
Bu ningrat sudah tertidur, malam pun semakin larut. akhirnya nabila berniat untuk istirahat juga, karna kantuk sudah mulai menyerang matanya. setelah menyelimuti bu ningrat yang sudah tertidur pulas, nabila keluar dari kamar dan masuk ke kamar nadeo.
Nabila dapat melihat pria yang mempunyai bibir tipis itu sedang bersandar di ranjang seraya memainkan ponselnya. menyadari kedatangan nabila, pria itu melirik dan melempar sebuah senyum kepadanya. nabila membalas sekenanya saja. tunggu, benarkah tadi nadeo yang melemparkan senyum kepda nabila? tidak mungkin juga kan nadeo tersenyum pada dinding? entahlah bisa jadi dinding lebih menarik dari pada nabila, tapi jika iya rasanya harus secepatnya di bawa ke rumah sakit jiwa. tapi sejak kapan nadeo mulai ramah pada nabila? padahal dulu jangankan senyum, berdiri dekat dengan nabila saja nadeo enggan.
Nabila segera membaringkan diri di sofa, ia tahu diri, ini adalah tempatnya. setelah hampir empat tahun yang lalu nabila pernah duduk di ranjang itu, dan di usir oleh nadeo, maka setelahnya tak sekalipun nabila menyentuh ranjang itu. lagi pula selama empat tahun ini jika ia pulang ke rumah bu ningrat, ia akan tetap tidur di sofa dan tak ada basa-basi dari nadeo untuk mengajaknya tidur di ranjang dan tak sekalipun nadeo pedulu terhadap nabila. nabila betul-betul sadar akan posisinya.
Memang iya nadeo tak pernah peduli. tapi entah kenapa kali ini hati nadeo menjadi tersentuh. entah apa yang dibisikkan oleh malaikat yang membuat hati nadeo iba dan tak lagi tega melihat nadeo tidur di sofa yang pasti sangat tidak nyaman. rasa penyesalan dan bersalah pun menghampiri nadeo bersamaan. rasanya nadeo sudah menjadi laki-laki paling kejam selama ini, membiarkan wanita sebaik nabila tersakiti olehnya. nadeo dapat melihat nabila yang membaringkan diri di sofa yang hanya pas untuk tubuhnya, bahkan untuk berbalij saha tidak bisa, pasti sangat pegal sekali. pikir nadeo, betapa tersiksanya nabila selama ini.
"Bil, tidur di sini saja" tawar dan ajak nadeo sambil menepuk ke sebelanya.
Nabila menoleh "enggak papa, di sini saja mas" tolak nabila.
"Kamu pasti pegel di situ" sanggah nadeo.
"Aku sudah biasa kok mas di sini, jadi gak tau gimana rasanya pegal. lagian kalau di situ aku juga gak mau mas nadeo jadi gak nyaman karna aku" balas nabila sedikit menyindir nadeo.
"Bukan apa-apa, aku takut yang lain tau kalau selama ini kamu tidur di sofa" kilah nadeo sebagai alasan, padahal sebenarnya ia juga ingin berada di sisi nabila.
"Hampir empat tahun ini gak ada yang tau mas, aku gak pernah kasih tau siapa-siapa, kecuali mas sendiri yang ceroboh" ucap nabila seperti meledekinya lagi.
Nadeo tak bisa menjawab lagi, setelah nabila berucap seperti itu. nadeo membiarkan nabila tidur di sofa, biarlah itu pilihannya. setidaknya nadeo sudah bersikap agar tidak terlalu kejam lagi.
Benar yang dikatakan nabila. selama ini ia benar-benar menutupi segalanya dari keluarga suaminya demi membuat suaminya itu bahagia. walau di mata nadeo, dia yang dalah.
Setelah ity mareka berdua saling diam. nabika asik dengan ponselnya dan sesekali nampak tersenyum. sepertinya ada sesuatu yang membuat nabila bahagia di ponsel itu. tak lama setelah itu nabila terlelap dengan ponsel yang berada di atas dada.
"Kayaknya nabila udah tidur" gumam nadeo
Setelah memastikan nabila benar-benar sudah terlelap, nadeo menghampiri nabila.
"Apa aku gendong aja ya, biar dia tidur di ranjang"
Lalu nadeo mengambila ponsel yang ada di dada nabila. pas sekali ada notifikasi whatsapp masuk yang bisa dilihat di layar.
__ADS_1
Mas egy : selamat tidur sayang
Nadeo geram dan cemburu, berani-beraninya egy mendekati istrinya. nadeo menaruh hp di atas sofa karna kesal.
Nadeopun akhirnya menggendong nabila. ini adalah kali pertama nadeo sangat dekat dengan nabila. nadeo bisa merasakan hembusan nafas teratur dari nabila. nadeo juga dapat menatap wajah cantik natural nabila yang selama ini ia tolak dan abaikan.
"Ternyata kamu cantik banget ya bil" ujar nadeo seraya mengecup bibir nabila.
Entah dorongan dari mana sehingga nadeo berani mencium bibir nabila begitu saja. padahal nabila adalah wanita yang ia tolak mentah-mentah. tapi beruntung sekali, karna itu adalah ciuman pertama nabila, dan nadeo adalh orang pertama. nadeo pun membarimgkan nabila di ranjang, dan ia tidur disebelah nabila.
"Maaf ya selama ini aku nyakitin kamu" ucap nadeo seraya mengecup kening nabila. rasanya nabila begitu candu.
"Maaf juga aku maksain kamu tidur di sini dengan cara begini"
Nadeo tidak menyianyiakan kesempatan, ia segera memeluk nabila. jika tak tidur, belum tentu nabila mau diperlakukan seperti ini oleh nadeo, setelah apa yang telah dilakukan nadeo terhadapnya.
...****************...
Akhirnya nabila memaksakan diri untuk terjaga melawan rasa kantuk, apa lagi tadi malam ia tidur sedikit lebih larut, karna menemani ibu mertua.
Tapi mengapa ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya, seperti sebuah pelukan. nabila menoleh.
"Astaghfirullah" seru nabila terkejut.
Bukan main, nabila terkejut. mengapa bisa ada nadeo disampingnya. nabila mencoba mengingat lagi, perasaannya tadi malam tidur di atas sofa. tapi sekarang berada di ranjang nadeo. sungguh gawat. sepertinya tadi malam ia bangun sendiri dan tidur di ranjang nadeo, kalau nadeo tahu pasti dia akan marah. tanpa izin ia sudah naik ke ranjangnya, pikir nabila.
Baru kali ini nabila bisa melihat wajah nadeo dari dekat. sungguh nadeo adalah pria yang Tampan. dan ternyata jantung nabila masih berdetak begitu kencang ketika dekat dengannya, sepertinya rasa cintanya pada nadeo masih begitu besar. entah ia harus senang atau tidak, karna orang yang dicintainya selama ini memeluknya.
Tidak, bukan itu yang harus dipikirkan nabila. ia harus segera bangun sebelum nadeo terjaga.
"Perasaan tadi malam aku tidurnya di sofa deh, kok sekarang bisa ada disini?"
"Apa jangan-jangan aku gak sadar bangun dan tidur di sini?"
__ADS_1
"Aduh bahaya kalau sampai mas nadeo tahu, dia paati bakal marah, aku harus segera cepat-cepat bangun"
Nabila mengobrol dengan dirinya sendiri.
Dengan pelan dan hati-hati nabila memindahkan tangan nadeo yang masih memeluknya dan segera berlari ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhuk. setelah itu nabila menunaikan shalat subuh.
Selesai shalat, tak lupa nabila untuk mengaji.
"Shadaqallahul A'zim"
"Kamu udah bangun ya?" tanya nadeo yang baru terjaga dari tidurnya.
"I..iya mas"
"Udah selesai ngajinya?"
"Udah mas"
"Kok diam saja, kenapa gak di lepas mukenanya?"
Nabila tidak menjawab.
"Kamu malu ada aku?" nadeo agak sedikit menaikkan intonasinya. nabila masih diam.
"Kenapa harus malu?" geram nadeo "bahkan tubuh kamu aja udah aku lihat, ini hanya rambut saja, kenapa harus malu?" cecar nadeo.
"Aku merasa mas adalah orang asing" lirih nabila.
Nadeo mulai terbawa emosi dengan jawaban nabila. "aku bukan orang asing, aku suami kamu. lagian aku berhak kan untuk melihatnya" berang nadeo.
"Mas memang berhak melihat aku. bahkan tanpa sehelai benang pun, tapi itu kalau mas benar-benar menganggap aku sebagai istri" sembur nabila seraya bangun dan mengambil kerudung lalu masuk ke kamar mandi.
Nabila tidak ingin melanjutkan perdebatan yang takutnya menjadi panjang, dan membuat nadeo kehilangan kendali, apa lagi sekarang ia sedang berada di rumah mertuanya. ia tak ingin bu ningrat tahu mareka sedang bertengkar.
__ADS_1