
"Jalan-jalan itu bagus untuk ibu hamil Bil." Kata Cinthya saat mareka jalan-jalan sore itu di taman. "Selain bisa ngilangin stress, kita juga sehat. Tapi jangan terlalu capek juga, karna itu juga gak bagus. Semua yang berlebihan itu gak bagus, kecuali uang."
Nabila tak merespon apa-apa.
"Ibu hamil gak boleh banyak pikiran, kasian dedeknya."
"Iya-iya, dari tadi kamu bawel banget!"
"Habisnya muka kamu keliatan stres banget!"
"Kalau kamu di posisi aku, kamu juga bakalan stres!"
"Iya aku ngerti. Makanya gak usah dipikirin, jalanin aja."
"Rasanya berat loh Cin, aku pengen akhirin ini semua, tapi justru aku hamil."
"Hubungan kamu sama Mas Egy gimana?"
Nabila menggeleng. "Kita udah sendiri-sendiri. Aku juga gak mau dia berharap sama aku. Dia berhak bahagia dan dapetin wanita baik-baik, bukan seperti aku. Selama ini Mas Egy udah cukup baik banget sama aku, tapi aku malah bikin dia kecewa."
"Ya sudah Bil, mungkin kalian gak berjodoh. Kalau kalian berjodoh pasti akan dipertemukan kembali. Percaya deh sama aku!"
Nabila mengangguk.
"Eh Bye the way selama hamil, kamu pernah ngidam apa aja?"
Nabila menggeleng, "Gak ada."
"Masa sih? Kok ada orang gak ngidam lagi hamil?"
"Ada sih, tapi aku gak berani ngomong."
Sekarang mareka berdua duduk di kursi taman.
"Kok gak berani?" Tanya Cinthya dengan wajah memandang Nabila dari samping. sedangkan Nabila menatap lurus ke depan.
"Emang kamu ngidam apa sampe gak berani ngomong gitu?"
Nabila menyengir membayangkan keinginannya. "Pengen makan masakan Mas Nadeo, pengen tidur sama dia. Hehe."
"Serius?"
__ADS_1
Nabila mengangguk. "Aneh ya ngidamnya?" Tanya Nabila dan menoleh ke arah Cinthya.
Cinthya menggeleng. "Sebeharnya gak aneh sih. Wajar kok, pasti dedeknya pengen deket sama ayahnya yang brengsek itu."
"Eh?" Nabila terkejut saat Cinthya mengucap kata brengsek.
"Kan emang brengsek!" Balas Cinthya santai.
"Gitu-gitu dia Dosen kamu loh!"
"Iya-iya." Ucap Cinthya malas.
"Dedek kok kamu pengen sih deket-deket sama ayah kamu, mama kamu gak suka tau gak?" Kata Cinthya dengan mengusap perut Nabila yang masih rata, seolah sedang berbicara dengan janin yang di dalam perut.
"Tapi kayaknya gak mungkin deh."
"Gak mungkin apa?"
"Ngidamnya aku keturutin." Jawab Nabila betek.
"Kenapa? Emang Pak Nadeo gak pernah tanya kamu ngidam apa gitu?"
"Ada sih, tapi aku gak berani buat ngomong."
"Malu!" Ucap Nabila dengan nada menggemaskan.
"Astaga!" Cinthya menupuk jidatnya, "Ngapain malu? Kalau ditanya jawab aja, kamu gak takut nanti anak kamu ileran?"
"Takut sih."
"Ya makanya." Tutur Cinthya dan menyentil hidung mancung Nabila, Nabila begitu menggemaskan di matanya.
"Aw! Sakit Cin!" Nabila meringis kesakitan dan mengusap-usap hidungnya.
"Abisnya kamu gemesin banget, pantas deh Mas Egy sesuka itu sama kamu."
"Udah ah, gak usah bahas itu!"
Cinthya benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Nabila yang masih malu dengan Nadeo untuk mengutarakan keinginannya.
...****************...
__ADS_1
"Malam ini aku tidur di kamar Nabila ya? Kasian Nabila sendirian, dia lagi hamil." Ujar Nadeo pada Raya yang duduk di tepi ranjang.
Raya merespon hanya dengan anggukan. Walau ia katakan tidak, Nadeo pasti tak akan mendengarnya. Tidak mungkin juga ia berkata tidak, walau cemburu tapi dia belum sejahat itu. Raya harus mengingat kembali, di sini Nabila tidak salah apa pun.
Tapi jangan tanya bagaimana hatinya. Rasanya seperti di tusuk beribu jarum. Nadeo bukanlah lagi miliknya. Padahal ia rindu belaian Nadeo yang sudah lama tak ia rasakan. Bahkan deru nafasnya yang menggebu-gebu menyentuh kulitnya ia rindukan. Mareka tak pernah melakukannya lagi.
Apa Nadeo sudah tak menginginkannya lagi? Apakah ia telah kecanduan Nabila? Apakah Nabila bisa memberikan kenikmatan lebih? Yang tidak didapat padanya. Membayangkan Nadeo mencumbu Nabila saja rasanya sangatlah sakit.
"Mas, kamu bukan lagi milikku." Lirih Raya sendiri dengan air mata mengalir. Tentunya Nadeo tak melihatnya menangis, karna sudah tidak lagi berada di kamar.
Sedangkan Nadeo baru saja masuk ke dalam kamar Nabila. Sepertinya Nabila memang sudah terlelap. Nadeo membaringkan diri di dekat Nabila yang sudah tidur membelakanginya.
Perlahan Nadeo memeluk Nabila. Nadeo sangat berhati-hati, agar Nabila tidak terjaga. Nadeo menyelipkan tangannya ke dalam baju Nabila, ia mengelus-elus perut Nabika yang masih rata.
"Malam ini tidur di temani papa nak ya?" Bisik Nadeo.
Tanpa sadar tangan nakalnya Nadeo naik ke atas lagi, meraba dada Nabila lembut. Nafas Nadeo sedikit memburu karna libidonya yang bangkit membangunkan dagingnya di bawah sana. Hatinya mengatakan jangan, tapi otak dan hasratnya meminta lebih.
"Jangan Deo, kalau dia bangun dia bakalan marah."
Akhirnya dengan berat Nadeo menarik tangannya kembali. Nadeo mengalahkan hasratnya untuk menyentuh Nabila. Ia hanya memeluk Nabila dan mengelus perutnya dari luar saja.
Tiba-tiba Nabila menggeliat, mungkin ia terjaga.
"Mas!!" Teriak Nabila terkejut ia berbalik menatap Nadeo.
"Shut!!! Dedeknya lagi tidur, jangan di ganggu."
Nabila diam sejenak, pandangan mareka bertemu. Jantung Nabila berpacu lebih tepat.
"Tidur lagi yok? Aku gak ngapa-apain kok. Aku cuma pengen ngelus dedeknya aja, dia pasti senang tidur dipeluk papanya."
Nabila sebenarnya ingin menolak, tapi rasa-rasanya bayinya memang menginginkan dekat dengan ayahnya. Dan mulut Nabila rasanya terkunci, tak mampu hanya sekadar mengucapkan kata jangan untuk kehadiran Nadeo di sisinya. Ah,,, bukankah ini yang diinginkannya? Berada di dekat ayah dari bayinya.
Akhirnya Nabila mengalahkan gengsinya, membiarkan Nadeo tidur memeluknya dan mengelus perutnya. Dan anehnya Nabila merasa nyaman saat di dekat Nadeo.
"Dedeknya paati senang." Bisik Nadeo.
Tangan Nadeo kembali menyelinap ke dalam baju Nabila, dan mengelus perut Nabila lembut. Terasa sangat aneh ketika kulit mareka bersentuhan.
"Mas..."
__ADS_1
"Shut!! Biarin sebentar ya? Aku gak akan apa-apain kamu kok! Aku cuma pengen lebih dekat sama dedeknya aja."
"Nak..., jangan nakal di perut mama ya? Jangan bikin mama susah. Kasian mama." Kata Nadeo pada janin Nabila. Ah, seolah mareka bisa mengobrol.