
Setelah menjalani sidang putusan akhir. Kini sah! Nadeo dan Nabila bercerai. Nadeo menyandang status duda, dan Nabila menyandang status janda.
Kini mareka sama-sama berada dalam rumah berdiri berhadapan setelah pulang dari pengadilan.
"Mas! Ini cincinnya." Nabila memberikan sato kotak cincin pada Nadeo. Tak perlu ditanya lagi, itu cincin apa. Kalian pasti sudah tahu jawabannya, itu adalah cincin pernikahan mareka.
Rasanya hati Nadeo remuk. Ternyata mareka memang bukan siapa-siapa lagi. Andau saja waktu bisa di ulang. Nadeo akan memperbaiki semuanya. Mencintai Nabila, memberikan perhatian kepadanya. Dan yang pasti tidak akan Nadeo berikan celah pada laki-laki lain untuk mencintainya.
Hanya saja itu semua hanyalah andai. Kenyataannya sekarang ia dan Nabila tak lagi punya ikatan. Mareka telah jauh dan berbeda.
"Aku akan pergi dari rumah ini Mas." Ujar Nabila.
Nabila merasa tak punya hak sama sekali akan rumah ini. Tak ada harta gono-gini, mareka bukan layaknya pasangan pada umumnya.
"Jangan Bil, biar aku saja. Rumah ini adalah hak kamu. Biar Mas saja yang keluar, Mas akan tinggal di rumah Mama lagi, kasian Icha sendiri."
Nabila berpikir sejenak.
"Tapi Mas-" Nabila hendak menolak usulan Nadeo, tapi dengan cepat Nadeo memotong ucapannya.
"Gak ada tapi-tapi Bila. Kamu berhak tinggal di sini. Biar Mas yang pergi."
Sebenarnya Nabila enak tak enak menerima usulan Nadeo. Nabila merasa kurang pantas dan kurang berhak atas rumah ini. Tapi siapa yang akan mrmbantah ucapan Nadeo coba? Ah anggap saja ini adalah hadiah perpisahan. Setidaknya mareka berpisah secara baik-baik.
"Mas harap walau kita sudah bercerai, tapi hubungan kita tetap baik ya Bil?" Pinta Nadeo.
"Iya Mas. Aku harap juga begitu. Kita berpisah secara baik-baik." Kalimat Nabila jujur. Ia juga ingin menjalin hubungan baik, dengan Nadeo atau pun keluarganya.
Selama menjadi istri Nadeo, Nabila bersumpah keluarga Nadeo begitu baik kepadanya. Semua sayang dan suka pada Nabila. Namanya rumah tangga, baik keluarga, giliran suami yang tak baik. Begitu juga sebaliknya. Itu sudah menjadi hal lumrah di masa sekarang. Hanya sebagian kecil saja, mendapat ipar, mertua, dan suami yang baik. Tapi kadang kala bermasalah di keuangan. Sungguh tak ada yang sempurna.
"Kalau gitu, Mas berkemas dulu ya Bil?"
Nabila mengangguk. Dan kemudian Nadeo masuk ke dalam kamar dan mengemasi semua barang dan bajunya.
Tak berselang lama, Nadeo keluar dengan satu koper di tangannya.
"Mas pamit Bil!" Ujar Nadeo.
"Iya Mas hati-hati."
Nabila yang duduk di sofa bangun dan menghampiri Nadeo. Nabila mengantar Nadeo sampai ke ambang pintu, sebagai salam perpisahan mareka. Tapi kok kesannya masih seperti suami istri sih? Namanya juga berpisah secara baik-baik ya?
Tapi kenapa tiba-tiba rasanya berat ya melepas Nadeo? Padahal tadinya itu keinginannya. Gimana sih?
__ADS_1
"Bila, apa kamu gak papa tinggal sendiri?" Tanya Nadeo ketika sudah sampai di ambang pintu.
Nabila tersenyum. "Gak papa kok Mas."
"Apa Mas suruh Icha saha ya tinggal sama kamu? Kamu di sini gak ada yang jagain. Mas jadi khawatir."
Kenapa rasa khawatir itu baru datang sekarang? Kenapa tidak lima tahun yang lalu?
Nabila menggeleng. "Gak usah Mas, gak papa."
"Kalau ada apa-apa jangan sungkab untuk telpin Mas ya? Mas akan selalu ada untuk kamu."
Nah! Nah! Lagi kan? Segala bentuk perhatian itu baru datang sekarang. Romantisnya kenapa saat mau berpisah sih Bambang? Coba kalau dari dulu.
"Iya Mas."
Nadeo pun melangkahkan kakinya dengan koper di tangannya. Langkahnya terasa berat. Jika boleh meminta. Bolehkah ia masih di sini? Ia tak ingin pergi, hatinya sudah terpatri di sini.
Di langkah kaki yang ke lima Nadeo berhenti. Ia membalikkan badannya, dan melihat Nabila yang masih berada di ambang pintu. Nabila melemparkan senyum pada Nadeo. Tidak bisa! Nadeo segera menghampiri Nabila lagi.
Nabila menatap Nadeo aneh seolah bertanya 'ada apa'.
"Bil, boleh gak kalau Mas berusaha mengambil hati kamu?"
Nabila diam. Haruskah ia menjawab pertanyaan konyol itu?
"Diam berarti setuju." Putus Nadeo sendiri.
Dasar lelaki satu ini, main putuskan sendiri saja. Kalau ternyata Nabila tidak setuju gimana? Pede sekali Nadeo ini.
"Mas?" Nabila melotot ke arah Nadeo.
"Mas janji akan dapatkan hati kamu kembali Nabila."
Tanpa menunggu jawaban Nabila, Nadeo melangkahkan kakinya pergi. Ia tak bercanda tentang perkataannya tadi. Ia serius untuk mendapatkan hati Nabila kembali. Katakanlah ia serakah, tapi rasanya ia tak peduli akan hal itu. Persetan dengan Egy yang akan mendekati Nabila.
...****************...
Sepi! Itu kata yang terlintas dalam benak Nabila ketika ia kini hanya tinggal sendiri. Ah rasanya semua berlalu begitu cepat. Ia yang keguguran, Raya yang pergi dari Nadeo, Bu Ningrat yang meninggal, dan sekarang pernikahannya dengan Nadeo juga sudah berakhir.
Betapa semua terjadi secara tiba-tiba, seoalah takdir sedang bercanda dengan nasibnya.
Nabila menarik napas pelan dan membuangnya. Ia akan menelpon Bude. Bude sempat mengirimkan pesan padanya, bertanya tentang sifang perceraiannya. Dan Nabila belum sempat membalasnya.
__ADS_1
Nabila mengambil gawainya dan menekan nomor Budenya. Berdering sebentar lalu tersambung.
"Assalamualaikum Bude?"
"Waalaikum salam Nak!" Jawab Bude dari seberang. "Gimana persidangannya lancar? kamu baik-baik saja kan? Nadeo kemana?" Bude langsung mencecar Nabila dengan pertanyaannya.
"Lancar Bude."
"Kalian berpisah?"
"Iya Bude."
"Ya sudah kalau itu yang terbaik untuk kalian." Ada nada kecewa dari kata-kita Bude. "Kok rasanya Bude tidak ikhlas ya Bil?"
"Maksud Bude?"
"Ya..., tidak apa-apa. Bude hanya merasa kalau Nadeo itu tulus sama kamu."
Nabila juga merasakan hal yang sama dengan Bude. Tapi ia tak bisa mengutarakannya. Padahal awalnya ia semangat berpisah dengan Nadeo. Tapi setelah perpisahan itu terjadi, kenapa ia tak merasa bahagia? Justru rasanya hambar. Apa sebenarnya ia masih mencintai laki-laki itu? Tidak! Tidak boleh! Ia tak boleh terkecoh dengan kebaikan Nadeo. Ayok Nabila, ingat lagi bagaimana dulu Nadeo memperlakukanmu.
"Bil? Bila?" Pakde memanggil Nabila.
"Iya Bude."
"kamu kenapa?"
"Gak papa Bude."
"Bude panggil kamu gak jawab."
"Maaf Bude, gak ada signal."
"Owh Bude pikir kenapa. Kamu tinggal di mana sekarang?"
"Masih di sini Bude. Mas Nadeo yang pindah. Katanya rumah ini hak aku."
"Alhamdulillah kalau gitu. Kamu gak perlu repot cari tempat tinggal lagi. Tapi kamu di situ sendiri gak papa?"
"Gak papa Bude. Bude Nabila tutup ya telponnya?"
"Iya. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Bude ya?"
"Iya Bude "
__ADS_1
Sambungan telpon terputus. Dan Nabila akan memulai hari barunya tanpa ada lagi Nadeo dalam kamusnya.