Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

"Ada apa Pakde panggil Bila?" Tanya Nabila dan duduk di tepi ranjang Pakdenya. Sedang Pakde duduk bersandar di ranjang.


Pakde sengaja memanggil Nabila agar masuk ke dalam rumahnya, agar tak ada yang mendengar pembicaraan mareka.


"Ada yang Pakde mau tanyakan sama kamu." Jawab Pakde.


Pakde memang menyuruh Nabila untuk masuk ke kamarnya, karna ada hal yang ingin dibicarakan dengan Nabila. Karna besok pun Nabila sudah mau balik lagi ke Jakarta.


"Tentang apa Pakde?" Tanya Nabila lagi.


"Nabila lihat kan dua laki-laki yang ada di rumah kita sekarang?"


"Maksud Pakde Mas Nadeo dan Mas Egy?"


Pakde mengangguk.


"Memangnya kenapa Pakde? Ada apa sama mareka?"


"Nabila tidak melihat kegigihan mareka mengejar cinta Nabila?"


Nabila mengangguk. "Heu-eum, Nabila lihat kok."


Jujur saja Nabila memang menyadari bahwa ia sekarang sedang di kejar oleh dua laki-laki yang sempurna. Yang satu masih berstatus suaminya, tapi on the way menjadi calon mantan suamin. Dan yang satu lagi bosnya, yang sedari pertama bertemu sudah menunjukkan ketertarikanbya terhadap Nabila.


"Pakde lihat, mareka benar-benar serius sama Nabila." Kata Pakde. "Seperti Nadeo, walau kalian sedang dalam proses perceraian, tapi itu gak buat dia berubah untuk mengejar cinta kamu. Sama halnya dengan Nadeo, kegigigan Egy juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dua-duanya punya cara tersendiri mengambil hati Nabila."


Nabila mengangguk mengiyakan perkataan Pakde. Ia juga setuju dengan pendapat Pakde. Nadeo dan Egy memang pantang menyerah mengambil hatinya. Bahkan mareka sama-sama bersikap kekanak-kanakan jika dihadapkan pada sesuatu yang berkaitan dengan Nabila.


Bagaimana ya kabarnya seorang Dokter yang biasanya terlihat berwibawa kini jadi bucin akut karna perempuan? Sama halnya dengan Pak CEO yang biasanya bersikap arogan, tegas, dan ditakuti oleh banyak orang malah menjadi tunduk dengan satu perempuan.


"Pakde tidak lagi mencampuri urusan kamu. Semua keputusan ada di tangan kamu Bila." Lanjut Pakde.


"Pilihlah orang yang hati Nabila pilih. Jangan pikirkan perasaan orang lain. Utamakan perasaan Nabila dulu. Cukup selama ini Nabila memikirkan perasaan orang lain. Sekarang Nabila berhak bahagia."


Nabila mengangguk. "Baik Pakde."


Semua wejangan Pakde, Nabila dengarkan baik-baik. Tapi untuk menjalaninya apakah ia bisa. Karna Nabila juga masih bingung di hatinya ada siapa.


...****************...


Hari ini Nabila akan balik lagi ke Jakarta. Terpaksa. Bisa dibilang kembalinya Nabila ke Jakarta dengan cara terpaksa. Gimana enggak? Jika ia tak kembali ke Jakarta, pasti dua laki-laki sok cool ini akan terus bersamanya. Dan sungguh Nabila sudah sangat bosan melihat pertengkaran mareka.


Niatnya Nabila pulang ke rumah Pakde dan Bude adalah agar ia bisa menenangkan sedikit pikirannya. Bukannya tenang ia malah di buat dongkol dengan kelakuan Egy dan Nadeo.


"Pakde, Bude, Nabila pamit ya?" Nabila menyalami Pakde, kemudian Bude. Bude memeluknya agak lama, dan agak terasa berat berpisah dengan Nabila.


"Sering-sering pulang Bila ya?" Lirih Bude.


"Iya Bude, Nabila akan sering ke sini kok."

__ADS_1


Bude melepaskan pelukannya pada Nabila. Dan giliran Soegi menyalami Nabila.


"Mbak pamit ya Gi, baik-baik di rumah. Jangan Nakal, jangan bikin Bapak Ibu susah."


"Iya Mbak." Jawab Soegi patuh.


Nadeo dan Egy juga berpamitan meminta izin pada Pakde dan Bude. Lalu Nabila segera naik ke mobil Nadeo.


Yupzz..., betul sekali. Nabila akan pulang bareng dengan Nadeo. Seperti biasa semoat terjadi perdebatan dulu antara Nadeo dan Egy perihal Nabila akan pulang dengan mobil siapa.


Akhirnya Pakde yang memutuskan Nabila naik dengan Nadeo, dikarnakan Nabila dan Nadeo masih suami istri, walau sudah dalam proses perceraian. Sedangkan bila dengan Egy, tak enak dipandang, Nabila dan Egy belum punya status apa-apa. Begitulah kira-kira penjelasan Pakde tadi. Dan terpaksa Egy tak dapat menolak, walau ia sangat kesal.


"Hati-hati tuh bawa mobilnya, gak usah ngebut." Ujar Egy kesal.


"Bawel banget lo. Kayak gue gak pernah bawa mobil aja. Gue udah bolak-balik ke sini. Jadi gak usah di ragukan. Lo tuh yang harusnya hati-hati, kan biasanya pakek supir." Balas Nadeo sengit.


Tak pernah ada komunikasi yang bagus antara mareka berdua.


"Eh..., sudah mau pulang kok masih berdebat." Timpal Bude.


"Iya nih Bude, dia itu emang gak bisa diingetin, maksud Egy kan baik." Jawab Egy sok caper.


"Sudah, jalan sana. Biar gak malam di jalan nantinya."


"Iya Bude."


"Kami pamit ya?" Ujar Nadeo.


...****************...


Setelah kembali lagi ke Jakarta, Nabila beraktivitas seperti biasanya. Ia mulai masuk kerja lagi, dan menjalani hari seperti sebelumnya. Ia memang masih tinggal satu rumah dengan Nadeo, rencananya ia akan pindah ketika sah berpisah dengan Nadeo.


Dan hari ini adalah hari libur. Sedangkan Nadeo tidak ada di rumah, dia bilang tadi ada urusan sebentar.


Ines tadi juga sempat menghubungi Nabila, dan mengatakan ingin berkunjung ke rumah Nabila. Katanya sih kangen, lama tidak bertemu.


Tepat jam Sebelas, Ines sampai di rumah Nabila.


"Bila?" Seru Ines riang dan memeluk Nabila. Pasti Nabila juga membalas pelukan iparnya.


"Kangen deh sama kamu!" Ujar Ines setelah pelukan mareka terlepas.


"Sama Mbak, aku juga." Balas Nabila. "Duduk dulu yuk Mbak?"


Ines mengangguk. Ia pun duduk di sofa ruang tamu. sedangkan Nabila permisi sebentar untuk membuatkan minuman.


Tak lama setelahnya Nabila kembali dengan nampan berisi minuman berupa es cendol, dan ditaruh di atas meja kaca dihadapan Ines. Karna libur dan gabut, Nabila iseng membuatkan es cendol.


"Minum Mbak." Nabila mempersilakan, dan duduk di samping Ines.

__ADS_1


"Iya makasih Bil." Ines langsung mengambik es cendol dan meminumnya. Jujur ia juga haus karna kebetulan cuaca hari ini sangat panas.


"Es cendolnya beli?" Tanya Ines.


Nabila menggeleng. "Bikin Mbak, gak ada kerjaan. Gak enak ya?"


"Enak banget malah. Mau Mbak nanya belinya di mana."


"Mbak bisa aja."


Ines tertawa pelan. Matanya menyapu sekeliling rumah Nabila. Dan Nabila menyadarinya.


"Kenapa Mbak?"


"Siapa yang ngedekor ruangan di rumah ini?" Tanya Ines.


"Mbak Raya, Mbak. Kenapa?"


Ines menggeleng pelan. "Kamu gak ada rencana untuk ngubah dekor rumah ini?"


"Enggak Mbak! Lagian sebentar lagi kami bercerai, aku akan pindah dari sini. Lagian dekorasi ini juga udah bagus, Mas Nadeo juga belum tentu izinin aku rombak ini."


"Kamu beneran mau pisah dari Nadeo?"


Obrolan mareka menjadi canggung seketika.


Nabila mengangguk pelan. "Iya Mbak."


"Kamu sudah pikir matang-matang Bil semuanya?"


"Udah Mbak." Jawab Nabila.


Ines menarik napas pelan dan menghembuskannya. Jujur saja ia tak rela jika Nabila berpisah dengan Nadeo. Menurutnya Nabila adalah wanita terbaik untuk Nadeo. Memang Ines menyadari semua kesalahan berasal dari adik laki-lakinya.


"Apa gak ada lagi kesempatan untuk Nadeo, Bil?" Ines memberanikan diri untuk mempertanyakan itu, walau ia sudah tahu jawabannya.


"Bertahun-tahun aku memberikan kesempatan Mbak. Bahkan dulu aku yang tidak diberi kesempatan oleh Mas Nadeo. Dulu saat Mas Nadeo mengatakan ingin menikahi Mbak Raya, aku mencoba ikhlas. Dan aku masih tetap ingin Mas Nadeo bisa memperbaiki hubungan kami, meski ada Mbak Raya. Aku tak apa dipoligami, toh dalam islam juga boleh. Tapi Mas Nadeo tak pernah bersikap adil sama aku Mbak. Dan dengan teganya Mas Nadeo mengatakan suatu saat akan menceraikan aku, padahal aku tak pernah berharap perpisahan dalam rumah tangga ku." Jelas Nabila panjang lebar. "Mas Nadeo hanya menjadikan aku alat untuk berbakti kepada Mama. Jadi aku pikir sekarang tidak ada lagi yang perlu dipertahankan."


Hening. Ines terdiam dengan penjelasan Nabila. Ia sudah mendengar semuanya dari Nadeo. Pertama kali mendengar kejujuran Nadeo, Ines sangat marah.


"Padahal Mbak sangat berharap Nadeo sama kamu. Tapi kalau ini keputusan kamu, apa boleh buat. Mbak gak bisa memaksakannya."


"Maafin Bila ya Mbak." Ucap Nabila jujur.


"Waktu itu Nadeo ke rumah Mbak. Dia nangis-nangis karna pisah sama kamu, dia bilang dia cinta sama kamu. Mbak pikir dia menyesal."


"Mbak aku rasa Mas Nadeo mengatakan itu, karna Mbak Raya meninggalkan dia. Andaikan Mbak Raya masih di sisi Mas Nadeo sekarang, apa mungkin Mas Nadeo masih mempertahankan aku? Aku rasa enggak Mbak. Pasti Mas Nadeo yang lebih dulu menceraikan aku."


Ines tidak dapat memberikan tanggapan lagi.

__ADS_1


"Mbak, aku gak mau dicintai sebagai pengganti Mbak Raya. Coba Mbak tanya sama Mas Nadeo, apa aku pernah ada di hati dia? Kalau memang ada, tolong buktikan."


Hening.


__ADS_2