Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Akar masalah


__ADS_3

Tidak ada hal yang baik yang berpihak pada Egy. Hidupnya terus-terusan ditimpa kesialan. Seolah takdir mempermainkan Egy, bagaimana tidak? Tinggal selangkah lagi, ia berhasil bersama Nabila. Apakah ini suatu pertanda ia tak berjodoh dengan Nabila? Ah tidak mungkin. Ia sudah melewati banyak rintangan, tak mungkin ia menyerah hanya karna restu orang tua yang tak berpihak padanya. Kalau pun benar-benar ia tak mendapatkan restu, ia tetap akan menikahi Nabila. Segala cara akan Nabila tempuh untuk memdapatkan Nabila.


Lahir dari orang tua yang kaya raya tak membuat hidup Egy bahagia. Justru inilah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia menyesali dirinya yang harus lahir dari orang tua yang kaya.


Egy pulang ke rumah dengan emosi yang memuncak. Mengingat apa yang telah Mamanya lakukan pada Nabila. Sampai di rumah ia melihat Mamanya sedang berbincang ria dengan Putri di ruang tamu. Dengan napas memburu Egy mendekati mamanya.


"Apa yang sudah Mama lakuin sama Nabila?" Teriak Egy tak sabar.


Bu Yura dan Putri agak terkejut dengan teriakan Egy.


"Kamu kenapa sih? Datang-datang gak ada salam tapi udah marah-marah."


"Jawab aja Ma! Apa yang udah Mama lakuin ke Nabila?" Berang Egy lagi. Sungguh ia taknlagi sabar.


Bu Yura menarik napas kasar dan membuangnya.


"Memang dia ngadu apa ke kamu?" Tanya Bu Yura dengan nada mengancam.


"Mama ngancam dia kan?" Desak Egy.


"Berani juga ya dia ngadu ke kamu!" Diirngi seringai jahat.


"Ma!!" Bentak Egy keras.


"Berani kamu bentak Mama demi janda itu ya?" Ujar Bu Yura kesal dan tersinggung.


"Mama..." Lirih Egy sadar. Sungguh bukan kemauannya untuk membentak sang Mama, tapi Mamanya lah yang bersikap semena-mena membuat Egy terpancing emosi.


"Mama ancam dia supaya dia jauhin kamu, kamu juga tahu Mama gak suka dia. Kalau dia terus di persahaan itu, dia masih bisa goda-goda kamu."


Tuhan! Sungguh Mamanya tak bisa mengerti maksud hatinya sedikit pun.


"Kenapa sih Ma? Salah dia apa? Egy cinta sama dia Ma." Masih dengan nada rendah.


"Cinta-cinta, tau apa kamu tentang cinta?" Sungut Bu Yura kesal. "Sudahlah, awas Mama mau istirahat saja. Pusing lihat kamu."


Setelah itu Bu Yura bangkit dari sofa dan berdiri. Tapi Egy menahan kepergian Mamanya dengan cara berlutut di depan sang Mama, lalu memeluk kaki Mamanya.


"Ma..., aku mohon. Restui hubungan aku dan Nabila. Cuma ini saja permintaan Egy."


Bu Yura tak menghiraukan.


"Ma.. Egy mohon Ma. Egy sayang banget sama Nabila. Egy akan lakuin apa pun asal Mama restuin hubungan kami."


"Menangis darah Pun Mama tak akan menyetujuinya. Mama tak ingin punya menantu seorang janda yang realistis. Apa kamu gak tahu bagaimana reputasi keluarga kita nantinya?"


Egy mendongakkan kepala menatao Mamanya. "Ma.., kenapa sih harus mikirin reputasi? Kenapa enggak kebahagiaan anaknya Mama dulu?"


Sungguh Egy kecewa dengan Mamanya yang lebih mementingkan reputasi daripada dirinya.


"Mama tetao gak merestui! Apa pun alasannya." Kekeh Bu Yura.


"Kalau kamu nekat pengen menikah dengan dia, siap-siap! Kamu akan Mama depak dari jabatan dan perusahaan. Fasilitas kamu Mama cabut semua." Ancam Bu Yura. "Silahkan saja hidup dengan perempuan itu, apa ia maaih mau nerima kamu kalau kamu gak punya apa-apa?"


Egy menjadi emosi mendengarnya. Ia melepaskan pelukannnya di kaki Bu Yura, kemudian berdiri kembali.

__ADS_1


"Mama Egois!" Teriak Egy.


"Kamu pikir kamu gak egois? Buka mata kamu Egy! Ada Putri! Dia cinta sama kamu!"


"Kalau Mama gak restuin hubungan aku dengan Nabila, jangab coba-coba jodohkan aku dengan orang lain. Berapa kali lagi harus aku bilang?"


Ah! Putri lagi-lagi mendapatkan penolakan dari Egy.


"Dia bukan orang lain! Dia sudah jadi bagian dari keluarga kita!"


"Terserah! Aku gak peduli siapapun dia. di mata Mama. Intinha janhan jodhokan aku dengan dia. Aku tidak akn menikah kalau bukan Nabila." Tegas Egy. "Pegang omongan aku Ma!"


"Gila kamu!"


"Aku memang udah gila Ma, tergila-gila sama Nabila. Mama harus tahu itu."


"Mas Egy, cukup Mas! Kamu jadi kasar sama Mama, gara-gara perempuan itu." Seru Putri dan berdiri.


"Diam kamu! Kamu gak usah ikut campur, jangan pikir aku gak tau kebusukan kamu."


Setelah itu Egy pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


...****************...


Putri masuk ke ruangan Egy dengan langkah pelan. Ia mengenakan dress merah selutut, juga rambut yabg digerai begitu saja. Cantik. Ia memang selalu cantik. Tapi sayangnya kecantikannya tak bisa menaklukkan hati Egy.


Kini ia sudah berdiri di samping Egy yang berdiri mematung menatap ke luar jendela, mungkin menikmati kota Jakarta yang macet, atau bahkan ia memang sedang karut dalam lamunannya. Dan Egy yang menyadari kedatangan Putri sama sekali tak meresponnya.


Setelah kejadian kemarin, Egy memang sudah kurang suka pada Putri. Ia kecewa akan sikap Putri yang padahal mareka sudah kenal belasan tahun.


"Sejak kapan aku gak boleh temuin sahabat aku lagi?"


"Aku gak bilang gak boleh!"


"Tapi cara kamu bertanya seolah bilang kalau aku gak boleh lagi ketemu kamu."


"Bagus sih kalau kamu paham dan sadar." Sindir Egy.


"Maksud kamu, aku emang gak boleh ketemu kamu lagi Mas?"


"...."


"Sejak kapan?" Cecar Putri tak sabar.


"Sejak kamu berkhianat!" Jawab Egy dengan tatapan tajamnya pada Putri.


"Berkhianat? Tentang apa? Aku sahabat kamu loh!" Putri tak terima atas tudingan Egy.


"Kamu masih berani nyebut kata sahabat?"


"Kenapa enggak?" Balas Putri tak kalah tajam. "Kita bukan kenal kemarin sore loh gy! Lima belas tahun, Aku rasa itu bukan waktu yang singkat!"


"Justru itu!" Potong Egy cepat. "Aku pikir karna kita udah lama saling kenal, kamu bisa ngertiin aku, ternyata enggak!"


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Halah, jangan sangkal lagi Put!"


"Aku makin gak ngerti Mas!"


"Ngapain kamu ke kantor aku kemarin?"


Ah..., barulah Putri mengerti maksud Egy sekarang. Ia lupa, Egy kan banyak mata-matanya.


Putri memejamkan mata sebentar, dan menelan salivanya.


"Persahabatan kita ternyata gak ada artinya sama kamu."


"Sejauh ini kamu hanya melihat aki sebagai seorang sahabat Mas?"


"Lebih Put, kamu lebih dari seorang sahabat." Jawan Egy tulus. "Bahkan aku menganggap kamu sebagai adik aku Put!"


Prang!!! Hancur sudah hati Putri. Bukan itu yang ia inginkan.


"Kamu gak bisa melihat aku sebagai seorang wanita?" Tanya Putri dengan mata berkaca-kaca, ia berjalan semakin dekat pada Egy. "Apa kamu gak sadar kalau selama ini aku cinta sama kamu Mas?"


"Sadar! Aku sadar!" Jawab Egy keras. "Tapi aku gak cinta sama kamu, dan kamu juga sadar akan hal itu! Aku menganggap kamu sebagai adik dan sahabat, aku gak bisa kasih lebih ke kamu, kamu juga sadar kalau aku membatasi itu semua."


Ok! Hati Putri memang sudah hancur, jadi biarlah hancur sehancur-hancurnya.


"Aku pikir, setelah malam itu, kamu akan berubah! Kamu akan melihat aku sebagai seoarang perempuan! Ternyata enggak! Aku selalu bela-belain nyusul kamu Mas, biar bisa ngobatin luka hati kamu karna Raya. Apa aku masih gak layak dikasih kesempatan? Aku cinta sama kamu Mas!"


Pertahanan Putri runtuh. Air matanya luruh tanpa dapat ditahan lagi.


"Maaf Put." Lirih Egy.


"Lalu kejadian malam itu, Mas mau lupain gitu aja?"


Egy memejamkan matanya sebentar, mencoba meredam emosinya.


"Aku gak ingat saat melakukan itu." Kata Egy datar.


"Makanya aku ingetin Mas! Biar kamu gak lupa, kamu adalah laki-laki pertama yang..., Ah udahlah!" Ucap Putri frustaai. "Harusnya kamu bertanggung jawab."


"Aku gak sadar Put! Aku Mabuk! itu bukan keinginan aku."


"Egois kamu!"


Egy memgang kedua bahu Putri, dan sedikit menekannya. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada Putri.


"Aku harap gak ada yang tahu masalah itu. Mama, atau siapa pun terutama Nabila." Ancam Egy.


"Kenapa? Kamu takut dia ninggalin kamu?" Tantang Putri.


"Diam Put!" Geram Egy. "Kalau sampai Nabila tahu, aku gak segan-segan melakukan sesuatu yang buruk terhadap kamu."


Setelah itu Egy menghempaskan Putri asal. Ia berlalu dari hadapan Putri.


"Sebaiknya kamu cepat pergi, sebelum aku benar-benar marah Put!" Pesan Egy yang sudah duduk di meja kerjanya.


Putri pun pergi. Takut? Tentu tidak? Hanya saja ia butuh tempat untuk menenangkan dirinya sekarang.

__ADS_1


Hy hy! Ayok dong dukungannya. Votenya dinaikin. Aku begadang loh buat nulis ini untuk kalian.


__ADS_2