Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Mawar Merah


__ADS_3

Keluarga harmonis bahagia duduk bersama di meja makan, menyantap hidangan malam. Sesekali terdengar tawa kecil menghiasi makan malam mareka. Walau ada yang kurang, tapi itu tak membuat keluarga itu tak bahagia. Meski sesekali dilanda rindu, tapi itu bukanlah hal yang serius.


Pak Muhajir, kehilangan sosok istrinya belasan tahun yang lalu. Namun ia menilih untuk tidak menikah lagi. Ia lebih memilih fokus menjaga kedua anaknya Arif dan putri.


"Ini anak-anak Papa sudah pada besar, apa belum ada yang punya calon nih?"


Arif dan Putri saling melempar pandangan, seolah saling mendesak untuk menjelaskan.


Usia Arif yanh sudah mapan, memang sudah layak mempunyai seorang istri. Begitu juga Putri yang berumur dua puluh tujuh tahun, rasanya tak buruk menikah di usia seperti itu.


"Aku sih kalau Putri sudah menikah Pa. Aku mau lindungin Putri dulu." Jawab Arif jujur. Memang ia sangat menyayangi adiknya.


"Gaya mu Mas mau ngelindungu aku, kayak aku anak umur lima tahun saja." Sahut Putri.


"Umur empat puluh saja, kamu masih keluatan bocah di mata Mas. Kamu tetap Putri, adik kecilnya Mas."


Putri sok bergidik ngeri mendengar penuturan Abangnya. Tapi dalam hati jelas ia senang. Walau tanpa seorang Mama, ia tak kekurangan kasih sayang orang terdekatnya.


"Mas nyebelin! Makanya selama ini gak ada yang berani deketin aku, takut sama Mas. Alhasil aku jomblo terus."


"Baguslah, itu artinya mareka gak serius sama kamu. Mas kan gak apa-apain mareka, ngapain takut sama Mas?"


"Eh udah-udah" Pak Muhajir menengahi. "Memang Putri gak ada pilihan sendiri?" Tanya Pak Muhajir.


Putri terdiam. Ia malu untuk mengungkapkannya.


"Sebenarnya ada, tapi..." Putri tak melanjutkan lagi ucapannya.


"Tapi kenapa Nak?" Tanya Pak Muhajir menaikkan sebelah alisnya.


"Putri gak tahu, orang itu suka sama Putri atau enggak." Jawab Putri kurang semangat.


"Boleh Papa tebak?"


"???" Putri menaikkan alisnya.


"Egy!" Ujar sang Papa.


Putri tersenyum malu-malu. Rupanya Papanya sangat mengerti dirinya. Tanpa di beri tahu pun, ia sudah dapat membaca isi hati Putri.


"Kalau itu mah gampang." Kata Pak Muhajir, seolah itu bukan masalah besar.

__ADS_1


"Iya nih dek." Arif ikut membenarkan. "Kita udah lama berteman, mustahil Egy gak suka sama kamu. Kalau pun dia gak suka, akan Mas buat dia suka sama kamu."


...****************...


Hari ini hari kamis. Seperti biasa, Nabila yakin akan ada orang yang datang mengiriminya bunga hari ini. Nabila akan menunggu. Menunggu Orang tersebut. Ia akan mnejawab rasa penasarannya selama ini, hari ini.


Nabila sudah punya rencana untuk bertanya pada orang tersebut. Punya maksud apa orang itu mengiriminya bunga? Menyukainya? Atau menjahilinya? Baikkah niatnya? Atau burukkah? Nabila akan segera mengetahuinya.


Nabila duduk di kursi rotan yang berada diteras. Atensinya menyapu setiap sudut yang ada di halaman rumahnya, berharap orang itu akan segera datang.


Nabila yakin orang itu akan segera datang sekarang. Benar saja dugaan Nabila. Tak lama setelahnya datanglah seorang pria dengan mawar merah dan juga sepucuk surat seperti biasanya. Pria itu semakin mendekatinya. Nabila berdiri menyambut orang tersebut.


"Nabila?" Tanya sang pria itu memastikan.


Nabila mengangguk. "Iya saya Nabila."


Pria itu langsung memberikan mawar merah, dan juga sepucuk surat.


"Mas?"


"Iya?"


"Kalau boleh tahu siapa pengirimnya ya?"


"Oh ya sudah Mas, terimakasih." Ucao Nabila dengan nada putus asa.


"Kalau gitu saya permisi Mbak, ada yang harus saya antar lagi."


"Oh iya Mas, terima kasih." Sahut Nabila disertai anggukan.


Dan pria dengan jaket logo hijau khas aplikasi ojen online tersebut pergi. Iya. Pria yang datang itu adalah ojek online. Dia bukanlah sama sekali orang yang dapat menjawab rasa penasaran Nabila.


Atensi Nabila berpindah pada mawar dan surat yan sama. Kenapa orang tersebut tak mau menampakkan batang hidungnya fi depan Nabila? Atau jangan-jangan fia adalah penguntit? Punya niat jahat padanya? Nabila menggeleng cepat, kembayangkan kilatan-kilatan pikiran buriknya.


...****************...


Putri membantu Bu Yura memasak. Dengan telatennya ia memotong beberapa sayur yang hendak di masak.


Yapzz, ia memang sedang bertandang ke rumah Egy. Ia akan makan malam di sini.


"Tante?" Panggil Putri.

__ADS_1


"Iya sayang." Jawab Bu Yura lembut.


"Mas Egy jam berapa pulang?"


"Itu anak gak bisa ditebak. Kadang sampe karut malam loh!"


Putri mengerutkan dahinya. "Tapi?"


Seolah tahu maksud Putri, Bu Yura langsung memotong ucapannya.


"Iya. Dia pulang awal malam inj. Tante sudah bilang ada kamu." Ucap Bu Yura sambik terus mengaduk masakannya.


Bu Yura adalah tipe perempuan yang gemar memasak. Untuk sarapan, makan siang dan makan malam, ia selaku menyiapkan itu semua sendiri. Kalau di tanya ada pembantu gak? Jawabannya ya jelas ada dong. Orang sekaya itu gak punya pembantu? Mustahil. Tapi ya itu, pembantu yang urusannya bagian bersih-bersih, untuk memasak ia tetap melakukannya sendiri. Kecuali sedang malas atau sakit saja urusan masak-memasak di alihkan oada pembantu. Ok kembali ke topik awal.


"Mas Egy sibuk banget kayaknya ya tan?"


"Dia kayaknya sangat mencintai pekerjaannya Put, bahkan dia tetap ke kantor, walaupun sakit."


"Segitu cintanya sama pekerjaan?"


"Padahal seingat aku, dulu Mas Egy gak mau pulang dari USA, katanya malas harus pegang perusahaan di sini." Kata Putri di iringi senyum, mengingat betapa berubahnya Egy.


Benar saja. Sulit sekali memaksa Egy pulang ke Jakarta untuk mengurus perusahaan. Tapi sekarang kedengarannya, egu seperti orang yang gila bekerja.


Bu Yura terkekeh. "Padahal ada perempuan yang dia cinta, tante baru tahu. "


Seketika senyum di bibir Putri luntur. Apa yang tadi Bu Yura Katakan? Ada perempuan yang Egy cinta? Siapa itu?


Putri masih berharap, yang di dengarnya tadi adalah salah, atau hanya halusinasi saja.


"Maksud tante?"


"Itu loh! Katanya ada yang dia suka sekarang."


Sah sudah sakit hatinya Putri. Yang tadi didengarnya adalah nyata, bikan hanya sekedar halusinasi. Padahal ia kembali untuk Egy.


"Tante kenal?"


Bu yura menggeleng. "Belum. Setelah proyeknya selesai akan dikenalin. Makanya tuh anak rajin kerja, biar proyeknya cepat rampung, dan dia kenalin calonnya deh."


"Oh..." Hanya itu yang mamou Putri ucapkan untuk merespon perkataan Bu Yura.

__ADS_1


"Tadinya mau tante jodohkan sama kamu. Tapi ternyata dia sudah punya pilihan sendiri. Tante juga bahagia mendengarnya.


Tapi Putri yang tidaj senang mendengatnya. Pulang jauh-jauh untuk Egy. Tapi Egy untuk orang lain.


__ADS_2