita untuk berbesan tak buruk ya Pak Muhajir?"
...****************...
"Paket!!!" Teriak seorang laki-laki dari luar rumah.
"Iya!!" Sahut Nabila dari dalam.
Dengan langkah tergesa Nabila berlari memvukakan pintu. Jika tak salah dengar tadi ia mendengar seorang laki-laki berteriak paket. Kurir kah itu? Tapi seingat Nabila, ia tak memesan barang apapun di toko online.
Akhirnya Nabila membukakan pintu. Dan terlihat seorang laki-laki yang memakai jaket herwarna hijau, khas dari warna aplikasi tersebut. Mungkin umurnya berkisar empat puluhan. Tak perlu di tebak, itu memang Ojol.
"Ini Mbak ada kiriman bunga." Ujar pria tersebut sembari memberikan satu buket bunga daisy outih kepadanya.
"Saya permisi Mbak!"
__ADS_1
Dan si ojol pun melenggang pergi meninggalkan pekarangan rumah Nabila.
Nabila menatap bunga yang kini berada di tangannya.
"Aku lupa tanya lagi, pengirimnya siapa." Nabila baru sadar akan kebodohannya.
Sesaat kemudian, ada panggilan masuk ke HP Nabila.
"Halo Mas."
"Iya halo. gimana bunganya udah sampe belum?"
"Udah! Ini dari Mas Egy?"
"Iya. Suka enggak?"
"Suka."
"Bagus deh kalau kamu suka. Mas senang dengernya"
Setelah sambungan telpon terputus, Nabila menghela naoas berat. Kalau boleh jujur, sebenarnya Nabila kurang tertarik dengan bunga tersebut. Ia lebih suka mawar merah. Tapi tak mungkin ia berkata begitu pada Egy, bisa-bisa nanti laki-laki itu tersinggung. Bagus-bagus Egy mau memberikan bunga dan selalu perhatian padanya.
"Padahal aku suka mawar merah."
...****************...
Egy tengah sibuk berkutat di ruang kerjanya dengan dokumen-dokumen penting yang harus segera ia selesaikan. Egy yang dulunya tak mau pulang dari USA untuk meneruskan perusahaan, kini menjadi berbanding terbalik dengan keinginannya dulu. Ia menjadi seorang yang cinta kerja, yang gila kerja.
Bahas masalah kerja. Ruang kerja Egy saat ini juga berfungsi sebagai perpustakaan. Egy memang punya hobi membaca. Eitss, jangan salah dulu, Egy itu hobinya bukan baca novel ya? Dia lebih ke buku-buku bisnis gitu. Gak ada tuh dia suka baca novel romansa, itu tidak penting baginya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.
"Siapa?" Tanya Egy dari dalam.
"Masuk Ma!"
Setelah dapat izin dari Egy, Bu Yura Pun masuk. Ia memberikan seulas senyum pada anak sulungnya itu.
"Masih sibuk ya?"
"Dikit lagi."
Bu Yura mendekat ke arah Egy, lalu menarik kursi dan duduk di samping Egy.
"Ada apa Ma?" Tanya Egy tanpa mengalihkan atensinya pada layar laptop yang ada di depannya. Sepertinya sekarang layar laptop itu lebih penting dari sekadar melihat Mamanya.
"Kamu tahu gak, Kalau putri sudah pulang?" Tanya Bu Yura dengan nada yang menunjukkan rasa senang.
"Enggak."
"Kamu ini gimana sih? kan kamu teman baiknya dia, kok bisa kamu gak tahu."
"Ya walaupun teman baik, kalau dia gak ngasih tahu, tetap aja aku gak tahu."
"Dia udah pulang kemarin."
Tak ada respons dari Egy.
"Dia tambah cantik loh!" Tambah Bu Yura.
"Memang dari dulu sudah cantik." Sahut Egy asal, ia tak terlalu peduli pada omongan Mamanya.
__ADS_1
"Tapi sekarang tambah cantik." Bu Yura bersikukuh.
"Ya sudah Ma, bagus dong. Memangnya kalau dia tambah cantik kenapa? Apa harus kita sarankan dia masuk Miss Indonesia?" Nada Egy terlihat agak kesal, mungkin karna pembahasannya menjadi terganggu konsentrasi kerjanya.
"Ih..., kamu kok gitu sih?" Sungut Bu Yura kesal. Masa anaknya tak tahu maksudnya.
"Habisnya mama aneh, kayak gak pernah liat orang cantik. padahal yang lebih cantik dari dia juga banyak."
"Kamu ini gak peka ya? Mama rasa kalian cocok loh."
"Sudah dari dulu kami cocok Ma, bahkan dia sudah aku anggap adik aku sendiri. Kurang cocok apa lagi coba?" Egy melirik Bu Yura sekejap, lalu kembali fokus pada semula.
Memang tingkat kepekaan Egy ini berada di level paling rendah.
"Maksud Mama bukan sebagai adik. Sebagai pasangan. Dia cantik, pintar, dan dari keluarga terhormat." Kini Bu Yura tak lagi basa-basi, toh anaknya juga tak akan mengerti. Biarlah ia mengutarakan niatnya.
Mendengar itu, aktivitas Egy terhenti. Egy menatap mata Mamanya. "Maaf Ma, Egy gak tertarik."
"Gimana sih yang bikin kamu tertarik? Kamu mau cari yang gimana lagi? Kamu sudah mapan untuk menikah. Mau tunggu apa lagi? Selama ini Mama lihat kamu hanya fokus ke kantor saja. Rasanya kalau kamu tidak ke kantor kamu sakit. Apa secinta itu kamu sama pekerjaan? Padahal yang Mama tahu, dulu kamu sangat anti di suruh meberuskan perusahaan." Cerocos Bu Yura panjang dengan nada kesal.
Ah... Bu Yura tak tahu saja, apa yang membuat anaknya semangat ke kantor.
"Karna di kantor aku menemukan kebahagiaan ku Ma." Tentu saja itu hanya mampu diucapkan dalam hati, walau bibirnya tersenyum.
"Kapan kamu mau menikah Egy?" Tanya Bu Yura lagi.
"Secepatnya."
Jawaban apa itu?
"Mama lagi ngomong serius nih."
"Egy juga." Balas Egy santai.
"Mana calon kamu? Mama tidak lihat kamu pernah mengenalkan mama dengan seorang perempuan."
"Pernah Ma, tapi Mama udah lupa."
"Akan Ma, setelah proyek ini rampung." Kini pandangan Egy bertemu dengan Bu Yura.
"Yang benar kamu?"
"Iya Ma, Egy serius."
"Siapa Namanya?"
"Nabila Ma. Dia cantik, dan Egy sangat mencintainya."
Bu Yura dapat melihat kebahagian yang terpancar di wajah Egy. Sepertinya anaknya memang sangat menyukai perempuan itu. Lihat saja, matanya sangat berbinar ketika menyebut nama perempuan itu.
"Kenal di mana? Orang sini juga?" Bu Yura jadi penasaran, siapa yang telah merobohkan benteng hati anaknya ini.
Egy tersenyum. "Nanti kalau sudah Egy bawa ke sini, Mama kenalan ya?"
Bu Yura mengangguk saja. Jika anaknya bahagia, ya sudah! Biarkan saja.
"Egy harap, Mama bisa menerima dia. Egy sayang banget sama dia."
Wah Egy sudah terkena syndrom bucin akut nih kayaknya.
"Kalau kamu sudah cinta, ya Mama bisa apa?" Bu Yura mengedikkan bahu, seolah ia pasrah akan putusan Egy.
"Merestui!"
__ADS_1
Ya! Mamanya bisa merestui. Itu saja yang Egy harapkan.
(Hay hay. Kalian lebih suka Nabila Egy, Atau Nabila Nadeo? Komen ya?)