Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Memohon


__ADS_3

Semua yang dikatakan Arif kini bersarang dan berputar-pusing di otak Putri. Ia bertanya-tanya sendiri, benarkah selama ini ia terobsesi pada Egy? Yang membuatnya menyeret orang-orang yang tak bersalah karna obsesinya. Dan nenarkah juga ia hatus introspeksi diri? Seperti kata Arif kepadanya.


Malam itu Putri tak bisa tidur dengan tenang. Dan keesokan harinya ia menghubungi Nabila dan mengajaknya bertemu hari itu juga. Tentu saja Nabila menolak! Mana ada orang yang mau bertemu dengan orang yang terus saja mengancamnya.


Awalnya Nabila bersikeras menolak bertemu Putri dengan alasan tak lagi punya urusan dengannya, apalagi jika Putri ingin membahas tentang Egy, sungguh Nabila sudah muak dengan hal ini. Nabila mengatakan tak ada lagi urusan dengan Egy, dan meyakinkan Putri bahwa ia tak lagi mendekati Egy, namun Putri juga tetap keukeuh ingin bertemu Nabila. Dan bukan Putri namanya jika tidak memaksa Nabila sampai Nabila mau menuruti keinginannya. Bukankah ini adalah kelebihannya sedari dulu? Memaksakan orang untuk menuruti kemauannya? Terdengar kejam, tapi begitulah kenyataannya.


Alhasil Putri berhasil membujuk Nabila untuk bertemu dengannya siang ini, dan sebelumnya Putri sudah berjanji ini adalah kali terakhir ia mengajak Nabila bertemu. Dan sekarang Nabila sampai di cafe tempat mareka berjanji, tak jauh dari rumahnya. Rupanya Putri sudah lebih dulu datang.


"Maaf telat!" Ucap Nabila seraya mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Putri.


"Iya gak papa kok! Kita pesan dulu x ya?" Balas Putri.


"Boleh!" Jawab Nabila menyetujui.


Putri terdengar lebih ramah dari biasanya, dan sedikit membuat Nabila bingung. Tumben perempuan angkuh sepertinya berlagak ramah, belum lagi ketika tadi Nabila baru sampai, ia memberikan sebuah senyum yang terlihat tulus. Apa jangan-jangan ia sudah berhasil menaklukkan Egy? Begitu pikir Nabila. Tapi lagi-lagi terlihat mustahil. Wajah Putri sangatlah tampak tidak sehat, ia seperti orang yang sedang depresi berat.


Putri pun memanggik seorang pelayan, dan memesankan dua coklat panas untuk menemani perbincangan mareka. Dan tak.berselang lama pesanan mareka datang.


"Boleh aku ngomong sekarang?" Tanya Putri setelah menyeruput sedikit coklat, berharap dapat mengembalikan moodnya.


Nabila mengangguk.


"Kamu juga tahu alasan aku bertemu dengan kamu adalah Maa Egy." Ucap Putri terus terang.


Nabila mengangguk. Memangnya ada masalah lain di antara mareka selain Egy?


"Rasanya kata-kata ini sudah aku ucapkan ratusan kali sama kamu Nabila. Sebenarnya aku juga malu untuk mengatakannya sama kamu, tapi setidaknya kali ini aku menyertakan alasan yang jelas." Kata Putri terlihat putus asa.

__ADS_1


Nabila menautkan alisnya bingung. Ia tak bisa menebak maksud Putri.


"Tinggalin Mas Egy! Aku sudah pernah melahirkan seorang putra darinya."


Seorang putra? Ulang Nabila dalah hati. Pupil matanya membulat. Kaget. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu berseliweran dalam otak Nabila.


Apa ini hanya drama Putri saja? Perempuan ini kan begitu licik, jangan-jangan sekarang ia sedang melakukan perannya lagi. Pikirnya lagi.


"Malam itu Mas Egy mabuk." Putri mulai bercerita untuk menjawab pertanyaan dalam hati Nabila. "Dia depresi karna Papanya memaksanya kembali ke Indonesia untuk meneruskan perusahaan. Sedangkan Mas Egy enggan kembali ke Indonesia. Kamu tahu kenapa?" Tanya Putri


Nabila menggeleng. Ia tak begitu tahu tentang masa lalu Egy. Dan juga tak pernah bertanya.


"Mas Egy takut bertemu Raya. Jika kamu ingin tahu Raya yang mana, jelas itu madu kamu. Perempuan yang membuat Mas Egy lari ke USA. Dulu Raya lebih memilih Nadeo mantan suami kamu, daripada Mas Egy. Hingga Mas Egy kecewa berat." Jelas Putri.


"Memang semua salahku. Sebab aku yang merancang rencana perpisahan mareka." Aku Putri.


Putri menghela napasnya. "Jujur, aku sama sekali tak menolak, dan dengan senang hati melakukannya, walau saat itu Mas Egy tidak menyebut namaku dalam pergumulan kami. Aku berpikir mungkin cara ini akan mampu meluluhkan Mas Egy," Ungkap Putri sedikit sendu, "Rupanya aku salah. Sampai saat inu Mas Egy tak pernah membalas perasaanku."


Mendengar uraian cerita dari Putri, membuat Nabila bungkam. Ia tak mampu berkata apa pun, bahkan tak ada satupum kata yang bisa keluar dari bibirnya.


Siapakah di sini yang paling terluka? Tanya hati Nabila. Dirinya? Perempuan di depannya? Madunya? Manta suaminya? Atau Egy? Rasanya semuanya terluka.


"Kamu beruntung Nabila. Semua laki-laki menyukaimu." Lirih Putri dengan air mata yang sebentar lagi akan keluar, "Bahkan kakakku yang dulu selalu mendukungku, juga sudah mulai tergila-gila sama kamu. Tapi aku mohon, tolak dia!"


Hah? Kakaknya? Arifkah maksud Putri? Yang kemarin itu mengajaknya menikah secara tiba-tiba dan tak masuk akal. Belum selesai dengan pikirannya, Nabila malah dikejutkan dengan kelakuan Putri yang kini sudah bersimpuh di kakinya. Apa yang Putri lakukan?


"Put? Kamu ngapain?"

__ADS_1


"Aku mengakui Bil! Aku kalah!" Lirih Putri. Sepertinya ia menangis.


"Put, jangan begini, malu diliatin orang-orang!"


Nabila berusaha menarik tangan Putri, namun Putri menolaknya.


"Biarin aku memohon Bil! Tolak Mas Egy! Tinggalin dia! Kalau kamu gak mau lakuin untuk aku, tolong lakukan untuk anak aku." Pinta Putri dengan menangis. "Haizi, namanya Haizi."


Nabila diam. Melihat Putri sekarang seperti bukanlah Putri yang ia kenal beberapa bulan yang lalu, yang angkuh dan sombong. Kini Putri merendahkan dirinya memohon pada Nabila demi sebuah cinta Egy. Jujur saja kali ini Nabila bersimpati pada Putri.


"Aku ingin berusaha supaya Mas Egy mau menerima Haizi di sana. Dia masih bayi aku tinggalkan di sana."


Nabila mengangguk mengerti. "Aku bersedia!" Putus Nabila. Ia yakin ini adalah keputusan paling benar dalam hidupnya. Ia tak ingin menjadi wanita yang kejam yang rela memisahkan anak dengan ayah kandungnya.


"Terimakasih Bila." Ucap Putri tulus.


Barulah setelah itu Putri bangkit dan berdiri. "Boleh aku peluk kamu?" Tanya Putri penuh harap.


Nabila sedikit kaget, namun setelahnya ia mengangguk. Kali ini Nabila tak melihat Putri sebagai perempuan, melainkan seorang Ibu yang begitu hebat. Nabila pun berdiri menerima pelukan Putri yang menangis di pelukannya.


"Terimakasih Bila! Sekarang aku tahu mengapa mareka suka kamu. kamu wanita hebat."


"Kamu juga hebat, Ibu yang hebat!" Balas Nabila.


Rela. Sungguh Nabila rela melakukannya. Namun apakah Egy menerima keputusannya? Rasanya tak akan semudah itu.


Maaf ya readers ku kemaren aku gak up, soalnya ya sibuk dan punya acara. Btw aku mau cerita, aku sedih novel aku turun dua level. Mohon untuk dukungannya ya? Supaya bulan depan bisa naik level lagi.

__ADS_1


__ADS_2