
Weekend kali ini, Nabila tetap di rumah. Ia menyibukkan diri dengan membaca berbagai buku tentang Ibu hamil. Atau kadang ia juga menonton edukasi dari youtube.
Rasanya ia harus berdamai dengan diri sendiri. Ia harus menerima anak yang di kandungnya, ini anaknya juga bukan? Ia juga sepertinya sudah mulai nyaman dengan kehamilannya sekarang. Apalagi sejak Nabila hamil, sikap Nadeo berubah menjadi sangat manis kepadanya. Kadang ia juga merasa jantungnya berdegup lebih kencang kala dekat dengan Nadeo. Wajar bukan? Ia pernah begitu sangat cinta dengan Nadeo, dan juga melupakan orang yang kita cintai padahal kita bertemu dengannya setiap hari, itu bukanlah perkara yang mudah. Jadi jika Nabila sering merasa hatinya bergetar tiap kali dekat dengan Nadeo, tak perlu merasa heran lagi. Sekali lagi, itu adalah hal yang sangat wajar.
Nabila duduk di kursi yang berada di dekat jendela. Angin semilir sesekali menyapu wajah teduhnya. Nabila menatap keluar jendela yang pandangannya tembus ke pintu gerbang. Tiba-tiba saha ia melihat seorang perempuan yang turun dari mobil dengan rantang di tangan kanannya.
Setelah di amati dengan cermat. Ternyata itu Mbak Ines. Nabila segera berlari keluar kamar untuk menemui Kakak iparnya. Nabila menuruni tangga. Pas sekali Ines baru saja mengucap salam.
"Waalaikum salam" Sahut Nabila. "Masuk Mbak!"
"Eh, Mbak Ines, sini Mbak!" Panggil Nadeo yang duduk di sofa.
Ines mengangguk. Lalu ia mendekat ke arah sofa dan meletakkan rantang di atas meja kaca bundar yang berada di tengah-tengah sofa. Lalu Ines duduk di dekat Nadeo, sedang Nabila duduk di samping Raya yang sejak kedatangan Ines hanya diam.
Sebenarnya sudah sangat sering Bu Ningrat mengirimkan rantang untuk Nabila sejak hamil, karna memang Bu Ningrat sebahagia itu mengetahui menantu keaayangannya hamil.
"Mbak bawa apa?" Tanya Nadeo.
"Itu Mama masak untuk menantu kesayangannya." Ines sengaja menekan kata menantu, agar terdengar jelas di telinga Raya. "Nabila kan lagi hamil."
"Buat aku Mbak?" Tanya Nabila berbinar.
Ines tersenyum mengangguk. "Iya dong. Kan tadi Mbak udah bilang, untuk menantu kesayangannya. Emang siapa lagi?" Bola mata Ines menyorot Raya.
"Makasih ya Mbak?" Ucap Nabila bahagia. "Aku bawa ke dapur ya? Sambil buat minum buat Mbak. Mbak mau minum apa?"
"Apa aja deh. Mbak juga gerah banget soalnya. Di sini panas!"
"Owh,,, aku buat teh dingin ya? Mbak duduk dulu ya?"
Nabila langsung mengambil rantang dan membawanya ke dapur. Isi rantangnya ada masakan khas indonesia. Rendang, opor ayam, ayam kecap dan acar timun.
"Tadinya Mama minta ikut, katanya mau lihat Nabila" Ujar ines. "Tapi aku larang. Takutnya Mama jantungan karna ada ****** di sini."
"Mbak..." Nadeo seolah menegur kakanya. "Jangan gitu kenapa!"
Ines memutar bola matanya malas. Ia gedeg dengan tingkah Nadeo yang melindungi istri ke duanya.
"Aku benar-benar tidak diterima di keluarga Mas Nadeo. Mareka memang memperlakukan Nabila layaknya seorang ratu."
__ADS_1
"Aku ke kamar ya Mas?" Pamit Raya.
"Iya Ray."
Raya tak sanggup lagi duduk bersama dengan mareka. Keberadaannya tak diharapkan. Mbak Ines tak suka padanya, belum lagi ia yang ngetread nabila like a queen. Dan Raya tak bisa membuat hatinya selalu tersakiti. Nadeo pun tak melarangnya pergi, Nadeo rasa ini lebih baik. Ia tahu Mukut kakaknya itu tidak ada saringannya.
Sesaat setelah Raya masuk ke dalam kamar. Datang Nabila dengan nampan yang berisi es teh dan diletakkan di meja.
"Minum Mbak!" Nabila mempersilakan. "Aku banyakin es, katanya tadi Mbak gerah banget."
"Hehe. Makasih Bil. Sekarang udah adem kok. Hawa panasnya hilang."
Nabila tak tahu bahwa maksud ucapannya Ines adalah Raya. Raya adalah hawa panas yang di maksud.
"Minum Mas!"
"Iya."
"Mbak Raya mana Mas?" Tanya Nabila celingak celinguk mencari keberadaan madunya.
"Udah masuk kamar, mungkin sakit tuh!" Ines yang menjawab.
"Mbak Raya sakit?" Tanya Nabila dengan polosnya.
"???"
...****************...
"Mbak!!" Panggil Nabila sembari masuk ke kamar Raya.
"Iya Bil." Jawab Raya datar. Ia terus melanjutkan kegiatannya memasukkan baju yang sudah disetrika ke dalam lemari.
"Makan yuk?" Nabila duduk di tepi ranjang. "Tadi Mbak Ines bawa makanan enak-enak loh!"
"Enggak ah!" Tolak Raya.
"Kenapa Mbak? Kita makan sama-sama, ada Mas Nadeo juga. Mbak kan belum makan."
"Mbak Ines bawanya buat kamu, bukan buat aku!"
__ADS_1
"Ih..., Mbak gak boleh gitu. Dia bawanya buat kita semua kok!" Bujuk Nabila. "Lagian kalau pun cuma buat aku, mana sanggup aku habisin itu semua sendiri Mbak! Itu banyak banget loh Mbak!"
Raya menggeleng. Ia tetap fokus dengan yang dilakukannya sedari tadi. Terlihat raut wajahnya yang murung dan matanya yang sembab. Dapat Nabila simpulkan bahwa Raya baru selesai menangis.
"Itu ada opor ayam loh Mbak! Mbak kan suka sama opor ayam. Mbak belum pernah makan kan opor ayamnya masakan mama? Itu opor ayam terenak yang pernah aku makan, aku yakin mbak bakalan..."
"Aku gak mau bila!!!" Teriak Raya membuat Nabila terkejut. "Kamu kok maksa banget sih? Aku bilang gak mau, ya gak mau!"
Nabila terdiam. Selama ini Raya tak pernah membentaknya. Tapi kali ini, mengapa Raya berlaku demikian?
Raya juga baru tersadar, ia telah membentak Nabila. Menyesal. Ia menyesal. Padahal niat Nabila baik, ingin mengajaknya makan bersama, mengapa ia berubah menjadi sentimental dengan Nabila.
"Ma.., Maaf bil."
"Mbak Raya marah ya sama aku?" Tanya Nabila lirih. "Aku minta maaf ya Mbak, mungkin kehadiran ku dan bayi ini salah!"
"..."
"Aku gak ada maksud untuk rebut Mas Nadeo dari Mbak."
Akhirnya Raya duduk di samping Nabila. "Kamu gak salah, gak seharusnya minta maaf!"
"Enggak Mbak! Aku sadar Mbak sama Mas Nadeo itu saling mencintai. Dan harusnya aku gak ada dalam hubungan kalian. Aku gak ada di antara kalian, aku adalah orang ketiga dalam hubungan kalian."
"Enggak Bil, kamu jangan merasa seperti itu."
"Sebelum kehadiran bayi ini, aku sadar Mbak, hubungan Mbak sama Mas Deo baik-baik saj. Aku bisa lihat semuanya. Aku janji Mbak, setelah anak ini lahir, aku bakalan tinggalin Mas Nadeo."
DEG!!!
Nadeo yang menguping pembicaraan kedua istrinya dibuat terkejut dengan ucapan Nabila. Nabila akan meninggalkannya? Sungguh itu? Kenapa tiba-tiba hatinya menjadi sakit?
"Jangan Bil, jangan gila! Kamu dan anak kamu layak bahagia. Tolong jangan bilang seperti itu lagi, kalau enggak, Mbak bakalab marah!"
"Tapi Mbak!"
"Gak ada tapi-tapian. Ayok makan? Tadi kamu ngajakin Mbak makan."
"Mbak Mau?"
__ADS_1
Raya tersenyum pada Nabila, lalu mengangguk.
"Kalau gitu ayok, Mas Deo udah nunggu di meja makan dari tadi. Aku juga udah lapar banget."