
"Bil, sabar ya? Setelah proyek ini selesai, Mas akan langsung kenalin kamu ke orang tua Mas."
Entah berapa kali sudah Egy mengatakan itu kepadanya. Tidak di kantor, di cafe seperti sekarang ini, asal bertemu pasti itu ucapannya.
"Iya Mas, aku gak buru-buru kok!"
Jangankan mau buru-buru, siap aja belum! Tentu saja Nabila tak akan berkata begitu pada Egy, bisa-bisa itu orang stres setengah mati karnanya.
"Mas yang buru-buru, bukan kamu. Mas takut nantinya kamu tiba-tiba berubah pikiran."
Nabila tersenyum.
"Insya Allah, selama niat Mas baik, Mas gak neko-neko, aku tidak berubah pikiran. Apalagi kedatangan sahabat Mas itu, jujur aku gak suka Mas! Dia seperti terlalu manja dengan Mas." Ucap Nabila jujur.
Memangnya hanya Putri saja yang boleh tidak menyukai Nabila? Nabila pun sama, ia sama sekali tak suka melihat kelakuan Putri yang suka gelayutan manja pada Egy. Ini bukan masalah cemburu. Rasanya ia melihat Putri ini seperti tak punya etika, bisa-bisanya ia terlalu intim dengan calon suami orang. Ternyata gelar pendidikannya yang tinggi, tak menjamin orang punya attitude yang bagus.
"Kamu cemburu?" Tanya Egy diiringi senyum.
Ah, Egy sebenarnya juga senang jika Nabila merasa cemburu. Itu artinya wanita itu memang mencintainya.
"Bukan cemburu Mas. Aku gak suka. Tolong Mas harus bisa bedain gak suka dan cemburu. Itu jelas beda." Nabila bersikukuh.
"Gak ada bedanya. Awalnya kamu cemburu, setelah itu jadi gak suka sama orang itu. Ya kan?"
"Enggak tuh!" Bantah Nabila. "Dia gak punya etika. Dia gak menghargai aku sebagai calon Istri Mas. Dia main asal peluk, cium kamu Mas di depan aku. Padahal aku aja gak pernah gitu."
"Aku gak larang kok kamu ngelakuin itu. Aku bersedia malah." Balas Egy gemas.
"Enak aja. Aku masih punya harga diri dong Mas. Mas belum sah ya jadi suami aku. Jadi jangan macam-macam."
Egy tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Nabila. Ingin rasanya mencubit perempuan itu.
"Menurut aku Mas, hal seperti itu gak lumrah dilakukan oleh perempuan dan laki-laki yang gak punya ikatan. Jangan mentang-mentang di luar negeri seperti itu, ia mau menyamakan." Nabila begitu protes.
"Iya aku tahu kok."
"Bilangnya tahu, tapi pas ada dia, kamu juga enak-enakan aja dipeluk cium sama dia. Mas gak nolak, harusnya kamu protes dong! Kalau ada yang lihat gimana?"
"Sebenarnya kalau ada yang lihat, mareka gak akan terkejut. Mas dan Putri sudah lama bersama."
"Kayaknya peluk cium gitu juga udah hal biasa ya Mas?"
__ADS_1
"Enggak sayangku. Kamu over thinking banget sih? Pengen cepat halalin deh!"
"Mulai deh!" Ucap Nabila malas. Ia sudah tahu jurus Egy yang pasti akan mengeluarkan gombalan manisnya.
"Sebenarnya ini lah yang membuat Mas jatuh cinta sama kamu Bila, kamu benar-benar calon istri idamannya Mas."
"Gak usah ngegombal Mas, ayok kembali ke kantor!" Ajak Nabila.
Ya, jam makan siang mareka habis. Saatnya mareka kembali ke kantor.
...****************...
Tok! Tok! Tok!
"Masuk Bila!" Ujar orang dari dalam.
Nabila masuk dan langsung tersenyum pada empunya ruangan. Pastinya di balas dengan senyuman yang manis juga.
"Duduk Bila!"
"Iya Mas!"
Nabila langsung duduk di depan Egy dan meletakkan berkas-berkas yang di minta Pak Bosnya itu.
"Oh iya."
Egy langsung mengambil berkas dan memeriksa dengan seksama. Kini ia berada dalam mode serius.
Setelah selesai memeriksa, Egy kembali menutup dan meletakkan berkas tersebut seperti semuka.
"Bagus!"
"Kalau gitu Mas, aku keluar ya?"
"Bentar Bil."
"Ada lagi?"
"Kalau nantinya kita sudah menikah, kamu tidak usah bekerja lagi ya?"
"???" Nabila mengetutkan dahinya. Menikah saja belum, sudah kepikiran ke situ.
__ADS_1
"Jangan salah paham, Mas hanya gak mau kamu capek, dan banyak bertemu dengan laki-laki luar. Aku takut mareka jatuh cinta sama kamu. Kamu gak usah takut, uang aku cukup kok buat hidupin kamu." Jelas Egy hati-hati.
Bukan masalah uang. Lagian siapa juga yang akan meragukan kekayaan pemilik ASHER GROUP. Jika Nabila nantinya menikah dengan Egy, jangankan dirinya, orang sekampungnya pun sanggup dibiayai kehidupannya oleh Egy.
Nabila tersenyum.
"Mas, jangan berpikir terlalu jauh dulu. Kita belum dalam tahap apa-apa."
"Mas hanya mewanti-wanti dari sekarang, biar kamu siap."
Ya! Jangan tanya bagaimana bucinnya seorang Egy Al-Vikri pada Nabila. Jelas kalian semua tahu. Egy akan sangat depresi, atau bahkan gila jika nantinya ia tak jadi bersama Nabila.
"Jalani saja dulu ya Mas? Jangan membahas sesuatu yang masih terlalu jauh dari kita."
Egy sedikit menunduk. "Entah kenapa rasanya proyek kali ini terasa sangat lama. Padahal Mas ngerjainnya siang malam."
"Udah ah Mas, gak usah di paksakan. Aku keluar ya? Masih ada kerjaan soalnya."
Egy mengangguk, merelakan Nabila oergi dari hadapannya. Dan Nabila pun beranjak pergi dati ruangan Egy.
...****************...
Sebuah pesan whatsapp masuk ke HP Nabila. Nomor baru. Nomor tak dikenal Nabila. Tapi dalam pesan whatsapp tersebut, orang tersebut mengajaknya bertemu sehabis ia pulang kerja.
Nabila sedikit berpikir, Apa iya harus mengiyakan permintaan orang yang tidak di kenal itu?
Tapi rasanya di sini hanya ia yang tak mengenal orang tersebut. Jangan-jangan orang itu jahat ingin menvelakinya. Tapi kenapa? Seingatnya ia tak punya musuh siapa pun.
Nabila menggeleng menepis pikiran buruknya. Ia memilih tak membalas pesan whatsapp tersebut. Tapi hatinya juga penasaran, siapa orang di balim pesan itu? Apa ia menuruti saja ya? Lagian tidak ada salahnya juga ia menjawab rasa penasarannya dengan cara bertemu orang tersebut. Lagi pula tempat yang di ajak untuk bertemu itu di cafe yang tak terlalu jaub dari kantornya. Di cafe tersebut juga setahu Nabila selalu ramai pengunjungnya.
Setelah pulang dari kantor, Nabila bergegas menemui orang misterius tersebut. Tadi semoat Egy menawarinya mengantar pulang. Tapi Nabila menolaknya dengan berdalih ia ingin berjumpa teman, ada hal penting. Untungnya Egy percaya-percaya saja dengan ucapannya.
Tak berselang lama, nabila sampai di cafe tersebut. Cafenya didesain dengan tema outdor, jadi terkesan lebih luas dan bebas. Dan di setiap meja terdapat nomor, mungkin untuk memudahkan pelayanan.
Seingat Nabila, di pesan whatsappnya, orang tersebut menunggunya di meja nomor lima. Nabila langsung celingak-celinguk memindai cafe yang saat ini tak terlalu rame, hingga ia mudah untuk mendapati meja nomor lima. Dapat! Meja tersebut dekat dengan pohon, dan di situ sudah ada yang menunggunya. Apakah itu adalah orang yang membuat janji dengannya?
Untuk menjawab rasa penasarannya, Nabila mendekati meja tersebut.
"Permisi?" Sapa Nabila dari belakang.
Orang itu menoleh dan ?
__ADS_1
(Menurut kalian siala hayo? Tulis di komen ya?)