
Beberapa bulan setelahnya, Nabila menyelesaikan masa iddahnya. Hal ini yang sangat dinanti-nantikan oleh Egy. Bagaimana tidak? Itu artinya ia sudah bisa leluasa mendekati Nabila.
Tapi ada yang membuat Egy heran, sekaligus bersyukur. Ia tak lagi mendengar kabar Nadeo mendekati Nabila, atau menghubungi Nabila. Apa laki-laki itu benar-benar sudah melupakan Nabila? Jika iya, baguslah. Artinya saingannya berkurang.
Dan sepertinya pun, Nadeo memang sebenarnya tak mencintai Nabila. Itu sudah diduga Egy.
Sekarang Egy tak ingin berbasa-basi lagi pada Nabila. Cukup sudah selama ini basa-basinya. Kali ini ia betul-betul serius. Dulu bukan tidak serius, hanya saja Nabila masih menjadi milik orang lain.
Seperti biasa Nabila dan Egy makan siang bersama di jam istirahat. Mareka duduk di cafe yang dekat dengan kantor.
"Bil?" Panggil Egy.
"Iya Mas?" Nabila menaikkan alisnya seolah bertanya 'ada apa'.
"Maaa iddah kamu udah selesai kan?" Tembak Egy langsung, tanpa basa-basi.
"Iya Mas." Jawab Nabila. "Emangnya kenapa Mas?" Ah, Nabila menyesal sudah bertanya.
"Gimana jawabannya?"
Ah kenapa Pak CEO ini sangat buru-buru? Ia tidak sabaran sama sekali. Padahal baru kemarin masa iddahnya selesai.
"Jawaban?" Tanya Nabila masih sok tidak tahu. Padahal ia belum siap memberikan jawaban.
Egy mengangguk. "Rasanya Mas sudah tidak perlu basa-basi lagi sama kamu. Mas memang sangat suka sama kamu dari dulu, dan mustahil kalau kamu gak tau." Jelas Egy.
Ada jeda sesaat. Egy seperti memikirkan sesuatu. "Mas ingin langsung serius sama kamu Bil!"
Nabila menghela napas berat. Nabila yakin akan sampai pada waktu seperti ini. Walau ia terus menghindarinya. Ada ketakutan dalam diri Nabila, mengingat ia pernah gagal dalam berumah tangga. Sebenarnya ia takut mencoba untuk kedua kalinya. Walau sekarang ceritanya berbeda. Karna kalau dulu rumah tangganya gagal, karna Nadeo tak mencintainya. Sedangkan Egy memang sudah tergila-gila padanya.
"Aku takut Mas."
"Takut kenapa?" Tanya Egy heran.
"Aku pernah gagal Mas."
"Bila, Mas janjigak akan kecewakan kamu. Kalau gak, ayok kita lebih saling mengenal. Mungkin kamu selama ini mengenal Mas sebagai Bos kamu. Sekarang ayok, kamu harus mengenal Mas sebagai seorang laki-laki."
Tawaran yang menarik. Nabila nampak menimbang-nimbang. Kata-kata Egy sebenarnya tidak juga benar. Pasalnya selama ini memang Egy memang terang-terangan menunjukkan kalau ia tertarik pada Nabila. Yang tadi itu hanya sekedar tawaran untuk menunjukkan bahwa ia tak sedang bermain-main.
__ADS_1
"Kalau Mas sendiri sudah sangat siap. Mas akan langsung ngenalin kamu ke orang tuanya Mas. Mas juga sudah di desak untuk segera menikah, usia Mas udah cukup mapan."
"Jadi gimana? Keputusan ada di tangan kamu. Mas harap kamu menerima Mas, Tolong jangan tolak Mas Bila, Mas takut! Mas sudah sangat berharap sama kamu." Lanjut Egy.
Ia benar-benar menaruh harapan besar pada Nabila. Jika kali ini ia di tolak, makan ia akan menhapuskan kata cinta dan perempuan dalam kamus kehidupannya.
"Kalau kamu ragu sama Mas, coba ingat-ingat lagi, Mas selalu setia sama kamu Bila, Mas terima apa pun kekurangan kamu." Tambah Egy lagi, melihat tak ada reaksi atau jawaban dari Nabila.
Setelah menimbang-nimbang, tak ada salahnya Nabila mencoba. "Iya Mas aku terima."
Sebuah senyum langsung terukir di bibir Egy. Apakah ini sudah final? Ia memenangkan hati Nabila?
"Terima kasih Bila." Ucap Egy antusias dan menggenggam tangan Nabila yang ada di atas meja.
Nabila membalas dengan senyuman disertai anggukan.Ia berharap keputusannya kali ini tak salah. Kendati ragu, Nabila menepis semua pikiran buruk. Ia akan menerima konsekuensi apa pun.
"Jadi sekarang kita apa? Pacaran?" Tanya Egy bodoh.
"Mas aku tidak ingin pacaran, jika Mas sudah yakin kita langsung ke jenjang serius."
"Itu lebih baik, dan memang seperti itu yang Mas harapkan. Mas akan atur waktu yang tepat, untuk kenalin kamu ke kamu. Mungkin setelah proyek kita selesai, biar Mas bisa fokus."
"Iya Mas. Gimana baiknya saja." Nabila menurut.
Ah sungguh indah khayalan Egy sekarang. Tak lama lagi, Nabila akan jadi miliknya seutuhnya.
...****************...
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Nabila baru sampai ke rumah. Baru ingin membuka pintu, kakinya terasa menginjak sesuatu. Nabila menurunkan atensinya ke lantai. Mawar merah? Sepucuk surat? Nabila mengerutkan keningnya.
Nabila mengambil mawar tersebut, dan juga surat, yang bertulis 'i wiil always say love to you'. Kerjaan siapa ini?
Nabila menatap lekat-lekat mawar dan kertas itu. Ini kejadiannya bukan sekali. Selama ini setiap hari kamis selalu ada yang mengirimkan hal yang sama kepadanya. Tapi ia tak tahu orangnya. Siapa yang iseng melakukan ini?
Nabila jadi bergidik ngeri, jangan-jangan selama ini ia punya penggemar rahasia, yang selalu membuntutinya, mengikutinya?
Pasalnya itu terjadi semenjak ia dan Nadeo bercerai. Mungkin saja kan orang itu tahu kalau dirinya sudah bercerai, lalu diam-diam orang itu menyukainya.
"Siapa sih yang kirim beginian? Kok aku kayak ngerasa aneh ya?"
__ADS_1
Nabila mencoba mengingat-ingat laki-laki yang kira-kira dekat dengannya, dan bisa jadi kenaruh hati padanya. Rekan kerja? Teman sekolah? Ah..., hampir tak ada yang mencurigakan, atau jangan-jangan Egy. Nabila hampir lupa pada laki-laki itu, ia kan belum pernah bertanya pada Egy. Siapa tahu dialah pelakunya. Selama ini kan dia selalu bersikap romantis. Nabila selalu punya niat untuk bertanya, tapi lagi-lagi ia lupa ketika beryemu Egy.
"Apa jangan-jangan Mas Egy ya? Apa aku telpon aja ya? Aku tanyain. Biar aku gak penasaran."
Sampainya Nabila di dalam kamar. Nabila segera mengganti mawar yang lama dengan mawar yang baru. Iya, itu adalah mawar yang di dapatnya selama ini. Nabila memasukkan mawar tadi ke dalam vas kaca. Ia kemang suka mawar, terutama mawar merah.Menurut Nabila mawar itu ibaratkan seorang perempuan yang pandai menjaga diri dengan durinya. Jika orang tergesa mengambilnya, maka terimalah perih dari goresan duri. Tapi jika hati-hati ketika mengambilnya, maka ia dapat menggenggam mawar tanpa melukai dirinya.
Nabila duduk di tepi ranjang, ia mengambil gawainya lalu menekan aplikasi hijau milik jan koum, lalu menelpon seseorang melalui aplikasi tersebut.
"Halo Bila?" Sapa dari seberang.
"Halo Mas?" Balas Nabila.
"Ada apa? Kamu udah nyampe rumah kan?"
"Udah Mas. Ada yang mau aku tanyain sama Mas nih!"
"Apa? Tanya aja."
"Mas ada ngirim bunga gak untuk aku?"
"Enggak!"
"Owhhh..." Nabila mengerucutkan bibirnya.
"Kamu pengin Mas kirimin bungan ya?"
"Eh, eng-"
"Besok Mas kirimin ya?" Potong Egy cepat.
"Iya deh." Sahut Nabila pasrah. Padahal bukan begitu maksudnya.
"Mas lanjut dulu ya? Mas lagi di jalan."
"Iya Mas."
Dan sambungan telpon pun terputus. Nabila menghela napasnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia jadi berpikir, siapa sih yang mengiriminya bunga mawar. Ok kalau orang itu suka sama dia, tapi kalu ternyata itu adalah orang jahat, dan ternyata psikopat bagaimana? Seperti yang ada di film-film. Nabila menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk itu.
Akhirnya Nabila muncul ide di kepalanya. Apa ia intip saja? Wah ide yang bagus.
__ADS_1
Dan setelahnya tanpa sadar Nabila sudah terbang ke alam mimpi.
(Hay semua komentar dong. Siapa aja yang mau Nabila sama Egy?)