Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Perubahan


__ADS_3

Nadeo sudah tidak ada dalam ruangan Nabila, karna tadi ia ada pasien. Tinggallah Nabila hanya dengan Cinthya.


"Cin, Mas Egy tau ya kalau aku hamil?" Tanya Nabila memecahkan keheningan.


Cinthya mengangguk, ia tak dapat banyak berkomentar. Terlihat gurat kecewa dari Nabila.


"Mas Egy pasti kecewa" Lirih Nabila.


Sebenarnya bukan hanya Egy yang kecewa, Cinthya pun begitu.


"Udah gak usah mikirin yang lain dulu, fokus ke kehamilan kamu dulu."


Dibalik ucapannya, Cinthya flashback lagi pada kejadian yang tadi.


Flashback on.


*Setelah mendapat telpon dari Egy, Cinthya yang memang ada di rumah sakit menunggu di depan.


tak berselang lama Egy datang dengan Nabila yang ada gendongannya ala bridal. Terlihat raut khawatir dari wajah Egy, dengan tergesa-gesa Egy berlari ke dalam rumah sakit. Cinthya yang melihat langsung meminta bantuan pada perawat untuk membantu Egy. Perawat datang membawa brankar, dan Nabila dibaringkan di sana kemudian di bawa ke dalam.


Nadeo yang juga bekerja di situ melihat Nabila yang tak sadarkan diri di atas brankar yang di dorong perawat, dan diikuti oleh Egy dan Cinthya. Dengab cepat Nadeo menarik lengan Cinthya.


"Itu Nabila kan? Dia kenapa?" Tanya Nadeo panik.


"Belum tahu pak, tadi dia pingsan di kantor, terus di bawa kesini sama Mas Egy!"


Selang beberapa lama, seorang Dokter laki-laki yang kisaran umurnya empat puluh tahun keluar. Semua menghampiri Dokter yang tak salah bernama Arvian.


"Di sini siapa keluarganya Nabila?" Tanya Dokter Arvian.


Nadeo langsung maju lebih dekat. "Saya! Saya suaminya Nabila Dok."


"Maaf-maaf, saya gak tahu kalau Nabila istrinya Pak Dokter." Ucap Dokter diiringi senyum.


"Iya gak papa Dok."


"Sebenarnya Nabila tidak ada penyakit yang serius. Ia hanya lemas saja, juga mual dan pusing adalah hal yang wajar saat hamil di trimester pertama. Tak perlu khawatir, itu hal yang biasa." Jelas Dokter Arvian.


"Hah?" Egy dan Cinthya serentak.


Nadeo, Egy dan juga Cinthya sama-sama terkejut dengan ucapan Dokter Arvian. Nabila hamil? benarkah itu?


"Istri saya hamil?" Tanya Nadeo memastikan.


"Iya, usia kandungannya sudah memasuki tiga minggu."


Sebuah senyum terukir di bibir Nadeo, bahagia pastinya dengan kabar kehamilan Nabila. Ini adalah kejutan yang tak terduga bagi dirinya.

__ADS_1


"Kalau gitu saya permisi ya? Nabila sudah boleh di jenguk." Ujar Dokter Arvian dan berlalu pergi.


"Baik Dokter, terima kasih ya?"


Nadeo kembali mengukir senyum kemenangan dalam dirinya. Berbanding terbalik dengan Egy yang sedari tadi hanya diam saja. Dari raut wajahnya bisa dipastikan bahwa ia sekarang sedang kecewa. Dalam hatinya berkata, jika Nabila benar hamil, itu artinya kesempatannya bersama Nabila semakin menipis.


Tak sanggup bertemu Nabila, Egy pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.


"Tunggu!" Teriak Nadeo sembari menghampiri Egy.


Egy berhenti dan membalikkan badan menghadap Nadeo.


"Tolong jauhin Nabila. Dia istri saya, dia hamil anak saya!" Kata Nadeo dengan bahasa yang sengaja diformalkan. "Kamu tahu Nabila hamil anakku kan? Jadi tolong jangan jadi orang yang egois, yang mau memisahkan anak dari orang tuanya.


Egy tak menyahut. Ia larut dalam pikirannya.


"Saya adalah pemenangnya!" Tegas Nadeo diiringi senyum seringai lalu ia pergi begitu saja.


Egy masig mematung. Pikirannya kacau. Ia benar-benar kecewa.


"Mas!" Panggil Cinthya memecahkan lamunan Egy. Dan entah kapan Cinthya sudah ada di depannya.


"I...iya" Sahut Egy agak telat.


"Mas kenapa bengong?"


"Aku tahu perasaannya Mas, ini semua memang gak mudah di terima. Tapi Nabila hamil anak suaminya sendiri Mas!"


"...."


"Dari awal memang kalau dibilang salah, gak semua salahnya Mas Egy. Kesalahan Mas Egy hanya satu, mencintai perempuan yang masih terjerat pernikahan dengan orang lain."


Masih diam.


"Aku kalah Cin" Lirih Egy akhirnya penuh dengan kesedihan.


"Mas pulang dulu deh, Tenagin pikiran dulu. Mas Egy lagi kacau banget sekarang, keliatan dari muka Mas, kusut banget."


Egy mengangguk, dan berlalu pergi dengan langkah gontai.


Flashback off.


"Cin! Kok ngelamun sih?" Panggil Nabila memecahkan lamunan Cinthya.


"Oh..., enggak." Bantah Cinthya, "Mau buah gak?"


Nabila mengangguk. Entah mengaoa sahabatnya seperti sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


...****************...


Nabila disarankan untuk istirahat lebih banyak, dikarenakan kehamilannya yang masih muda dan masih sangat rentan. Nabila juga tak boleh depresi dan stress sama sekali, karena dapat mengganggu perkembangan janin. Ibu hamil harus terus bahagia. Begitulah kira-kira pesan Dokter sebelum Nabila pulang dari rumah sakit, dan masih terekam jelas di kepala Nadeo.


Nabila dan Nadeo sampai ke rumah. Mareka berdua sudah pulang bersama dari rumah sakit. Nadeo memapah Nabila dengan memegang bahunya, walau beberapa kali Nabila sudah menolak, tapi Nadeo tak menghiraukannya.


"Mas aku bisa jalan sendiri!" Entah audah berapa kali Nabila mengatakan kalimat seperti itu pada Nadeo.


"Enggak papa!" Dan selalu itu balasab dari Nadeo.


Sampai ke dalam rumah terlihat Raya yang sedang beres-beres rumah. Raya memasang tampang heran, tumben mareka pulang berdua, gak pernah sebelumnya. Tapi jika dilihat sekali lagi, wajah Nabila nampak sangat pucat. Apakah Nabila sakit?


"Mas sudah pulang?" Tanya Raya basa-basi dan mendekat ke arah Nadeo dan meyalami punggung tangan suaminya.


"Iya." Jawab Nadeo sambil tersenyum memperlihatkan sederet gigi putihnya.


"Kok kelihatannya hapoy banget, kenapa?" Tanya Raya yang dapat melihat raut bahagia dari sang suami.


"Aku ada kabar baik!" Jawab Nadeo antusias.


"Apa itu Mas?"


"Nabila hamil!!" Penuh semangat. "sebentar lagi kita akan jadi orang tua Ray."


Tapi kabar baik yang Nadeo bawa tak diharapkan Raya, bahkan itu adalah kabar buruk baginya. Ketika Nadeo menyebut kata hamil, seketika senyum di bibir Raya luntur begitu saja. ada sesuatu yang terasa nyeri di ulu hatinya. Apakah itu artinya ia cemburu?


"Aku ke atas dulu ya? Mau antar Nabila dulu." Pamit Nadeo dan berlalu pergi dengan Nabila.


Pantas saja wajah Nabila pucat, rupanya ia sedang hamil. Raya masih mematung di tempat ia berdiri tadi, rasanya ingin sekali ia berteriak karna rasa kecewa dan cemburu yang menguasai jiwanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa bukan ia saja yang hamil? Dia yang mengharapkan kehamilan, mengapa Nabila di sini yang beruntung? Benar! Dunia tak pernah berpihak padanya sekalipun.


"Kenapa bukan aku?" Ratap Raya dengan air mata yang tanpa disadari sudah mencolos begitu saja. "Aku berhak kan cemburu pada Nabila? Ia bisa mudah mendapatkan semuanya."


Sementara di kamar Nabila, Nadeo sudah berlutut di depan Nabila yang duduk ranjang. Di sini Nadeo ingin memohon kepada Nabila untuk berjanji tak akan menggugurkan kandungannya. Jujur saja, Nadeo memang masih was-was dengan Nabila, takut perempuan itu nekat nantinya. Dan melakukan hal yang tak diinginkan.


"Aku mohon Bil, jangan gugurin kandungan kamu ya?" Pinta Nadeo bersungguh-sungguh. "Aku janji akan turutin dan lakuin apa pun yang kamu mau."


"Setelah bayi ini lahir?" Tanya Nabila dengan alis yang terangkat sebelah.


"Maksud kamu?


"Kita akan bercerai?"


Nadeo menghembuskan napas kasar. "Enggak Bil, aku gak akan pernah ceraiin kamu. Memangnya kamu mau anak ini lahir dan hidup tanpa orang tua yang lengkap?"


Nabila diam.


"Aku tahu ini kesalahan, tapi bisa kan kita memperbaiki kesalahan ini?"

__ADS_1


Seharusnya Nabila senang karna ia hamil anak orang yang dicintainya, apalagi mendengar bahwa orang itu tak akan meninggalkannya. Tapi justru ia hanya merasa biasa saja. Apakah rasa cintanya telah memudar?


__ADS_2