
Nabila menangis memegang lengan Pakdenya yang sudah kecil, dan berkeriput. Mungkin karna penyakitnya yang membuatnya kurus seperti sekarang ini.
"Tak usah menangis, Pakde sudah tua. Jadi wajar saja jika sakit-sakitan." Ucap Pakde serak diiringi usapan tangannya pada pucuk kepala Nabila.
Tak terasa, Nabila yang dulu dirawatnya sedari kecil, sekarang menjelma menjadi wanita dewasa. Padahal rasanya baru kemarin Pakde membawa Nabila tinggal bersamanya. Apa lagi sekarang ada laki-laki yang akan terus berdiri di sampingnya. Walau begitu, sifat Nabila tak pernah berubah, ia masih Nabila yang dulu, yang akan tetap menangis ketika Pakde atau Budenya jatuh sakit.
Ah..., akhirnya Pakde bisa juga mengemban amanah dari Almarhum adiknya, Asnawi, untuk menjaga Nabila. Bahkan ia sendiri yang memilih pasangan dan menikahkan Nabila. Ada rasa lega melihat Nabila yang sekarang, sudah menikah dan punya pekerjaan bagus.
"Nak nadeo..., sini" Panggil Pakde dengan suara yang lemah.
Nadeo mendekat ke ranjang Pakde, dan duduk ditempat yang ditempati Nabila tadi. sedangkan Nabila mengambil posisi berdiri seperti Nadeo tadi.
"Tolong jaga Nabila ya? jangan tinggalin dia." Pesan pakde pelan. "Apa pun yang terjadi, jangan tinghalin dia ya? Pakde titip Nabila ya? Pakde yakin kamu adalah orang yang tepat."
Nadeo mengangguk mantap, "Pasti Pakde! Saya janji akan enggak akan ninggalin Nabila, walaupun dia yang memintanya." Setelah berkata demikina Nadeo melirik Nabila, seolah mengatakan padanya bahwa ia sedang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Nabila makan dulu, kasian suamimu belum makan. Mbak Anisa sudah masak tuh!"
...****************...
"Bil, kamu yakin bakalan bilang semuanya ke Pakde?"
Yang ditanya tak menjawab. Nabila masih duduk melamun di depan meja riasnya. Pantulan Nadeo yang duduk di ranjang bisa dilihat jelas oleh Nabila di cermin. Pria itu bukan lagi pria yang dingin seperti dulu, ia sudah banyak bicara. Bahkan kini Nabila yang terlihat lebih dingin. Memang Allah maha segala-galanya, dengan mudah Ia bisa membolak-balikkan hati manusia dalam sekejap.
"Tunggu Pakde sembuh dulu Bil..."
"Aku belum tahu Mas. Tapi cepat atau lambat pasti aku kasih tau semuanya. Mareka berhak tau!" Balas Nabila datar.
"Kasian Pakde Bil, kamu gak liat tadi, Pakde sudah menitipkan kamu ke aku!"
"Karna dia gak tau sifat busuknya kamu!"
Nadeo kalah telak.
"Pakde gak tahu gimana kelakuan kamu sebenarnya, Pakde gak tahu, udah salah menitipkan keponakannya!"
Untuk saat ini Nadeo boleh menang, karna ia telah mengurungkan niatnya untuk mengatakan yang sejujurnya pada Pakde dan Bude, mengingat kondisi Pakde sekarang yang sedang tidak baik-baik saja.
Lalu Nabila bangkit dan hendak pergi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Nadeo.
__ADS_1
"Tidur." Jawab Nabila dingin.
"Di mana?"
"Di kamar soegi mungkin."
"Jangan gila Bil! Tidur di sini."
"Enggak!"
"Kenapa? Kamu takut?"
Diam.
"Kamu takut aku bakalan apa-apain kamu?" Tanya Nadeo lagi, "Tanang aja, aku gak akan apa-apain kamu kok. Kalau kamu takut, aku tidur dibawah saja."
Nabila masih berdiri mematung. Nadeo bangkit dan mendekati Nabila kemudian memegang lengan Nabila lalu berbisik ditelinga Nabila. "Tapi aku punya hak kan untuk memintanya?" Diiringi seringai semyum.
Mendengar bisikan itu, Nabila menarik lengannya kasar. Ternyata pria itu masih mencari kesempatan dalam kesempitan. Enak saja.
"Jangan macam-macam ya Mas?" Berang Nabila disertai sedikit gertakan.
"Makanya tidur di sini, yang ada kalau kamu tidur di luar, Pakde dan Bude akan curiga sama kita. Masak setiap kali kita pulang, selalu tidur terpisah" Bujuk Nadeo.
Nabila membuang napas kasar. Ia akan menuruti kata Nadeo untuk tidur bersamanya. Karna tak ingin bersentuhan dengan Nadeo, Nabilameletakkan guling di tengah, sebagai pembatas mareka berdua.
"Aku gak tau ya Mas, kenapa sekarang kamu seperti ngejar-ngejar aku dan gak mau di tinggal aku. padahal dulu kamu menolak aku!" Tegas Nabila sebelum akhirnya tertidur.
Nadeo tak menjawab. Tapi hatinya juga mencari jawaban akan ucapan Nabila. kenapa dengan dirinya? Mengapa ia sekarang menjadi tergila-gila pada Nabila?
...****************...
Hari ini tubuh Nadeo kurang fit, karna semalam ia tak bisa istirahat dengan cukup. Ia sampai di Jakarta jam dua malam, alhasil ia hanya punya waktu sedikit untuk tidur.
Rencananya jam istirahatnya ini akan digunakan untuk terlelap sebentar, tapi tiba-tiba...
Egy membuka pintu ruangan Nadeo dengan keras, tanpa permisi apalagi ucapan salam atau sekedar mengetoknya. Egy masuk dengan napas tak karuan, seperti seorang yang sedang marah, rahangnya mengeras, dan dengan langkag pasti yang terburu-buru Egy menghampiri Nadeo yang sudah berdiri kebingungan.
BUGH!!!
Satu pukulan tepat di wajah Nadeo disertai umpatan, "Kurang ajar!"
__ADS_1
Nadeo yang kaget, refleks saja membalas pukulan Egy di bibir. Skor satu sama.
"Apa-apaan sih lo!" Pekik Nadeo dengan napas terengah-engah.
"Lo adalah orang yang paling kurang ajar dan brengsek yang pernah gue kenal. Bisa-bisanya lo merkosa Nabila."
"Ck!" Nadeo tersenyum menyeringai. "Apa gue gak salah denger? Apa ada suami memperkosa istrinya sendiri?"
Jeda.
"Aku gak merkosa dia. Aku hanya mengambil hakku sebagai suami, wajar kan? Dia istriku!" Kata Nadeo ketus. "Yang gak wajar itu kalau lo yang ngelakuinnya!"
"Lo emang kurang ajar!"
"Tunggu, apa ada yang salah? Jika ada, coba katakan di mana letak salahnya?" Tanya Nadeo tak sungguh-sungguh, ia hanya membuat Egy kesal saja. "Lo deketin dia aja, itu udah gak wajar. Gak sepantasnya lo deketin istri orang!"
"Omong kosong!" Teriak Egy diiringi sebuah pukulan yang Nadeo berhasil menepisnya.
"Sabar dong, jangan pakai emosi." Kata Nadeo santai, ia senang melihat Egy tersulut emosi.
"Lo gak tau ya, gimana kemaren Nabila jauhin gue karna trauma gara-gara lo!" Teriak Egy lagi. Ia benar-benar marah.
"Baguslah kalau gitu. Memang seharusnya Nabila jauhin lo, lo bukan siapa-siapanya dia, dia istri saj gue!" Tegas Nadeo.
Mendengar penuturan Egy, tangannya terasa gatal untuk melayangkan sebuah pukulan ke mukanya Nadeo, si brengsek dan bajingan. Tak tahan, sebuah pukualan mendarah di muka Egy, entah bagian mana yang kena, yang jelas, hidungnya berdarah.
"Ini rumah sakit ya Egy, lo jangan bikin keributan di sini." Sergah Nadeo seraya mengusap darah yang mengalir di hidungnya. "Tolong ya? Lo harus punya etika kalau ke rumah sakit. Sudah tidak punya etika merebut istri orang, malah bikin keributan di sini!"
"Dia emang istri lo, tapi pernah gak lo perlakukan dia layaknya seorang istri?"
"Gue sedang melakukannya sekarang kok. Mulai dari memberi haknya dia sebagai seorang istri, makanya malam itu, adalah malam pertama kami!" Jawab Nadeo santai, memang ia sedang memanas-manasi Egy. "Dan gue gak nyangka dia senikmat itu bro!"
Napas Egy naik turun, berbeda dengan Nadeo yang santai saja.
"Jangan serakah deo, lo udah punya Raya. Nabila gak akan bahagia sama lo!" Ujar Egy yang kini sudah jauh lebih santai.
"Dan lo pikir setelah lo lakuin itu semua ke Nabila, gue bakal nyerah gitu aja? Enggak. Nabila hanya bahagia sama gue, dan gue bakalan ngelakuin apa aja agar Nabila bisa lepas dari pernikahan konyol ini. Termasuk gue yang bisa saja bongkar kebusukan lo selama ini sama mama lo yang sakit itu. Gue gak peduli sama sekali, ingat itu!" Egy balik menyerang Nadeo dengan ancaman.
"Lo jangan campurin urusan gue ya?" Malag kini Nadeo yang menjadi emosi.
"Ingat Deo, ini masih peringatn!" Bisik Egy diiringin senyum menyeringai lalu ia melenggang pergi dari ruangan Nadeo.
__ADS_1
Nadeo yang kesal menendang asal apa yang ada di hadapannya. Pandai juga Egy mencari titik kelemahannya.
"Sialan! Aku gak akan biarin Nabila jatuh ke pelukan lo Gy!" Umpat Nadeo sendiri.