Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Perubahan Egy


__ADS_3

Sudah larut malam, tapi tak kunjung pulang. Rasa khawatir menyeruak ke dalam diri Bu Yura. Ia ingat sekali, setelah anaknya membawa perempuan itu ke rumah, dan diperkenalkan sebagai calon istri, Di situlah Egy berubah. Hubungan Bu Yura dan anaknya kian merenggang. Bahkan sering kali Egy tak pulang ke rumah.


Tak ada lagi interaksi baik seperti yang dulu. Tak ada lagi gelayutan manja Egy padanya yang hanya sekedar untuk request makanan kesukaannya. Perempuan itu benar-benar telah mengubah anaknya.


"Egy kenapa belum pulang ya Put?" Tanya Bu Yura pada Putri. Terselip nada khawatir pada pertanyaannya tadi.


"Sebentar lagi Mas Egy pasti pulang kok Tan, Tante tenang aja. Aku bakalan terus di sini kok temenin Tante." Sahut Putri menoca menenangkan Bu Yura.


"Terimakasih ya Put? Kamu slalu ada untuk Tante." Ujat Bu Yura tulus.


Ya iyalah kan ada maunya.


"Sama-sama Tan, Putri seneng kok lakuin ini semua." Imbuh Putri diiringi senyum tulus.


Putri. Iya Putri. Iblis yang menyerupai malaikat itu kini sedang berada di rumah Egy. Ngapain lagi kalau bukan ingin menjadi pahlawan untuk Bu Yura.


Ia sedang mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Restu orang tua Egy ia pergunakan sebaik-baiknya. Dengan cara itulah ia akan mencuri hati Egy. Siapa tahu ia berhasil mengambil hati Egy dengan cara itu. Itu bukanlah satu hal yang mustahil akan terjadi. Putri yakin, cepat atau lambat Egy akan jatuh dalam pelukannya.


Lagian Putri merasa lebih unggul dari segala bidang daripada Nabila. Pendidikan yang tinggi, orang tua yang kaya, wajah yang cantik, dan lihat statusnya, masih seorang gadis.


Kadang Putri berpikir, apa sih yang dilihat Egy dari seorang Nabila? Perempuan biasa, kaya jelas enggak, cantik juga tak terlalu menurutnya, apalagi statusnya hanya seorang janda. Benar-benar tak selevel dengannya.


Selang beberapa saat, Egy pulang. Tak ada salam, sapaan, atau apa pun. Egy langsung masuk tanpa ada niat menyapa Bu Yura, atau Putri yang berada dalam ruangan itu. Jangankan menyapa, ia terlihat tak sudi untuk sekadar melihat Mamanya itu.


"Egy!" Panggil Bu Yura lembut.


Egy yang sudah berada sampai di anak tangga pertama, berhenti. Ia malas sebenarnya.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang Nak?" Tanya Bu Yura menghampiri Egy.


Egy tak menjawab Mamanya.


"Kok larut begini Nak?" Tanya Bu Yura seperti orang yang merindukan anaknya yang tak ia jumpai belasan tahun.


"Ada urusan!"


"Kamu duduk dulu gih, ada Putri loh! Ajak dia ngobrol, dia dari tadi temenin Mama loh di sini!"


"Gak!" tolak Egy, "Aku mau istirahat."


Entah kenapa sejak orang tuanya menjodohkannya dengan Putri, ia menjadi horor ketika nama itu disebut.


"Kamu kenapa jadi berubah gini sih? Kamu bukan lagi Egy yang Mama kenal!" Gerutu Bu Yura.


"Apa inu karena perempuan itu?" Tanya Bu Yura dengan menatap Egy tajam.


"Nabila Ma! Dia punya nama, dan namanya itu Nabila." Berang Egy. Ia cukup tersinggung dengan Mamanya yang memanggil Nabila dengan sebutan 'perempuan itu'.


"Mama gak sudi sebutnama dia dengan mulut Mama! Haram! Nama dia sudah Mama haramkan." Tuh kan, Bu Yura yang mulai duluan memancing emosi Egy.


"Dia udah buat kamu berubah! Mama jadi kehilangan anak Mama gara-gara perempuan itu." Tambah Bu Yura lagi.


"Mama benar-benar akan kehilangan aku, kalau Mama berani coba-coba pisahin aku dan Nabila. Aku sangat-sangat mencintai Nabila Ma!" Teriak Egy.


Jangan tanya bagaimana emosinya Egy menghadapi Mamanya saat ini. Ia sudah mencoba sabar, tapi Mamanyalah yang memancingnya duluan.

__ADS_1


Lalu Putri. Ia masih duduk manis di sofa menonton pertengkaran antara ibu dan anak itu. Ingin ia melerai, tapi ia tak berani melihat Egy yang begitu emosi. Puluhan tahun mengenal Egy, rasanya ia cukup bisa membaca kelakuan Egy.


"Egy sadar! Dia bukan perempuan yang baik untuk kamu!" Bu Yura tak mau kalah meneriaki Egy.


"Kenapa Mama bisa bilang dia bukan perempuan yang baik untuk aku Ma? Sedangkan aku bahagia saat bersama dia." Seru Egy frustasi.


"Egy mohon Ma, kalau Mama memang pengin lihat Egy bahagia. Turuti kemauan Egy, restui hubungan Egy Ma! Tapi sebaliknya kalau Mama mau lihat Egy menderita, bahkan tidak menikah, lanjutkan keegoisan Mama!" Kini nada Egy sedikit menurun.


"Egy sadar akan ucapan kamu Nak!" Bu Yura tak habis pikir, Egy begitu gila akan Nabila. Entah pelet apa yang ia gunakan, hingga Egy begitu tunduk padanya.


"Ada Putri, kamu gak bisa liat dia? Dia perempuan tulus, dia baik, dia dekat sama Mama, kamu juga udah kenal dia lama. Dia juga pasti suka sama kamu, Mama lebih suka Putri daripada perempuan itu."


"Masalahnya di sini, aku yang gak suka Putri Ma!"


Lagi-lagi Egy menolaknya. Dan semakin ditolak, rasa itu semakin sakit. Harusnya ia terbiasa akan penolakan, ini bukan kali pertama.


"Berapa kali Ma aku harus bilang, jangan jodohkan aku dengan perempuan lain. Seandainya nanti hubungan aku dan Nabila gak berhasil, itu bukan berarti aku mau sama Putri atau pun pilihan Mama yang lain. Tolong Ma jangan paksa aku mencintai orang yang gak aku cinta, Aku hanya mencintai Nabila. Kalau aku tidak bisa menikahi Nabila, lebih baik saja aku tidak menikah. Mungkin Mama lebih senang melihat aku menjadi perjaka seumur hidup." Tegas Egy panjang, berharap Mamanya akan mengerti dirinya.


Putri yang mendengar uraian Egy bagaikan disiram dengan air dingin. Seolah ia di suruh sadar, bahwa dalam hati Egy hanya ada Nabila. Tidak ada lagi celah untuknya. Sebegitu cintakah Egy pada Nabila sehingga ia tak bisa melihat cintanya?


"Jangan harap Mama merestui hubungan kalian. Mati pun Mama tidak akan merestuinya." Ancam Bu Yura marah.


"Aku gak peduli!" Balas Egy lalu berlalu pergu dari hadapab Bu Yura. Ia menaiki tangga dengan cepat. Rasanya kepalanya hamoir pecah memikirkan masalahnya saat ini. Mamanya yang sama sekali taj memikirkan perasaannya.


Bukan Bu Yura namanya jika ia akan luluh begitu saja. Egy dan Bu Yura sama-sama keras kepala, dan keputusan mareka sama-sama tak bisa di ganggu gugat. Egy yang tetap denga pendiriannya, begitu pula dengan Bu Yura. Sepertinya sifat keras kepala Egy berasal dari sang Mama.


Hay hay semua readers tersayang. Gimana? Makin panas gak tuh? Wah masalah restu merestui itu memang sulit ya guys? Ayok mana komenan dan likenya biar author semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2