Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Kado Untuk Mama


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahunnya Bu Ningrat. Nadeo dan Nabila akan pulang untuk merayakannya. Mareka juga sudah menyiapkan kado kecil untuk Bu Ningrat.


Sebelum berangkat, Nadeo dan Nabila terlebih dulu pamit pada Raya.


"Ray, aku sama Nabila pamit dulu ya? Baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa whatsapp aja ya?" Pamit Nadeo.


"Iya Mas, hati-hati" Jawab Raya tersenyum.


"Iya, assalamualaikum?"


"Waalaikum salam!"


Nadeo pun beranjak pergi dengan menggandeng Nabila. Entah kenapa hatinya sakit, apa ini yang dinamakan cemburu? Ternyata ia tak bisa merelakan Nadeo dan Nabila bersama. Harusnya ia sadar diri, ia hanya istri ke dua di sini.


"Kenapa hati ku cemburu ya? Padahal Nabila istrinya Mas Nadeo juga."


Ternyata ikhlas tak semudah di ucapkan. Sudah berusaha untuk ikhlas, tapi ia tidak bisa.


...****************...


Bu Ningrat meniuo lilin yang ada di kue ulang tahunnya. Ulang tahun sederhana yang dirayakan dengan ketiga anaknya, dan dua menantunya kesayangannya.


Di umurnya yang sudah semakin tua, Bu Ningrat berayukur bisa terus berkumpul bersama dengan anak-anaknya yang sudah dewasa. Rasanya baru saja kemaren Bu Ningrat memasukkan mareka ke sekolah, tapi sekarang mareka sudah tumbuh menjadi orang yang dewasa. Rasa bangga juga ada dalam dirinya, berhasil mendidik anak-anaknya hingga sebesar ini. Almarhum Haji Sigma pasti bangga dengan istrinya.


"Selamat ulang tahun ya ma?" Ucap Nadeo ketika mamanya menyendokkan kue ke dalam mulutnya, lalu ia mencium pipi kanan dan kiri Mamanya.


"Nadeo dan Nabila punya kado kecil untuk Mama." Ucap Nadeo lagi sembari mengambil sebuah kotak kado kecil dari tangan Nabila, dan memberikannya pada Bu Ningrat.


"Apa ini?" Tanya Bu Ningrat penasaran.


"Buka aja dulu ma!" Jawab Nadeo yang semakin membuat Bu Ningrat penasaran.


"Mama buka ya?"

__ADS_1


Nadeo mengangguk. Bu Ningrat pun membuka kado dari anak laki-lakinya. Foto. Bu Ningrat mengambil foto tersebut. Apa ini? Bu Ningrat tidak ingin berharap banyak.


"Apa ini Deo, Nabila?" Tanya Bu Ningrat sembari memperlihatkan foto tersebut.


"Seperti yang mama lihat."


"Benar ini?" Tanya Bu Ningrat hampir menangis.


Nadeo mengangguk.


"Kamu hamil Bila?" Kini pandangannya Bu Ningrat beralih pada Nabila.


Nabila mengangguk seraya tersenyum tipis. Jika boleh jujur, ia tak merasa bahagia sama sekali dengan kehamilannya. Namun, untuk kebahagiaan Mama mertuanya, tak apalah ia bersikap manis seolah rumah tangganya benar-benar harmonis.


"Makasih Bila!" Ucap Bu Ningrat dan memeluk Nabila, ia menangis terbaru di pelukan menantunya. Baginya ini adalah kado paling berharha yang pernah diberikan oleh Nadeo.


Sekian lama menunggu, akhirnya ia bisa juga merasakan bagaimana nantinya menimang cucu. Walau belum lahir, tapi sudah ada harapan untuk mengharapkan kehadirannya.


Bu Ningrat melepas pelukannya. "Makasih Deo, ini adalah kado terbaik yang pernah ada. Mama bahagia."


"Wah..., berarti aku calon jadi Aunty nih!" Celetuk Icha.


"Iya dong!" Sahut Nadeo, "Kamu bakal punya keponakan gak lama lagi, doain Mbak mu sehat terus ya Cha?"


"Pasti dong Mas!"


"Jaga kandungan kamu baik-baik ya Bila? Aku takut terjadu sesuatu sama kamu, takut ada orang yang iri dan sirik sama kamu." Ucap Ines pada Nabila, tapi matanya tertuju pada Nadeo, seolah tengah menyindirnya.


"Aku pasti akan jagain istriku dan anakku kok Mbak!"


"Baguslah! Jangan sampai Nabila banyak pikiran karena kamu."


"Eh sudah-sudah, ayok sekarang kita makan?" Ajak Bu Ningrat.

__ADS_1


...****************...


Nadeo sudah berpesan pada Raya, agar ia memasak makanan yang sehat dan bergizi, yang bagus dikonsumsi untuk ibu hamil. Nadeo mau yang terbaik untuk anaknya.


Nadeo yang begitu antusias berbelanja kemarin, memilih sayur, daging, ikan, buah dan masih banyak lagi, yang pasti untuk Nabila. Nadeo memilih barang yang memiliki kualitas tinggi demi tumbuh janinnya.


Raya pun tak pernah melihat Nadeo sebahagia ini sebelumnya.


"Nabila kok belum turun ya?" Tanya Nadeo pada Raya yang sama-sama berada di meja makan.


Entah sudah berapa kali pertanyaan itu Nadeo lontarkan. Nadeo juga sudah beberapa kali naik turun tangga untuk memanggil Nabila agar bisa sarapan bersama. Padahal masih pagi sekali.


Raya dapat melihat keresahan di raut muka Nadeo. Sebegitu perhatiannya Nadeo pada Nabila, hingga ia melewatkan Raya yang ada di depannya. Padahal dulu Raya adalah prioritas utama. Bahkan akhir-akhir ini mareka jarang sekali melakukan hubungan suami istri, padahal dulu mareka melakukannya hampir tiap malam. Semua terasa berubah, dan Raya dapat merasakan itu.


Selang beberapa menit, Nabila turun dengan setelan kantornya. Nadeo tersenyum kala melihat Nabila, ia segera meraih tangan Nabila.


"Ayok sarapan dulu." Tangan Nadeo menarik Nabila ke meja makan.Nadeo memperlakukan Nabila bak seorang ratu.


Jauh di lubuk hati Nabila, ia risih dengan perlakuan Nadeo terhadapnya. Bukan apa, ia tak enak hati dengan Raya, karna sikap Nadeo yang berlebihan. Nabila takut Raya merasa tersaingi dan tersakiti karenanya. Nabila tahu bagaimana perasaan perempuan.


"Makan yang banyak sayang ya? Biar dedeknya sehat!"


Menu di pagi ini adalah omelet bayam dan nasi merah. Tak lupa segelas suau ibu hamil. Berprofesi sebagai seorang dojter, membuat Nadeo mengerti tentang gizi. Walau ia bukanlah ahli gizi atau specialis kandungan.


Nadeo makan dengan sangat lahap, berbeda dengan dua perempuan yang menemaninya.


"Kamu pulang kerjanya jam berapa? Biar aku jemput." Pertanyaan itu pasti ditujukan pada Nabila.


"Aku bisa pulang sendiri kok Mas!" Tolak Nabila.


"No!!" Nadeo tak setuju. "Enggak boleh. Mulai hari ini, kamu harus aku antar jemput setiap hari.Aku gak mau kamu dan anakku kenapa-napa."


Nabila menghela napas. "Iya nanti aku kabarin."

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu harus selalu di awasi Bil, aku antat jemput kamu. Kamu gak boleh capek dan gak boleh ngerjain apapun."


"Iya Mas!!"


__ADS_2