Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Bersama Suami


__ADS_3

"Mas!"


"Mas! Bangun udah subuh!"


Nabila terus mengguncangkan tubuh Nadeo yang masih berbalut selimut. Nampaknya laki-laki itu masih sangat terlelap. Apakah lelaki ini selalu begini? Jarang bangun subuh. Ah..., andainta Ayahnya masih ada, pasti sangat malu jika tahu anak laki-lakinya ini susah sekali bangun subuh, dan sering melewatkan waktu dan solat subuh. Mau di taruh dimana muka Haji Sigma Winata?


"Euhmmm" Nadeo menggeliat. Tapu kembali tidur.


"Mas Nadeo, bangun!"


Nadeo membuka mata dengan malas. Pandangannya menangkap Nabila yang sudah segar, dibalut dengan gamis syar'i berwarna putih dan kombinasi pink, juga jilbab segi empat kebesaran dengan warna senada. Rasanya lama Nadeo tak melihat Nabila dengan penampilan seperti ini. Semenjak Nabila bekerja, ia selalu mengenakan baju dan celana kantor, memang longgar, tapu rasanya taj seanggung seperti ini.


"Iya Bil, kenapa sih?" Tanya Nadeo masih setengah kantuk. "Kamu mau kemana masih awal begini?"


"Awal gimana? Mas gak solat subuh? Ini sudah subuh loh Mas!"


"Tapi aku masih pengin tidur, masih ngantuk."


"Ayo dong Mas!" Nabila menarik tangan Nadeo agar bangun. Nadeo bangun dan duduk, matanya masih malas terbuka. Tapi ia punya muka bantal yang sangat memesona, membuat Nabila tersenyum sendiri dan tersipu melihatnya. Tidak! Nadeo tidak menyadarinya.


"Jam berapa sih udah?"


"Jam emoat Mas, bentar lagi adzan. Cepat mandi sana!"


"Euhm, iya!"


Dengan malas Nadeo bangun dari tempat tidur, dan beranjak ke kamar mandi.


"Mas!"


"Iya?" Nadeo menoleh saat di panggil, ia sudah berada di pintu kamar mandi. "Kenapa?"


"Jangab mandi di sini! Mas gak punya baju di sini."


Nadeo menepuk jidatnya. "Oh iya lupa!"


Nadeo pun berbalik lagi. "Kayaknya baju aku harus di taruh di lemari kamu deh sebagian, biar kalau lagi di sini gak usah turun ke bawah ganti baju."


Muka Nabila bersemu merah. Malu. Tapu dengan cepat ia menepisnya.


"Aku tunggu di ruang tamu ya Mas? Janga lama, kita ke mesjid, ada pengajian habis sholat subuh. Takutnya telat."


Nadeo mengangguk.


Setelah selesai mandi dan berpakaian lengkap, Nadeo keluar dari kamarnya. Kamarnya denagn Raya lebih tepatnya. Sekarang ia sudah siap untuk berangkat ke mesjid bersama Nabila.


"Yuk, aku udah siap!" Ucap Nadeo pada Nabila yang duduk di sofa.


Nabila memalingkan wajahnya, dapat ia lihat Nadeo dengan penampilan barunya. Bolehkah bila Nabila terpana melihat ketampanan suaminya yang di atas rata-rata? Ingin rasa Nabila mengucapkan 'Mas ganteng banget!' tapi ia tak berani.


"Kok bengong?" Tanya Nadeo. "Aku ganteng ya? Kamu terpana kan?"


Pede sekali dia.


"Iya sih aku memang ganteng!"


"Biasa aja. Udah yuk ah."


Nabila menutupi merah pipinya dengan mukena yang ada di tangannya. Ingin rasanya Nadeo mencubit pipu Nabila itu, Nabila terlihat begitu menggemaskan.


Mareka keluar dari rumah, Nadeo segera mendekat ke mobil, ia pikir akan naik mobil untuk ke mesjid.


"Mas, pakai sepeda motor aja ya? Deket kok, gak usah pakai mobil segala!"


"Tapi kan dingin Bil?"

__ADS_1


"Ini udara segar loh Mas, nih kuncinya!"


Nadeo menerima kunci motor dari Nabila. Tak buruk kok naik motor, begitu pikir Nadeo.


Di perjalanan.


"Kenapa pakai sepeda motor Bil?"


"Kan udah aku bilang tadi Mas, dekat!"


"Bilang aja pengen dibonceng aku kan?" Gida Nadeo.


Sumpah! Jika Nadeo bisa melihat Nabila, muka Nabila sudah sangat merona. Tersipu!


"Enggak!"


"Masih ngelak, udah pegangan, biar gak jatuh!"


"Gak ah!"


Nadeo menggas motornya, hingga Nabila yang terkejut sontak saja mengalungkan tangan kanannya pada pinggang Nadeo. Nadeo tersenyum puas mengerjai Nabila.


"Mas itu apa-apaan sih!" Gerutu Nabila kesal dengan wajah cemberut, tapi juga terselip rasa bahagia di dalamnya.


"Kan tadi aku udah bilangin. Pegangan, biar gak jatuh! Salah sendiri, kualat kamu gak dengerin kata suami."


"Nikmat apalagi yang kau dustakan Nadeo? Sudah dikasih istri cantik, baik, soleh, dan penyabar lagi. tapi masih gak sadar diri. Makasih Ma, sudah mengenalkan Nadeo dengan perempuan sebaik Nabila. Bisa membawa Nadeo ke jalan yang baik!" Batin Nadeo.


Entah mengapa rasa nyaman semakin lekat terasa di hati Nadeo saat dekat dengan Nabila. Ia dapat merasakan hatinya yang hangat, mampu membawanya kepada yang lebih baik lagi. Menyesal rasanya dulu sempat mengabaikan Nabila.


Jika boleh membandingkan Raya dan Nabila, mareka sedikit jauh berbeda. Mareka sama-sama baik. Bedanya Nabila adalah perempuan yang dekat dengan agama, sedang Raya kurang akan itu. Tadi saja, ia masih terlelap. Ketika Nadeo membangunkannya, ia hanya berkata sebentar lagi.


...****************...


Setelah pengajian selesai, semua jama'ah subuh pun keluar dari masjid, termasuk Nabila dan Nadeo.


"Yuk Mas?"


"Ini siapa Bila?" Tanya Ibu yang motornya berada di samoing Nabila.


Nabila tersenyum. "Suami Bila Buk!"


"Owalah, Ibuk pikir Nabila belum punya suami, hampir tak kenalin ke anak Ibuk!" Ucap Ibu itu antusias.


"Sama!" Timpal Ibu satunya lagi. "Saya pikir juga Nabila belum punya suami, soalnya Nabila ke sini selalu sendiri."


"Ohhh, Nabila mungkin baru nikah ya?"


"Enggak Bu, sudah lama menikah. Cuma suami Bila memang baru pulang, kemarin di luar kota." Sahut Nabila berbohong.


"Oh iyaya, Di jaga atuh Mas istrinya. Cantik loh ini, takut di ambil orang."


"Tapi cocok loh, sama-sama cantik dan ganteng. Serasi!"


Telinga Nadeo menjadi panas. Bisa-bisanya Ibu-ibu itu mau menjodohkan istrinya dengan anaknya. Gak boleh di biarin.


"Ya sudah Buk, Nabila duluan ya? Assalamualaikum?"


"Waalaikum salam. Hati-hati."


Nabila pun duduk berbonceng di belakang Nadeo, yang mukanya sudah tak bersahabat. Nadeo menarik tangan Nabila agar memeluk pinggangnya.


"Aku gak mau kamu kenapa-napa." Ujar Nadeo yang membuat Nabila tersanjung.


Di perjalanan.

__ADS_1


"Mas?"


"Heum..."


"Kamu gak marah kan?"


"Marah?"


"Iya..."


"Marah kenapa?"


"Tadi aku keceplosan bilang, kalau Mas adalah suami ku, aku..."


"Tapi aku kan memang suami kamu!" Jawab Nadeo heran.


"Tapi kan..." Jeda. "Mas bilang aku gak boleh ngaku kalau.."


"Itu cerita lama!" Potong Nadeo.


"Soalnya tadi Mas keliatan mukanya betek banget. Aku pikir Mas marah!"


"Gimana gak betek coba? Ibu-ibunya ngeselin banget. Masa' Ibuk itu mau ngejodohin istri aku sama anaknya mareka?"


Istriku? Seriuskah tadi Nadeo mengatakan istriku untuknya? Nabila lagi-lagi dibuat tersipu oleh Nadeo.


"Ya..., kan mikirnya aku masih gadis. Soalnya slalu sendiri kalau ke masjid."


"Perenpuan itu sholatnya di rumah, laki-laki yang di masjid."


"Aku bosan Mas, di rumah gak ada yang imamin."


Upsss, keceplosan.


"Sekarang aku imamin. Kalau pun ke masjid, harus bareng aku." Putus Nadeo. "Oke?"


"Iya Mas!"


"Kamu mau sarapan apa nih? Lagi ngidam apa? Mumpung lagi di luar!"


"Gak ada."


"Jawab aja. Masak gak ada?"


"Iya emang gak ada."


"Bilang aja Bil. Selama ini kamu gak pernah bilang kalau kamu ngidam apa. Aku suka kok direpotin sama anak aku!"


"Sebenarnya ada."


"Nah! Apa tuh? Nasi uduk? Lontong? Mie? lemper?"


"Mas apaan sih, bukan itu!"


"Apa dong? Gak usah takut, aju turutin semuanya."


"Pengen masakannya Mas!"


"Hah? Kamu yakin?"


"Anak kamu yang minta." Jawab Nabila dengan nada manja.


"Tapi, aku gak pernah masak loh!"


"Gak mau tahu, anak kamu maunya itu Mas!"

__ADS_1


Nadeo tersenyum, walau Nabila tidak bisa melihatnya. "Iya deh iya! Papa masakin!"


...****************...


__ADS_2