Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Menjemput Istri


__ADS_3

Langit tampak mendung, seakan menunjukkan bahwa sebentar lagi ia akan menyirami bumi. Akhir-akhir ini memang sering hujan, mungkin karna memang sudah musimnya yang di penghujung tahun.


Nadeo bersandar di mobilnya, menunggu istri kecilnya keluar dari kantor. Yupz, Nadeo sekarang berada di depan perusahaan ASHER GROUP, tepat di bilang, sekarang dia berada di kandang musuhnya.


Ini adalah kali pertama Nadeo ke kantor Nabila, salah-salah, kali pertama menjemput Nabila. Karna jika di bilang ke kantor, pasti Nadeo pernah ke kantor ini, saat masih punya hubungan yang baik dengan Egy. Tapi untuk menjemput Nabila, ini adalag yang pertama kalinya. Tak perlu dijelaskan alasan mengapa Nadeo tak pernah menjemput Nabila.


Untuk saat ini, Nabila sangatlah berarti di hidup Nadeo. Apalagi sekarang ada nyawa dalam perut wanita itu, dan itu benihnya. Walau sekarang Nadeo sedang menjilat ludahnya sendiri, tapi persetan dengan semua itu.


Tak berselang lama Nabila keluar dari kantor, dengan tas yang menenteng di tangan kiri, sedang di tangan kanannya ada banyak dokumen yang ia rapatkan di dada. Melihat Nabila keluar, Nadeo setengah berlari menghampirinya.


"Sini biar aku yang bawa!"


Nadeo mengambil alih semua yang ada di tangan Nabila. Ah..., Nadeo benar-benar nge treat nabila like a queen.


"Euhmmm makasih Mas!" Hanya itu yang mampu Nabila ucapkan menerima pwrlakuan manis Nadeo yang tiba-tiba.


Di bilang canggung, rasanya canggung sekali. Di bilang tersanjung, apalagi. Pasalnya Nadeo tak pernah semanis ini padanya, Nadeo memang begitu perhatian akhir-akhir ini. Walau Nabila tahu, semuanya ia lakukan karna Nabila sedang mengandung anaknya. Tapi bolehkan jantungnya berdetak kencang saat berada di dekat Nadeo? Ternyata rasa itu belum benar-benar bisa hilang.


"Kamu gak boleh bawa yang berat-berat!" Protes Nadeo, "Gak boleh capek!"


Nabila tersenyum simpul.


"Yuk, masuk? Kayaknya mau hujan?" Ajak Nadeo yang terus berjalan ke mobilnya.


Nadeo membukakan pintu untuk Nabila. Hal yang baru kali ini juga ia lakukan. Setelah itu Nadeo masuk dan berlalu pergi dari kantor Nabila.


Di balik semua itu. Ada yang memperhatikan mareka dari kejauhan dengan raut kecewa. Egy. Iya Egy, ia yang terlanjur mencintai wanita yang telah bersuami, dan inilag akibat yang di dapatnya. Rasanya ia ingin merutuki diri sendiri, mengapa begitu telat ia bertemu perempuan seperti Nabila.


...****************...


Sampai di rumah, Nadeo dan Nabila langsung masuk. Di ruang tamu sudah ada Raya yang duduk di sofa. Pandangan Raya tertuju pada tangan Nadeo yang merangkul Nabila. Entah mengapa saat melihat mareka bersama, dada Raya terasa begitu nyeri. Apakah salah jika ia merasa cemburu? Dan egois ingin memiliki Nadeo seutuhnya untuknya?


"Sepertinya Hati Mas Nadeo memang sudah berpaling pada Nabila. Kenapa rasanya aku tak rela?"


"Ray, tolong ambilin tas sama dokumen Nabila di dalam mobil ya?" Ujar Nadeo yang terus mengekori Nabila yang entah sudah kapan melepaskan diri dari rangkulan Nadeo. Sepertinya Nabila tak enak hati dengan Raya, dan menyadari perubahan mimik Raya.


"Iya Mas." Sahut Raya diiringi anggukan dan senyum paksa.

__ADS_1


"O ya satu lagi, tolong masakin buat Nabila ya? Nabila belum makan. Dia gak boleh kekurangan asupan gizi."


Raya hanya mengangguk. Roda memang berputar, jika dulu Nadeo malah melarang untuk mengurusi Nabila, sekarang kebalikannya.


"Kamu mau makan apa Bil? Biar aku suruh masakin sama Raya." Tanya Nadeo pada Nabila yang sudah ada di anak tangga, Nadeo kembali merangkul Nabila, walau perempuan itu risih dengan perlakuannya.


Nabila menggeleng. "Gak usah Mas, aku udah makan di kantor." Sungguh Nabila benar-benar tak enak hati dengan Raya. Rasa bersalah juga membayanginya.


"No! Kamu harus makan lagi. Di kantor itu pasti makanan yang gak sehat, kamu gak boleh makan makanan yang gak sehat. Ray masakin yang sehat-sehat ya? Terus sama potongin buah juga buat Nabila, Nabila harus banyak makan buah!"


Dalam hati Raya berkata kenapa rasanya Nadeo memperlakukannya bagaikan seorang pembantu, yang di suruh-suruh sesuka hatinya. Apa ia tak memikirkan perasaannya?


Tapi semua itu tak mampu diungkapkan Raya dengan kata-kata. Ia hanya mampu mengangguk mengiyakan semua yang dikatakan Nadeo.


"Oh ya, setiap pagi buatin bekal yang sehat untuk Nabila ya? Biar Nabila di kantor makannya makanan yang sehat, gak jajan sembarangan."


"Mas! Gak usah!" Sela Nabila yang sudah benar-benar tak enak hati lagi dengan Raya. Tapi Nadeo tak menggubris.


"Kamu mau dimasakin apa? Untuk sekarang dan.." Omongan Nadeo langsung dipotong Nabila.


"Bil tunggu!" Panggil Nadeo dan mengejar Nabila.


...****************...


Nabila masuk ke ruangan Egy memberikan dokumen yang akan dipakai untuk meetingnya esok. Nabila meletakkan dokumen itu di meja.


"Ini dokumen itu besok Mas, di periksa dulu, biar kalau ada yanh salah bisa langsung diperbaiki."


Egy hanya mengangguk, tanpa mengalihkan perhatiannya pada laptop.


Nabila duduk dipenuhi dengan rasa canggung, tak pernah sebelumnya Egy begini padanya. Egy adalah orang paling antusias ketika ada dirinya. Tapi sekarang Egy menjadi pria dingin dan pendiam. Bahkan akhir-akhir ini Egy seperti terang-terangan menghindari Nabila. Lebih tepatnya hari dimana Egy membawa Nabila ke rumah sakit. Setelah itu tak ada lagi obrolan basa-basi dan random seperti dulu. Egy hanya akan menjawab sekenanya bila Nabila bertanya, itu pun hanya tentang pekerjaan. Bahkan sering juga Egy hanya mengangguk saja.


"Mas.." Panggil Nabila lirih.


"Hmmm" Tanpa menoleh.


Hmmm? Cuma hmmm saja? Nyali Nabila langsung menciut jika dihadapkan pada pria-pria dingin seperti ini. Persis kelakuan Nadeo saat awal-awal menikah.

__ADS_1


"Mas, gak diperiksa?"


Tidak menjawab. Padahal tak ada yang begitu penting di dalam laptop mahalnya itu. Semuanya murni untuk menghindari Nabila saja. Apakah Egy marah? Tidak! Ia tidak bisa marah pada perempuan yang dicintainya. Jika boleh marah, maka ia akan marah pada takdir yang telat mempertemukan dirinya dengan perempuan di depannya itu.


Lalu untuk apa Egy menghindari perempuan yang dicintainya? Jawabannya agar ia tak terlalu jatuh ka dalam cinta yang tak pasti dan tak bisa dimiliki.


"Mas Egy marah ya sama aku?" Tanya Nabila akhirnya. Setelah pertanyaan itu ia simpan lama, baru sekarang Nabila memberanikan diri menanyakannya.


Egy menggeleng.


"Lalu kenapa Mas diemin aku?"


Diam sejenak. "Apa aku masih punya hak untuk mencintai kamu Bil?" Kini netra mareka bertemu. "Dan apa aku masih bisa berharap aku bisa memiliki kamu?"


Nabila tertegun.


"Kamu gak bisa jawab kan?"


"Mas udah tau semuanya kan?"


"Aku sangat-sangat mencintai kamu Bila. Bahkan aku gak bisa tidur berhari-hari, karna bayangan kamu selalu aja hadir terus-terusan. Aku tersiksa Bil."


Nabila menunduk mendengar isi hati Egy. sebegitu tersiksakah Egy karna dirinya? Memang pria di depannya ini sekarang tampak agak kurus.


"Kalau aku minta kamu untuk tinggalin Nadeo, kamu bersedia gak?"


"Mas.., gak mungkin.. " Ucapannya langsung dipotong Egy.


"Kamu gak bisa kan?" Terlihat mata Egy sudah memerah, entah menahan tangis atau emosi. "Aku bisa kok nerima kamu dalam keadaan seperti ini. Aku bisa terima anak kamu Bil, kalau kamu bersedia!"


"Mas, lupakan aku aja. Dari awal hubungan kita memang udah gak benar."


"Mudah banget kamu suruh aku lupain kamu. Aku gak bisa Bil, aku gak bisa!"


"Mas aku minta maaf untuk semuanya. Aku mohon izin, permisi!"


Nabila tak ingin berlama-lama, ia tak sanggup melihat keadaan Egy yang begitu hancur. Hatinya juga sakit, biarlah ia menjadi wanita yang pengecut.

__ADS_1


__ADS_2