
Semua duduk di meja makan. Bu yura, Pak Joy, Egy dan tentunya Putri. Putri dan Egy duduk berdampingan berhadapan dengan Pak Joy dan Bu Yura.
Nah karna sekarang keluarganya Pak Joy sedang berkumpul, ada sedikit cerita tentang keluarganya. Sebenarnya Egy ini punya adik namanya Nuest. Yang sebenarnya itu sih namanya Gunawan, tapi entah dengan alasan apa ia dipanggil Nuest, Mungkin mirip sama member Nuest kali ya?
Nah ngomong-ngomong tentang Nuest. Nuest ini sekarang sedang melanjutkan studinya ke negeri tirai bambu. Tau lah kan?
Kembali lagi ke topik yang tadi. Semua sekarang sedang menikmati santapan makan malamnya yang dipenuhi dengan bebagai menu di meja. Belum ada yang memulai pembicaraan.
"Gy, nanti temani Putri mengobrol ya? Biar ada teman." Kata Bu Yura.
Egy mengangguk sekenanya saja. Tidak ada niat membantah, atau merasa senang. Sejak kepulangan Putri, sebenarnya Egy tak menunjukkan kesan bahwa ia sangat bahagia. Ia bersikap biasa-biasa saja. Seolah tak ada yang istimewa dari kedatangan Putri.
"Kalian ini, kalau dilihat-lihat, cocok juga ya?" Kata Pak Joy.
"Uhuk! Uhuk!" Egy langsung terbatuk mendengar ucapan Papanya. Putri langsung menyodorkan segelas air putih pada Egy, dan langsung diminum.
"Kamu gak papa Gy?" Tanya Bu yura.
Egy menggeleng. "Gak papa kok."
"Hati-hati dong kalau makan, gak usah buru-buru, gak akan ada yang ambil makanan kamu kok!" Kini giliran Putri yang bersuara.
Egy hanya tersenyum tipis, lebih ke cuek sepertinya.
"Pa! Egy mohon jangan menjodoh-jodohkan Egy sama Putri. Egy risih, Putri juga risih. Kami dari dulu sahabat."
Pernyataan Egy bagaikan duri dalam genggaman. Sakit dan perih. Belasan tahun bersama, ia hanya di anggap sebagai sahabat? Jelas-jelas itu artinya Egy menolaknya secara terang-terangan.
"Tapi Papa liat,Putri gak risih tuh." Bantah Pak Joy. Menurutnya Putri sama sekali tak keberatan dengan ucapannya. "Lagian kenapa kalau sahabat? Gak boleh menikah?"
"Bukan gitu Pa."
"Lalu salahnya di mana? Putri baik, cantik, keluarga sudah saling kenal. " Cerocos Pak Joy.
"Pa..., biarin Egy ngomong dulu." Ucap Bu Yura. Karna ia sudah duluan tahu, maka ia mengerti maksud Egy.
__ADS_1
"Egy sudah punya Calon Pa!"
...****************...
"Jadi benar kamu sudah punya calon?" Tanya Putri sambil terus mengitari rak buku Egy. Sesekali ia mengambil buku yang menarik di matanya.
"Iya." Jawab Egy tanpa mengalihkan atensinya dari laptop.
Putri semakin bosan berada dalam ruang kerja Egy. Bukannya menemaninya mengobrol, tapi pria itu malah asyik dengan laptopnya.
"Kelihatannya sibuk banget sih dari tadi?" Tanya Putri yang kini sudah duduk di samping Egy.
"Aku lagi buru-buru nyelesaiin proyek ini. Biar tenang. Begitu proyek ini selesai,aku bakalan kenalin Nabila sama orang tuan ku."
"Namanya Nabila?" Tanya Puri dengan alis yang naik sebelah.
Egy tersenyum.Walau hanya nama, tapi bisa langsung menorehkan senyun di bibir Egy.
"Iya. Cantik kan namanya? Orangnya juga cantik." Papar Egy semangat. "Kalau udah aku kenalin ke Mama, aku bakalan langsung nikah Put."
Egy bahagia, Putri kecewa. Bagaimana bisa berpuluh tahun mateka saling mengenal. Tak ada satu rasa apapun yang tumbuh di hati Egy.
Sedangkan Putri. Ia sudah lama jatuh cinta Pada Egy, dam mengikuti kemana pun Egy pergi.
Tidak bisakah Egy melihat Putri sebagai seorang perempuan, bukannya sahabat atau pun adik.
"Nanti aku kenalin ya ke kamu? Dia baik, kamu oasti suka berteman sama dia. "
Putri hanya tersenyum saja. padahal di balik senyumnya ada kegetiran.
"Aku benran suka banget, dan syg banget sama dia put. Dari semua perempuan yang sudah pernah aku kenal. Aku syg bget sma dia. Kamu tahu kan aku kalau sudah sayang sama perempuan. sayang banget."
...****************...
Setelah kemarin hatinya Putri benar-benar sakit. Putri sudah punya tekad untuk mengetahui siapa sebenarnya perempuan yang berhasil mencuri hati Egy. Berhasil membuat Egy tergila-gila. Apa sih kelebihannya? Apa sih kehebatannya? Apakah perempuan itu lebuh baik darinya? Ah tentu tidak mungkin. Sejauh ini, Putri merasa dirinya yang terbaik. Buktinya saja kedua orang tua Egy sangat menyukainya. Egy saja yang belum sadar.
__ADS_1
Dan hari ini Putri sudah berada di ruangan kantor Egy. Menurut informasi dari Egy kemarin, perempuan itu adalah sekretarisnya. Itu artinya mareka belum lama kenal, dalam artian mareka belum kenal beberapa tahun, hanya sekitaran setahunan lebih ini. Cepat juga perempuan itu bisa mengambil hati Egy, pikir Putri. Hebat juga dia.
Dapat Putri simpulkan Egy terlibat cinlok. Ya iya lah. Secara mareka setiap hari bertemu, dan bisa saja perempuan itu menggoda Egy. Karna kebersamaan yang setiap harinya, makan membuat rasa itu tumbuh di antara keduanya. Tapi mengapa dengannya tidak bisa? Mareka bersama belasan tahun, setiap hari bertemu, mengapa rasa itu hanya tumbuh di hati Putri saja? Tidak di hati Egy. Apa kurang dirinya? Padahal Putri sudah menunjukkan ia tertarik pada Egy sedemikian Rupa, tapi pria itu tak pernah melihatnya.
Suara ketukan pintu mengembalikan Putri ke alam nyata. Ia sedang duduk di samping Egy. Dan ia yakin yang mengetuk pintu itu oasti sekretaris Egy.
"Itu pasti Nabila." Ujar Egy penuh senyum. "Masuk Bil!" Seru Egy sedikit keras.
Benar saja orang yang baru masuk itu adalah Nabila. Dan kini atensi Putri tertuju pada Nabila sepenuhnya. Putri memindai Nabila dari atas hingga bawah. Nabila mengenakan hijab floral berwarna matcha yang senada dengan long pantsnya. Untuk baju ia mengenakan blouse hitam polos berombre di bagian tangan. Juga Nabila mengenakan heels lancip putih yang menambah kesan anggunnya. Hingga detik ini, Putri tak menemukan cacat cela pada wanita yang berjalan ke arahnya.
Cantik. Begitu kata hati Putri. Tidak-tidak, ia lebih baik dari Nabila. lagi-lagi hatinya menolak untuk mengakui keunggulan Nabila. Perempuan itu bukan tandingannya, tak ada apa-apa dibandingnya. Tak ada logo bermerek dari pakaiannya. Dapat di taksir tak ada satu pun yang harganya di atas jutaan. Dan Putri merasa Nabila sama sekali bukan levelnya. Ia tersenyum remeh.
"Mas Egy manggil aku?" Tanya Nabila ramah di iringi senyum.
"Iya. Duduk Bila."
Nabila menurut dan duduk di sofa berhadapan dengan Putri dan Egy.
"Ini Put, Nabila yang aku ceritakan. Cantik kan?" Ucap Egy, dan yang pasti ia selalu tersenyum jika berkaitan dengan Nabila. Tapi Putri tak terlalu peduli dengan ucapan Egy.
"Bil, kenalin ini Putri, sahabat aku yang baru datang dari USA." Ujar Egy pada Nabila.
Nabila mengangguk dan mengulurkan tangannya sembari tersenyum manis. "Nabila."
Tangan Nabila menganggur tanpa ada balasan dari Putri. Dan Putri hanya mengamatu tangan yang masih mengganting itu, tanpa niat membalasnya.
Nabila menjadi salah tingkah. Ia tak bodoh. Ia tahu bahwa Putri kurang berkenan dengannya.
"Ayo Put, kenalan." Desak Egy.
Putri menerima uluran tangan Nabila. "Putri." Kata Putri dengan nada dingin. Putri menatap Nabila dengan pandangan penuh intimidasi. Putri sudah melabuhkan gendang perang untuknya dengan Nabila.
Setelah itu, mareka bercerita. Egy lebih dominan menguasai pembicaraan. Dan Nabila hanya mengiyakan dan mengangguk saja. Jangan tanya Putri. Jelas ia memperlihatkan betapa sangat dekatnya ia dan Egy.
(hy hy maaf banyak typo. aku ngetiknya samoe ketiduran. aku pulang kerja rela-relain begadang buat kalian.)
__ADS_1