Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Arah Yang Berbeda


__ADS_3

Putri masuk ke dalam ruangan Arif. Arif menoleh sebentar dengan ekor matanya, lalu ia kembali fokus pada layar laptopnya.


"Mas?" Panggil Putri dengan nada manja dan duduk di sebelah Arif.


Adiknya ini memang selalu manja dengannya. Entah mengapa ia tak bisa mengabaikan Putri sedikit pun. Apalagi sejak Ibu mareka meninggal, bertambahlah rasa sayang Arif pada Putri.


"Kenapa Princess?" Tanya Arif dengan selembut-lembutnya.


"Mas Egy Mas!" Rengek Putri.


Ah, pria sialan itu lagi! Inilah salah satu kekurangan adiknya. Selalu dibutakan cintanya kepada Egy. Padahal ia saja sudah jelas-jelas bisa melihat, Egy tak pernah tertarik dengannya. Hanya saja Putri terus berharap cintanya akan dibalas, meski kesempatan itu hanya satu persen.


Jika sudah berhubungan dengan Egy, masalahnya pasti selalu serius, bagi Putri. Arif menutup laptonya sambil menghela napas berat.


"Kenapa lagi sama Egy sayang?" Tanya Arif lembut dengan memandang Putri lembut.


Jika begini, tingkah Putri seperti anak SMA yang baru mengenal cinta saja. Jujur kadang ia juga salut pada adiknya. Ia mencintai Egy sudah sekian lama, tepatnya belasan tahun yang lalu. Saat itu Arif membawa Egy dan Nadeo ke rumah, mareka memang bersahabat. Dan saat itulah Putri minta dikenalkan dengan Egy, hingga mareka akrab. Putri berterus terang pada Arif bahwa ia menyukai Egy, yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Dan setelah itu, cintanya pada Egy tak pernah berubah.


Sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Egy memang perhatian dan dekat dengan Putri, tapi ya sebatas sahabat atau adik dan kakak. Tidak lebih. Jika ditanya apakah Putri tidak menarik? Jawabannya jelas Putri sangat menarik, ia bahkan jadi cewek populer di SMP dan SMA-nya dulu. Masa ada anak konglomerat tidak cantik? Kalaupun tidak cantik, uang pasti bisa mengubah segalanya.


Ya, namanya juga cinta bertepuk sebelah tangan. Jadi terang-terangan saja Egy mendekati cewek lain atau malah memacarinya. Tapi selalu berakhir gagal. Ulah siapa lagi kalau bukan Putri dengan bantuan Arif. Sejak Putri jatuh cinta pada Egy, Arif berbah menjadi laki-laki yang jahat dan licik. Ia selalu mengancam setiap perempuan yang dekat dengan Egy, siapa yang tak takut? Arif bukanlah orang biasa. Semua dilakukannya sampai hari ini, jelas penyebabnya adalah cinta buta adiknya itu. Sangking ia sibuk dengan Putri, ia tak sempat untuk jatuh cinta. Ia malah bingung bagaimana rasanya jatuh cinta pada seorang wanita.


"Mas Egy jahat Mas!' Adu Putri.


"Udah berapa kali Mas bilang, gak usah berharap lagi sama dia. Dia gak pantas untuk kamu. Kamu terlalu berharga Put!" Arif berusaha menyadarkan adiknya untuk kesekian kalinya, dan seperti biasa jawabannya adalah, tak bisa karna ia terlalu cinta.


"Tapi aku cinta banget sama dia Mas!" Inilah jawaban yang selalu diberikan Putri ketika Arif menyuruhnya melupakan Egy. Ah kadang Putri berpikir bagaimana mungkin Abangnya ini mengerti, dia kan tidak pernah jatuh cinta mana tahu dia rasanya tak bisa merelakan orang yang kita cintai begitu saja.


"Putri sayang, jelas-jelas dia sudah nolak kamu. Kamu tahu gak? Tanpa kamu sadari kamu udah nyakitin diri kamu sendiri, dengan banyak berharapa ke dia. Sedangkan dia, sama sekali gak peduli Put! Lagian, apa sih yang kamu harapkan dari seorang Egy?"


"Cinta Mas!"


"Itu bukan cinta Put!"


"Mas mana tahu cinta? Emang Mas pernah jatuh cinta? Enggak kan?" Serang Putri.


"Tapi Mas juga bisa bedain, mana cinta mana obsesi. Kamu terlalu terobsesi sama Egy."


Memang benar Arif tak pernah jatuh cinta, tapi bukan berarti ia bodoh. Ia juga bisa membedakan mana cinta mana obsesi. Dan di sini yang ia tangkap adalah adiknya terlalu terobsesi pada Egy. Dia selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Egy.


"Lagian apa sih yang kamu lihat dari dia? Ganteng? Banyak cowok lain yang lebih ganteng. Kaya? Masih juga rame di pelosok negeri ini yang kaya selain dia, bahkan kita lebih kaya dari dia. Baik? Jelas masih sangat banyak pria yang baik, dan Mas bisa menemukan iti semua untuk kamu, kalau kamu mau!"

__ADS_1


"Kalau aku maunya tetap Mas Egy gimana Mas?" Tanya Putri tajam.


Sungguh! Adiknya ini lebih keras dari batu.


"Mas gak tahu deh, harus menyadarkan kamu dengan cara apalagi." Tukas Arif putus asa.


"Mas! Ini karna Nabila Mas! Dia penyebabya Mas! Kalau dia gak ada, aku yakin Mas Egy akan membalas cintaku."


Arif menghala napas. "Berhenti nyalahin orang lain Put!"


Beginilah Putri. Ia selalu menyalahkan perempuan lain untuk alasan cintanya yang yak berbalas. Miris!


"Tapi dia memang salah Mas! Dia menggoda Mas Egy!"


"Mas udah liat kok, dia udah jauhin Egy. Sesuai dengan yang kamu inginkan."


"Tapi kenapa Mas Egy masih ngejar-ngejar dia Mas?"


"Itu kamu tahu, selama ini Egylah yang mengejar Nabila, buka malah sebaliknya seperti yang kamu tuduhkan." Kali ini Arif tak lagi berpihak dengan Putri, ia berbeda pendapat.


"Mas kok jadi belain dia sih?"


"Jangan bilang kalau Mas?" Putri menjeda kalimatnya.


"Apa?" Tanya Arif.


"Suka sama Nabila." Lanjut Putri.


Arif berpaling, "Enggaklah!" Bantah Arif kaku.


"Baguslah!" Ucap Putri tenang. Jujur ia tak ingin Nabila menjadi perusak kebahagiaannya. Tidak Egy atau pun Arif, tak ada yang boleh jatuh hati pada perempuan berjilbab itu.


"Mas! Aku mau minta bantuan sama Mas!" Kata Putri penuh harap, "Ini yang terakhir, Mas mau kan?" Putri merangkul lengan Arif manja, inilah caranya merengek agat keinginannya tercapai.


"Apa Put? Selama Mas bisa, semua akan Mas lakuin untuk kamu." Jawab Arif setuju tanpa pikir panjang.


Putri melepas rangkulannya di lengan Arif. kemudian tatapannya tajam menusuk ke depan.


"Bunuh Nabila Mas!" Ucap Putri tajam.


Arif kaget! "Jangan gila kamu Put!"

__ADS_1


Bunuh? Astaga! Ia memang selalu menuruti permintaan Putri, tapi tak ada yang separah ini. Dulu ia hanya mengancam, menyekap, atau mempermalukan, tak sampai pada ayat membunuh. Ini terlalu keterlaluan. Benar-benar pikiran Putri sudah tak lagi waras.


"Dia pantas Mas mendapatkan itu. Dia sudah merampas punya ku!"


Tidak mungkin dan tidak akan. Arif tidak mungkin mengotori tangannya pada wanita yang tak bersalah, terlebih wanita itu telah merebut hatinya.


"Mas gak setuju! Dia gak salah!" Tolak Arif. Setidaknya ia masih waras dan berpikir jernih.


"Masalah ini ada karna ada dia Mas!" Putri kembali menyalahkan Nabila.


"Put sadar! Jangan sampai kamu dibutakan oleh cinta!"


"Mas kenapa sih? Dia itu penggoda Mas! Dia pantas mendapatkan itu. Seharusnya sedari dulu kita menyingkirkannya."


"Enggak! Dia bukan perempuan seperti itu. Dia perempuan baik-baik, gak seperti tuduhan kamu. Lama-lama Mas gak suka sama tingkah laku kamu."


"Mas mau membela dia juga? Ketimbang aku adik Mas sendiri?"


"Mas sadar ini kesalahan Maa yang terlalu memanjakan kamu, menuruti keinginan bodoh kamu. Sekarang kamu jadi seenaknya. Jangan main-main dengan nyawa orang Put!"


"Sepertinya dugaanku tadi benar, Mas juga sama seperti Mas Egy, yang jatuh ke dalam perangkap dia. Jujur saja Mas! Mas suka dia kan?"


Lama Arif terdiam. "Mas gak bisa bohong. Apalagi sama kamu. Mas memang mulai menyukai dia."


"Argghh!!" Jerit Putri frustasi.


"Mas akan menikahi dia, tolong terima itu Put!"


Putri berdiri. "Gak Mas! Aku gak setuju perempuan itu jadi istrinya Mas! Aku gak ngerti kenapa semua laki-laki jadi tergoda sama dia. Pelet apa yang dia paka? Sehingga kakakku saja yang selalu berada di pihakku, sekarang malah memihak padanya?" Berang Putri.


"Harusnya kamu instropeksi diri Put! Kenapa Egy bisa menyukai dia? Bukan kamu? Lihatlah kelakuan kamu. Kamu memag tidak salah, ini kesalahan Mas yang tidak bisa mendidik kamu dengan baik. Tapi hari ini Mas berjanji Mas akan mendidik kamu ke jalan yang benar."


"Mas sama aja. Apa Mas berubah menjadi baik karna ingin mengambil hati perempuan itu? Jangan terlalu percaya diri Mas! Belum tentu dia menyukai Mas." Tanya Putri dengan seringai licik.


"Mas memang menyukai Nabila, tapi Mas tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti yang kamu lakukan."


"Terserah Mas! Dunia memang gak pernah berpihak padaku." Ucap Putri seraya keluar dari ruangan Arif.


Ia tak bisa lagi berlama-lam di sana. Semuanya terasa sesak dan panas. Arif yang selama ini selalu mendukungnya, kali ini juga berpinda haluan. Ia sendiri. Benar-benar sendiri.


Hay hay semuanya. Aku sangat butuh komentar, kritik dan saran dari kalian ya? Ini adalah novel pertama ku. Jadi harap dimaklumi jika banyak kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2