Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Berjuang


__ADS_3

Muka Nadeo di penuhi lebam kebiruan. Pakde terus memukul Nadeo tanpa henti. Sesekali unek-uneknya keluar. Sekali juga ia meminju Nadeo. Tapi Nadeo tak membalasnya.


"Pakde, udah Pakde!" Nabila memegang lengan Pakde menahan tangis.


Sungguh Nabila tak tega melihat Nadeo yang sudah babak belur dipukul Pakde. Sejahat-jahatnya Nadeo, tapi ia juga tak tega melihat Nadeo yang tak berdaya. Apalagi pria itu sama sekali tak membalas Pakde.


"Sudah toh Pak, kasian Nadeo mukanya udah biru gitu." Bude yang awalnya cuek saja, kini juga tak tega melihat keadaanNadeo.


"Biar Bu! Ini belum sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan pada Nabila. Dia memperlakukan Nabila layaknya binatang, Bapak tidak bisa terima."


"Maaf Pakde, aku menyesal."


Nadeo masih berlutut di depan Pakde. Dan Plak!!! Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Nadeo.


"Pakde udah!" Teriak Nabila.


Pakde yang sudah seperti orang kesetanan, memukul Nadeo tanpa ampun. Nadeo memuluk kaki Pakde, memohon belas kasihan. Sedang Pakde mendorongnya kesal, hingga Nadeo kembali tersungkur di atas lantai.


"Jangan sentuh saya. Saya gak sudi di sentuh oleh tangan haram kamu. Selama ini saya sudah salah menilai kamu. Saya pikir Nabila berada di tangan yang tepat, rupanya kamu yang menghancurkan hidupnya. Berani sekali kamu menghancurkan hidup dia. Dari kecil saya rawat, saya besarkan seperti anak sendiri. Saya kasih dia pendidikan. Tapi kamu malah datang menghancurkan dia, kenapa? Kenapa harus Nabila? Dia salah apa sama kamu? Harusnya kalau kamu gak suka dia, jangan nikahi dia." Di akhir kalimat, Pakde menjadi melankolis.


Pakde ingib melayangkan satu pukulan lagi pada Nadeo, dengan cepat Nabila memeluk Nadeo. Dan tangan Pakde hanya berhenti di udara.


"Jangan Pakde! Bila Mohon, cukup!!"


...****************...


"Mas ngapain sih pakai acara susul aku segala?" Tanya Nabila sebal. Tangannya teeus mengobati luka di muka Nadeo, akibat ulah Pakde.


Muka Nadeo babak belur, dan Nabila mengompresnya dengan air es. Berharap cara ini sedikit membantu.


"Aku pengin buktiin kalau aku benar-benar sayang sama kamu. Aku..."


Nabila malas sekali mendengar jawaban itu.


"Udah deh Mas, lagian gak lama lagi kita resmi bercerai."


Kini Nabila mulai mengoleskan salep di sudut bibir Nadeo yang nampak sedikit pecah.


"Bil..." Nadeo memegang tangan Nabila lembut. "Bisa gak, kalau kita gak berpisah?"


Pandangan mareka bertemu. Ada pengharapan besar di mata Nadeo. Tapi tidak pada Nabila.

__ADS_1


"Mas! Mbak! Ayok makan malam dulu." Soegi databg sesikit berteriak, lalu ia kembali lagi ke meja makan.


"Iya. Yuk Mas?"


"Tapi?" Nadeo sedikit ragu. Pasalnya baru tadi Pakde menguji jotosnya.


"Tenang. Meski Pakde tadi narah-marah, bukan berarti dia biarin Mas kelaparan."


...****************...


Setelah kemarin Pakde memukul Nadeo bagau orang kerasukan. Dan hari ini ia sudah bersikap seperti biasa. Mungkin terlampau emosi, Pakde hilang kendali.


Mengikuti saran Bude, akhirnya setelah makan malam Pakde mengajak Nadeo untuk mengobrol serius di belakang rumah. Di sana ada bangku yang menjadi tempat favorit Pakde mengopi.


Pakde dan Nadeo duduk di bangku yang ada meja di antara keduanya. Pemandangannya adalah kolam ikan hias Pakde, dan juga beberapa tanaman bunga milik istrinya.


"Kenapa kamu datang ke sini lagi?" Tanya Pakde mengawali pembicaraan


Hening. Diam.


"Aku mau minta maaf Pakde." Akhirnya suara Nadeo keluar juga.


Sebenarnya ia juga takut-takut untuk mengatakan maaf. Tapi ia harus gentle untuk melakukannya. Karna ia yang melakukan kekacauan ini, maka ia juga yang harus menyelesaikannya.


Pantas. Pakde pantas mempertanyakan segalanya. Ia punya hak penuh atas Nabila.


"Setelah Nabila pergi. Aku baru benar-benar mulai sadar, ternyata selama ini aku sangat mencintai Nabila Pakde."


Jujur. Itu adalah jawaban jujur dari hati Nadeo. Rasanya ia tak keliru dengan perasaannya. Ia benar-benar mencintai Nabila.


"Kenapa saat di rumah sakit, kamu menangis? Kamu bersikap seolah-olah kamu sangat mencintai Nabila. Apa itu juga bagian dari drama kamu selama ini?"


Nadeo menggeleng. Tidak! Itu tulus. Mungkin ia juga tidak tahu kapan pastinya ia mencintai Nabila, tapi saat ia kehilangan Nabila, ia benar-benar kacau.


"Saat itu aku benar-benar takut kehilangan Nabila Pakde. Mungkin aku tidak sadar sepenuhnya bahwa saat itu Nabila sudah berhasil masuk ke dalam hati aku." Jawab Nadeo.


"Aku dapat bersumpah saat itu aku benar-benar takut dia gak bangun lagi. Aku sadar saat itu, aku punya banyak salah sama dia. Selama ini dia menderita bersama aku. Dan betapa aku sangat merasa bersalah, Nabila tidak pernah sekali pun mengatakan keburukan di depan Mama sampai Mama menutup mata. Aku gak peduli Pakde, apakah sekarang aku terlambat atau tidak. Tapi aku benar-benar ingin berjuang."


Pakde menyesap kopinya. Lalu ia menghembuskan napas pelan.


"Sebenarnya Pakde sangat kecewa sama kamu."

__ADS_1


"Aku tahu Pakde."


"Tapi Pakde juga sadar, kalau kamu tidak cinta sama Nabila, tak mungkin juga kamu akan menyusul dia ke sini. Apalagi kamu juga tidak membalas saat Pakde memukul kamu. Kenapa kamu tidak melawan? Akhh... lihat muka kamu masih biru-buru."


Nadeo tersenyum. "Sakit yang aku terima, gak sebanding dengan sakit hati yang Pakde, Bude terima. Dan Nabila..., dia yang paling sakit." Di akhir Nadeo tersenyum getir mengingat kebodohannya.


"Kamu beneran mau berubah?"


Nadeo mengangguk cepat. "Aku relain apa pun. Apa pun yang Pakde suruh, aku lakukan."


"Sebenarnya Pakde tidak bisa mengatakan banyak hal. Kamu sudah dewasa, begitu juga Nabila. Semua keputusan ada di tangan kalian berdua. Pakde hanya berharap, kamu tidak menyakiti dia."


"Jadi, aku dapat lampu ijo?" Ada binar di mata Nadeo.


"Semua keputusan ada di tangan Nabila. Pakde tidak ingin mencampuri masa depannya. Biar dia memilih yang terbaik untuknya. "


"Tapi, Pakde memberi saya restu kan?"


"Restu?" Pakde mengerutkan keningnya.


"Restu untuk mengejar cinta Nabila lagi."


"Semua laki-laki yang ingin mengejar cinta Nabila saya beri restu. Pilihan akhir ada di tangan Nabila. Jadi, jika kamu memang mau kembali sama Nabila, tunjukkan sama dia, kalau kamu benar-benar mencintai dia."


"Tunggu! Pakde bilang semua laki-laki?"


Pakde mengangguk.


"Berarti ada orang lain selain saya?"


"Pakde gak bilang gitu. Tapi kalau kamu menganggap begitu, silahkan!"


Nadeo jadi berpikir. Apa ada laki-laki lain yang juga mengejar cinta Nabila? Jangan-jangan...


Ah...tidak! Itu tidak boleh terjadi.


"Deo!" Panggil Pakde.


"Iya Pakde?"


"Gimana kamu? Siap gak melakukan itu semua."

__ADS_1


"Siap Pakde. Saya akan melakukan yang terbaik. Dan yang pasti saya janji gak akan kecewain Pakde."


Nadeo tersenyum puas. Setidaknya Pakde tidak menghalanginya. Dan ia berhasil meyakinkan Pakde. Tinggal Nabila saja.


__ADS_2