
"Alhamdulillah!!" Itulah kata pertama yang keluar dari bibir Nadeo saat tahu istri kecilnya sudah sadar.
Nadeo mencium tangan Nabila yang nampak masih belum punya tenaga apa pun. Air mata Nadeo luruh begitu saja ketika melihat istrinya.
"Terima kasih sudah mau bertahan." Ucap Nadeo serak.
"Aku kenapa Mas?" Tanya Nabila dengan suara kecil, hampir tak terdengar. "Kok di rumah sakit?"
Haruskah Nadeo menjawab pertanyaan itu?
"Kamu sudah jemput Pakde dan Bude?"
"...."
"Mareka di mana?"
"Pakde baru saja pulang. Tadi ke rumah Mama."
"Terus aku kenapa?"
Nabila mencoba mengingat lagi, apa yang terjadi padanya terakhir kali. Ia berlari kecil di tangga hingga membuatnya terpeleset dan jatuh.
"Mas...?"
"Iya?"
"Kandungan aku gimana?" Tanya Nabila pelan disertai pengharapan.
Nadeo menunduk. Tak sanggup mengatakan yang sebenarnya.
"Mas?" Panggil Nabila lembut. "Kenapa hanya diam?"
Dengan berat hati Nadeo menjawab. "Kamu keguguran Bil!"
Rasanya seperti dihantam dengan batu besar mendengar jawaban Nadeo. Nabila berharap Nadeo sedang berbohong. Atau ia sedang ngeprank, sekarang kan sedang maraknya begitu. Nabila berharap Nadeo akan mengatakan 'Aku ngeprank!!' Tapi kalimat itu tak kunjung keluar dari bibir Nadeo. Itu artinya Nadeo tidak berbohong.
"Mas Nadeo gak lagi berbohong kan?"
Mas, bilang kamu itu bohong.
Setelah sesaat, Nadeo dan Nabila saling terdiam. Mareka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Lama setelah itu Nabila bersuara.
"Lucu rasanya Mas, padahal baru kemarin dia ada dalam perut aku. Berdenyut seperti gelembung gas, bahkan seperti kupu-kupu. Sekarang dia pergi." Lirih Nabila.
__ADS_1
Raut wajahnya menunjukkan kesedihan dan kehilangan. Dan Nadeo tak tega melihat itu semua. Walau sebelumnya Nabila benci hamil, lama kelamaan ia nyaman dan sangat sayang calon anaknya. Tapi sekarang ia pergi.
Bukan hanya Nabila yang nerasakan sakit. Nadeo tak kalah sakit dan menderita. Ia juga kehilangan anaknya, bahkan di sini Nadeolah yang paling merasa tersiksa. Biasanya sebelum tidur ia akan mengelus, bahkan menciumnya. Sekarang sudah tiada. Belum lagi ia merasa gagal menjaga Nabila, dan tak bisa membahagiakan Mamanya.
"Ini salah aku Mas! Aku yang tidak hati-hati." Ratap Nabila. "Padahal aku udah tau lantainya licin, karna Mbak Raya baru selesai ngepel. Tapi aku ceroboh!" Sesal Nabila.
"Enggak! Kamu enggak salah!" Bantah Nadeo. "Aku yang salah Bil, gak becus jagain kamu!" Rutuk Nadeo.
"Andai saja aku kebih berhati-hati. Pasti semua gak akan terjadi. Pasti bayinya selamat, aku gak keguguran. Mungkin semua gak akan seperti ini."
"Bil, jangan salahin diri kamu. Mas yang salah sayang."
"Permisi Pak Nadeo, saya periksa istrinya sebentar ya?" Ujar Dokter laki-laki yang datang tanpa di sadari Nabila dan nadeo.
"Iya Dok, silakan!" Nadeo mempersilakan.
Dokter pun memeriksa Nabila ditemani seorang perawat. Setelah selesai Dokter menoleh ke arah Nadeo, ia ingin bicara dengan Nadeo.
"Pak Nadeo, seperti yang saya katakan kemarin. Istri bapak harus melakukan kuret untuk mencegah terjadinya kanker rahim. Karna masih ada jaringan yang tidak bersih. Takutnya jaringan yang tidak bersih itu bisa berkembang menjadi jaringan abnormal dan menjadi pemicunya sel kanker."
Nadeo menoleh ke arah Nabila, seolah bertanya 'bersediakah Nabila melakukan itu semua?' Nabila mengerti, ia mengangguk tanda setuju.
"Baik Dok." Nadeo setuju.
"Baik kalau begitu, nanti tolong tanda tangani surat persetujuannya ya? Agar bisa dilakukan secepatnya."
"Kalau begitu saya permisi ya?"
Dokter pun keluar diikuti oleh perawat yang sedari tadi sibuk mencatat.
Nadeo melirik Nabila penuh rasa bersalah karna telah menyeretnya ke dalam penderitaan yang seharusnya tidak Nabila rasakan. Ini akibat keegoisannya.
Nadeo memegang tangan Nabila. "Maafin aku ya? Harusnya kalau bukan karna aku, kamu gak ngerasain penderitaan seperti ini." Ucap Nadeo sungguh.
"Mas gak salah kok."
"Maafin aku Bil."
...****************...
Malam sudah sangat larut. Semikir angin yang berhembus semakin terasa menusuk kulit.
Rasanya tak ingin berlama-lama di luar, membuat Nadeo kedinginan. Setelah memasuki gerbang dengan setengah berlari, Nadeo akhirnya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Niatnya ingin mandi dan berganti baju. Rasanya hari ini ia lelah sekali. Apalagu tadi sore Nabila menjalani operasi kuretase. Jadilah Nadeo harus menunggu Nabila selesai.
"Mas gimana keadaan Nabila?" Tanya Raya ketika Nadeo baru masuk.
"Puas kamu?" Tanya Nadeo dengan nada langsung tinggi, yang membuat Raya terkejut.Apa salahnya? Ia hanya bertanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Nabila?" Tanya Nadeo lagi yang semakin dekat dengan Raya yang berdiri di dekat tangga.
Apa yang udah aku lakukan? Aku tidak melakukan apa-apa. Mengapa pertanyaannya seolah menuduh Raya melakukan sesuatu terhadap Nabila.
"Aku?" Tanya Raya menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi? Memangnya ada orang lain di sini?"
"Aku gak ngerti maksud kamu Mas!"
Sumpah! Raya memang tidak mengerti maksud Nadeo. Kemana arah pembicaraan laki-laki yang berstatus suaminya itu.
"Kenapa Nabila bisa sampai jatuh?"
"Aku gak tahu Mas, yang aku tahu Nabila jatuh sepertinya karna terpeleset di tangga. Mungkin lantainya masih licin, karna aku baru aja ngepelnya." Jawab Raya apa adanya.
Nadeo tidak menuduh Raya mencelakai Nabila kan? Mana mungkin Raya mendorong Nabila. Tapi kok kesannya seperti Raya sengaja mencelakai Nabila ya? Setidaknya itu yang dapat disimpulkan Raya melihat cara Nadeo bertanya. Seolah-olah dirinyalah penyebab Nabila jatuh.
"Siapa yang suruh kamu ngepel?"
Siapa? Memangnya siapa? Tidak ada. Dirinya sendiri lah. Lagi pula Raya selalu melakukannya kok!
"Gak ada Mas! Aku hanya berinisiatif, ku pikir tidak ada salahnya kan bersih-bersih rumah, karna Pakde dan Budenya Nabila akan berkunjung. Aku pikir mareka akan datang sore hari, jadi lantainya sudah kering. Lagian aku selalu melakukan itu kok!"
"Alasan!!" Sergah Nadeo. "Kamu sengaja kan ingin mencelakai Nabila?"
Tunggu. Maksudnya bagaimana ini? Raya sengaja ingin mencelakai nabila? Sungguh Raya tak pernah punya pikiran seperti itu. Walau ia iri Nbila hamil, tapi ia belum sekejam itu melakukan hal hina.
Raya menggeleng kuat, hatinya sakit dituduh seperti itu. "Enggak Mas! Aku gak ada maksud begitu aku.."
"Bohong!!" Potong Nadeo. "Kamu sengaja kan ingin mencelakai Nabila? Karna dia hamil! Kamu iri kan dia hamil?"
Memang Raya iri Nabila hamil. Tapi bukan berarti ia melakukan itu semua. lagi pula ia tak merasa marah Nabila hamil.
"Mas, aku gak tau kenapa kamu bisa berpikiran seperti iti. tapi kamu harus percaya aku gak pernah ada niat jahat sedikit pun sama Nabila. Aku anggap Nabila seperti adik aku sendiri."
"Jahat kamu! Sekarang kamu puas kan? Karna Nabila sudah keguguran!"
__ADS_1
"Apa? Nabila keguguran?" Tanya Raya shock.
"Halah gak usah sok terkejut. Ini kan yang kamu mau?"