Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Nabila Sakit


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. tapi Raya tak melihat Nabila sedari pagi, apa wanita itu sudah berangkat kerja ya? Raya bermonolog dalam hati. Tapi rasanya tak mungkin, kalau berangkat kerja, pasti Nabila sarapan dulu. Atau hanya sekedar berpamitan. Mobil pun masih ada terparkir rapi di garasi.


"Mas, Mas liat Nabila gak?" Tanya Raya pada suaminya.


"Enggak!" Jawab Nadeo yang terus mengancingkan kemejanya.


"Kok dia gak sarapan ya?"


"Biasanya kan juga enggak!"


"Biasanya kalau ada aku dia pamit loh! Atau jangan-jangan dia lagi sakit ya?" Duga Raya penuh kekhawatiran. "Aku samperin aja deh!" Putus Raya akhirnya daripada terus menduga-duga.


Raya pun keluar kamar dan menuju kamar Nabila. Raya mengetuk pintu kamar Nabila yang terkunci. Tapi tak ada sahutan, membuat Raya semakin khawatir.


"Nabila!" Panggil Raya beberapa kali. Tapi tak ada jawaban.


Raya panik, ia kembali menghampiri Nadeo yang baru keluar kamar, ingin berangkat ke rumah sakit.


"Mas, pintu kamar Nabila kekunci dari dalam. Aku panggil-panggil, tapi dia gak nyaut sama sekali. Aku takut dia kenapa-napa, kamu liat dulu yuk?"


Nadeo tak menjawab, ia langsung saja mengikuti Raya naik ke lantai dua menuju kamar Nabila. Dan benar saja, setelah Nadeo mencoba membuka pintu Nabila, rupanya memang terkunci dari dalam.


"Dobrak aja Mas!" Saran Raya.


Nadeo mengangguk. Ia juga panik, apa yang sebenarnya terjadi pada Nabila. Nadeo mencoba mendobrak pintu kamar Nabila beberapa kali, tak berhasil.


"Lebih kenceng lagi Mas!"


Nadeo pun mencoba lagi hingga...


BUGH!!!

__ADS_1


Akhirnya Nadeo berhasil mendobrak pintu kamar Nabila. Tak pakai lama, Nadeo dan Raya terburu-buru masuk. Tapi Nabila tak ada di dalam kamar. Hanya kamar yang berantakan, sprei yang amburadul, tapi masih terlihat bekas darah di sprei itu, serta pakaian Nabila yang di lucuti oleh Nadeo semalam masih berserakan di lantai. Kamana Nabila?


"Kemana Nabila ya Mas? Kok gak ada, apa di kamar mandi ya?" Tanya Raya sembari melihat ke ranjang Nabila yang terdapat bercak darah yang mengering, mungkin Nabila sedang menatruasi, begitu pikir Raya.


Raya membuka pintu kamar mandi Nabila, dan benar saja, Nabila sudah terkulai di lantai tak sadarkan diri dengan hanya kain batik panjang yang melilit di dada, menutupi tubuhnya hingga paha. Selain dari itu, Nabila tak mengenakan apapun.


"Mas, bantu angkat Nabila Mas!" Seru Raya panik.


Nadeo langsung menggendong Nabila ala btidal, dan merebahkan Nabila di ranjang. Badan Nabila sangat panas, mungkin ia demam. Bibirnya pun terlihat pucat. selain dari itu terlihat pula bekas cinta semalam yang diberikan oleh Nadeo, di leher, dada dan juga paha banyak sekali. Raya sekarang mengerti, bekas merah itu pasti ulah suaminya. Dan tentu saja Raya juga paham, apa yang sebenarnya tadi malam terjadi pada Nabila.


Mendadak saja hati Raya menjadi panas, dan mukanya memerah. Apakah ia cemburu? Seharusnya Raya juga mengerti bahwa Nabila adalah istri Nadeo, malah Nabila lebih berhak atas Nadeo, karna ia adalah istri pertamanya. Tapi bukankah Nadeo sudah berjanji tidak akan menyentuh Nabila, karna tidak ingin merusaknya? Lalu mengapa sekarang Nadeo mengingkari janjinya? Apa karna ia telah jatuh hati pada Nabila? Gadis yang dulu ia tolak mentah-mentah dan juga ia benci.


Raya menjadi ingat, semalam terdengar suara Nabila menangis, ia berpikir karna Nadeo memarahinya. Rupanya ia salah, bisa saja ulah Nadeo yang membuatnya menjerit kesakitan.


"Mas, Nabila demam. Badannya panas banget!" Kata Raya setelah memegang kening Nabila, "Coba kamu periksa deh."


Setelah memeriksa suhu tubug dan detak jantung Nabila dengan termometer dan stetoskop, Nadeo menyuruh Raya untuk memberikan paracetamol pada Nabila nantinya.


"Siapa Mas?" Tanya Raya.


"Egy" Jawab Nadeo dengan raut wajah kesal, dan Raya dapat membaca itu.


"Kenapa gak di angkat, siapa tahu penting?" Tanya Raya lagi, "Nabila kan kerja di perusahaan Egy."


"Gak penting!" Jawab Nadeo masih dengan nada yang sama lalu keluar dari kamar Nabila.


"Mas tunggu!" Seru Raya menyusul Nadeo.


"Mas ada yang pengen aku tanyain sama kamu!" Ucap Raya serius.


"Apa yang udah kamu lakuin sama Nabila?"

__ADS_1


"...."


"Jawab mas! Jangan hanya diam!"


"Maaf, aku khilaf!"


Raya menggeleng tak percaya, bagaimana dengan entengnya ia mengatakan khilaf.


"Kenapa kamu lakuin itu?"


"Aku emosi, dan ..." Nadeo tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Dan apa? Dan apa mas?" Suara Raya meninggi.


"Dan aku ngelakuin itu ke Nabila" Jawab Nadeo gugup.


"Kamu sadar gak sih Mas, apa yang sudah kamu lakuin ke Nabila?"


"Aku tahu aku salah..., dan..., dan semuanya terjadi begitu saja!" Sesal Nadeo.


"Enggak, semua gak akan terjadi begitu saja kalau kamu gak brengsek Mas!" Gerutu Raya, "Dulu kamu bilang gak akan merusak dia, Sekarang kenapa kamu lakuin itu mas? Kamu gak kasian sama dia? Dia juga punya kehidupannya sendiri!"


"Ray..., aku benar-benar menyesal!"


"Gak ada gunanya kamu menyesal Mas, semua gak akan bisa kembali lagi. Nabila bukan lagi seorang gadis, dan Mas pikir Nabila bisa diterima dengan mudah oleh keluarga laki-laki yang menjadi pendampingnya nanti? Ingat mas! Wanita dilihat dari masa lalunya, dan laki-laki dilihat dari masa depannya!" Geram Raya, "Seharusnya sebelum kamu lakuin itu, kamu pikir-pikir dulu Mas!"


"Ray..."


"Aku kecewa sama kamu Mas!" Teriak Raya lalu berlalu pergi.


Apakah benar Nadeo menyesal? Bukankah ia sangat menikmatinya semalam? Bahkan penolakan dari Nabila saja, tak ia hiraukan. Nadeo tetap melanjutkan aksi panasnya. Semua terasa begitu indah, bahkan Nadeo puas dengan tubuh Nabila. Tak pernah Nadeo merasakan begitu puas seperti semalam saat berhubungan intim dengan Raya. Nabila beda. Nabila memang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2