Menepi (Mencintai Dalam Sepi)

Menepi (Mencintai Dalam Sepi)
Depresi


__ADS_3

"Kenapa semua ninggalin aku?"


PRANG!!!


Teriakan itu diiringi barang yang pecah. Entah apa itu. Nabila hanya mampu mendengar suara itu, tanpa berani mencari tahunya. Ia mendengar begitu jelas suara itu, karna saat ini ia berada di tangga.


Asal suara itu dari kamar Nadeo. Nampaknya Nadeo sedang mengamuk.


"Gak Raya, gak Mama, semua ninggalin aku!"


Terdengar teriakan frustasi lagi dari Nadeo. Benarkah Nadeo sedang kacau? Malam kemarin Nadeo dan Nabila memutuskan berpisah. Apakah perpisahan itu juga membuat Nadeo merasa terpuruk? Ah Nabila jadi menyesal dan merasa bersalah, harusnya tak ia lakukan secepat ini.


Nabila masih berdiri di tangga, ia tak berani menghampiri Nadeo. Tapi hatinya berkata ingin sekali melihat kondisi laki-laki itu.


Nabila menimbang-nimbang lagi pikirannya. Apa ia harus masuk ke kamar Nadeo? Atau pura-pura tidak tahu? Ah, opsi kedua terdengar sangat kejam, ia seperti tak pernah peduli pada Nadeo. Padahal mareka sudah bertahun-tahun tinggal satu atap bersama.


Awalnya tadi Nabila baru pulabg kerja. Ia agak pulang telat memang hari ini, dan ketika sampai di tangga ia mendengar suara Nadro berteriak dan mengamuk sendiri.


Akhirnya setelah Nabila pertimbangkan ada baiknya ia menghampiri Nadeo yang sedang terpuruk. Mungkin saja kedatangannya bisa membuat Nadeo sedikit tenang. Bagaimana pun juga selama ini Nadeo sudah baik kepadanya, membiayai kuliahnya, memberikan uang bulanan dengan jumlah yang besar. Dan hanya satu yang tak Nadeo berikan padanya. Cinta.


Nabila mendorong pintu kamar Nadeo, terlihat Nadeo terduduk di lantai dengan frustrasi. Pecahan gelas juga di mana-mana. Juga keadaan Nadeo yang sangat kacau.


Dengan langkah pelan Nabila mendekat ke arah Nadeo, Nadeo yang menyadari kehadiran Nabila mendongakkan kepalanya melihat Nabila. Mata Nadeo memerah, dapat Nabila simpulkan Nadeo baru saja seleaai menangis.


"Mas..., kenapa begini?" Tanya Nabila lirih.


Nabila menarik Nadeo agar bangun dan duduk di tepi ranjang bersamanya.

__ADS_1


"Mas...?"


Nadeo langsung memeluk Nabila.


"Kenaoa semua ninggalin aku? Mama, Raya dan..., " Jeda, "Kamu."


Hati Nabila langsung mencelos. Apakah ia sudah begitu jahat dan keterlaluan? Hingga membuat Nadeo begitu frustrasi karna ulahnya. Rasa bersalah semakin menguasai Nabila.


"Jangan tinggalin aku Bil..." Mohon Nadeo, suaranya begitu serak.


Sepertinya laki-laki dalam pelukannya ini sekarang benar-benar sangat kacau. Bahkan Nadeo menangis padanya. Tak ada satu kata yang mampu Nabila ucapkan pada Nadeo untuk menenangkannya. Nabila tidak bisa.


...****************...


Nabila berencana untuk jalan-jalan hari ini. Ia sudah berjanji dengan Cinthya bahwa ia akan menemani Cinthya untuk mencari kado ulang tahun untuk dewangga. Ah betapa so sweetnya mareka. Kenapa kisah cinta orang lain begitu mulus ya? Mengapa ia tak bisa begitu? Hampir semua orang di sekitarnya punya kisah cinta yang mulus. Hanya dirinya yang tak seberuntung itu.


Lihat saja Cinthya berpacaran dengan dewangga dari sekolah SMA. Mareka masih awet sampain sekarang. Malah hubungan mareka semakin erat dengan adanya ikatan pertunangan. Setau Nabila, mareka tidak pernah punya masalah yang berat dalam hubungan. Paling Cinthya akan cemburu ketika kedapatan Dewangga yang tidak sengaja ngelike foto cewek lain. Atau Dewangga yang telat menghubunginya atau menjemputnya. Dan Dewangga akan minta naaf, membawa sebuket bunga, atau coklat untuk Cinthua. Dan Cinthya pasti akan memaafkan pujaan hatinya itu. Tak ada masalah yang begitu serius dalam hubungan mareka. Mareka selalu ingat hari-hari penting mareka. Ulang tahun atau aanniversary.


Nah ada juga Mbak Anisa yang berhasil membuat Nabila iri. Anisa berpacaran dengan suaminya saat sama-sama duduk di bangku kuliah. Begitu lulus, Mbak Anisa langsung di lamar. Dan sekarang mareka sedang berbahagia dengan pernikahan mareka.


Semakin dipikirkan, semakin tak ada ujungnya saja.


Nabila sudah siap dengan pakaian casualnya. Pashmina warna cream, sweater yang memiliki tiga warna dengan tone warm, dan rok kulot berwarna cream. Sempurna sudah, tak perlu pakaian mahal, yang penting nyaman.


Nabila langsung turun dari kamarnya dan berlari kecil. Sampai di pintu ia berpas-pasan dengan Nadeo yang baru pulang. Terlihat sekali raut lelah di wajah Nadeo.


Nadeo menyipitkan matanya melihat Nabila. Nabila tersenyum gusar. Haruskah ia berbasa-basi dengan calon mantan suaminya?

__ADS_1


"Mau kemana Bil?"


"Jalan sama Cinthya Mas, mau cari kado untuk tunangannya yang mau ulang tahun."


"Owh.."


Nadeo memindai Nabila dari atas sampai bawah, hingga atensinya tertuju pada jari-jari tangan Nabila. Ada yang kurang pada Nabila.


"Cincin kamu Mana?" Tanya Nadeo ketika menyadari tak ada lagi cincin pernikahan di jari Nabila.


"A..? Cincin?" Nabila melirik tangannya. "Sudah ku lepas Mas, sebentar lagi kita akan bercerai, jadi tidak kupakai lagi."


"Tapi kan sekarang kamu masih sah istri aku?" Protes Nadeo.


"Lagian juga Mas gak pernah pakai. Aku gak pernah mempermasalahkan. Mas hanya pakai saat kita mau ketemu Mama, Selebihnya enggak kan? Mas pakai cincin pernikahan Mas sama Mbak Raya. Sekarang aja di tangan Mas, masih cincin itu" Nabila seolah menunjuk dengan matanya jari tangan Nadeo yang masih memakai cincin pernikahannya dengan Raya. Padahal mareka sudah tak ada hubungannya lagi.


"Maaf.." Lirih Nadeo. Iya sadar akan kesalahannya selama ini melukai hati Nabila.


"Aku gak papa kok, udah biasa."


"Aku pergi dulu ya Mas, takut Cinthya nunggunya kelamaan."


Nabila langsung berencana pergi.


"Bil?" Nadeo menarik lengan Nabila.


"Kenapa lagi?"

__ADS_1


"Tentang perpisahan kita.." Sorot mata Nadeo penuh harap.


Alih-alih menjawab, Nabila menarik lengannya dan pergi. Sepertinya itu cukup untuk sekadar jawaban terhadap pertanyaan Nadeo. Pernikahannya benar-benar di ambang kehancuran.


__ADS_2