Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Nabila VS Putri Part 2


__ADS_3

Dua perempuan cantik itu duduk saling berhadapan di sebuah cafe. Masing-masing punya kelebihan sendiri, namun ada yang membuat mereka sama. Sama-sana punya pendirian yang keras. Keduanya punya latar belakang yang berbeda, juga dibesarkan dalam lingkungan yang jauh berbeda.


Nabila dan Putri.


Ya! Dua wanita yang saat ini berhubungan dengan seorang CEO tampan. Yang satu dicintai CEO, satunya lagi mencintai CEO. Siapakah yang berhasil menggandeng CEO itu ke pelaminan? Nabilakah? Putrikah? Atau tidak keduanya? Pantau terus ya?


Mareka sama-sama kembali bertemu. Lagi-lagi Putrilah yang lebih dulu meminta Nabila untuk bertemu. Dan Nabila langsung mengiyakan permintaan Putri, ia juga penasaran apalagi yang ingin Putri katakan padanya?


"Bagaimana pendapat mu Nabila setelah pertemuan kemarin?" Singgung Putri penuh ejekan. "Bagaimana rasanya ditolak oleh calon mertua?"


Nabila menarik napas dan membuangnya santai.


"Aku juga ingin balik bertanya, bagaimana perasaan kamu kemarin setelah ditolak Egy?" Nabila balik menyerang.


Jangan menganggap Nabila wanita lemah. Pertanyaan dari Nabila berhasil membuat senyum di bibir Putri berganti menjadi raut masam.


"Sayang sekali kemarin Mas Egy sangat mempertahankan aku dan menolak kamu mentah-mentah. Kasihan sekali ya, Cinta kamu bertepuk sebelah tangan?" Tutur Nabila dengan nada sok dramatis.


"Andai saja kamu tahu, belakangan ini Mas Egy terus memohon agar aku tak meninggalkannya, terlebih lagi, dia rela berlutut dihadapan aku. Rasanya bila mata kamu menyaksikan sendiri, sakit hati kamu akan jadi paket komplit." Tambah Nabila lagi diiringi senyum picik. Jangan pikir Nabila tak bisa bersikap begitu. Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti.


Tak ingin terlihat lemah di depan lawan, Putri segera membantah.


"Jangab terlalu percaya diri Nabila. Aku bisa mengambil hati Egy kapan pun aku mau. Hanya saja sekarang aku biarkan saja dia bermain-main dengan hatimu dulu. Hati orang tuanya saja berhasil aku dapatkan."


"Oh ya? ambillah sekarang, aku tidak keberatan kamu mengambil hati Mas Egy. Tapi, hatinya masih berada padaku sekarang. Apa harus aku yang memberikannya pada mu?" Nabila menaikkan alisnya licik.


Putri geram. Lama-lama Nabila menjadi begitu keterlaluan. Ia pikir setelah Bu Yura menolaknya kemarin, ia akan sadar dan mundur. Rupanya ia semakin licik dan berani.


"Aku paling tahu tentang Mas Egy. Kami sudah saling mengenal sangat lama. Kamu mengenalnya baru kemarin sore, tapi yakin sekali bahwa dia benar-benar mencintaimu, seolah kamu paling tahu tentangnya, dan lama mengenalnya." Tukas Putri.


"Oh ya?" Nabila seolah menantang lawannya, "Kalau kamu mengenal Mas Egy sangat lama, dan tahu semua tentang dia, harusnya kamu bisa dengan mudah mengambil hatinya. Tapi, kenapa kamu gak bisa buat Mas Egy cinta sama kamu?"

__ADS_1


Putri dibuat terdiam oleh Nabila. Sialan!


"Seharusnya kebersamaan yang sudah lama itu bisa menumbuhkan benih-benih cinta dianatara kalian. Tapi aku tidak pernah melihat itu semua, atau memannmg kamu yang tidak cukuo pintar dalam mengambil hati Mas Egy?" Tambaj Nabila dengan alis naik sebelah.


Wah! Janda sekarang auranya memang beda ya? Lebih berani.


"Diam kamu!" Jerit Putri.


"Kenapa?"


Kemudia Putri memberikan satu seringai pada Nabila. "Rupanya penolakan kemarin tidak berhasil membuat kamu sadar ya Nabila? Kamu memnag benar-benar perempuan yang tak tahu diri."


"Apa ucapan kamu tidak salah? Aku rasa aku harus mengoreksi ucapan mu. Siapa yang sebenarnya tak tahu diri di sini? Aku? Atau kamu?" Tanya Nabila tajam sambil menunjuk dirinya dan Putri.


"Tapi aku rasa jawabannya adalah kamu." Ejek Nabila. "Sudah ditolak, tapi masih begitu percaya diri. Kalau aku jadi kamu, aku akan introspeksi mengapa aku ditolak? Bukannya menghalalkan segala cara mendapatkannya. Bahkan cara yang curang. Sungguh itu sangat memalukan."


Putri dibuat tak berkutik dengan Nabila. Ia menyesal mengajak Nabila bertemu.


"Diam Nabila!" Jerit Putri lagi.


Nabila mengedikkan bahunya. "Padahal aku tidak melakukan apa pun pada Mas Egy, tapu Mas Egy sudah begitu tergila-gila pada ku. Coba kamu bayangkan, bagaimana kalau aku merayunya? Gimana menurut kamu?"


Putri semakin frustrasi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Nabila. Tak disangkan Putri, perempuan berhijab di depannya ini bisa juga begitu pedas mulutnya.


"Apa kamu tidak lihat kemarin? Bagaimana Mas Egy tergila-gila pada wanita biasa seperti ku? Apa yang dia harapkan dari aku, selain cinta?" Nabila semakin memanas-manasi sehingga suasana benar-benar menjadi panas.


"Jangan terlalu berharap banyak Bila! Mas Egy masih di bawah kendali orang tuanya." Akhirnya Putri menyahuti.


"Memangnya mengapa kalau masih dibawah kendali orang tua? Kamu pikir aku tidak bisa membuat Mas Egy memilih ku? Aku hanya tidak melakukannya Put!"


"Kamu pikir apa yang akan terjadi jika Mas Egy memilih kamu? Dia akan kehilangan segalanya." Balas Putri.

__ADS_1


"Putri, Putri! Aku pikir pendidikan tinggimu itu bisa membuat kamu pintar." Ledek Nabila.


"Apa maksud kamu?"


Nabila tertawa mengejek. " Ternyata pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang menjadi pintar ya?" Nabila menghembus napas pelan. "Tadinya kamu berpikir kalau Mas Egy memilih aku, ia akan didepak dari jabatan, atau bahkan dicoret dari daftar warisan kan? Begitu maksud kamu kan? Seperti yang kamu lihat di TV-TV itu."


Nabila tersenyum. "Kamu lupa kalau Mas Egy adalah lulusan luar negeri? Dia punya banyak pengalaman. Dan menurut kamu, dia akan kesusahan hingga tak punya pekerjaan? Tolong jangan terlalu kolot cara berpikirmu Putri, harusnya kamu malu dengan gelar mu itu!"


Benar-benar Putri dibuat tak percaya dengan segala yang Nabila keluarkan.


"Percaya diri kamu terlalu tinggi Nabila!" Ketus Putri.


"Kalau begitu tidak usah mengajak aku bertemu. Aku hanya melayani kamu. Ingat! Kamu yang memulai ini semua!" Kata Nabila tajam.


"Aku ingatkan Put! Jangan pernah berpikir aku yang mengejar Mas Egy, aku selalu menolaknya. Tapi sepertinya dia terlalu terobsesi padaku. Kamu terlalu bodoh dalam urusan cinta!"


Putri diam, ia tak bisa membalas.


"Aku sarankan padamu. Kalau kamu suka Mas Egy, katakan! Siapa tahu dia masih bisa membalas perasaan mu. Kalau mau bertaruh! Aku yakin dia akan menolakmu." Tekan Nabila ditambah senyum piciknya.


Putri masih diam. Rupanya ia tak cukup mahir menjadi seorang antagonis.


"Kalau kamu mau Mas Egy menjauhiku, katakan saja padanya untuk menjauhiku. Sungguh! Aku sama sekali tidak keberatan, dab tidak akan marah. Percayalah!" Kali ini Nabila serius dengan ucapannya. Sungguh ia juga merasa kasihan melihat Putri yang begitu terobsesi pada Egy.


Sampai di sini seharusnya Putri sadar, ia sudah kalah! Niat awalnya yang ingin menertawakan Nabila, malah berbalik. Nabilalah yang menertawakannya.


"Sampai di sini cukup jelas kan? Rasanya aku harus permisi! Berdebat dengan mu ternyata cukup menghabiskan energi ku. Aku rasa aku perlu pulang untuk istirahat." Ucap Nabila.


Kemudian Nabila bangkit dari tempat duduknya. "Sekali lagi aku ingin mengatkan, aku tidak keberatan Mas Egy meninggalkan aku. Selamat berjuang! Semoga berhasil!"


Dan setelah mengucapkan itu, Nabila berlalu begitu saja. Rasanya cukup membuat Putri sakit hati. Salah sendiri, siapa suruh mengusiknya.

__ADS_1


Hay semua? Gimana menurut kalian? Jangan bosan ya? Ayok dong aku pengen tahu, di novel menepi ini kalian paling suka sama siapa? Laki-laki boleh, perempuan boleh. Komen ya?


__ADS_2