
Seminggu berlalu. Hari berjalan begitu saja. Egy selalu datang ke rumah Nabila, namun Nabila tetap bersikeras tak mau lagi bertemu dengannya.
Tak berbeda jauh dengabn Egy, begitu pula sikap Nabila pada Nadeo. Nabila masih menghindari Nadeo.
Namun Nadeo tak mau mengendorkan usahanya, kali ini ia datang lebih awal hingga Nabila tak dapat menolaknya.
"Sebentar saja Bil!" Pinta Nadeo ketika melihat Nabila ingin menghindarinya.
Dan akhirnya di sinilah Nabila dan Nadeo sekarang. Duduk bersama di kursi panjang yang ada di taman belakang rumah.
"Bil? Aku ingin menagih jawaban dari kamu." Ujar Nadeo terus terang akan niatnya.
Diam. Batin Nabila menjerit, apa ini tidak terlalu cepat? Bahkan ia belum sempat memikirkan hal itu.
"Sekali ini saja ya? Kasih Mas kesempatan." Nadeo menatap Nabila sendu minta dikasihani.
Masih diam.
"Mas rasa seminggu kemarin cukup untuk kamu berpikir Bil!"
"Mas..." Lirik Nabila.
"Iya Bila?" Nadeo menatap Nabila lekat-lekat.
"Kenapa sih Mas terus-terusan ngejar aku? Mas bisa seharusnya mencari perempuan lain yang lebih baik dibanding aku."
"Karna Mas cintanya sama kamu. Coba kalau Mas cinta orang lain, mana mungkin Mas ngejar kamu."
Bener juga sih jawaban dari pak Dokter ini.
"Mas..., aku gak mau jadi pelampiasan Mbak Raya." Akhirnya bisa juga Nabila mengungkapkan isi hatinya ini.
"Astagfirullah Nabila!" Seru Nadeo tak habis pikir, "Sudah sekian lama, kamu masih berpikiran seperti itu?"
Tentu masih. Nabila masih menganggap dirinya adalah pelampiasan dari Raya walau Nadeo sudah berkorban sedemikian rupa.
"Okelah Bil, Mas akan menceritakan alasan Mas bersama Raya. Sepukuh tahun yang lalu..."
Nadeo pun bercerita tentang panjangnya perjalanan kisahnya dengan Raya yang berawal dari Raya yang meminta tolong untuk membantunya. Raya ingin Nadeo menjadi kekasih pura-puranya, agar ia bisa lepas dari Egy.
Bukan! Bukan karna Raya tak mencintai Egy, tapi karna ia terlalu mencintai pria itu hingga membuatnya harus meninggalkannya. Raya tak ingin karna keegoisan cintanya, akqn menjerat Egy ke dalam jurang hidupnya.
Putrilah yang menciptakan jurang itu. Maka Raya hanya punya dua pilihan, meninggalkan Egy atau bersedia di dorong oleh Putri ke dalam lembah jurang, namun jika ia bersedia di dorong ke dalam jurang itu, Egy pun akan ikut bersamanya.
__ADS_1
Lebih jelasnya, Putri mengancam Raya agar meninggalkan Egy. Jika tidak, makan kasus prostitusinya dulu akan kembali mencuat ke media. Tak hanya karirnya saja yang hancur, nama Egy juga akan ikut terseret karna punya hubungan asmara dengannya, dan Raya benar-benar tak ingin itu terjadi pada orang yang ia cinta.
"Jahat kalau Mas bilang sekian lama bersama Raya, tapi Mas bilang tidak mnecintai dia. Katakanlah saat itu Mas mencintainya. Mas benar-benar sudah melupakan dia Bil. Tapi sejak kamu masuk ke dalam hati aku Bil, kamu benar-benar menguasai hatiku sendiri. Dan sekarang hanya kamu satu-satunya perempuan yang Mas cinta. Kalau seumpamanya Mas masih cinta sama Raya, Mas akan ngejar dia, seperti yang Mas lakukan sama kamu sekarang. Mas gak akan biarkan kehilangan orang yang Mas cinta." Jelas Nadeo panjang.
Nabila tercengang mendengar semuanya.
"Jadi gimana jawabannya sama kamu?"
"Mas..., aku masih harus berpikir."
"Gak papa Bila kalau kamu mau menolak, itu hak kamu kok!" Pasrah Nadeo.
"Tapi setidaknya Mas sudah memperjuangkan cinta Mas! Selebihnya Mas serahkan pada waktu. Mas yakin kok, Kalau kamu jodohnya Mas, sejauh apa pun kamu pergi, kamu akan kembali sama Mas. Sebaliknya juga, kalau kamu bukan jodohnya Mas, sekuat apa pun Mas berusaha kamu gak akan jadi milik Mas. Mungkin dengan cara Mas berpikir seperti ini Mas tidak akan terlalu kecewa ketika nantinya kamu menolak Mas. Mas juga gak punya kepercayaan diri tinggi kamu akan menerima Mas, setelah apa yang telah Mas lakukan sama kamu."
Diam. Nabila masih tak tahu harus mengatakan apa.
...****************...
Hari terus berganti, dan waktu terus berjalan tanpa mau menunggu. Setelah tempo lalu Nadeo menagih jawaban dari Nabila, ia tak pernah lagi menanpakkan batang hidungnya di depan Nabila. Sempat Nabila berpikir, apakah pria itu sudah menyerah sampai di sini?
Hari ini Nabila tak ada kegiatan, kantornya pun libur. Jadi ia berleha-leha saja di balkon rumahnya.
Namun dering telepon membuyarkan lamunannya. Ia melihat gawai yang ada di tangannya, dan nama yang tertera adalah 'Bude'. Nabila segera menggesek layar pada warna hijau.
"Assalamualaikum?" Sapa Bude di seberang.
"Gimana Nak kabar kamu?" Tanya Bude penuh rindu.
"Alhamdulillah baik Bude, Bude sendiri gimana?" Balik tanya Nabila.
"Alhamdulillah baik juga."
"Soegi, Pakde?"
"Sama! Semuanya sehat-sehat dan baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu Bude, Nabila juga senang dengarnya. Bude mau bilang sesuatu?"
"Iya."
"Mau bilang apa Bude?"
"Itu..." Bude tak langsung melanjutkan kalimatnya, ia nampak ragu-ragu.
__ADS_1
"Bude lagi butuh uang?" Tebak Nabila. Bisa saja Budenya sedang butuh uang, tapi sungkan mengatakannya.
"Bilang saja Bude tak perlu sungkan. Sekarang Nabila sudah kerja lagi kok. dan gajinya juga lumayan. Bude butuh berapa?"
"Bukan. Bukan itu. Uang yang Nabila kirim kemarin masih ada kok."
"Terus apa dong Bude?" Tanya Nabila bingung, "Bilang saja Bude kalau Bude mungkin mau minta tolong, Nabila gak keberatan kok!"
"Sebenarnya..., ada yang melamar kamu nak!"
"Melamar?" Beo Nabila.
"Iya."
"Siapa Bude yang melamar Nabila?"
Lama Bude diam, lalu ia menjawab."Nadeo Nak!"
"Mas Nadeo?" Tanya Nabila meyakinkan.
"Iya! Dia membawa keluarganya ke sini dua hari yang lalu, untuk melamar kamu."
Itukah Alasan kemarin Nadeo tak menemuinya? Ia malah menemui keluarganya? Nabila dibuat shok dengan berita yang didapat dari Budenya.
"Lantas, apa yang terjadi?" Tanya Nabila.
"Semuanya tergantung sama kamu Nabila, Pakde dan Bude tidak ingin salah dalam mengambil langkah yang akhirnya membuat kamu menderita. Pakde dan Bude serahkan semua keputusan sama kamu, kamu mau menerima atau tidak itu hak kamu."
Diam.
" Bude dan Pakde hanya memberikan saran saja Bila. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Jangan juga terjebak dengan masa lalu. Jika kamu terua membayangkan masa lalu, maka kamu tidak akan bisa melihat masa depan. Tidak ada yang sempurna Bila. Nadeo juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Tapi cobalah lihat perjuangannya sekarang. Begitu pula dengan Egy. Bude juga tahu semuanya tentang Egy, dia juga punya masa lalu yang kelam. Jika memang kamu ingin bersama salah satu dari mareka. maafkanlah masa lalu mareka. sebaliknya jika memang kamu tidak ingin bersama mareka, tolak mareka secara tegas. Bagaimana Nabila?"
"Nabila juga masih bingung Bude." Jawab Nabila jujur dengan sendu.
"Sekedar saran, pilihlah seseorang yang jika kamu memilih dia, maka tidak ada orang yabg terluka."
"Apa maksud Bude Mas Deo?" Terka Nabila.
Siapa lagi coba? Di sini hanya jika Nabila memilih Nadeolah tak akan ada yang terluka kecuali Egy. Bahkan sang madunya dulu saja menyuruhnya untuk bersama Nadeo. Sedangkan Egy? Banyak hati yang terluka, Putri juga anaknya. Lalu orang tua Egy, dan satu lagi pastinya Nadeo.
"Bude tidak mengatakan begitu. Tapi Bude berpikir bagaimana kamu bisa menikah tanpa restu orang tua?"
Apakah dengan kata lain Bude ingin Nabila memilih Nadeo? Begitu pikir Nabila.
__ADS_1
"Bukan berarti bude menyuruh kamu memilih Nadeo, tapi lihatlah keluarga Nadeo, semua menyayangi kamu. Bude juga mengenal semua keluarga Nadeo, sedangkan Egy, apakah Bude bisa berbesan dengan orang seperti mareka? Jangan kan berbesan, melihat saja mareka tidak sudi Bila. Bude akui Egy sangatlah baik, Bude sangat mengakui itu. Tapi kembali lagi, semua pilihan ada di tangan kamu."
Ah sama saja, dengan kata lain, Bude dan Pakde lebih condong pada Nadeo. Benar kan?