
Setelah resepsi kemarin, Nabila langsung diboyong Nadeo untuk berbulan madu. Tak tanggung-tangung Nadeo langsung memboyong Nabila ke Maladewa atau sering juga disebut Maldives yang berada di Asia selatan . Ia juga merogoh kocek yang lumayan banyak agar sampai ke Maladewa yang terkenal dengan keindahan alamnya, dan yang pasti cocok untuk berbulan madu.
Nadeo sengaja memilih Maldives sebagau tempat bulan madunya. Gimana enggak? Maldives dinobatkan sebagai kota romantis.
Dan setelah menempuh perjalanan yang panjang. Dari Jakarta transit di Singapura, lalu baru menuju Maldives. Di sana Nadeo sudah memilih kamar hotel yang ada di tengah laut, seperti tema water villa, dan tentunya harga untuk semalam saja mencapai sampai angka tiga puluh juta rupiah.
Singkat cerita tentang ***** bengeknya perjalanan. Nabila sampai di kamar tidurnya. Ia benar-benar lelah sekali, dan Nadeo pun menyuruhnta beristirahat. Sebenarnya ingin sekali ia mengelilingi tempat indah itu, tapi badan dan matanya tak bisa di ajak kompromi.
Tanpa basa-basi Nabila merebahkan tubuhnya di ranjang yang super empuk dan nyaman itu, hingga tak sampai satu menit ia telah terbang ke alam mimpi.
Nabila bangun ketika melihat ke sekeliling sudah gelap. Yups! Dindingnya dari kaca, hingga ia tahu bahwa di luar sudah gelap. Nabila segera mandi dan menunaikan ibadahnya, setelahnya Nabila berganti pakaian.
Ngomong-ngomong Nabila belum melihat Nadeo sejak ia bangun. Kemana perginya laki-laki itu? Namun suara deheman mengagetkannya ketika ia sedang merapikan spreinya yang sedikit kusut.
Nabila membalikkan badan melihat Nadeo yang baru masuk, ia melemparkan sebuah senyum hangat pada Nadeo yang juga langsung dibalas olehnya. Nadeo beejalan mendekat ke arah Nabila yang masih berdiri.
"Mas Deo?"
"Mas lihat tadi kamu pulas banget tidurnya, jadu Mas gak tega bangunin kamu."
"Gak papa sih Mas, cuma besok² jangan lagi ya? Aku jadi telat sholatnya." Ucap Nabila dengan bibir mengerucut.
Nadeo mengangguk gemas sambil tersenyum. "Iya deh iya."
"Mau jalan-jalan gak? Lihat pemandangan malam di sini. Indah loh! Pantainya bisa nyala. Atau mau makan dulu?" Tawar Nadeo canggung.
Yah! Walau pernah bersama sebelumnya, tapi rasanya masih canggung sekali. Nabila pun begitu. Ia juga merasa canggung berada dalam ruangan yang begitu intim begini bersama Nadeo, sang suami.
Nadeo bisa membaca gerak-gerik Nabila yang salah tingkah berada di dekatnya.
"Euhmmm itu..." Nadeo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas ngajak kamu ke sini bukan untuk minta hak Mas kok! Mas hanya pengen kamu refreshing aja. Kamu udah lewatin banyak hal, gak salah kok kamu liburan."
Ah? Nadeo pasti salah paham, pikir Nabila. Tapi ia juga masih bingung harus menanggapi dengan cara apa. Namun yang ada di benaknya sekarang adalah tegakah ia membiarkan Nadeo menganggur, padahal ia sudah membuang banyak uang untuk membawanya ke sini. Jelas Nadeo ingin melewati malam indah bersamanya.
__ADS_1
"Aku bisa tidur di bawah kok Bila." Lanjut Nadeo lagi.
"Aku tahu kamu juga butuj waktu untuk-"
Belum sempat Nadeo melanjutkan kata-katanya, Nabila sudah memeluknya. Kaget? Tentu. Nadeo masih merasa bermimpi Nabila yang memeluknya duluan. Tapi pada detik selanjutnya ia tersenyum dan segwra membalas pelukan Nabila.
Nabila mendongakkan kepalanya melihat Nadeo, dan dalam hatinya merapalkan mantra bahwa ia telah siap karna kini ia sepenuhnya milik Nadeo.
"Mas?"
"???" Nadeo menatap manik mata Nabila.
"Aku siap." Bisik Nabila pelan dan kecil bahkan hampir tak terdengar.
Dan bisikan Nabila mampu membuyarkan konsentrasi Nadeo. Ia menjadi beku. Dan terasa ada gelenyar anyeh yang menyengat urat-uratnya. Ditambah degupan jantung yang tak beraturan, seolah pasukan udara dalam dada Nadeo telah kosong.
Nabila melepaskan hijabnya juga ikat rambutnya, sehingga rambutnya yang lurus itu tergerai. Lalu Nabila mengalungkan kedua tangannya di leher Nadeo, ia mengecup bibir Nadeo sekejab. Kenapa tiba-tiba ia yang memulai?
Tapi Nadeo tak membiarkannya begitu saja, setelah kecupan singkat Nabila pada bibirnya, tanpa dapat dicegah Nadeo segera memajukan bibirnya dan mengulum bibir tipis Nabila, membelai dengan bibirnya, **********, dan menghisapnya lembut penuh cinta.
Tak tinggal diam, tangan Nadeo terus bergerirlya membuka rasleting gamis Nabila yang ada di belakang, dan entah kapan baju itu telah hilang di tubuh Nabila.
"Pemandangan di depanku lebih indah daripada maldives bahkan pemandangan manapun." Bisik Nadeo sensual.
Nadeo terus menciumi Nabila dengan tempi yang cepat, hingga Nabila terus mundur ke belakang dan terjatuh di atas ranjang. Ia membuka kancing kemeja Nadeo yang sekaramg telah berada di atasnya, dan setelahnya baju itu mengholang di tubuh Nadeo dan memperlihatkan badan atletis juga perut yang berbentuk roti sobek. Nabila menelan salivanya. Ini kali pertama ia menikmatinya.
"Aku mencintai kamu Bila, izinkan aku memiliki kamu malam ini, juga seterusnya." Bisik Nadeo penuh cinta sembari terus mengecup Nabila.
Nabila mengangguk diiringi senyum. Ia siap.
"Aku juga mencintai kamu Mas. Sekarang dan seterusnya aku adalah milik Mas sepenuhnya."
Dan setelahnya Nadeo membawa Nabila terbang ke surga dunia. Surga yang tak Nabila rasakan sebelumnya, apalagi Nadeo terus merayu dan melafazkan kata cinta pada Nabila, jadilah Nabila terbuai dibuatnya.
...****************...
__ADS_1
Sebulan telah berlalu sejak hari pernikahan Nabila dan Nadeo. Kini Nabila tinggal di rumah Nadeo, tepatnya rumah peninggalan Bu Ningrat, Ibu mertuanya.
Rumah yang dulu telah disepakati bersama untuk dijual, dan Nabila memang tak berniat tinggal di sana. Menurutnya rumah itu banyak menyimpan kenangan buruk. Alhasil ia langsung menyetujui jika rumah itu dijual dan mareka pindah ke rumah Nadeo. Bukan tanoa alasan, mareka juga tak ingin bila Icha tinggal sendirian. Rencananya setelah Icha menikah nanti, barulah Nadro dan Nabila pindah, dan rumah itu bisa ditempati Icha bersama suami nantinya.
Dan hari ini Ines juga suaminya berkumpul ke rumah Nadeo. Di sinilah mareka sekarang, duduk bersama di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Mbak senang liat kita bisa kumpul di sini." Ujar Ines penub haru. "Kalau Mama dan Papa masih ada mareka pasti senang."
"Mareka masih bisa lihat kita kok Mbak." Timpal Nabila.
"Iya. Dan Mbak senangnya mareka lihat kita dalam keadaan damai."
Semua mengangguk menyetujui.
"Oh ya? Mbak ada pengumuman penting nih." Seru Ines semangat.
"Apa tuh Mbak?" Tanya Nadeo penasaran.
Ines melirik suaminya yang duduk di sebelahnya, dab Hanis mengangguk mengiyakan, seolah tahu apa yang diminta Ines.
"Mbak hamil." Kata Ines pelan.
Semua kaget! Ah tidak, maksudnya Icha, Nadeo juga Nabila. Hamil? Ines sudah lama menikah tapi belum kunjung hamil, dan hari ini ia mengumumkan bahwa ia hamil, serasa mimpi dibuatnya. Aplagi umur Ines sudah termasuk dewasa.
"Beneran Mbak?" Nabila memastikan.
"Iya!" Angguk Ines.
"Alhamdulillah setelah sekian lama," Ucap Icha penub haru.
Ya benar! Setelah sekian lama penantian, dan penantian Ines tak sia-sia.
"Mbak kita adain syukuran sekalian sama acara pertunangan Icha, gimana?" Usul Nadeo.
Ines melirik suaminya seolah meminta izin, dan lagi-lagi Hanis mengangguk menyetujuinya.
__ADS_1
"Boleh."
Hay maaf sekali ya teman-teman, baru update.Author super sibuk.tenang aja ini udah termasuk ending kok. Tinggaj bahagianya saja.