Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Penolakan


__ADS_3

Pagi-pagi setelah sholat subuh, Nabila sudah berkutat di dapur untuk memasak. Rencananya Nabila akan membuat sarapan untuk sang suami. Nabila berfikir mungkin saja nantinya Nadeo akan luluh hati kepadanya, dan membukakan pintu kesempatan untuknya. Batu saja yang begitu keras bisa terkikis oleh air, apalagi hati manusia.


Kemarin Nabila sempat bertanya pada Bu Ningrat tentang apa-apa saja makanan favorit Nadeo. simple saja, nasi goreng, dimsum, dan rendang. Untuk pagi-pagi rasanya nasi horeng lebih cocok untuk masuk ke dalam perut. Akhirnya Nabila memilih untuk membuatkan nasi goreng untuk menu pagi hari ini.


Setelah selesai memasak dan dihidangkan di meja, Nabila melihat suaminya sudah rapi dengan kemeja putih dan juga jas putih yang identik dengan rumah sakit. Mungkin hari ini Nadeo ada jadwal di rumah sakit. Nabila menghampiri sang suami yang haru saja keluar dari kamar dan hendak pergi.


"Mas, sarapan dulu yuk?" Ajak Nabila semangat diiringi senyum.


"Aku sarapan di luar." Sahut Nadeo cuek dan datar. Ia terus berjalan, Nabila mengekori dari belakang.


"Aku buatin nasi goreng kesukaan Mas loh! Kata Mamah Mas suka sama nasi goreng." Ujar Nabila lembut.


Tidak ada jawaban.


"Dimakan dulu ya Mas, sedikit aja, aku udah capek loh masakinnya." Pinta Nabila agak merengek.


"Siapa yang suruh kamu masak?"


"Euhmm..., tapi-"


"Nabila, saya sudah bilang kan sama kamu, untuk tidak mengurusi aku, termasuk makanku!" Tekan Nadeo.


"Tapi aku udah masak loh Mas. Kalau gak, minum susu hangat saja ya?" Tawar Nabila sembari memegang lengan Nadeo.


Nadeo menarik lengannya secara kasar. "Tolong Nabila jangan pernah sentuh aku, sebelum aku bersikap kasar sama kamu!" Bentak Nadeo dan pergi.


Nabila terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir di pipinya. Usahanya tak di hargai.

__ADS_1


"Aku harus apa Mas? biar kamu lihat aku, aku sayang sama kamu!" Teriak Nabila.


Tak ada yang mendengar, yang ada hanya kekosongan. Nadeo telah pergi, Nadeo benar-benar bertekad membuat nabila menjauhinya.


...****************...


"Mas mau berangkat ya?" Tanya Nabila ketika melihat suaminya sudah rapi di pagi hari.


"Iya!" Sahut Nadeo ketus.


Nabila mengulurkan tangannya untuk menyalami sang suami, tapi Nadeo hanya melirik tangan putih bersih itu lalu mengabaikannya. Nadeo pergi meninggalkan istri yang masih berdiri mematung di ambang pintu.


Nabila terus-terusan berusaha mencari perhatian Nadeo, dan tetap berusaha mengurusinya walau Nabila mendapatkan penolakan berkali-kali dan juga diabaikann.


...****************...


Enam bulan telah berlalu. Tapi Nabila belum sekalipun dapat mengambil hati Nadeo. Sikap Nadeo padanya masih dingin, dan terkesan kasar saat Nabila ingin berinteraksi.


Enam bulan tinggal bersama di rumah ini. ini adalah kali pertama Nadeo dan Nabila sarapan bersama. selebihnya jika pulang ke rumah Bu Ningrat, itupun hanya sebatas akting saja.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" Ujar Nadeo membuka pembicaraan.


"Apa itu mas?" tanya nabila


"Aku akan menikahi pacar ku." Ungkap Nadeo datar.


DUAR!!!!

__ADS_1


Rasanya ada yang meledak di dalam diri Nabila. Seperti jantungnya tak lagi berfungsi dengan baik. Rasanya hatinya hancur berkeping-keping.


Apa yang dikatakan Nadeo terlalu sakit. Diabaikan saja sakit apalagi jika dimadu. Walaupun mareka dirumah layaknya orang asing, tapi Nabila berharap perasaannya akan dibalas suatu saat nanti. Tapi jika sudah begini, pupus sudah harapan Nabila untuk bisa mendapatkan hati Nadeo.


Tunggu, apakah tadi Nadeo meminta izin kepada Nabila atau hanya ungkapan memberi tahu saja? Lebih tepatnya hanya sekadar notifikasi.


"Mas bukan lagi minta izin kan? Aku gak perlu jawab kan mas? Aku izinin atau gak Mas akan tetap menikah dengan wanita itu."


"Bagus kalo kamu sadar akan posisi kamu saat ini. Dan aku juga mau ngasih tau kamu, setelah menikah dia akan tinggal di sini, tolong bersikap baik dengan dia. Aku akan tetap menafkahi kamu seperti biasa, semua gak ada yang berubah kecuali kehadiran dia nantinya." Terang Nadeo.


"Lalu Mama?"


"Baru ingin aku katakan, tolong rahasiakan pernikahan kedua ku ini, setidaknya sampai istriku hamil nantinya."


Istriku! Kata yang tidak pernah diucapakan Nadeo kepada Nabila. Tapi bisa-bisanya Nadeo menyebut kata istriku kepada perempuan lain yang bahkan belum sah menjadi istrinya. Perempuan yang baru direncanakan untuk dinikahi.


"Aku ingin jujur-jujur saja padamu Nabila. Aku gak akan menuntut hak aku sebagai suami pada mu sampai kapan pun. Aku gak ingin merusak mu, setidaknya saat aku nantinya melepasmu, kamu bisa dengan mudah mencari pengganti ku. Dan aku gak akan ngelarang kamu untuk dekat dengan laki-laki manapun." Jelas Nadeo.


Dengan tega Nadeo bisa mengatakan bahwa suatu saat akan meninggalkan Nabila. Sedikit pun tak terlintas di benak Nabila untuk berpisah dari Nadeo. Tidak ada sedikit pun kesempatan yang diberikan oleh Nadeo kepada Nabila untuk menjadi istri yang selayaknya.


"Di sini aku gak punya hak untuk menolak kan Mas?"


Nadeo mengangguk tanpa memikirkan bagaimana sakitnya hati Nabila. " Aku tidak ingin mengekang mu dengan pernikahan bodoh ini, aku membebaskan mu untuk mencari laki-laki yang kamu sendiri nyaman dengan dia. Aku gak akan mencampuri urusan kamu dan aku tegaskan lagi aku gak ngelarang kamu untuk dekat dengan siapapun."


"aku hanya butuh kamu mas" Batin Nabila.


Nabila mengangguk. Mungkin kali ini dia harus mundur, Nabila kalah. Hati Nadeo terlalu keras, tidak dapat ditaklukkan. Nabila menyerah mengikuti apa saja yang diinginkan Nadeo. Toh Nabila tidak bisa menolak juga kan? Ya sudah jalani saja bagaimana adanya sampai waktu yang di tentukan.

__ADS_1


Ternyata waktu enam bulan selama ini, tak juga dapat membuat hati seorang Nadeo luluh. Perhatian perhatian yang coba diberikan oleh Nabila tak mampu membuat perasaan Nadeo melunak.


Nadeo bangkit dari meja makan dan pergi meninggalkan Nabila seorang dengan segala rasa sakit yang di torehkan oleh Nadeo. Air mata menjadi saksi betapa kejam dan sakit luka yang ditorehkan Nadeo kepadanya.


__ADS_2