Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Bersaing


__ADS_3

Putri memutar otaknya, ia harus segera mencari cara menyingkirkan Nabila. Ia akan menyusun rencana untuk memisahkan Egu dan Nabila. Jika tidak, sia-sia saja perjuangannya selama ini jika ia membiarkan Egy menikah dengan wanita lain begitu saja.


Enggak! Itu enggak akan terjadi. Putri tidak akan membiarkan semuanya terjadi.


"Kamu dari tadi ngapain sih mondar-mandir gak jelas?" Tanya Arif yang pusing melihat kelakuan adiknya.


Ya. Sedari tadi Putri memang sibuk mondar-mandir, dan tak menyadari kehadiran Abangnya di kamarnya.


"Mas dari kapan di sini?" Tanya Putri dan duduk di sebelah Arif di tepi ranjang.


"Aku lagi kesel nih Mas!"


"Kesel kenapa sih?" Kini Atensi Arif tertuju pada gawai yang di tangannya.


"Mas tahu gak sih? Kalau sebenarnya selama ini Mas Egy sudah punya pacar?"


Arif mengedikkan bahunya, tanda ia tak tahu. "Mas jarang ketemu sama dia. Dia sibuk, Mas juga lebih sibuk. Kenapa? Kamu suka banget ya sama dia?"


"Keliatan ya Mas?" Tanya Putri menoleh ke arah Arif, begitu pun sebaliknya.


"Banget! Kamu selalu ngekorin dia."


"Tapi orangnya gak ngerasa loh Mas."


"Enggak peka maksudnya?" Tanya Arif.


"Iya! Mas Egy punya pacar. Dan Mas tahu gak? Gak lama lagi Mas Egy mau ngenalin pacarnya ke keluarganya."


"Kamu kenal pacarnya?" Tanya Arif dengan alis naik sebelah.


Putri mengangguk. "Kenal! Kemarin Mas Egy kenalin?"


"Cantik?"


"Cantikan juga aku." Jawab Putri dengan penuh percaya diri.


"Kalau cantikan kamu ya gak usah takut. Rebut dong Put! Masa Mas harus ajarin itu ke kamu." Tanpa langsung Arif telah mengajarkan dan menjadikan adiknya menjadi seorang pelakor. Tanpa berpikir akan ada hati orang lain yang terluka.


"Iya Mas! Mas bener! Aku mikirnya juga gitu. Aku gak mau perjuangan aku selama ini sia-sia cuma gara-gara perempuan itu."


Arif tersenyum. "Gitu dong!"


"Mas bantu aku ya? Aku mau cari tau tentang perempuan itu."


"Sip! Itu mah gampang. Serahin aja semuanya ke Mas."

__ADS_1


...****************...


Ssperti biasa, Nabila dan Egy makan siang bersama. Mareka berada di cafe yang biasa mareka kunjungi saat makan siang.


"Bil?"


"Iya Mas."


"Kamu jangan cemburu ya sama Putri?"


Nabila tak menjawab. Haruskah ia menjawab pertanyaan seperti itu. Tapi yang terpenting adalah sekarang, apakah ia terlihat cemburu pada perempuan itu? Ia merasa tidak sama sekali.


"Putri itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri." Tambah Egy.


Mengapa Egy menjadi bercerita tentang Putri?


"Akubgak bilang aku cemburu Mas." Bantah Nabila. Ya! Ia jujur, ia tak cemburu.


"Iya takutnya gitu, makanya langsung Mas jelasin. Biar gak salah paham."


"Aku gak akan salah paham Mas, kalau Mas gak bersikap berlebihan sama dia. Adik, sahabat, dan pasangan itu tentu beda Mas. Kita tidak bisa memperlakukannya dengan sama. Semua punya perbedaannya." Jelas Nabila panjang. Tapi kok kesannya seperti sedang cemburu ya?


"Kok kamu kayak cemburu?"


"Aku gak cemburu Mas. Hanya saja, menurut dugaaan ku, dia gak suka sama aku. Sepertinya dia memang suka sama kamu Mas."


"Loh? Mas gak percaya ucapan ku?" Tanya Nabila dengan mode serius.


Menurut pandangannya kemarin, Putri memang menaruh hati pada Egy. Bukan sebagai seorang adik atau sahabat. Tapi lebih dari itu. Nabila juga dapat membaca raut tak suka Putri kepadanya. Jelas-jelas kemarin Putri seolah menunjukkan betapa sangat akrab dan manjanya dia dengan Egy. Tapi, apakah Egy tidak menyadari hal itu? Atau ia berpura-pura tak menyadarinya?


"Ngaco kamu!"


"Aku perempuan, jadi aku ngerti Mas." Nabila berusaha meyakinkan Egy dengan perasaannya.


"Dia sahabat aku, udah lama malah. Jadi gak mungkinlah dia suka sama aku Bil." Ucap Egy dengan nada gemas.


"Mas percaya persahabatan antara laki-laki dan perempuan?"


Egy mengangguk yakin. "Percaya! Memangnya ada yang salah?"


"Salah!" Jawab Nabila langsung. "Gak ada yang namanya benar-benar sahabat di antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya pasti ada yang menaruh perasaan. Dan di sini yang aku lihat, Putri yang menaruh perasaan sama kamu Mas! Hanya saja sepertinya Mas gak menyadarinya. Atau Mas berpura-pura tidak menyadarinya?"


Egy kembali tertawa, seolah ucapan Nabila adalah sebuah lelucon.


"Kalau perempuan sedang cemburuan, memang suka over thinking ya?

__ADS_1


Wah! Dengan cara apa Nabila harus menjelaskannya agar Egy percaya? Nabila sudah kehilangan akal. Bisa-bisanya Egy tak percaya dengan ucapannya.


"Mas?" Nabila masih berusaha untuk menjelaskan.


"Sudah Bil! Kamu gak perlu ngeljelasin lagi. Itu sama sekali gak penting buat Mas. Kalau pun benar, kamu gak usah takut, hati Mas cuma buat kamu. Gak ada perempuan lain, termasuk Putri sekalipun Gak ada celah lagi untuk orang lain Bil. percay deh?"


"Tapi Mas,"


"Denger Bil. Kalau bukan sama kamu, Mas tidak akan menikah."


"Mas!" Nabila mencoba menghentikan ucapan Egy.


"Dengerin Mas dulu. Kamu adalah tempat terakhir Mas melabuhkan perasaan dah hati. Semisalnya Mas gak jadi sama kamu, biar hati dan perasaan Mas tenggelam saja. Kamu bisa buktiin itu."


Aneh. Aneh rasanya mendengar perkataan Egy. Nabila menjadi semakin takut, jika ternyata ucapan Egy benar. Dan ternyata juga Nabila tak bisa menepati janjinya.


...****************...


Berkat bantuan dari Arif dan juga anak buah Arif, Putri akhirnya menemukan siapa sebenarnya Nabila. Putri melemparkan map yang berisi semua tentang Nabila ke atas meja.


Ini menarik untuknya. Fakta yang didapatnya membuatnya merasa lebih unggul dari perempuan itu, ia yakin ia bisa mendepak wanita itu dari hati Egy. Ini bukanlah lawan yang sepadan.


Tak apa, kali ini Putri akan melakukan cara licik. Toh sebelumnya ia sudah menggunakan cara lembut, tapi Egy sama sekali tak bergeming. Jadi sekarang, jangan salahkan dirinya, bila ia tak lagi menggunakan cara halal.


Persetan dengan semuanya. Putri tak lagi peduli. Yang terpenting Egy harus menjadi miliknya, harus jatuh dalam pelukannya. Jangan panggil dirinya Putri, jika ia kalah.


Seringai jahat tercipta di bibir Putri. "Ternyata, cuma seorang janda."


"Dan yang lebih menarik, itu mantannya Nadeo." Ujar Arif diiringi senyum remeh. "Bener-bener Egy tuh begok ya? Kayak gak ada perempuan lain aja."


"Gak ada yang menarik dari perempuan ini Mas. Yatim piatu, dan keluarganya di kampung juga orang biasa. Bener-bener bukan level aku."


"Kayaknya kamu bisa selesaiin ini sendiri.Mas gak perlu turun tangan lagi."


"Maa gak perlu kotorin tangan Mas. Ini hal kecil buat aku."


"Jadi langkah kamu selanjutnya apa?"


"Ada lah Mas! Kejutan!" Jawab Putri dengan senyum mengembang.


"Pokoknya kalau kamu kesusahan, bilang sama Mas!"


"Iya Mas, aku bakalan minta bantuan Mas."


"Good luck!"

__ADS_1


(Hay hay! Dukung aku ya? Dengan vote, like, komen, tambah favorit. jangan lupa juga untuk follow akun aku ya? Happy readers?)


__ADS_2