
"Mas? Apa kita lapor polisi aja ya?" Tanya Soegi memberi usul.
"Jangan dulu deh Gi." Tolak Nadeo akan idenya.
"Aku takut terjadi apa-apa sama Mbak Nabila Mas!" Ungkap Soegi khawatir.
"Iya Mas ngerti. Lapor polisi bukan hal yang tepat untuk saat ini." Sahut Nadeo.
Menurut Nadeo lapor polisi bukanlah hal yang tepat, bukan maksudnya meragukan polisi, tapi jika lapor polisi pasti orang yang menculik Nabila sudah tahu bahwa mareka bertindak. Belum lagi akan ada berita orang yang hilang di TV, takutnya Bude dan Pakde yang melihay itu menjadi khawatir.
"Mas kenal ya sama orang yang culik Nabila?"
"Mas belum yakin sepenuhnya, tapi kita akan cari tahu."
Nadeo menghentikan mobolnya di sebuah rumah yang masih betada di kawasan Jakarta. Sebuah rumah minimalis bertingkat dua yang didominasi dengan carmt warna putih. Sedikit lebih besar daripada rumahnya dengan Nabila.
"Ini rumah siapa Mas?"
"Rumah temennya Mas. Ayok turun!" Ajak Nadeo.
Soegi mengangguk. Mareka berdua turun dari mobil dan langsung saja menuju ke rumah itu.
Tok! Tok! Tok!
Suara Nadeo mengetuk pintu, tak lupa ia juga memberi salam. Tak lama setelahnya seorang pria yang mamakai celana jeans selutut membuka pintu. Ia mengenakan kaos over size dan juga sebuah kaca mata bulat yang menghiasi wajahnya. Nampaknya sih orang yang pintar.
Nadeo melempar senyum pada pria itu, dan dibalas dengan begitu ramah.
Laki-laki yang Nadeo katakan mempunyai nama Budi itu akhirnya mempersilakan Nadeo dan Soegi masuk, dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Gi! Kenalin ini kawan Mas, namanya Budi. Kamu bisa panggil dia Mas Budi." Jelas Nadeo.
Soegi hanya manggut-manggut. Ia tersenyum pada Budi, yang dibalas juga.
"Aku gak mau basa-basi Bud! Aku mau minta tolong!" Ungkap Nadeo langsung atas keinginannya.
"???"
Budi agak sedikit bingung.
"Bisa bantu aku lacak nomor?"
Laki-laki yang bernama Budi itu semakin bingung.
"Nanti aku jelasin." Ucap Nadeo seolah menjawab pertanyaan di benak Budi.
"Kami lagi buru-buru, bisa sekarang gak?" Pinta Nadeo.
Padahal sekarang banyak Aplikasi pelacak nomor Hp, tapi Nadeo lebih mempercayakan pada Budi, seorang intel yang sudah ahli dalam melacak nomor HP.
__ADS_1
"Ok!"
Mareka sekarang berada di depan layar monitor yang seolah menunjukkan satu lokasi. Budi yang duduk dan mengendalikan layar itu, sedang Nadeo dan Soegi berdiri di sebelah kiri dan kanannya. Namun atensi mareka tetap sama yaitu pada layar komputer.
"No yang kamu kasih ini, dua-duanya pernah berada di sini. Dan memang lama, Hanya saja tidak dalam waktu bersamaan." Jelas Budi.
"Kamu yakin lokasinya di situ kan?" Nadeo memastikan.
"Gak percaya sama aku?" Tanya Budi yang seolah Nadeo meragukannya.
"Percaya." Nadeo mengangguk.
Tiba-tiba ponsel Nadeo berbunyi.
"Aku angkat dulu ya?" Izin Nadeo.
Soegi dan Budi mengangguk. Nadeo pun permisi sedikit lebih jauh dari mareka. Setelah sekitaran lima menit Nadeo pergi, ia kembali lagi. Ia sudah selesai menelpon.
"Gi, kita lanjutin besok gak papa kan? Mas ada pasien di rumah sakit."
"Iya Mas! gak papa kok."
...****************...
Ini adalah hari ke tiga Nabila berada di sini. Ia masih dalam keadaan sama, tangannya masih terikat. Dan pastinya ia lemas. Setelah kemarin ia hanya memakan sepotong roti bekas gigitan Arif, setelahnya ia tak makan lagi, sampai sekarang. Jangan berpikir Nabila tak diberi makan. Arif belum sampai ke titik sekejam itu, Nabila sendiri yang tak mau makan.
Seperti siang ini, Arif datang lagi dengan membawa kantong plastik putih berisi berbagai macam makanan. Arif melempar senyum kepada Nabila sebelum akhirnya ia duduk di kursi yang ada di hadapan Nabila.
"Gimana sayang?" Sapa Arif dengan senyumnya liciknya, namun kali ini tak semenakutkan seperti kemarin.
Nabila membuang wajahnya agar tak bertatap muka dengan Arif, pria yang masuk ke dalam list orang yang akan dibencinya.
"Sudah makan?" Tanya Arif santai tanpa ada rasa bersalah.
"Aku bawain kamu banyak makanan, kamu mau makan yang manan?" Cecarnya lagi sambil mengobrak-abrik isi kantong plastiknya.
Nabila tak menjawab.
"Ini aku juga bawain buah buat kamu,"
"Mau disuapin aku lagi enggak?" Cecar Arif.
Nabila masih tak bergeming.
"Diam artinya setuju dan mau." Putus Arif.
"Aku mau kamu lepasin aku!!!" Teriak Nabila kencang dengan emosi.
Arif menyipitkan matanya lalu tersenyum licik. "Kamu mau aku lepasin kamu?"
__ADS_1
"Aku udah bosan di sini," Pekik Nabila.
Arif menghela napasnya, lalu ia bangun dari tempat ia duduk lalu mulai mengitari Nabila lambat.
"Kamu pikir aku akan menyekap kamu selamanya di sini?" Sambil tertawa pelan. "Aku juga gak mau kok repot-repotin diri sama kamu. Begitu ada yang datang ke sini, kamu langsung kulepas."
Kemudian Arif berhenti dan mendekatkan wajahnya pada Nabila, agar tatapan mareka bertemu.
"Aku hanya ingin kasih kamu pelajaran, biar kamu kapok dan gak akan berani deketin Egy lagi." Ucap Arif tajam.
"Berapa kali harus aku bilang, aku udah gak punya hubungan lagi sama Mas Egy."
"Ya tetap saja, omongan kamu gak bisa dipercaya, kamu harus dibuat kapok dulu." Ujar Arif yang sudah berdiri tanpa menatapnya lagi.
"Atau gimana kalau kita menikah saja?" Tawar Arif.
Nabila langsung menggeleng tak suka. "Gak gak sudi!"
"Kalau gitu, patuhi apa yang ku perintahkan. Dan satu lagi! Kalau kamu terlepas dari sini, jangan coba-coba untuk lapor polisi, kalau gak?" Arif menarik dagu Nabila dan menekannya, sampai wajah Nabila terdongak menatap wajah Arif yang kini mentatapnya tajam.
"Aku gak akan segan-segan bikin keluarga kamu menanggung akibatnya." Nadanya oenuh dengan ancaman. Kemudian Arif melepasnya kasar.
Nabila menelan salivanya. "Iya aku mengerti." Ucap Nabila pelan.
Arif tersenyum picik. "Bagus kalau kamu ngerti."
"Sekarang lepasin aku!"
"Aku kan sudah bilang, kamu akan terlepas kalau ada yang nolongin kamu ke sini."
"Kamu tahu gak sih? Selama di sini aku gak pernah sholat. Kamu bukan orang islam ya?"
"Enak aja, gini-gini aku muslim kok!" Bantah Arif.
"Buktinya nyekap aku, dan gak biarin aku beribadah."
Deg!
Ibadah? Oh tuhan! Bahkan Arif hamoir tidak pernah melakukan itu dalam hidupnya. Ia tak pernah mengingat itu, justru tawanannya yang mengingatkannya. Arif buru-bur menepis pikirannya dan bersikap biasa aja.
"Aku curiga, jangan-jangan kamu gak oernah solat ya?" Tembak Nabila langsunh.
Sholat? Ah bahkan Arif hampir lupa kapan terakhir kali melakukannya. Tapi agar tak kelihatan bahwa ia manusia seperti itu, segera ia menyangkalnya.
"Enak aja! Lagian ini juga belum waktunya sholat kok!"
"Walau gitu, kamu pikir aku tuh apa? Gak pengen pipis gitu? Lagian ini juga hampir zuhur kok!"
"Iya aku lepasin, tapi ingat cuma sebentar." Pasrah Arif. "Awas kalau sampe berani kabur!"
__ADS_1