
Awalnya Nabila mrmang merasa canggung dengan sikap manis Nadeo. Tapi lama kelamaan ia dapat menetralkan itu semua. Nabila tak berharap banyak pada pernikahannya saat ini. Ia tidak ingin terlalu percaya diri hanya karna ia hamil. karna bukan hal yang tidak mungkin setelah anaknya kahir, Nadeo akan mendepaknya jauh.
Walau Nadeo sempat memohon agar tak di tinggalkan Nabila, tapi tak terlalu dapat di percaya. Lihatlah ia dengna mudahnya berubah manis setelah beberapa tahun kebelakang bersikapa pahit. Lagi pula Nabila yakin, sikap manis Nadeo ini hanya untuk menyogoknya agar ia mau bertahan dengan kehamilannya.
Hatinya sudah dipersiapkan untuk tidak jatuh terlalu dalam. lagi pula, kehamilannya ini juga berdasar dari kesalahan. Dan juga Nabila sangat sadar diri, bahwa perempuan yang dicintai Nadeo tetaplah Raya.
Hari ini Nabila memilih untuk cuti sehari. Ia sudah izin tak masuk kerja dengan alasan sakit. Nyatanya ia hanya ingin bermalas-malasan di rumah. Mungkin ini karna hormon yang disebabkan kehamilannya. Katanya Ibu hamil cenderung sensitif.
Raya tadi pagi-pagi sekali sudah pergi. Katanya sih buru-buru karna ia harus bertemu kliennya yang ingin melihat design gaun pengantinnya.
Sedang Nadeo, sepertinya ia belum berangkat. Karna setahu Nabila, mobilnya masih terparkir rapi di garasi. Apa Nadeo masih di rumah? Tak ingin terlalu berpikir, Nabila melanjutkan acara menonton ditemani cemilan ringannya.
"Ini gak bagus buat Ibu hamil, kalau mau ngemil, buah saja!" Ujar seorang yang berhasil merebut snack di tangan Nabila. Siapa lagi kalu bukan Nadeo.
"Mas Nadeo kok belom pergi?" Tanya Nabila. Ternyata sang paduka belum berangkat.
"Kamu gak suka aku di sini? Nyuruh aku pergi nih ceritanya?" Dengan nada menggoda.
"Ih..., gak maksud gitu. Mas Nadeo gak berangkat kerja?"
Nadeo menyunggingkan senyum. "Iya nih mau berangkat!"
Memang terlihat Nadeo sudah rapi dengan kemeja warna hitamnya. Ah dia sangat tampan.
Nabila mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke TV.
"Kamu gak nganterin Mas?"
Nabila menoleh "???"
"????"
"Nganterin kemana?"
"Ya di antar sampai pintu, kan suami istri biasanya gitu!"
Tapi kan dulu kamu yang gak mau begitu. Memang dasar jantan kelakuannya kadang-kadang.
"Ah...,a.. iya ya"
Nabila mengerti maksud Nadeo, memang seharusnya begitu. Tapi ia tak pernah melakukannya, setelah ditolak tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
"Kok bengong? Ayuk?"
Ya sudahlah. Tak apa, tak ada salahnya juga Nabila melakukannya, toh Nadeo juga sah sebagai suaminya. Tuhan memang maha membolak-balikkan hati Manusia. Dulu Nadeo menolaknya, tapu sekarang ia memintanya.
Tak perlu waktu sampai satu menit untuk mengantar Nadeo ke ambang pintu. Jika dilihat begini, rasanya Nadeo dan nabila adalah pasangan harmonis.
"Mas kerja dulu sayang ya?"
Nadeo mengulurkan tangannya dan disambut Nabila, dan diciumi punggung tangan tersebut.
"Hati-hati di rumah ya? Kalau ada apa-apa telpon Mas cepat ya?"
Nabila mengangguk.
"Atau Mas suruh Icha aja ke Sini? Biar kamu gak sendirian!" Tawar Nadeo.
Nabila menggeleng. "Gak usah Mas, aku cuma pengen tidur aja kok!"
"Tapi langsung telpon kalau ada apa-apa, Mas khawatir kamu sendirian di rumah."
"Aku bukan anak kecil, aku bisa jaga diri kok Mas!"
"Tetap saja Mas khawatir, kamu sedang mengandung anaknya Mas loh. Kalau sampai kenapa-napa, awas kamu!" Nadeo menyentil hidung Nabila nakal.
"Istri siapa sih ini? Kok gemesin banget?"
"Udah ah Mas, nanti telat!"
"Iya, Tapi kamu beneran gak papa sendirian? Mas masih belum yakin nih!"
"Yakin, lagian bentar lagi Mbak Raya pulang!"
"Ya sudah kalau gitu, Mas berangkat ya?"
Nabila mengangguk dan Nadeo berbalik pergi. Tak sampai lima langkah Nadeo kembali berbalik menghampiri Nabila.
"Kenapa Mas? Ada yang ketinggalan?"
Alih-alih menjawab, Nadeo malah menarik pinggang Nabila dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Nabila. Rasanya Nabila tak bisa bernapas sampai beberapa detik. Dan dapat dipastikan pipi Nabila sudah merona karna ulah Nadeo.
"Ciumannya ketinggalan." Bisik Nadeo.
__ADS_1
"Jangan nakal nak ya? Baik-baik di perutnya Mama." Ucap Nadeo lagi sambil mengusap perut Nabila seolah sedang berbicara dengan anaknya.
"Aku pergi ya?" Pamit Nadeo sekali lagi.
Lagi-lagi hanya anggukan yang di beri oleh Nabila. Dan Nadeo kembali membalikkan badan, sekitar sudah lima langkah Nadeo pergi, Nabila memanggil.
"Mas?"
Nadeo menoleh. "Iya?"
"Hati-hati." Ucap Nabila ragu.
Kata-kata itu sukses membuat lengkungan di bibir Nadeo. "Iya! Pasti!"
Ah, bahkan Nadeo sendiri bingung harus menjawab apa. Inikah yang dinamakan salah tingkah?
Entah kapan Nadeo sudah berada dalam mobil. Ia melambaikan tangan ke arah Nabila sebelum benar-benar pergi, dan Nabila membalas lambaian itu.
...****************...
Usia kandungan Nabila sudah memasuki Tiga bulan. Dan hari ini, pagi-pagi ia sudah mendapat kabar bahwa nanti sore Bude dan Pakde akan bertamu ke rumahnya sekalian menjenguk Nabika yang sedang mengandung.
Nabila berlari kecil menemui Raya yang ada di belakang rumah.
"Mbak!!" Panggil Nabila girang, terlihat senyum terus terukir di bibirnya.
"Iya? Jangan lari-lari dong, hati-hati. Kamu kan lagi hamil, gak boleh lari-lari gitu. kalau kesandung gimana? Bahaya tau!"
"Iya Mbak, habisnya lagi senang nih!"
"Kenapa?" Tanya Raya, ia terus melanjutkan menyirami tanaman di halaman belakang mareka.
"Bude dan Pakde akan ke sini Mbak!"
"O ya?"
Sebenarnya Raya sudah tahu, karna Nadeo sudah memberitahunya semalam. Bukan apa, untuk sesat, Raya harus hengkang barang sehati atau dua hari dari rumah.
Tak mungkin juga ia menampakkan diri di hadapan Pakde dan Budenya Nabila, bisa pancang urusannya.
"Oh biar nanti Mbak bantu bersih-bersih ya?"
__ADS_1
"Iya Mbak, makasih ya?"