
"Cin?" Panggil Egy.
Cinthya menoleh ke arah Egy.Terlihat wajah frutasi Egy yang berdiri di sampingnya. Marekan berdiri di balkon apartment Egy.
"Mas benar-benar bingung harus ngomong ke siapa lagi. Mas bener-bener frustasi sekarang Cin!" Ungkap Egy mengeluhkan takdirnya.
"Mas silahkan cerita sama aku, aku dengerin kok!" Ucap Cinthya tulus.
Cinthya ini bagaikan dewa penolong bagi Egy. Egy selalu mengundangnya bertemu hanya untuk mengungkapkan keluh kesahnya. Untungnya adik sepupunya satu ini tak peenah bosan mendengar curhatannya. Padahal mareka terpaut usia yang cukup jauh, tapi entah kenapa Cinthya bisa lebih berpijur dewasa daripadanya.
"Aku sama Nabila kembali dapat masalah Cin. Entah ini ujian dalam hubungan kami, atau pertanda kami memang tak berjodoh. Tapi aku lebih berharap opsi yang pertama."
Jeda.
"Mama gak merestui hubungan kami, dan kamu tahu kan sifat Mama? Apa pun keinginannya harus tercapai? Termasuk memisahkan aku dengab Nabila. Dan sepertinya Mama juga ngancam Nabila, sampai-samoai Nabila resign dari kantor tanoa sepengetahuan aku. Dia juga ngeblokir semua akun media social aku. Mungkin dia berharap agar aku gak bisa hubungin dia lagi." Lanjut Egy.
Cinthya manggut-manggut mendengar cerita Egy yang panjang. "Tapi Nabila gak cerita apa-apa sama aku loh Mas! Apa mungkin dia mikirnya akublagi sibuk ya? Emang sih aku lagi sibuk akhir-akhir ini, jadi gak sempet hubungin dia."
"Cin? Kamu bujuk Mama ya?"
"Aku?" Cinthya menunjuk dirinya sendiri.
Egy mengangguk. "Iya Cin. Cuma kamu yang bisa Mas andalkan sekarang. Bahkan Papa sendiri juga sependapat sama Mama. Papa juga gak setuju aku sama Nabila. Bahkan aku gak tahu Cin, hal apa yang bikin Mama bisa berpikiran begitu buruk pada Nabila."
Ah, Cinthya tak yakin dengan diringa sendiri. Apakah ia mampu membujuk seorang Bu Yura, Nyonya dari ASHER GROUP yang terkenal tegas.
"Mas kan tahu Mamanya Mas super keras kepala."
"Makanya Mas minta bantuan kamu. Mas gak tahu harus minta ke siapa lagi. Mas beneran linglung."
"Tapi Mas-"
__ADS_1
"Mas mohon Cin, kali ini ajah ya?" Mohon Egy.
Tampang memelasnya Egy membuat hati Cinthya luluh. Sungguh Abang sepupunya satu ini sangat pandai merayunya.
"Iya deh Mas!" Pasrah Cinthya.
"Mas pasti akan ingat semua kebaikan kamu Cin!"
"Tapi aku gak janjiin ini akan berhasil ya Mas? Mas jangan berharap terlalu besar." Pesan Cinthya.
Egy mengangguk. "Semampu kamu aja Cin. Kalau nantinya ini gak berhasil, kita cari jalan lain lagi. Intinya Nabila harus jadi milik aku."
Cinthya mengangguk mengerti juga menyutujui usulan Egy.
"Ok deh Mas, aku coba. Semoga aja berhasil."
...****************...
Baru sebentar kemarin Egy merasa senang karna berhasil memisahkan Nabila dari Nadeo, dan Nabila bersedia menikah dengannya. Tapi hatinya kembali berduka tatkala Mamanya menolak Nabila dan Nabila memilih untuk mundur daripada berjuang bersama-sama. Apakah ini suatu pertanda bahwa sebenarnya Nabila memang tak pernah ingin berasamanya?
Lupakan tentang itu semua. Egy ingin fokus untuk berjuang dulu.
Kini Egy sudah berada di depan pintu rumah Nabila. Ia sudah sejauh ini, tak mungkin ia menyerah begitu saja, sia-sia dong perjuannya.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu, barulag pintu itu terbuka. Ketika pintu terbuka nampaklah seorang wanita dengan balutan hijab segi empatnya.
Ini yang memebuat Egy tak bisa melupakan Nabila. Ia terlalu anggun dan manis, sampai Egy tak bisa berhenti memikirkannya. Tanpa ia sadari ia sudah melempar senyum pada perempuan itu. Sayangnya senyumnya tak mendapatkan balasan, melainkan wajah yang datar dan dingin.
"Bila..." Lirih Egy tanpa menghentikan senyumnya.
Tahu apa yang Nabila lakukan? Ia sesegera mungkin ingin menutup pintu kembali, namun Egy lebih cepat menahannya.
__ADS_1
"Bila, kita perlu bicara sebentar aku mohon!" Kata Egy panik, takutnya Nabila dengan sekuat tenaga menutup pintu dan ia tak sempat berbicara dengan perempuan itu.
"Aku kan sudah bilang, jangan temui aku lagi." Kata Nabila kesal.
"Jangan katakan itu Nabila, atau kamu akan melihat aku hancur sehancur-hancurnya." Desis Egy tanpa dapat ditahan hatinya ikut remuk.
"Ada apa lagi sih Mas? Mending pulang aja deh, jangan ganggu aku."
"Sebentar aja! Lima menit, pleas!!!" Pinta Egy.
Nabila membuang napas. Tahulah ia tak akan bisa menghentikan kemauan Egy. Ia mengurungkan niatnya menutup pintu.
"Lima menit, gak lebih!"
Egy mengangguk cepat. Tak apa asal Nabila masih mau memberinya kesempatan untuk bicara.
"Iya Bil, terimakasih." Kata Egy bahagia.
"Ngomong Mas!" Perintah Nabila.
"Mas hanya ingin kita berjuang Bil, kita sudah sampai di titik ini. Masa kita menyerah Bila? Mas mohon. Kamu juga tahu kan kalau Mas gak main-main sama kamu. Mas beneran cinta sama kamu."
Baru kalimat lertama, Nabila sudah memutar bola matanya malas. Sungguh! Ia memang benar sangat malas mendengar ucapan Egy.
"Mas! Tolong jangan kembali ke sini sebelum Mas mengantongi restu dari orang tuanya Mas!" Pesab Nabila
Dan Brak!!!
Pintu kembali tertutup tanpa sempat Egy tahan. Dan ya! Egy tak boleh kembali sebelum dapat restu dari Mamanya.
Buat readers semua, tolong ya? Like, comen dan subcribe nya jgan lupa.Aku beneran smpe ketiduran nulis ini untuk kalian.
__ADS_1