
Raya melihat dari jendela kamarnya, nampak Nabila baru saja turun dari mobil seorang laki-laki yang memang dikenalnya. Raya tidak cemburu, ia hanya khawatir pada Nabila yang sudah ia anggap layaknya adok sendiri. Apa kata orang nantinya tentang Nabila, melihat ia pulang selarut ini dengan lelaki yang bukan mahramnya.
"Mas, sebaiknya kamu ingatin nabila deh, supaya jangan pulang terlalu larut begini, apalagi sama laki-laki, gak enak dilihag orang" Ujar Raya pada Nadeo yang berada di sampingnya, yang juga sama-sama melihat Nabila.
Sungguh, Raya tak ada maksud mengompori Nadeo. Ia hanya sedang khawatir dengan Nabila, dan semua untuk kebaikan Nabila, itu saja.
Nadeo pun tahu dengab siapa Nabila pulang, iya juga kesal, Apalagi melihat kedekatan Nabila dengan Egy. Kesal atau cemburu? Samakah itu?
"Tapi jangan dimarahin ya, Mas ingatin baik-baik" Pesan Raya, ia juga takut emosi Nadeo meledak nantinya saat berbicara dengan Nabila.
"Kamu tetap di dalam kamar, jangan keluar!" Tegas Nadeo dan berlalu keluar dari kamar.
Nabila baru saja masuk. Lampu dalam ruangan semuanya mati, apakah Nadeo dan Raya sudah tidur? Tak peduli Nabila terus berjalan ke arah tangga. Tiba-tiba...
CEKLEK!!!
Lampu hidup, dan nampak jika Nadeo berdiri di dekat tangga dengan tangan melipat di dada dan tatapan yang sedang memindai Nabila dari atas hingga bawah.
"Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang!" Introgasi Nadeo.
"Kerja mas!" jawab Nabila cuek.
"Kerja atau pacaran?" Sindir Nadeo.
Nabila malas menjawab, jika ia meladeni, urusannya pasti akan panjang. Nabila terus menaiki tangga, sedangkan Nadeo mengekori dari belakang.
"Kalau aku tanya, jawab!!" Teriak Nadeo seperti mulai emosi.
"Aku baru pulang kerja Mas, capek!"
Iya benar. Tubuh Nabila lelah sekali. Belum lagi tadi mobilnya yang mogok di tengah jalan, hingga ia harus menelpon Egy untuk mengurus semuanya. Sekarang ia dihadapkan pada Nadeo yang marah-marah.
"Kamu benar-benar ya, gak ngehargain aku lagi ngomong. Aku ini suami kamu, kamu istri aku. Pantas gak sih kamu pulang jam segini dengan laki-laki yang bukan siapa-siapa kamu?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Nadeo yang begitu tajam, Nabila berhenti dan berbalik berhadapan dengan Nadeo. Nabila nampak kesal. Cukup sudah selama ini ia bersabar dengan kelakuan Nadeo yang seenaknya.
"Gak salah Mas bilang aku adalah istrinya Mas? Memang selama ini Mas pernah mengakui kalau aku ini istrinya Mas?" Tanya Nabila menyindir.
"Apapun yang kamu katakan, dalam hukum agama dan negara, kamu sah sebagai istri aku!"
"Oh ya?" Nabila menantang, "Lalu pernah gak Mas menunaikan hak Mas sebagai suami? Pernah gak Mas memberikan hak aku sebagai istri?"
"Jadi, kamu meminta hak kamu?" Nadeo balik menantang, "Aku bakal kasih kalau kamu minta" Tambah Nadeo dengam senyum seringai jahat.
"Aku capek Mas, mau istirahat. Tolong jangan ajak aku berdebat!" Ucap Nabila.
Setelah itu Nabila masuk ke dalam kamar. Tapi Nadeo juga ikut masuk, Membuat nabila terkejut dan heran. Apalgi terlihat napas Nadeo yang naik turun seperti orang sedang tersulut emosi. Mau apa Nadeo juga ikutan masuk?
"Mau ngapain Mas kesini?" Tanya Nabila gugup dan takut. Nabila dapat merasakan hawa yang tidak enak dari Nadeo.
Tapi, Nadeo tak menjawab. Ia hanya terus berjalan pelan mendekati Nabila, tapi Pasti. Nabila melangkah mundur takut-takut, pikirannya sudah tak enak lagi.
Nabila bergidik ngeri,membayangkan apa yang akan terjadi padanya di detik selanjutunya. Jantung Nabila berpacu dengan cepat seiring mundurnya kakinya hingga ia sudah mentok di dinding, sedangkan Nadeo semakin dekat dengannya, sampai deru nafas Nadeo yang menyapu wajahnya semakin terasa. Nabila menggeleng, perasaan takut dan khawatir semakin menguasai jiwanya.
"Jangan mas!" Mohon Nabila menggeleng dan menyilangkan tangannya di dada, seolah tahu apa yang akan dilakukan Nadeo padanya sebentar lagi.
Tapi Nadeo tak sedikit pun menghiraukan ucapan Nabila. Ia mengunci tubuh Nabila dwngan tangannya, dan menciumi bibir Nabila brutal, walau yang di cium menolak dan tak membalasnya.
Nabila mendorong tubuh Nadeo. Namun apalah daya, ia tak kuat dan masih berada dalam dekapan Nadeo.
Setelah sesaat Nadeo melepas ciumannya yang brutal itu, napasnya terengah-engah. Entah itu karna nafsunya atau karna ia lelah mencium Nabila tapi tak ada balasan.
Nabila mendorong tubuh Nadeo, "Pegi mas!" Teriak Nabila dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi air matanya akan tumpah. Nabila merasa dilecehkan.
"Ini kan yang kamu mau? Hak kamu sebagai istri. Aku kasih malam ini juga" Kata Nadeo sembari membuka kancing kemejanya satu persatu dan melemparnya asal, tak lupa juga celananya yang entah kapan sudah tak lagi melekat pada Nadeo. Kini yang tersisa hanyalah celana boxer di atas lutut. Nadeo sudah bertelanjang dada, menunjukkan badannya yang atlestia pada Nabila. Perutnya yang bagaikan roti sobek.
Nabila menggeleng kuat. kini air matanya tak dapat lagi dibendung, ia tumpah dengan sendirinya. Nabila berlari ke arah pintu, berharap ia bisa lolos dari jerat Nadeo. Tapi tak semudah itu, dengan cepat Nadeo menarik Nabila dan membawanya ke dalam pelukannya lalu kembali menciumi bibir Nabila secara brutal.
__ADS_1
Nadeo menarik jilbab Nabila yang audah asal-asalan dan meleparnya sembarangan. Rambut Nabila pun terlepas dari sanggul. Dan ternyata rambut yang selama ia tutupi adalah rambut yang panjang spinggul, lurus dan hitam. Sungguh Nabila perempuan sempurna.
"Aku sudah mulai. Tak ada yang bisa menghentikannya, meskipun kamu menyuruhku berhenti!" Tekan nadeo.
Nadeo menghempaskan tubuh Nabila ke ranjang dan segera menindihnya. Lalu membuka baju Nabila secara paksa hingga tak ada lagi yang tersisa di tubuh Nabila.Polos. Berulang kali Nabila mencoba untuk melawan, tapi apalah daya kekuatannya tak seimbang dengan Nadeo, ia kalah. Apalgi Nadeo sudah di kuasai oleh nafsu. Ada yang mengatakan bahwa lelaki akan bertambah kekuatan saat sudah dikuasai nafsu.
"Jangan Mas, aku mohon. Jangan lakuin ini sama aku." Mohon Nabila mengiba dalam isak tangis.
Nadeo tak memghiraukan sedikit pun apa yang dikatakan Nabila. Ia tetap fokus dengan tujuan utamanya, memiliki Nabila seutuhnya. Ia sudah terlanjur jauh sampai ke sini, mana mungkin di pertengahan ia mengakhirinya. Sungguh ia sangat tersiksa bila tak menuntaskannya.
Nabila memukul-mukul dada Nadeo, tapi tak sedikit pun membawa dampak bagi Nadeo. Hingga Nabila mulai kelelahan. Sedang Nadeo menjelajahi setiap inci dari tubuh Nabila, mencium, meraba semua ia lakukan sepuas mungkin. Nadeo juga meninggalkan banyak bekas gigitan yang memerah di leher, dada, bahkan paha banyak sekali. Dan tiba pada sesuatu yang amat dinanti.
"Mas, aku mohon, jangan!!" Pinta Nabila memelas.
Nadeo tak menghiraukan ucapan Nabila. Baginya, tubuh Nabila sangat menggairahkan membuat dirinya tetap ingin berlanjut ke aksi yang berikutnya yang jauh lebih menantang. Dan kemudian Nadeo mencoba untuk masuk ke dalam Nabila, gagal.
Nabila merintih kesakitan, bawahannya sakit. "Mas sakit..., jangan!" Mohon Nabila lagi.
Nadeo tak putus asa. Ia tetap berusaha masuk berulang kali, dan...
Hentakan keras dari Nadeo sudah mampu menguasai Nabila. Nabila berteriak kesakitan, merasakan ada sesuatu yang telah merobek-robek rahimnya. Nadeo tak peduli akan rintihan Nabila. Nadeo terus berpacu semakin cepat, memompa Nabila dengan tergesa-gesa.
Lama berpacu diringi ******* yabg keluar dari mulut Nadeo. Nadeo memgumpat, meracau tak jelas memanggil-manggil nama Nabila. Hingga akhirnya Nadeo melepaskan puncaknya.
Nadeo menarik napas panjang dan menghembuskannya, seolaj puas dengan apa yang sudah dirampasnya dari Nabila. Ia menjadi lelaki pertama yang berhasil menaklukkan Nabila.
Kini, Nabila bukanlah lagi gadis perawan. Ia resmi kehilangan mahkotanya baru saja. Nadeo mengecup kening Nabila lalu membaringkan tubuh di samping Nabila. Nadeo bisa melihat ada bercak darah Nabila di atas seprei, itu pasti karna selaput daranya Nabila yang robek.
"Kamu milik aku sekarang, gak ada yang boleh milikin kamu selain aku" Bisik Nadeo di telinga Nabila. Nadeo merasa bangga, ia telah mengalahkan Egy.
Nabila menarik selimut tebal menutupi tubuh polosnya, dan menangis sesegukan. Nadeo sudah merenggut mahkotanya. Tapi tak ada sedikit pu raut penyesalan di wajah Nadeo, yang terlihat adalah raut kepuasan karna berhasil menyalurkan hasratnya.
"
__ADS_1